© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Budaya Malu dalam Islam

Budaya malu merupakan budaya yang perlu dipupuk dalam ber-sosial didalam masyarakat, terutama adalah malu melakukan perbuatan yang tidak baik dan tidak benar.

Salah satu negara yang sangat kuat dalam budaya malunya adalah Jepang. Kita, masyarakat Indoensia, perlu banyak belajar kepada masyarakat Jepang terkait hal tersebut.

Sebagai contoh, setelah terjadi bencana tsunami di Jepang, banyak orang yang kehilangan harta bendanya. Semua harta tersebut berserakan dimana-mana akibat rumah, kantor dan lain sebagainya diterjang oleh gelombang tsunami.

Setelah bencana tsunami reda, harta benda tersebut banyak berceceran di jalan-jalan dan di tempat umum lainnya. Yang menakjubkan adalah masyarakat Jepang memilih tidak mengambil barang-barang yang memang bukan miliknya.

Harian Daily Mail yang terbit di Inggris melaporkan, lima bulan pasca-tsunami tersebut, masyarakat Jepang telah mengembalikan total uang sebesar USD 78juta atau sekitar Rp.700-an miliar ke kantor polisi.

Orang Jepang terkenal sebagai pekerja keras, disiplin dan berintegritas tinggi dan salah satu kuncinya adalah besarnya rasa malu. Mereka malu jika santai, tidak bekerja keras. Mereka malu jika tidak disiplin dan melanggar peraturan. Mereka malu jika tidak jujur, atau mengambil barang yang bukan miliknya.

Bagaimana dengan Budaya Malu di Islam ?

Hilangnya rasa malu berarti hilangnya kebaikan. Ibnu Qayyim.

Apabila rasa malu telah hilang dari diri seseorang, itu akan mendorongnya berbuat sekehendak hati tanpa mempertimbangkan apakah apa yang ia kerjakan melahirkan kebaikan atau keburukan.

Seorang Muslim sangat dianjurkan memelihara rasa malu pada dirinya. Malu menjadi tameng bagi munculnya perilaku yang tak baik dalam kehidupannya.

Rasa malu merupakan sebuah etika yang mendorong seseorang meningalkan keburukan. Ibnu Allan

Baik keburukan dalam bentuk perkataan, perbuatan, maupun sikap yang mencegah seseorang dari kelalaian melaksanakan hak orang lain. Menurut Mahmud al-Mishri dalam Ensiklopedia Akhlak Muhammad SAW, rasa malu itu ada dua, yaitu yang merupakan bawaan dan yang lahir karena diupayakan melalui latihan dan kerja keras.

Malu yang dicapai melalui latihan ditetapkan oleh Rasulullah sebagai cabang dari keimanan. Dalam praktiknya, dua macam rasa malu itu bersemayam dalam dirinya. Ia memang seorang pemalu karena bawaannya memang begitu. Ia pun melambari dirinya dengan rasa malu berbuat maksiat dan melanggar aturan.

Oleh karena itu, Muhammad menganjurkan umatnya untuk menghiasi diri dengan rasa malu yang akan membimbing mereka tetap pada perbuatan-perbuatan baik. Beliau mengatakan, rasa malu itu tidak akan datang kecuali pasti membawa kebaikan. Demikian hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Rasul menjelaskan, rasa malu dan diamnya lisan karena takut terjatuh pada perkataan haram adalah bagian dari keimanan. Sebaliknya, ucapan cabul serta kefasihan lisan tetap bukan dalam hal kebenaran. Keduanya adalah bagian dari kemunafikan. Bahkan, rasa malu dan keimanan dianggap sebagai pasangan yang tak terpisahkan.

Jika sudah demikian, kata Ibnu Qayyim, Muslim akan malu melakukan perbuatan yang buruk, termasuk tindak kriminal. Rasa malu lain yang dianjurkan adalah malu karena merasa lemah. Hal seperti ini dicontohkan para malaikat yang selalu melantunkan tasbih dan pujian kepada Allah SWT setiap saat.

Dalam istilah Islam sikap malu ini disebut haya’ (Arab: al-haya’). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, malu bisa berarti; 1) merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dsb) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dsb); 2) segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat, agak takut, dsb; dan 3) kurang senang (rendah, hina, dsb) (Tim Redaksi KBBI, 2001).

Arti yang pertama yang pas untuk mengartikan malu di sini. Jadi, maksud malu yang merupakan salah satu akhlak mulia adalah malu untuk berbuat sesuatu yang kurang baik, hina, atau rendah. Orang yang malu di sini adalah orang yang tidak mau melakukan perbuatan salah dan hina yang dapat merendahkan dirinya di mata orang lain.

