Bintang yang Lupa Akan Sinarnya


Ilustrasi: https://anitrendz.net/news/2020/05/01/the-realism-of-self-esteem-in-taichi/

Aku mencoba membuka mata, berharap pikiranku bisa lebih tenang. Pemandangan di atas rooftop apartemen ini selalu menjadi hal favoritku. Gemerlap lampu jalan di malam hari, serta suara bising lalu lintas adalah kenikmatan sehari-hari. Kesendirian menjadikannya lebih sempurna.

Tapi, pikiran gila itu lagi-lagi bertamu. Tak peduli sebanyak apa waktu tidur yang telah kukorbankan. Tak peduli seberapa banyak air mata yang sudah kualirkan, hingga tetesan darah yang terbuang sia-sia. Dia senantiasa datang dan mengerang. Cih, benar-benar tak tahu malu. Aku mencoba tak mengacuhkannya, menahan diriku sebisa mungkin. Seperti biasanya.

Pemandangan gedung pencakar langit yang seolah berkompetisi memperebutkan tempat tertinggi membuatku teringat memori ketika keseharianku masih menggunakan seragam putih biru. Kompetisi mendapatkan nilai yang bagus serta reputasi baik dimata guru adalah incaran semua murid. Kala itu, aku hanya mempunyai satu teman.

“Kani, PR matematika buat minggu depan udah selesai belum?”

Aku yang sedari tadi asyik memainkan pensil, akhirnya terhenti, lalu kujawab pertanyaannya, “Oh yang seratus soal? Aku baru selesai setengah …”

"Oh , yaudah gapapa , kamu setor setengah dulu aja,” sahutnya.

Aku menundukkan kepala dan mengambil buku tugas dari tasku. Sedikit berat hati kusodorkan buku itu kepadanya, “Boleh…”

“Makasih ya, Kani! Kamu memang temanku yang paling peduli, hehe.”

Percakapan seperti itu sudah biasa terjadi tiap minggunya. Menurutku, inilah satu-satunya cara agar aku tetap bisa menjadi temannya. Menjadi sendiri setiap waktu tidak enak. Yah , memang aku tak suka memberinya sontekan terus menerus, tapi memang kenyataannya hanya ia temanku.

Namun, pikiran itu berubah ketika kudengar percakapannya dengan teman kelas lain di pagi hari sebelum aku memasuki kelas. “Eh! Sumpah ya, aku juga ngeri deket-deket sama Kani. Tapi, selama aku bisa manfaatin buat jaga reputasi akademikku di sini…, ya kenapa enggak?”

Yah… apa yang kupikirkan? Memang tak ada yang suka denganku. Aku sudah sering mendengar berbagai hinaan yang tertuju padaku.

Ih! Itu matanya kenapa ya? Sumpah aku takut…’

‘Aku kok jijik ya lihat muka dia?’

‘Yah, meskipun mukanya gitu, setidaknya dia pintar lah ya. Jadi, gak kurang-kurang amat.’

Tak hanya di sekolah, tapi di tempat umum pun sering kudengar berbagai bisikan yang ditujukan padaku.

‘Tuh, Nak! Kalau kamu gak nurut sama mama, nanti mukanya kayak orang itu tuh!’

‘Ya ampun… aku kasihan sama calon istrinya nanti. Bakal ada gak ya yang tulus mau sama dia?’

Aku mendengar semua itu. Aku pun tahu cacat yang ada di wajahku. Kulit wajah bagian kananku seperti mengelupas dan terjadi penumpukan lipatan kulit di bagian tersebut sehingga menutup penglihatan mata kananku. Berbalut warna ungu kehitaman menjadikannya semakin mengerikan. Aduhai, betapa beruntungnya orang yang hidup tenang bisa menyembunyikan aibnya.


Sore itu, aku pulang dengan perasaan kecewa yang begitu dalam.

“Kani diledeki lagi ya?” ucap nenek sambil mengusap kedua pipiku. Aku hanya menjawab dengan senyuman.

Tanpa banyak bicara, nenek langsung mengelus rambutku, “ Yasudah , makan dulu, yuk! Nenek sudah siapkan roti coklat sama susu hangat kesukaan Kani.”

Hatiku yang tadi hujan kini rasanya mereda dan hangat bak mentari yang terbit kembali. Beliau adalah payungku. Aku sudah dirawatnya sejak kelas 3 SD, tepat ketika aku tidak tinggal bersama kedua orang tuaku lagi. Hal yang aku kagumi dari nenek adalah ia mampu membaca perih dari tiap senyumku.

