Cerpen : 2 Pelangi Indah di Matamu

###2 Pelangi Indah di Matamu
Rizki Novianti


TITIK demi titik air hujan menetes di jendela kamar ku… menatap langit yangkusam tak ada bedanya dengan perasaanku kini. Tak ada senyum, tawa, dan bahagia seperti alam yang menangis hati ku pun menangis. ku tunggu hingga hujan mereda sampai tak sadarkan diri aku pun terlelap di kaca jendela.

Aku berjalan menuju lorong kelas, di ujung lorong ku lihat si pujaan hati. tersunggingkan sedikit senyum di raut wajahku tapi sayang ia tak melihatku menatapnya. kadang aku selalu beranganangan dapat menyentuh wajahnya, melihat senyumnya, dan tertawa bersamanya tapi ku tahu itu hanyalah khayalan mimpi yang tak akan pernah jadi nyata karena aku mungkin bukan orang yang pantas dengannya ia pintar dan menarik perhatian sehingga banyak orang yang menyukainya. tapi kadang kulihat ia berbeda penyendiri dan kadang bersikap dingin.

kesedihan yang tak pernah berakhir hanya dapat melihatnya dari jauh dan selalu berangan-angan berharap dirinya dapat menyambut tapi nikmati saja aku yakin suatu saat keajaiban akan datang. Pikirku.

Kulanjutkan langkah menuju kelas tempatku belajar dan bercanda ria bersama temanteman. Ku lihat dari kejauhan sesosok berperawakan tinggi, rambut model cepak, dan berkaca mata sedang bersandar di depan pintu kelas. sesekali matanya celingukan seperti mengawasi sesuatu dan ternyata GUBRAAAKKKK!!! !!! !!! Sosok itu Boim, sahabat se jak aku masih sekolah dasar.

Ku datang menghampiri dan mengaget kan nya. ’’Hayyooo… lohh Boim… !!!’’ Boim terkejut menepuk dadanya beberapa kali dan menelan ludah. ’’Ahhh… Ello zye, gue kirain si mona’’.

’’Ciiiieeee… nunggu mo na nii yee… pritikiw… !!’’kata ku meledek.

’’Pritikiw… pritikiw yang bener tuu prikitiw tau…’’ jelas boim membenarkan.

’’Iya. . iya ter serah, gue kan gak bisa bilang prikitiw.’’ ’’Nahh… itu loe bisa??’’ tanya boim heran.

’’Itu kan Cuma contoh… im.’’ Jawabku tak mau kalah. ’’Sumpah daaah dasar loe ratu GJ.” Cela Boim.

Dasar Boim-Boim. Aku masuk ke dalam kelas, Boim mengikuti ku dari belakang kayak kebo ngikutin emaknya, kemudian Boim duduk di sebelah. Ku simpan tas punggung ku di atas meja dan menyang gahkan lengan untuk sandaran kepala yang menghadap ke arah Boim. dengan spontan aku bertanya pada Boim.

’’Ehh… Im kalo menurut loe nii yaa gue kayak gimana sii??” ’’Dibilang kayak monyet loe udah turunannya kali, dibilang kaya kebo mungkin, bisa juga hheheheh’’. Jawab Boim cengengesan.

’’Ahh itu sii elo monyet, keluarga loe ajja di ragunan. Serius Im, menurut loe gue kayak gimana terus gue cantik apa enggak??” tanya ku pede.

Boim tersenyum kecil dan menjawab. ’’Loe perfect kali, loe sahabat gue yang paling baik, pinter, dan loe juga cantik. Tapi hati-hati…” Belum sempat Boim melanjutkan pem bicaraannya aku langsung memotong.

’’Hati-hati apa Im??” tanyaku penasaran. ’’tapi hati-hati idung loe kembang kempis. Mentang-mentang udah gue puji kayak gitu… hhahahahahaha’’. Boim tertawa puas di depan ku.

’’Dasar loe GJ’’. Celaku. ’’mungkin gak siih im dia suka sama gue??” sambung tanyaku pada Boim.

’’Ooh… jadi si mr. Cool itu?? Ehmm gue gak tahu lain kali aja bahasnya’’. Sambil membalikan badan ke arah lain.