Sifat malu adalah salah satu dari akhlak terpuji yang menjadi keistimewaan ajaran Islam. Rasulullah Saw. bersabda:

Artinya:

“Sesungguhnya semua agama itu mempunyai akhlak, dan akhlak Islam itu adalah sifat malu.” (HR. Malik)

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi Rasulullah Saw. bersabda:

Artinya:

“Kekejian itu membuat segala sesuatu menjadi jelek, sebaliknya malu itu selalu membuat segala sesuatu menjadi bagus.” (HR. al-Tirmidzi)

Dari hadis di atas dapat dipahami bahwa kekejian merupakan sumber dari segala keburukan, sedang sifat malu merupakan sumber dari segala kebaikan dan unsur kemuliaan dalam setiap pekerjaan.

Dalam konteks akhlak, sifat malu ada tiga macam, yaitu malu kepada Allah, hakikat malu, malu kepada diri sendiri, dan malu kepada Orang lain. Orang akan malu kepada Allah jika dia tidak dapat melaksanakan perintah-perintah-Nya atau tidak dapat menjauhi larangan- larangan-Nya. Sikap malu seperti inilah yang merupakan kunci sukses kita menjadi orang yang bertakwa. Dengan bekal malu ini, seseorang akan berusaha untuk dapat menjadi orang bertakwa yang utuh. Orang yang malu kepada Allah pasti akan malu terhadap dirinya sendiri.

Malu terhadap diri berarti dia akan berusaha mengendalikan nafsunya dari keinginan- keinginan yang tidak baik dan tidak benar. Orang yang malu kepada Allah dan kepada dirinya sendiri pasti akan malu juga kepada orang lain. Dengan malu ini ia akan terpelihara dalam semua perilakunya.

Sikap malu juga merupakan refleksi dari iman seseorang. Malu dan iman memiliki keterkaitan yang kuat. Semakin kuat keimanan seseorang, maka akan kuatlah rasa malunya, demikian juga sebaliknya. Karena itulah, Nabi Saw. menjadikan malu sebagai salah satu bagian dari iman. Nabi Saw. bersabda:

Artinya:

“Iman itu mempunyai tujuh puluh cabang, yang paling utama adalah (pernyataan) La ilaha illallah (tiada Tuhan selalin Allah) dan yang paling rendah ialah menyingkirkan duri dari tengah jalan, dan malu merupakan salah satu dari cabang iman.” (HR. al-Bukhari)

Dalam hadis yang lain Nabi Saw. bersabda:

Artinya:

“Malu itu sebagian dari iman dan iman itu di dalam surga. Lidah yang keji itu termasuk kebengisan dan kebengisan itu di dalam neraka.” (HR. al-Tirmidzi).

Hikmah Malu


Malu merupakan salah satu sifat teruji yang memiliki hikmah yang cukup besar bagi seorang mukmin untuk mempertahankan keimanannya, malu dan iman merupakan satu kesatuan yang saling mengisi. Terkait dengan hal ini Nabi Saw. bersabda:

Artinya:

“Rasa malu dan iman itu sebenarnya berpadu menjadi satu, maka bilamana lenyap salah satunya hilang pulalah yang lainnya.” (HR. Hakim)

Malu juga berfungsi mengontrol dan mengendalikan seseorang dari segala sikap dan perbuatan yang dilarang oleh agama. Orang yang yang tidak memiliki sifat malu akan bebas melakukan apa saja yang diinginkan hawa nafsunya .

Rasulullah Saw. bersabda:

Artinya:

“Sesungguhnya di antara yang diperoleh manusia dari kata-kata kenabian yang pertama ialah “Jika engkau tidak lagi mempunyai sifat malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu.” (HR. al-Bukhari)

Apabila kita rinci sifat malu Rasulullah SAW, maka kita mendapatkannya dalam bentuk yang berbeda-beda, yaitu:

  1. Sebagian sahabat menanti saat yang baik makanan Rasulullah, mereka masuk rumah Rasulullah kemudian duduk sambil menunggu masaknya makanan dan sebagian mereka meminta izin berbincang-bincang dengan yang lain. Rasulullah mempersempit lamanya duduk serta banyaknya pembicaraan mereka. Akan tetapi, Rasul malu menghalanginya dengan memerintahkan mereka untuk keluar, karena hal ini berat bagi mereka.

    Maka Allah mengarahkan nabi untuk memberi petunjuk kepada mereka. Terkait hal ini, Aisyah berkata: “Cukup bagimu terhadap orang-orang yang berat. Sesungguhnya Allah tidak membebani mereka”.

