Biar Buyar (Manusia dan Cinta)


Ruang kelas mulai sepi ketika hari terasa semakin panas, sedang umat-Nya menjawab panggilan beribadah mereka. Bersama para mudi yang sedang datang bulannya, Denara tetap tinggal di ruangan membosankan itu. Penantiannya tertuju pada sesosok jangkung yang begitu diidolakan teman-teman sekelasnya.

Lita, kawan sebangkunya, menawari semangkuk puding oreo yang masih cukup dingin. Ia merupakan panitia acara tahunan terbesar sekolah, yang rajin berjualan untuk mencari dana. Awalnya Denara hendak menolak, mengingat uangnya sudah pas tersisa untuk ongkos pulangnya nanti. Namun, melihat wajah Lita yang memelas, Denara pun iba.

Tak lama setelah berangkatnya Lita ke rumah ibadat, pria berjambul yang ditunggu Denara akhirnya menampakan batang hidungnya. “Nara, ke pojok seni, yuk!” serunya.

“Sudah sembahyang?” tanya Denara.

“Sudah pernah.” jawabnya singkat lalu mengedipkan mata kirinya, membuat senyum tipis terukir di wajah manisnya.

“Dasar,” Denara menggeleng-gelengkan kepala. “ini untukmu.” katanya sambil menyodorkan semangkuk makanan ringan itu.

“Kau pegang dulu, ya.” balas Arrafif yang langsung menarik tangan Denara dan membawa jari-jari mungil itu dalam genggamannya.

Dua pasang kaki itu bergerak menuju suatu ruangan yang terletak di sudut sekolah. Pojok seni. Tempat yang tak pernah sepi kala bel istirahat berdering. Dengan tangan yang masih terkait, Denara membujuk Arrafif untuk mengantarkannya pulang. Rindu bisa jadi dasar permintaan Denara, tapi lebihnya karena ia tak punya sepeser rupiah lagi.

Beruntung, Arrafif mengiyakan permintaan kekasihnya itu. “Kemanapun tak jadi masalah. Asal aku bersamamu, Nara sayang.” kata Arrafif lalu mengacak lembut pucuk kepala Denara. Yang diperlakukan manis pun membalasnya dengan senyum sumringah.

Benar saja, ketika tiba di pojok seni, telah ramai murid berkumpul. Ternyata rapat sedang berlangsung. Tampaknya sedang ada masalah, atmosfer ruangan itu terasa tegang. Denara yang bukan merupakan bagian dari ekskul kesenian jadi merasa kikuk. Ia menyapu seluruh ruangan dengan matanya. Didapatinya banyak pasang indera penglihat sedang menusuki seseorang yang duduk ditengah-tengah mereka.

Arrafif menyuruh Denara untuk duduk dan tetap tenang. Sebelum pergi, Arrafif mengulurkan tangannya, meminta puding yang tadi Denara tawarkan. Lalu dua mata bola Denara mengikuti pergerakan punggung jenjang yang menjauh itu. Ia melangkah tak banyak, hingga akhirnya berhenti dan duduk di sebelah seorang perempuan. Perempuan yang sedari tadi ditatap oleh seluruh penghuni ruangan. Anya, perempuan yang adalah sahabat sejak kecilnya Arrafif.

“Masih mau mengelak kau? Tak jera juga? Ini bukan kali pertamamu, Anya!” seru salah seorang dengan sangat tegas. Alih-alih menjawab, yang dituju malah terdiam. Sedang punggungnya terus diusap Arrafif, kata-kata makian lain semakin memukulinya.

Seketika rusuh dalam ruangan itu berhenti ketika Arrafif angkat suara. “Diam!” Denara gemetaran mendengar lelaki tampan itu berucap dengan sangat lantang.

“Tolong biarkan Anya beristirahat dengan sedikit mengisi perutnya.” katanya lalu bangkit dan maju beberapa lantai. “Kalian semua hanya bisa memaki! Kini tergambar jelas, hanya benih kebodohan yang tertanam pada otak kalian!” tutur Arrafif dengan penuh emosi.

Mendegar kalimat itu, Denara tersentak kaget. Tak disangka Arrafifnya dapat melontarkan kalimat tak layak itu. Tak disangkanya pula semangkuk puding yang ia berikan untuk Arrafif, yang membuat uangnya habis tak tersisa, malah mulus berlayar ke perut Anya.