’’Lho… xo gitu sii Im??”

Aku heran kenapa setiap kali aku menanyakan si mr. Cool itu padanya Boim seperti menghindar tak ingin dengar.Apa yang ada di pikirannya tak pernah mengerti. huuuph hari ini hujan lagi aku berharap pada akhirnya akan ada pelangi yang senantiasa memberi warna pada alam yang selama ini terlihat kusam.

Bel pulang berbunyi ’’treng…treng…treng” semua murid dan teman-teman ku bersiap-siap dan bergegas untuk pulang termasuk aku. kali ini aku disuruh untuk membawakan setumpuk buku IPS ke ruang guru, sambil berjalan aku tidak melihat ke depan akhirnya aku menabrak seseorang dan semua buku berjatuhan…

’’Sorry… gue gak sengaja,” kataku Sambil membereskan semua buku.

’’Gak apa-apa xo zye… gue bantu yaa.” Terdengar suara tapi tak kutahui siapa dia.

Sepertinya aku kenal suara itu perlahan ku lihat wajahnya. ’’Sammy…”

Tak di sanggka orang yang ku tabrak Mr. Cool.’’thankz yaa…” ’’iya sama-sama.” jawab sammy sambil tersenyum… halllaaaaah… mimpi apa ini?? Sekarang dia senyum… batin ku
kegirangan.

Bibir ku tak dapat berucap dan aku juga tak tahu apa yang ingin aku katakan. Hari yang membuat ku senang, tapi bagaimana dengan boim sejak tadi aku tak melihat nya lagi. Dag… dig…dug… jantung ku berdegup kencang aku merasa ini hanya mimpi atau khayalan tapi semakin aku menatapnya semakin aku percaya ini adalah kenyataan.

’’gue su ka merhatiin loe dari dulu, tingkah kocak loe sama boim, liat loe ketawa-ketiwi… boim pasti seneng punya sahabat kaya loe…” kata sammy.

Wajah ku memerah tersipu malu. ’’hhehehehe… serius loe?? Boim emang sahabat gue dari jaman gue masih ingusan ampe sekarang udah mau jenggotan… hhehehe” tembalku sambil cengengesan.

Aku dan sammy tertawa puas menceritakan tingkah konyol boim…

Tak terasa waktu berlalu. semakin lama semakin dekat dengan sammy. disatu sisi aku senang tapi disisi lain aku merasa kehilangan. Kehilangan sahabatku yang selama ini selalu menemani kemanapun aku pergi, memberikan aku semangat, dan lelucon. Boim sekarang menjauh, setiap kali sms tak pernah di balas, kalau pun bertemu kadang selalu membalikan badan, menundukan kepala, memalingkan wajah, pura-pura tak melihat… apa yang ada di fikirannya???.

Aku benar-benar marah, kenapa seperti ini??Aku menarik tangan Boim dan berusaha untuk mencari tahu apa yang terjadi padanya. ’’im… gue mohon loe jangan kayak gitu, sekarang loe udah beda… mana boim yang dulu waktu loe senyum… mana boim yang yang selalu bikin gue semangat?? Dulu kita suka bareng- bareng tapi sekarang gue kehilangan loe…”

’’kehilangan?? Bukannya loe baru dapet kebahagiaan sama pujaan hati loe itu???” jawab boim dengan cetus.

’’jadi hanya karna itu?? Loe berusaha menjauh dan menghindar?? Tapi kenapa sii im??” tanya ku sambil memegang erat tangan boim.

’’sorry zye… gue gak mau ganggu hubungan loe sama sammy. gue gak mau jadi orang ketiga diantara loe berdua. Jadi gue harap loe bisa bahagia sama pujaan hati loe…” boim melepaskan tangan ku dari tangan nya dan kemudian pergi meninggalkan aku.