Oleh karena itu, Allah menurunkan firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.” (QS.Al Ahzab: 53)

  1. Di antara kehidupan Rasulullah yaitu kisah yang diceritakan oleh Aisyah
    r.a. mengenai kebencian Rasulullah mengungkapkan serta menggambarkan secara langsung sesuatu yang membuatnya malu.

    Aisyah menerangkan bahwa seorang perempuan bertanya kepada nabi tentang mandi haid, Nabi pun memberitahukan kepadanya kaifiyat mandi haid, kemudian Rasul bersabda kepadanya: “Ambillah sepotong kapas dan bersucilah dengannya.” Wanita itu berkata: “Bagaimana aku membersihkan haid dengan kapas itu? Beliau bersabda: Maha suci Allah, Bersihkan saja!.” Aisyah berkata: “Maka aku menariknya kehadapanku dan berkata kepadanya: “Percikkanlah olehmu dengan kapas itu bekas darahnya!.”

    Diriwayatkan pula bahwasannya Rasulullah berkata kepada perempuan itu, “Bersucilah kamu dengannya tiga kali!”, kemudian Rasulullah pun merasa malu lalu memalingkan wajahnya.

    Demikian juga Rasulullah pernah berkata kepada isteri Rifa’ah, ketika ia menceraikan Rifa’ah ketiga kalinya secara jelas. Ia (isterinya) telah menikah dengan laki-laki lain kemudian dia dicerai dan dia ingin rujuk (kembali kepada suaminya yang pertama) kemudian dia bertanya kepada Rasul tentang kehalalan kembalinya kepada suaminya yang pertama, lalu Rasulullah SAW. bersabda, “Tidak, hingga kamu merasakan anu nya dan dia merasakan anu mu.” Maksudnya kamu tidak halal bagi Rifa’ah sehingga laki-laki keduamu mencampurimu.

    Berdasarkan hal itu, jelas bagi kita bahwa rasanya akhlak Rasul itu adalah malu, Sedangkan Rasulullah SAW. tidak merasa malu dari kebenaran dalam menjelaskan urusan fiqih yang merupakan urusan agamanya.

Budaya Malu yang dicontohkan Rasulullah


Rasulullah SAW. menganjurkan berperilaku malu bagaikan budi pekerti yang agung dan merupakan salah satu cabang iman, beliau bersabda: “Jika kamu tidak malu maka berbuatlah sekehendakmu.”

Maksudnya bahwa jika kamu tidak memiliki rasa malu yang menahanmu berbuat kejelekan maka lakukanlah perbuatan jelek itu sesuai keinginanmu sendiri dan ini merupakan sebuah ancaman.

Atau perintah hadits itu menunjukkan kepada sebuah kebolehan, karena makna hadits tersebut yaitu jika kamu hendak melakukan sesuatu yang tidak dipandang malu oleh syara’ walaupun dipandang adat dianggap sebuah aib, maka lakukanlah sekehendakmu.

Rasulullah SAW tidak terus-menerus menatap mata seseorang, Rasul berpaling dari orang yang bicaranya tidak baik dan mengalihkan pembicaraan yang tidak diinginkan.

Sayyidah Aisyah r.a. berkata:

“Apabila ada sesuatu yang dibenci datang kepada Rasulullah SAW, beliau tidak mengatakan, “Apa maksud si fulan mengatakan begini dan begitu?” Tetapi beliau berkata, “Apa maksud orang-orang mengatakan begini dan begitu?” Beliau melarangnya tapi tidak menyebutkan nama pelakunya.”

Rasulullah SAW. akan menyampaikan sesuatu yang dikehendakinya dengan sindiran kepada sesuatu yang terpaksa harus diungkapkan jika hal itu tidak pantas untuk diungkapkan secara langsung.

Mengenai sifat malu di kalangan sahabat nabi, Utsman bin Affan telah disifati sebagai seorang pemalu yang malaikatpun malu kepadanya, begitulah perkataan Rasulullah tentangnya.

Dari Aisyah r.a., ia berkata:

“Abu Bakar meminta izin kepada Rasulullah SAW. dan aku bersamanya pada satu tempat Rasul pun memberikan izin kepada Abu Bakar maka Abu Bakar menunaikan keperluannya dengan kondisi Rasulullah dalam keadaan seperti itu, kemudian Umar pun meminta izin kepada Rasulullah dan Rasul pun mengizinkannya maka Umar pun menunaikan keperluannya dengan kondisi Rasulullah dalam keadaan seperti itu, kemudian Utsman meminta izin kepada Rasulullah, beliau pun membereskan pakaiannya dan langsung duduk, lalu Utsman pun memenuhi keperluannya kemudian keluar.”