Malamnya aku tidur berselimutkan kain tebal bergambarkan Kobo Chan . Tokoh kartun favoritku. Selimut ini merupakan pemberian ibu atas keberhasilanku mendapatkan peringkat satu di kelas. Meskipun kecil dan sudah usang, tapi aku betah memakainya karena aroma ibu masih tercium dengan baik di sini. Jadi teringat masa itu, ketika aku pulang sekolah dengan wajah penuh senyum semringah. Menanti tayangan Kobo Chan di televisi ditemani segelas susu hangat, hingga aroma sup ayam masakan ibu yang tercium di tengah-tengah film. Ah, sempurna.

Pikiranku melayang semakin tinggi, ingin mereka ulang semua kenangan yang tersimpan dengan baik dalam sel otakku. Bak menaiki kereta waktu untuk kembali ke masa lalu. Tidak begitu banyak yang kuingat tapi setiap kali memori-memori itu terlintas di imajinasiku, aku tersenyum bahagia. Ekspresi yang cukup langka kau temukan pada diriku. Kereta itu terus membawaku bernostalgia hingga pikiranku sampai di kenangan penutup.

Kupikir, berlibur ke pantai bersama akan menjadi episode tambahan yang mengesankan. Setelah ayah mengusapkan sunblock pada kulitku, aku langsung berlari sambil menenteng seperangkat alat pembangun istana andalanku. Selepas beberapa kali percobaan, ternyata membangun istana pasir tidak semudah yang aku lihat di televisi. Melihatku yang murung, ayah langsung menggendongku di atas pundaknya, “Kani, kita ke pantai saja, yuk? Kayaknya istana bawah air jauh lebih bagus!”

Selama di pantai, tawa ibu dan ayah begitu lepas. Cuaca pantai hari itu sangatlah cerah. Pemandangan air biru seluas mata memandang dihiasi kicauan merdu dari sekawanan burung yang kesana kemari memang cantik, tapi melihat senyum kedua orang tuaku jauh lebih berharga dari semua itu. Saat itu, aku bak berada di puncak bahagiaku. Rasanya aku siap menghadapi dunia bersama mereka.

Selepas bermain, kami meminum es kelapa muda di pinggir pantai. Aku kelelahan hingga terlelap. Kupejamkan mata, kubiarkan alam mimpi menyapaku. Kukira semua akan baik-baik saja, hingga tiba-tiba suara teriakkan bersahutan satu sama lain. Rasanya senyum mentari sudah berganti awan gelap secara tiba-tiba. Guncangan yang aku rasakan kini membuatku terbangun dari alam mimpi sepenuhnya. Aku berada di pangkuan ayah. Kulihat ayah dan ibu berlari begitu kencang bak dikejar sesuatu. Sesuatu yang melebihi dari sekedar anjing galak. Kebingungan ini barulah terjawab saat kulihat luapan air yang begitu besar menanti di belakang kami. Aku khawatir kami akan kalah cepat dengan luapan raksasa itu. Ekspresi orang-orang terlihat begitu mengerikan bak tak peduli lagi apa yang ada disekitarnya, yang penting mereka selamat. Ayah, Ibu… Apa ini banjir? Tapi kenapa ayah ibu sampai ketakutan setengah mati? Kita akan baik-baik saja, bukan?

Hanya itulah yang kuingat hingga tiba-tiba saja air laut menenggelamkan kami semua. Air laut yang masuk ke dalam tubuh berhasil buatku tak sadarkan diri. Setelah hari itu, aku hanya berandai-andai untuk bisa melihat wajah ayah dan ibuku lagi. Kini, yang tinggal hanyalah bekas luka di wajah bagian kanan. Dunia yang dulu kulihat berisikan orang-orang baik, kini tak lagi sama. Luka ini berhasil membuat kepercayaanku rusak akan dunia.

“Kani, kamu mimpi buruk lagi, Sayang?” Tiba-tiba nenek menghampiriku.

Hanya isak tangis yang kusuguhkan pada nenek. Aku rapuh kala mengingat memori pahit itu. Kurasakan tangan hangat nenek yang mengelus rambutku. Kemudian, kedua tangan yang penuh kasih sayang itu dililitkannya ke tubuhku, didekapnya. Hangat. Jujur, kehangatan ini membuat air mataku semakin menjadi-jadi.

“Nenek memang tak akan pernah bisa menggantikan orang tuamu, Kani. Tapi, kalau Kani butuh kasih sayang ayah ibu, nenek ada di sini,” sahutnya sambil mengecupku lembut.


Kini, semua itu tinggal kenangan. Aku di sini, berdiri sendiri. Sudah tak ada lagi pundak yang menguatkan. Tak ada pelukan yang menenangkan atau sekedar segelas susu hangat. Rasanya baru kemarin aku melihat senyum nenek di video call . Pandemi Covid-19 ini mengharuskan nenek pulang ke Sang Pencipta. Kala itu, sudah kularang nenek untuk keluar rumah. Tapi, nenek hanyalah manusia biasa yang ingin menjadi orang tua bagi cucunya. Beliau memaksakan diri untuk belanja ke pasar agar bisa memasakkanku makanan istimewa sebagai rasa syukur atas keberhasilanku mendapatkan pekerjaan.

