Biawak Purba Punya 4 Mata

Biawak adalah salah satu hewan yang banyak ditemukan di Indonesia. Seperti yang kita tahu, biawak saat ini hanya punya 2 mata.

Namun, tahukah Anda, 49 juta tahun lalu, biawak tidak melihat dunia dengan dua mata saja? Ya, biawak purba dulu memiliki empat mata.

Hal ini ditegaskan oleh penelitian terbaru.

Biawak yang bisa melihat ke segala arah tersebut adalah Saniwa. Menurut para peneliti, hewan ini adalah vertebrata (hewan bertulang belakang) berahang pertama yang tercatat punya 4 mata.

Biawak adalah salah satu hewan yang banyak ditemukan di Indonesia. Seperti yang kita tahu, biawak saat ini hanya punya 2 mata.

Namun, tahukah Anda, 49 juta tahun lalu, biawak tidak melihat dunia dengan dua mata saja? Ya, biawak purba dulu memiliki empat mata.

Hal ini ditegaskan oleh penelitian terbaru.

Biawak yang bisa melihat ke segala arah tersebut adalah Saniwa. Menurut para peneliti, hewan ini adalah vertebrata (hewan bertulang belakang) berahang pertama yang tercatat punya 4 mata.

Sebelumnya, satu-satunya hewan bermata empat yang diketahui adalah ikan lamprei tanpa rahang.

Lalu, yang jadi pertanyaan jika reptil ini berbeda dengan biawak kebanyakan, di manakah letak mata ketiga dan keempatnya?

Para peneliti menyebut, dua mata tambahan biawak ini berada tepat di atas kepalanya. Tepatnya terletak di organ pineal dan parapineal-nya.

Struktur fotosensori (organ yang menerima rangsangan cahaya) ini ternyata juga punya peran penting bagi orientasi, siklus sirkadian, hingga siklus tahunan reptil tersebut.

Selain itu, temuan ini membantu para peneliti memahami sejarah evolusi dari organ pineal dan parapineal pada vertebrata.

Hingga saat ini, para peneliti mencatat, organ pineal yang peka terhadap rangsangan cahaya ditemukan pada beberapa vertebrata bawah. Misalnya, ikan atau katak yang bertelur di bawah air.

Organ ini ditemukan di hampir seluruh vertebrata bawah hingga disebut sebagai “mata ketiga” oleh para ilmuwan.

“Di satu sisi, ada gagasan bahwa mata ketiga menghilang secara mandiri (begitu saja) dari kelompok vertebrata yang berbeda, seperti mamalia dan burung, dan hanya bertahan pada biawak di antara vertebrata yang tinggal di darat,” ungkap Krister Smith, ketua tim peneliti dikutip dari Live Science, Senin (02/04/2018).

“Di sisi lain, ada gagasan bahwa mata ketiga biawak berkembang dari organ berbeda, yang disebut parapineal, yang berkembang baik pada ikan lamprei. Kedua ide ini benar-benar bertolak belakang,” imbuh poleoantrolog di Senckenberg Research Institute, Jerman tersebut.

Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya penemuan dua mata “tambahan” pada Saniwa ensidens ini membantu menjernihkan misteri.

“Dengan menemukan biawak bermata empat, di mana kedua organ pineal dan parapineal membentuk mata di bagian atas kepala, kita bisa memastikan bahwa mata ketiga biawak benar-benar berbeda dengan mata ketiga vertebrata lain,” ujar Smith.

Penemuan ini terjadi saat Smith dan para koleganya melihat dua spesimen S. ensidens yang dikoleksi selama 150 tahun di museum di Grizzly buttes in Bridger Basin, Wyoming, AS.

Para peneliti melakukan CT scan pada biawak berukuran 1,3 meter tersebut. Tak hanya itu, para peneliti juga mengambil ribuan ronsen dan merangkainya menjadi gambar digital tiga dimensi.

Hasil CT scan menunjukkan bahwa biawak kuno yang punah 34 juta tahun laalu itu punya ruang di tengkoraknya. Ruang itu diperkirakan tempat mata keempatnya berada.

“Saya tentu tidak mengharapkannya,” kata Smith.

Penemuan yang diterbikan dalam jurnal Curent Biology ini mengungkapkan, kelenjar pineal dan parapineal tidak berpasangan seperti mata pada vertebrata modern. Di samping itu, temuan ini menunjukkan bahwa mata ketiga pada biawak telah berevolusi independen dari mata ketiga.

sumber : https://sains.kompas.com/read/2018/04/03/170000323/temuan-baru--biawak-purba-punya-4-mata