Cerpen: Gerbang pertama

WhatsApp Image 2020-09-29 at 19.00.40
Sumer: Foto pribadi

Gerbang pertama

Hari itu adalah hari pertama statusku menjadi siswa SMP di salah satu SMP di Kota Sumedang.

Ku injakan kakiku di gerbang pertama aku mulai mengenal dunia luar sendirian. Ayahku cuma bisa mengantarku sampai gerbang itu karena harus pulang. Kendaraan ke kampung ku memang cukup langka. Bisa setengah hari perjalanan.

Kalau terlambat pulang, maka akan beresiko, sebab harus menyebrang sungai yang lumayan besar dan panjang dan minimnya penerangan ketika sudah gelap.

Anak yang baru lulus SD ini memberanikan melangkah. Masuk ke gerbang tersebut. Mencoba melirik kanan dan kiri, tak ada satupun yang aku kenal. Aku mulai takut. Ku putuskan diam di dekat pohon beringin, sambil memperhatikan orang-orang di sekitarku. Air mata yang maksa keluar ku coba sekuat tenaga untuk membendungnya.

Orang-orang menatapku dengan tatapan aneh. Menambah rasa takut di hatiku. Aku melihat banyak dari siswa SD yang hadir di dampingi sama orang tua mereka, ada juga yang datang bersama teman-temannya. Aku sendiri, bingung, sedih, takut bercampur menjadi satu.

Tiba-tiba bel berbunyi. Aku bingung harus masuk kelas mana. Aku ikuti saja langkah mereka yang masih berseragam SD seperti ku.

Tiba-tiba ada yang menegurku dari samping, “Hai aku Neneng, kamu siapa?”
“Aku El.” Ku jawab seperlunya saja. Aku tidak tahu harus mulai obrolan dari mana.
“Kelas apa?”. Dia bertanya lagi.
“Kelas E.”
“Wah sama, bareng yuk.” Lega ternyata ada temen juga. Dia langsung menggandeng tanganku. Agak risih sebenarnya. Tidak biasa kayak gitu. Tapi saya ga bisa nolak.

Kami mulai nyari kelas kami. Setelah ketemu, kelas sudah penuh. Tinggal sisa satu meja dan dua kursi lagi di paling belakang. Duduklah kami di sana. Tapi tiba-tiba, ada yang ngebrak meja.
“Pindah lu, ini meja gua.” Aku cuma diam ingin nangis.
“Oh, orang kota gini ya.” Cuma berbisik dalam hati. Terus aku ajak Neneng buat pindah saja mengikuti perintahnya.
“Jangan diem aja. Pindah ga atau mau gue…”. Tangannya sudah mulai ngambil ancang-ancang mau memukul ku.

“Apaan sih lu. Seenaknya aja. Ini meja kami yang duluan yang nempatin.”
“Ga bisa ini meja gue.”

Aku panik melihat mereka berdua bertengkar. Mencoba memberanikan bicara, "pindah aja yuk. Nanti tambah besar urusannya.
“Jangan, enak aja. Mentang-mentang cowo.”

Aku cuma diam, ga bisa apa-apa sampai ada salah satu temen yang mencoba mendamaikan adu mulut mereka.

Hari pertama aku menginjakan di gerbang awal mengenal dunia luar, disuguhi dengan sejuta perasaan, ketidakberdayaan, ketatnya persaingan.

Aku harus bertahan jangan sampai menyerah menghadapi tantangan yang mungkin lebih sulit kedepannya. Karena hidup adalah perjuangan. Dan aku mendeklarasikan perjuangan hidup ku di mulai dari gerbang ini.

Catatan el

1 Like