© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Cara Depresi Mengambil Alih Pikiran

S__14991392

Bagaimana pendapat anda mengenai gambar di atas, bagaimana depresi mengambil alih mikiran manusia.

Depresi akan semakin merusak pikiran kita, depresi akan merusak kepercayaan diri kita. Jika kita terus menerus memikirkan hal hal negatif dan selalu pesemis. Maka depresi akan menguasai diri kita.


Depresi adalah satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri (Kaplan, 2010).

Di antara situasi yang paling sering mencetuskan depresi adalah kegagalan di sekolah atau pekerjaan, kehilangan orang yang dicintai dan menyadari bahwa penyakit atau penuaan sedang menghabiskan kekuatan seseorang. Depresi dianggap abnormal hanya jika dalam kurun waktu yang lama (Atkinson, 1993).

Maramis (2005) memasukkan depresi sebagai gangguan afek dan emosi. Afek ialah nada perasaan menyenangkan atau tidak (seperti kebanggaan, kekecewaan, dan kasih sayang), yang menyertai suatu pikiran dan biasanya berlangsung lama serta kurang disertai oleh komponen fisiologis. Sedangkan emosi merupakan manifestasi afek keluar dan disertai oleh banyak komponen fisiologis, biasanya berlangsung relatif tidak lama (misalnya ketakutan, kecemasan, depresi dan kegembiraan). Afek dan emosi dengan aspek-aspek yang lain seorang manusia (umpama proses berpikir, psikomotor, persepsi, ingatan) saling mempengaruhi dan menentukan tingkat fungsi dari manusia itu pada suatu waktu.

Cara Depresi Mengambil Alih Pikiran


Menurut Kaplan, depresi merupakan salah satu gangguan mood yang ditandai oleh hilangnya perasaan kendali dan pengalaman subjektif adanya penderitaan berat. Mood adalah keadaan emosional internal yang meresap dari seseorang (Kaplan, 2010).

Maslim berpendapat bahwa depresi adalah suatu kondisi yang dapat disebabkan oleh defisiensi relatif salah satu atau beberapa aminergik neurotransmiter (noradrenalin, serotonin, dopamin) pada sinaps neuron di Sistem Saraf Pusat (SSP) terutama pada sistem limbik (Maslim, 2002).

Gangguan depresi umumnya dicetuskan oleh peristiwa hidup tertentu. Seperti halnya penyakit lain, penyebab depresi yang sesungguhnya tidak dapat diketahui secara pasti namun telah ditemukan sejumlah faktor yang dapat memengaruhinya. Seperti halnya dengan gangguan lain, ada penyebab biogenetis dan sosial lingkungan yang diajukan (Santrock, 2003: 529).

Susunan kimia otak dan tubuh

Beberapa bahan kimia di dalam otak dan tubuh memegang peranan yang besar dalam mengendalikan emosi kita. Pada orang yang depresi ditemukan adanya perubahan dalam jumlah bahan kimia tersebut. Hormone noradrenalin yang memegang peranan utama dalam mengendalikan otak dan aktivitas tubuh, tampaknya berkurang pada mereka yang mengalami depresi. Pada wanita, perubahan hormon dihubungkan dengan kelahiran anak dan menopause juga dapat meningkatkan resiko terjadinya depresi.

Secara biologis, depresi terjadi di otak. Otak manusia adalah pusat komunikasi paling rumit dan paling canggih. 10 miliar sel mengeluarkan milirian pesan tiap detik. Ketika neotransmitter berada pada tingkat yang normal, otak bekerja dengan harmonis. Kita merasa baik, punya harapan dan tujuan. Walaupun kadang kita mengalami kesenangan dan kesusahan hidup, mood secara keseluruhan adalah baik.

Berhm (Lubis, 2009: 80) menyatakan bahwa depresi dapat diakibatkan oleh adanya peristiwa-peristiwa negatif yang menyebabkan perubahan, pengalaman penuh stress yang ekstrem seperti bencana alam, perang, kematian, pertengkaran, perceraian, serta mikrostressor yang meliputi aktivitas-aktivitas sehari-hari.

Depresi VS Kognitif

Biasanya orang mengaitkan depresi dengan perasaan sedih atau putus asa. Selain menghambat kebahagiaan, depresi juga dapat menyebabkan seseorang kecanduan alkohol dan bunuh diri. Gangguan fisik juga sering terjadi pada orang yang menderita depresi seperti penurunan berat badan, gangguan tidur, kelelahan, rasa sakit dan nyeri. Akan tetapi, ada satu hal terkait depresi yang kurang diperhatikan, padahal sangat mungkin terjadi dan dialami orang setiap hari; perubahan cara berpikir.