Denara hanya termenung hingga perkataan Arrafif dibalas Putro, kawan dekat Arrafif. “Tak sadarkah? Kau yang bodoh, Arrafif!” sudut kiri bibirnya tertarik dan mengeluarkan sedikit tawa. “Kalian yang bersikeras membela wanita munafik ini, silakan diam di ruangan ini! Kau telan saja cemilan itu bersama jutaan rupiah kami, Koruptor!” lanjutnya sebelum kakinya terangkat meninggalkan pojok seni.

Denara perlahan mendekatkan diri pada dua insan itu, berharap kehadirannya dapat menenangkan Anya. Sayang, niat baik Denara dihempas begitu saja oleh Arrafif. “Aku tahu hatimu tak sungguh untuk menghibur. Pergi, Nara!”

Dengan mata sembab, mau tak mau Denara harus tetap duduk diam di kelas. Suara nyaring Bu Hanum, guru biologinya, bagai desisan angin yang mengiringi lamunan Denara. Badannya memang duduk tegap, namun fokusnya melayang entah kemana. Memori lama milik ia dan Arrafif berputar mengelilingi kepalanya. Memang kisah mereka. Namun dalam beberapa episode, tak jarang tokohnya bertambah Anya, memberi bumbu berlebihan.

Melihat Denara yang jelas sesenggukan, Bu Hanum menegur siswi pendiam itu. “Ada apa, Nara? Hasil tesmu menunjukan dua garis biru?”

Menangkap perkataan guru itu, seisi kelas tertawa. Tubuh Denara gemetar. Saat itu juga kepalanya seperti dihujani pedang yang membuatnya hanya bisa menundukan kepala. Tentu, lagi-lagi sambil meneteskan air dari matanya.

“Berhentilah menangis! Segera ke kamar mandi, atau saya yang akan angkat kaki!” kata Bu Hanum menghentakan tangannya, menunjuk ke arah pintu keluar.

Bahkan jarum jam pun mengerti peasaan Denara yang sudah kehilangan asa. Benda itu seperti berdetak lebih cepat dari biasanya. Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi dan Denara berdiri manis di depan gerbang sekolah. Kira-kira pukul empat sore, hati Denara berantakan bak pecahan vas bunga yang berserakan. Ia telah berkali-kali memanggil ponsel Arrafif, namun hanya pesan singkat yang ia peroleh sebagai balasan.

Arrafif Naufal:

Anya sakit, aku menemaninya istirahat di rumah. Kamu pulang sendiri ya. Hati-hati.

Tanpa perlu mencari, Denara sadar kata maaf itu tak akan dilontarkan Arrafif. Memang, bukan salahnya. Ia mengerti konsekuensi menjalin cinta dengan senior yang diidamkan teman-temannya, ditambah pasangannya itu memiliki sahabat yang selalu dibela dan dijunjung tinggi. Selama ini Denara layaknya bayi koala yang ingin selalu melekat pada induknya. Namun lupa, induk koala pun butuh pohon untuk didekap. Mau Denara hanya bersama Arrafif. Entah, tokoh itu malah mengharuskan kebersamaannya disertai karibnya, Anya.

Kini Denara tidak berdua, apalagi bertiga. Arrafifnya tak datang. Mungkin datang, bahkan hadir. Tetapi saat ini bukan untuk dirinya. Ia kehabisan uang dan kehilangan Arrafif untuk sementara. Dihabiskannya petang itu dengan berjalan kaki menuju rumah. Bendungan air mata Denara sepertinya sudah kehabisan persediaan. Bukan lagi pilu yang terasa, amarahlah. Tangannya lama mengepal, menahan gusar yang meruak seluruh tubuhnya.

Langkah kaki Denara tertahan ketika mendapati seseorang sedang berlarian di tanah lapang. “Hadil!” teriak Denara memanggil kawan sekelasnya.

Anak tengil itu sempat menyipitkan matanya sejenak, lalu membalas, “Oh, Nara!”

Denara meninju lengan Hadil yang menampakkan logo sekolahnya. “Kemana saja kau? Sekolah kok dengan burung?”

“Jangan begitu,” Hadil yang kesakitan mengusap-usap lengannya. “tadi aku terlambat.”

“Kenapa tidak pulang ke rumah?”

“Kau mau aku disambit si bunda?” Denara pun tertawa.

Di kelas, mereka jarang bercakap. Bersatu dalam kelompok tugas saja belum pernah. Tetapi Denara merasa langsung bisa memiliki Hadil sepenuhnya. Dengan menaruh kepercayaan, ia menceritakan kisahnya hari ini. Kisah yang menyedihkan sekaligus menyebalkan. Tatapan Hadil mampu menyihir hati Denara yang semula rapuh menjadi utuh kembali.