Boim selalu ada di dalam fikiran ku setiap detik, setiap menit, setiap waktu. aku baru menyadarinya sekarang ternyata boim sangat berarti untuk ku tanpanya terasa sepi. aku merasa hampa dalam kesendirian ku. aku menangis berharap akan ada malaikat datang mengibur. tapi malaikat tak bersayap itu pergi menjauh dari ku dan membuat ku semakin sedih. Setiap hari tak ada semangat, tak ada senyum di wajah ku, wajah murung tak ada gairah yang terlihat. setiap hari ku menyendiri di mushola sebari menenangkan hati dan fikiran.

Tanpa di sadari boim selalu memperhatikan ku dari jauh mungkin dia dapat merasakan perasaan ku saat ini tapi dia selalu diam seolah dia memang tak peduli tapi aku percaya boim akan kembali lagi meskipun harus menunggu.


AKU datang ke tempat yang selalu membuat ku merasa damai. Suatu saat nanti aku ingin mengajak seseorang ke sini, seseorang yang ku sayang, seseorang yang istimewa untukku.

Di sekolah. teman–teman ku terus saja mengeluh karena wajah ku selalu kusut hoalllaaaah. Aku berfikir sejenak “bener ju ga yaa… aku jangan sedih-sedih terus aku yakin dan percaya waktu aku sedih di ujung bahagia pasti akan menanti.”

Hari ini ku awali pagi dengan senyum melebar dengan semangat Rezye. Aku berdiri di atas batu yang sangat besar ku teriakan keinginanku “Aku ingin dia kembali, aku ingin seperti dulu, tuhan tolong aku kabulkan keinginanku saat ini juga dan ubah ini hanya sebuah mimpi.”

Saat ku pejamkan mata, meresapi, menghayati, merasakan yang ku rasa dan ku lihat kosong yang ku dengar hanya suara air hujan semakin terasa perlahanlahan kubuka mata dan yang terjadi…

“selama ini aku ketiduran… Ohh My”

Aku segera bergegas pergi menuju rumah Boim dengan mengendarai sepeda motor.

“Boim…Boim…Boiiimmmm.” teriak ku di depan rumahnya.

“Wooiii… gak usah teriak-teriak kali gue juga denger.” Sambil menggesekan mata.

“Im… ikut yuu.” ajak ku pada boim “ke mana zye??” tanya boim heran

“udah lah… ikut aja gue juga gak bakalan ngapa-ngapain loe xo.” jawab ku memastikan

“serius nii… ikut gak yaa??Awas loo kalo macem-macem.” boim meledek

“ce pe dakh… siapa juga yang mau ngapangapain loe gak nafsu juga kali…” kata ku.

Aku mengajak Boim ke tempat itu. aku ingin memperlihatkan sesuatu yang indah. Dengan semangat, ku tancap gas sepeda motor ku sampai melaju dengan kencang. Boim yang ketakutan memeluk erat pinggang ku dan bersandar di punggungku, sampainya di tempat tujuan aku menggandeng tangan Boim. “Im … loe tau gak?? Kalo gue sedih, gue punya banyak masalah gue dateng ke sini. Di sini gue tenang, disini banyak inspirasi hidup dan motivasi untuk tetap tegar. Gue tau setiap kesedihan pasti akan ada bahagia, di balik gue gagal pasti akan ada keberhasilan.” Boim tersenyum kecil. “semua itu pernah gue alami im. Waktu gue seneng, sedih, gue pernah merasakannya.” Timpal ku lagi.

“ ehh… .zye liat dehh” kata boim sambil menunjukan telunjuk ke depan.

Pelangi perlahan-lahan warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu muncul dari bawah hingga puncaknya terlihat jelas. pelangi yang senantiasa memberi warna saat alam sedang terlihat kusam, memberikan keindahan dan ketentraman bagi mahluk sekitarnya begitu pun aku dan Boim.

“im… ada pelangi… tapi kali ini gue liat 2 pelangi. pelangi yang akan selalu abadi dan tersimpan utuh di dalam hati. Gue yakin pelangi itu gak akan pernah pudar untuk selamanya…”

Sekarang dan untuk selamanya untuk selamanya aku tak ingin lagi kehilangan Boim sahabat yang aku sayang sampai kapanpun kita akan selalu bersama karena Tuhan selalu ada untuk kita… You and me friendship 4ever.

(Radar Lampung | Minggu, 15 Juli 2012)