Sebuah artikel dari situs Neuroscience News menyebutkan bahwa depresi bukan hanya menghalangi seseorang untuk merasa bahagia, tetapi juga dapat mengganggu kemampuan berpikir. Depresi, berasal dari gangguan atau pengurangan neurotransmitter otak yang berfungsi sebagai kurir kimia di otak, seperti serotonin, dopamin dan norepinefrin. Hal ini dapat mengganggu perhatian dan ingatan, serta keterampilan memproses dan pengambilan keputusan.

James Cartrein, PhD dari Harvard Medical School menyebutkan bahwa depresi juga dapat menurunkan fleksibilitas kognitif seseorang, seperti kemampuan untuk menyesuaikan dan menentukan sasaran dan strategi dengan perubahan situasi. Juga menurunkan fungsi eksekutif otak, yaitu kemampuan untuk mengambil langkah untuk menyelesaikan sesuatu. Banyak orang yang menderita depresi juga telah didiagnosis mengalami gangguan mental lain, termasuk perhatian atau konsentrasi yang buruk serta attention deficit disorder (ADD).

Namun, para peneliti belum mengetahui secara persis apa yang menyebabkan masalah perhatian atau konsentrasi pada penderita depresi, kendati ada korelasi antara keduanya. Dr. Helen Farrel dari Harvard Medical School menyebutkan bahwa obat-obatan antidepresan kemungkinan memiliki efek terhadap kemampuan kognitif seseorang. Memang, bagi orang-orang yang menderita depresi berat, obat-obatan dapat membantu meningkatkan suasana hati dan energi yang rendah, serta meningkatkan motivasi untuk terlibat dalam kegiatan yang menyenangkan. Bahkan dapat membantu mereka kembali ke pola tidur dan makan yang normal. Akan tetapi, belum diketahui apakah obat antidepresan mengatasi gangguan kognitif yang terkait dengan depresi.

Seseorang yang menderita depresi kemungkinan besar juga mengalami masalah kehilangan memori. Sebenarnya hal ini merupakan gejala depresi yang umum terjadi. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Brigham Youth University di tahun 2013 menemukan bahwa orang yang menderita depresi mengalami kesulitan mengidentifikasi suatu obyek yang identik atau mirip dengan obyek yang baru saja mereka lihat.

Sementara pada penelitian yang dilakukan pada tahun 2015 oleh para ahli dari School of Behavioral and Brain Science, University of Texas di Dallas, Amerika Serikat, dan telah dipublikasikan dalam Cognition & Emotion menyimpulkan bahwa depresi dapat menyebabkan kehilangan ingatan jangka pendek. Ketika keadaan itu terjadi, kehilangan memori yang terkait dengan depresi, maka seseorang mungkin tidak ingat apa yang dimakannya saat sarapan tadi, dan mungkin melupakan detik dari suatu peristiwa penting.

Penurunan fungsi eksekutif otak juga dapat disebabkan oleh depresi. Hal ini memengaruhi kemampuan memproses informasi dan menyelesaikan suatu tugas. Gangguan fungsi eksekutif dapat menghalangi seseorang menyelesaikan tugas-tugas sederhana, seperti membayar tagihan rutin, atau membalas telepon yang tidak sempat dijawab. Fungsi eksekutif sangat penting untuk membantu mengatur waktu, mengalihkan fokus, merencanakan dan mengatur sesuatu, serta mengingat detil-detil penting. Masalah yang terjadi pada fungsi eksekutif sering akut, dan lebih mungkin terjadi ketika seseorang sangat tertekan, sedih atau kurang tidur.

Trevor McDonald, seorang penulis yang berhasil mengatasi masalah depresinya menyarankan agar mereka yang mengalami masalah fungsi eksekutif menguraikan tugas-tugas besar menjadi bagian yang lebih kecil, membuat daftar tugas-tugas yang harus dilakukan dan melihat daftar tugas tersebut secara rutin. Depresi juga merusak kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan, bahkan suatu keputusan kecil seperti pergi makan malam. Biasanya para terapis membantu mereka yang mengalami gangguan ini dengan terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT).

Penanganan ini membantu para pasien menganalisis pilihan dan melihat semua hasil yang mungkin. Serta membatasi jumlah keputusan yang harus mereka buat. Misalnya dengan mengonsumsi makanan yang sama setiap sarapan, atau mengambil rute yang sama setiap pergi ke kantor. Kabar baiknya adalah, segala masalah yang berkaitan dengan kemampuan berpikir terkait depresi dapat diatasi dan kembali berfungsi normal, begitu depresi berhasil ditangani. Ada yang berpendapat bahwa depresi merusak dari dalam, memengaruhi lebih dari sekadar suasana hati.

Selain dapat memengaruhi fungsi kekebalan dan kemampuan kognitif, depresi membuat hal-hal sederhana menjadi tidak mungkin. Oleh karena itu, Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal menunjukkan tanda-tanda depresi, berbicaralah dengan seorang tenaga profesional tentang opsi perawatan.