Cerita Tentang si Penggosip

Di sebuah desa kecil, tinggallah seorang pria yang tiap harinya gemar menggosip, dia selalu saja menggosipkan tetangga-tetangganya meskipun dia tak mengenal siapa mereka. Namun karena ingin berubah, suatu hari dia mendatangi seorang tua bijak untuk meminta saran.

Pria bijak ini memerintahkannya untuk membeli ayam segar di pasar dan membawakan untuknya sesegera mungkin. Dan ayam itu harus ia cabuti bulu-bulunya sementara ia berlari, tak boleh sehelai bulu pun tersisa. Si penggosip ini menuruti semua, dia mencabuti bulu-bulu ayam sementara ia berlari kembali ke rumah pria bijak itu.

Sesampainya disana ia menyerahkan ayam tersebut, namun pria bijak lagi-lagi memintanya untuk pergi mengumpulkan semua helai bulu yang sudah dia cabuti dan membawanya kembali. Si penggosip ini tentu saja protes, hal itu tidak masuk akal untuk dilakukan.

Angin pasti sudah menerbangkan bulu ayam itu ke segala penjuru dan dia takkan pernah bisa mengumpulkannya lagi. Pria bijak kembali berkata, "Hal itu benar. Dan begitu pulalah halnya dengan gosip. satu gosip dapat terbang ke segala sudut, lalu bagaimana kamu akan mengembalikannya? Jadi sebaiknya jangan pernah memulainya dari awal.

Pesan moral : janganlah menebar rumor yang tidak pasti, karena itu akan merugikan diri kita sendiri.

source :

Cerita luar biasa. Bahkan islam pun mencatat bahwa gosip/menggunjing itu dosa besar, bahkan melebihi dosa orang yang berzina. Karena apa? Menggunjing orang dengan cerita yg benar saja sudah dosa besar, apalagi jika menggujing dan hal tsb tidak benar, fitnahnya luar biasa. Gosip di ibaratkan anda rela memakan daging busuk saudara anda sendiri.