Cerita Mini : Garda Terdepan

Kuputus saluran telekomunikasi sebagai tanda telah usainya sebuah percakapan. Kudengar hembusan napas berat dari sudut ruangan. Kugerakan mataku menelusuri tiap jengkal ruang tamu. Sepoian angin lembut menggerakan rambut yang mulai memutih. Tak kulihat tatapan hangat darinya. Hanya ada khawatir dan beberapa garis halus terukir diwajah cantiknya. Rasanya cukup jelas terbaca, tentang apa yang dia pikirkan sekarang.

“Bagaimana mereka tega memanggilmu kembali?”

“Bukankah sudah cukup kau lakukan itu dimasa mudamu?”

“Tidakkah mereka tahu kau sudah memasuki masa senjamu?”

Setidaknya itulah kata yang terpancar dari dua bola matanya. Aku tahu benar bagaimana khawatinya dia. Dia yang telah berjanji dan menemani seumur hidupku. Dia yang telah mengandung dan membesarkan anak-anakku. Tak peduli bagaimana gelombang badai kehidupan menghantam kami. Dia selalu ada disana memberikan dukungan dan dorongan, saling menguatkan dalam kasih sayang. Ku harap kali ini pun ia mendukungku.

“Bisakah kau tetap tinggal disini? Menghabiskan hari tuamu bersama cucu?” Itulah ucapan pertama yang keluar dari mulutnya.

“Tak bisakah kau mengabaikan panggilan tugasmu? Bukankah masa itu telah lama berlalu?” Istriku terus berujar, menahanku agar tidak pergi.

“Aku tahu kau mengkhawatirkanku, kali ini saja dukunglah keputusanku” jawabku, kuraih tangannya yang merawatku, dan menguatkanku disaat-saat krisis.

“Apa kau akan tetap pergi? Meskipun kau tahu kemungkinan untuk tidak kembali?” tanyanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Aku tak tega untuk meng-iyakan. Bagaimanapun aku cinta pada keluargaku sebagaimana kecintaanku terhadap negeriku.

“Jika panggilan untuk bertugas kembali telah diberi, itu berarti bahwa negeriku sedang tidak baik-baik saja” kuharap ia mengerti maksudku.

Diam. Hanya diam yang memenuhi ruangan ini. Sesekali kulihat wajahnya merah padam menahan air mata. Aku tahu ia mengerti, bagaimana pertarungan ini bisa merenggut kekasihnya. Berperang dalam usia renta, sangat beresiko untuk kehilangan nyawa, ditambah menghilangnya masker, handscoon, dan hand sanitizer yang merupakan kebutuhan penting paramedis di garda terdepan pertempuran ini. Paramedis juga melawan tanpa senjata, karena sampai saat ini vaksin virus Corona (covid19) belum ditemukan.

“Aku mengetahui pasti kemungkinan terburuk dari peperangan ini. Meskipun demikian keputusanku sudah bulat”. Ucapku pada wanita terkasihku.

Tak terbayang kekacauan yang akan kuhadapi dimedan perang, tanpa persenjataan yang lengkap, tanpa tameng pelindung untuk seluruh pasukan.

“Sebagai garda terdepan, jika banyak nyawa-nyawa orang tak berdosa yang dapat ku selamatkan aku rela menukar nyawa!”.

“Aku berangkat ke medan perang ini demi bangsa tanah air kita, Indonesia. Jika aku gugur dimedan perang nanti tak ada alasan bagimu untuk bersedih, sebab suamimu ini telah melakukan hal yang mulia” Ucapku menenangkan kekasihku, agar dia tidak terlalu bersedih sepeninggalanku.

Negeri ku segeralah engkau pulih.

Dariku pejuang garda terdepan, untuk kalian semua orang-orang yang ku lindungi :

“Kumohon bantulah kami dengan tetap berada dirumah kalian, bantulah kami dengan tidak menimbun alat-alat kesehatan. Dengan menjaga diri kalian, kalian telah membantu kami memenangkan peperangan ini”.

10 Likes