Seminggu lamanya tinggal di apartemen khusus isolasi bagi orang-orang yang dalam pemantauan terduga Covid-19 ini cukup membuat keadaan jiwaku semakin tertekan. Mencari udara segar di rooftop biasanya cukup, tapi kini lukaku semakin berat untuk kutahan lagi. Rasanya begitu perih melihat istana yang telah kubangun sejak lama namun harus hancur begitu saja.

Tak ada yang mencintaiku pun tak ada lagi yang kucintai. Aku melihat hiruk pikuk keramaian kota dari atas sini. Menghilang dari dunia ini pun toh tak akan ada yang peduli. Rasanya, ketinggian dari atas gedung ini sudah cukup. Apa ini akhir dari semuanya?

“KAK, JANGAAAANNNN!!!”

Ketika aku hendak terjun, tiba-tiba saja ada yang menghalangiku dari belakang. Ia memelukku erat. Tangan kecilnya tak bisa lepas. Aku tak bisa kemana-mana. Seketika terdengar suara tangisan seorang anak laki-laki. Siapa ini?

“Kak, aku mendengar detak jantung kakak yang berdetak tiap detik. Kalau jantung mengeluh ingin istirahat, ia bisa saja egois untuk berhenti selama lima menit. Ribuan sel selalu perang tiap harinya dengan kuman dari luar supaya kakak gak sakit. Berkali-kali mereka menambal luka sabetan cutter yang kakak bikin hampir tiap malam. Mereka tetap kuat meski kakak jarang beristirahat karena terjaga sepanjang malam. Semua yang mereka lakukan adalah atas perintah Allah, pencipta mereka, agar kakak tetap hidup…”

Kembali kudengar isak tangisnya. Seolah memberi jeda antar rangkaian katanya yang indah itu.

“Kak…, kalau Allah dan tubuh kakak saja tidak menyerah untuk mencintai Kakak, maukah Kakak bersyukur dengan setidaknya mencintai diri kakak sendiri?”

Ribuan kata yang baru saja mau kulontarkan tiba-tiba dibungkam seribu bahasa oleh kata-katanya. Aku mencoba berbalik badan untuk menatapnya. Kuperhatikan anak laki-laki itu. Meski mukanya kemerahan penuh air mata, tapi masih dapat kukenali. Wajahnya tidak asing bagiku. Anak itu kemudian mengelap ingusnya dengan bajunya yang bergambarkan Kobo Chan.

Tubuhku lemas, menyungkur ke tanah. Anak itu, dengan kebesaran hatinya, memelukku kembali. Kali ini, dari arah depan.

Makasih , Kak… Makasih karena sudah kuat selama 24 tahun ini…”

Hatiku hancur mendengarnya. Benar, aku lupa akan Rabb- ku. Betapa aku selalu mencari cahaya dari luar hingga lupa kilauan diriku sendiri. Aku sibuk mengharap cinta, hingga lupa untuk mencintai diriku sendiri. Bukan karena keegoisan, melainkan karena Allah menyuruhku demikian. Aku bersyukur kamu datang…, terima kasih…, Kani kecil.

#ManusiaDanCinta


9 Likes

What a beautiful story!! :sob::sob:
Kata katanya bagus bgt, :two_hearts: banyak adegan yg penuh makna gituu, jujur feels nya di aku dapet banget,
Aku tunggu karya2 selanjutnta yaaaaa :smiling_face_with_three_hearts:

Terharu…
Dalam luka, pilu dan belenggu saling beradu
Kalbu kian berdebu
Menyesali kisah lalu
Diri terpaku dalam angan yang semu

Mengapa semua membisu?
Aku bukanlah benalu
Aku hanya candu dalam merindu
Hingga Kani kecil pun terpaku
Salahkah ia bertumpu pada-Mu?

Ceritanya indah bgt :") … Sukses terus autor… Baarakallah

1 Like

Baarakallaahu fiyki…
Sangat memberikan makna, pelajaran hidup “Bahwa bunuh diri bukan pelepas yang baik, betapa itu adalah awal…” Terkadang mungkin kita kecewa, lelah dengan kehidupan ini, ga apa ko. Tapi ingat jika larut kita seperti tak memiliki pencipta.

Masyaallaah… Kisah yang mengharukan. Semoga jadi ladang pembuka mata hati, masalah bukan diakhiri dengan cara instan, tapi dihadapi dengan tegar dan percaya Allaah tak akan memberi ujian melebihi batas kemampuan hambaNya.

  • Tulisan ini utama untuk diriku. Terima kasih. Jazaakillaahu khayraa… :four_leaf_clover: