CERITA MINI 2.0 : GARA-GARA PANDEMI


Sumber Gambar :Tribunnews

Seperti dua Jum’at kebelakang, aku menemani wanitaku, membeli barang yang dia butuhkan untuk belajar memasak. Baru dua minggu ini, dia rajin sekali berada di dapur. Sibuk dengan panci dan berbagai perkakas lainnya. Tadi pagi pula, kulihat donat gosong dibumbui madu cinta buatannya, tersaji di meja makan kami. “Aduhai sedap sangat masakan ini Dinda?” Kataku sambil mencomot satu donat pahit, ditambah senyumannya yang sangat manis.

Seuasai memasak, dia segera memintaku mengantarnya ke sebuah Toko Serba Ada, membeli berbagai tepung katanya. Ada resep baru di internet yang ingin dia coba. Ku-iya-kan semuanya, orang bilang itu karena cinta. Meskipun aku sendiri cukup takut untuk keluar rumah karena pandemi telah merebak dimana-mana, tapi bukankah cinta menguatkan segalanya. Barangkali cinta pula lah yang nantinya menguatkan sistem imun kami. Jadilah kami tetap bergegas ke Toko Mutiara Seribu Kilau Serba Ada.

Seperti biasa, aku membuntutinya sambil mendorong troli kecil. Troli kecil sudah lebih dari cukup untuk kami. Riangnya diriku, apalagi ketika memandangnya meneliti setiap barang yang hendak dipinang. Tentu saja, yang paling utama adalah meneliti harganya. Bagaimanapun juga, wanitaku ini punya tabiat hemat. Kurasa Bapak penjual daging di Pasar yang cukup memahaminya. Terkadang sampai geram dibuatnya, ketika berdebat tentang harga, jadilah dia relakan juga daging itu dibawa.

Cukup lama dia memilah barang. Agaknya, telah dia pelajari betul resep tadi. Disinilah kekuatan cintaku diuji. Kadang aku merasa tidak nyaman berada di toko atau pasar terlalu lama. Kata Pak Kyai, di tempat seperti ini, banyak setan berkeliaran, membujuk kita untuk terus berbelanja. Itulah mengapa kita dilarang berlama-lama di pasar. Salah-salah kantong menipis, waktu pun habis.

“Alamak !” Berbicara soal waktu, aku baru menyadari sudah mendekati Sholat Jum’at. Seperti kebanyakan lelaki, bagiku Sholat Jum’at adalah wajib. Aku sudah dengar di berbagai siaran, banyak wilayah yang sudah melarang, diadakannya Sholat Jum’at, tapi lain dengan disini. “Wilayah ini masih wilayah hijau…” Begitu kata Pak Bupati kemarin. Itulah sebabnya, Sholat Jum’at masih dilaksanakan. Segeralah ku gandeng tangan wanitaku, sambil ku bisikkan, “Aku sayang kamu, tapi aku harus Sholat Jum’at Dinda…” Wanitaku terbelalak dan langsung bergegas menyeretku ke meja kasir.

Sembari menunggu, aku menyuruh wanitaku menghitung kembali. Memastikan seluruh barang terangkut dengan baik, agar kami tak perlu kembali kesini lagi. Kukatakan padanya, bahwa kami sedang pada posisi yang tidak baik. Tidak baik bagi dunia karena kami terlalu lama berada di luar Rumah, pun tidak baik bagi akhiratku, karena aku bisa terlambat Sholat Jum’at. Agaknya, dia memahami dan memang kami sudah saling memahami.

Sekian lama kami mengantre, wanitaku sibuk meneliti barang-barang dan merapikannya. Jiwa seninya membawanya hanyut untuk menata barang-barang di troli. Sementara aku sibuk bercemgkerama dengan seorang Ayah, yang juga sedang mengantre, sambil terus memperhatikan antrean. Ku jinjitkan kaki, berharap bisa leluasa memandang jauh kedepan antrean. Jauh, karena kami berjarak sekitar satu meter setiap antrean. Sementara di antrean ketiga, pandanganku terhalang oleh troli besar berisi berkardus-kardus barang. Tak terasa sudah cukup lama kami mengantre. Sayangnya, antrean masih bergerak. Sementara waktu Sholat Jum’at tinggal 15 menit lagi. Jadilah ku putuskan membujuk adindaku, untuk segera bergegas pulang. Tak kusangka, dia langsung mengangguk sambil tersenyum.

Kami segera mengembalikan troli, tak lupa meminta maaf kepada Pak Security karena kami tak dapat mengembalikan barang-barang ke tempat semula. “Kami sangat memahami Pak, Bu… Maafkan kami, belum dapat membatasi jumlah pembelian, sehingga bapak ibu terpaksa mengantre lama.” Pak Security menjelaskan kepada kami, terhitung sejak pandemi ini muncul, orang-orang berada, berbondong-bondong membeli barang-barang dengan jumlah masal. Ku lihat juga tadi seorang Ibu berbaju kuning, tengah membantu memasukkan barang-barang yang dia beli ke sebuah kardus untuk kesekian kalinya. Berdus-dus bawang hingga popok bayi menggunung di trolinya. Di belakangnya telah berdiri seorang Ayah yang tadi sempat bercengkerama denganku, menyeringitkan dahi. Selain tak menemukan susu yang dipesan istrinya, kecuali sebiji saja, dia juga sedang terburu-buru karena harus melaksanakan Sholat Jum’at.

Ketika keluar dari Toko, pikiranku melayang-layang membayangkan apabila keadaan terus begini. Baru kemarin, adindaku mengeluhkan harga barang yang semakin tidak masuk akal. Kupikir dia sedang merajuk meminta gamis lagi, ternyata hari ini Tuhan menunjukkan, kalau cintanya tak akan membuatnya tega membohongiku. “Ah…” Pandemi ini benar-benar membuat semua orang khawatir. Sebelumnya, hanya orang miskin yang khawatir dengan kelaparan. Menakjubkannya, setelah pandemi ini hadir, orang berada pun gaduh mengkhawatirkan perut mereka di esok hari, hingga tak sempat memikirkan perut orang lain lagi.

#Egoismediantarakita
#Lombaceritamini2.0

4 Likes