Dua ekor burung milik Hadil yang rajin dielusnya bak saksi di antara aksa mereka yang saling menenggelamkan adorasi. Dengan berani, Denara meletakkan kepalanya pada pundak Hadil. Tubuhnya yang lumayan berisi membuat Denara nyaman, bahkan bersedia jika diminta bersandar seharian. Ketika ocehan Denara selesai, Hadil meminta Denara mengeluarkan secarik kertas beserta pensilnya.

“Mau apa kau?” tanya Denara penasaran.

“Kau tahu? Burung merpati adalah burung yang setia. Ia juga tahu tempat terbaik untuk pulang.” jelas Hadil sambil memeluk kedua hewan cantik itu. “Coba kau tuliskan namanya. Siapa? Arrafif, bukan?” lanjutnya.

Denara menuruti perintah Hadil. Ia menggerakan pensil dalam cengkramannya, menuliskan nama itu, A-R-R-A-F-I-F. Hadil yang sempat meninggalkan Denara pun kembali membawa seutas tali. Ia melubangi kertas itu lalu mengikatnya. Dikaitkannya kalung bertuliskan nama Arrafif itu pada salah satu burung merpatinya.

Melihat Hadil yang tampak jahil, Denara bertanya, “Apa maksudmu?”

“Kurasa kau cukup pintar untuk mengerti.” jawab Hadil yang membuat Denara menggelengkan kepala, tingkah itu terlihat sangat menggemaskan di mata Hadil.

“Mungkin ini kekanak-anakan. Tapi tak ada salahnya mencoba.” perkataan Hadil malah membuat Denara semakin bingung. “Kau terbangkan saja burung kesayanganku ini. Ia pasti kembali. Nanti kita lihat, kalau kalungnya masih terikat, kusarankan kau kembali pada Arrafif. Berjanjilah pula, kau harus semakin menjaganya. Namun jika kalungnya lepas, kumohon pertimbangkan kembali hubungan kalian.” jelas Hadil.

“Aku paham.” Denara mengangguk tanda mengerti.

Setelah Hadil memberi contoh, kini giliran Denara. Ia menerbangkan merpati satunya yang mengalungkan nama Arrafif. Setelah makhluk putih itu melayang ke angkasa, senyum Denara terlukis begitu lebar. Hadil yang memandangnya pun ikut berseri.

“Percayalah Nara, semesta akan memulihkanmu.” kata Hadil tiba-tiba. Denara tak menjawab, ia sibuk memandangi burung-burung yang menari di atas sana. Ketika sudah tak lagi kelihatan, Denara menatap Hadil yang masih menilik cakrawala. Yang diamati pun sadar. Ia memegang kedua bahu Denara lalu membuat daksa mereka berhadapan.

“Denara, kalau malam nanti hujan turun, kumohon, menangislah.” bujuk Hadil.

“Kalau nyatanya tidak?”

“Tetaplah menangis.”

“Mengapa?”

“Aku tak mau menangis sendirian lagi.”

“Jadi, tiap malam kau menangis?”

“Untukmu.”

Mendengar Hadil, Denara tersanjung habis-habisan. Sebenarnya sekaligus sedih. Ia tersadar, lama sudah waktunya terbuang sia-sia untuk Arrafif. Biar saja. Merpati itu tak perlu kembali untuk memberi petunjuk. Biar buyar saja nama Arrafif bersama semesta. Denara sudah menemukan jawabannya. Hadil. Sambil tersenyum hangat, Denara melepas jemari Hadil dari bahunya. Lalu ia mengambil ranselnya dan sekencang-kencangnya berlari menjauh.

Melihat anehnya Denara, Hadil bingung. Ia bergegas mengejar temannya itu. “Kau mau kemana, Nara? Merpatiku belum kembali!” seru Hadil.

“Aku mau segera sampai di rumah, Hadil. Menanti malam!” balas Denara sambil berteriak lalu kembali melangkah cepat.

Mendengar jawaban itu, Hadil berhenti berlari. Napasnya masih terengah-engah. Namun ia lega karena berhasil menyatakan perasaannya.

Denara juga berdiam di tempat. Ia menoleh dan kembali berteriak, “Hadil! Kurasa semesta mengirim kau untuk memulihkanku!”

“Iyakah?” Denara membalasnya dengan anggukan.

“Kalau begitu, sama-sama.” kata Hadil sambil melambaikan tangan.

Denara tertawa sedikit. “Benar, terima kasih!” ia lalu berlari lagi dan tidak berhenti hingga benar-benar tiba di rumah.

4 Likes