Aisyah berkata: “Aku berkata: “Ya Rasulullah, engkau mengizinkan Abu Bakar menemuimu dan memenuhi keperluannya dengan kondisi engkau seperti itu, kemudian engkau pun mengizinkan Umar dan memenuhi keperluannya ketika engkau dalam kondisi seperti itu juga, lalu saat Utsman meminta izin, engkau merapikan pakaianmu dan kau pun menjaga dirimu, maka Rasul menjawab: “Wahai Aisyah sesunguhnya Utsman itu seorang pemalu, kalaulah aku mengizinkan kepadanya dengan kondisiku seperti itu, aku takut dia tidak jadi menunaikan keperluannya (kepadaku).”

Utsman bin Affan adalah seseorang yang khusus yang dimalui oleh para malaikat. Dari Aisyah ia berkata:

Rasulullah SAW. sedang berbaring dirumahnya sehingga terlihat (tersingkap) kedua pahanya atau kedua betisnya. Abu Bakar meminta izin kepada Rasul, Rasul pun mengizinkannya dengan kondisi Rasul seperti itu, lalu berbincang-bincang. Kemudian Umar pun meminta izin kepada Rasul, Rasul pun mengizinkannya dengan kondisi Rasul seperti itu. Lalu berbincang-bincang.

Kemudian Utsman datang meminta izin kepada Rasul, maka Rasul pun segera duduk dan merapikan pakaiannya. Lalu Utsman pun masuk dan berbincang-bincang. Setelah Utsman keluar, Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah, ketika Abu Bakar masuk, engkau tidak ceria dan menaruh perhatian kepadanya, kemudian ketika Umar masuk, engkau pun tidak ceria dan menaruh perhatian kepadanya tetapi ketika Utsman masuk engkau segera duduk dan merapikan pakaiannmu, kenapa?” Rasul pun berkata: “Ingatlah, aku ini malu kepada seseorang yang malaikat pun malu kepadanya.”

Rasulullah SAW. telah menganjurkan malu dalam nash dan dalil yang sangat banyak, berikut dalilnya:

  1. Rasulullah SAW. bersabda :

“Jika Allah hendak membinasakan seorang hamba, Dia akan mencabut rasa malunya, maka apabila telah dicabut rasa malu itu dia akan dibenci dan dijauhi manusia. Jika ia sudah dibenci dan dijauhi oleh manusia maka dicabutlah sikap amanahnya. Jika sudah dicabut sikap amanahnya maka ia menjadi khianat dan dianggap sebagai pengkhianat. Jika ia sudah menjadi khianat dan dianggap sebagai pengkhianat maka dicabutlah darinya sifat kasih sayang. Jika sudah dicabut rasa kasih sayangnya, maka ia akan menjadi jahat dan terlaknat. Jika sudah jahat dan terlaknat, maka dicabutlah ikatan Islam darinya.”

  1. Rasulullah SAW. bersabda:

“Sesungguhnya iman dan malu itu saling bertautan. Jika salah satunya diangkat maka yang lainnya juga ikut terangkat.”

  1. Rasulullah SAW. bersabda:

“Malu itu seluruhnya baik.”

  1. Rasulullah SAW. bersabda:

“Orang yang tidak malu di hadapan manusia maka ia tidak malu di hadapan Allah.”

  1. Rasulullah SAW. bersabda:

“Malu itu cabang dari iman.”

  1. Rasulullah SAW. pernah melewati seorang Anshar yang sedang menasihati saudaranya tentang malu, maka beliau bersabda,

“Biarkanlah dia, sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.”

  1. Rasulullah SAW. bersabda:

“Barang siapa yang mengenakan pakaian malunya, maka tidak ada fitnah baginya.”

  1. Rasulullah SAW. bersabda:

“Semua umatku akan diampuni kecuali orang yang berbuat dosa secara terang-terangan. Salah satunya adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari hingga datang waktu subuh dan Allah menutup aibnya. Tetapi dia sendiri mengatakan, “Tadi malam saya telah melakukan begini dan begitu.” Padahal Allah telah menutup aibnya. Tetapi dia sendiri yang membuka aibnya yang telah ditutup oleh Allah tersebut.”

Demikianlah akhlak malu Nabiyyurrahmah dan yang diserukan oleh Islam dengan seruan yang benar. Hal ini termasuk kepada adab dan akhlak Islam.