Bersenandung Bersama Ayah - Challenge 30 Hari Menulis Sastra

“Aku ingin belajar menangis tanpa air mata, perasaan-perasaan yang lembap. Aku percaya ada perihal semacam itu; peri yang memperindah hal-hal perih, batu yang bertahan di alir air sungai, atau badai yang lembut.” - Mendengar Radiohead, Aan Mansyur.

Aku kembali mengingat masa-masa ketika mulai senang bersenandung di mana saja diriku berada. Aku sangat senang mendengarkan musik, bernyanyi, dan tak luput pula bersenandung. Aku menyukai genre musik apa pun, mulai dari pop, jazz, rock and roll, indie, bahkan campursari. Tak ayal pula musik-musik dari negara lain, seperti musik K-pop, J-Pop, lagu-lagu random berlirik Prancis, Thailand, hingga lagu-lagu lawas baik lokal maupun internasional. Mau dari mana pun asal lagunya, musiknya, bahasanya, lama tahun pembuatannya, asalkan nadanya sesuai dengan konsumsi telingaku sehari-hari, maka lagu itu lolos verifikasi dalam playlist ku. Bahkan, bisa saja lagu tersebut menjadi favorit yang akan selalu ku repeat berulang kali.

Aku mulai bertanya-tanya, mengapa telingaku seakan-akan memiliki pikiran terbuka sehingga dapat menoleransi berbagai genre lagu yang terdengar secara random kapan saja dan di mana saja. Aku menduga bahwa semua ini mungkin disebabkan oleh ayahku. Ya. Aku yakin. Ini pasti akibat dari kebiasaan ayah yang kerap kali menyalakan tape recorder di mobil setiap kali kami akan pergi berkendara. Ayah sangat suka mendengarkan musik. Ketika ayah tengah menyetir mobil, guna mengusir sepi, ayah pasti akan menyalakan tape recorder itu. Kebiasaan ini mutlak, bahkan sejak aku kecil. Beberapa kaset andalan ayah tidak jauh dari seputaran Dewa 19, Peterpan, God Bless, Iwan Fals, Ebiet G. Ade, dan lain semacamnya. Lagu-lagu dari mereka mengalun silih berganti, tak henti hingga ayah kembali mematikan tape recorder tersebut.

Setiap kami jalan-jalan di akhir pekan dengan ayah yang menyetir mobil, tape recorder itu akan selalu dinyalakan. Suara Ariel Peterpan mengalun bebas, terkadang suara Once ataupun Ari Lasso yang dahulu besar namanya di Dewa 19. Aku seperti tumbuh dan berkembang bersama kaset-kaset lawas ayah. Aku dibesarkan bersama dengan kecintaan ayah terhadap musik dan lagu-lagu mereka. Wah, rasanya teman-temanku saja, bahkan tidak mengenali siapa mereka dan bagaimana lagu-lagu mereka. Aku merasa beruntung karena sepertinya ayah menurunkan selera musiknya padaku.

Kami memiliki selera yang sama dalam beragam hal, salah satunya dalam genre musik. Aku selalu menikmati musik dan lagu-lagu yang keluar dari kaset-kaset lawas milik ayah. Semua lagunya dengan cepat menjadi kesukaanku. Semua lagunya termainkan secara teratur, tanpa ada interupsi dariku yang mengganti lagu atau bahkan mengganti kaset yang terputar dengan kaset lainnya.

Seringkali ayah menekan tombol repeat di salah satu lagu favoritnya sehingga lagu tersebut akan berputar berulang kali. Setiap lagu favorit ayah, aku pasti ikut menyukainya, salah satunya adalah lagu dari God Bless yang berjudul ‘Huma di Atas Bukit’. Lagunya sangat syahdu dan menenangkan. Ada pula lagu milik Dewa 19 yang berjudul ‘Hidup Ini Indah’ yang dibawakan dengan sangat khidmat. Oh, tidak. Aku dan ayah sepertinya sama-sama Baladewa sejati.

Zaman semakin berubah, genre musik tak ayal semakin bervariasi, belum lagi Hallyu Wave yang semakin menggelora di Indonesia. Aku tak menampik bila kini diriku juga ikut menyukai lagu-lagu K-pop yang akhir-akhir ini tengah mendunia. Namun, rasanya berbeda bila tiba-tiba secara tak sengaja aku mendengar beberapa lagu yang dahulu sering aku dengarkan bersama ayah saat berkendara. Seakan-akan bernostalgia. Bedanya, aku tidak bisa kembali merasakan itu lagi sekarang. Tidak, tanpa bersama ayah.

Lagi-lagi, aku membiarkan kepalaku dipenuhi kenangan-kenangan yang berlomba-lomba; menyeruak; untuk memaksaku merasakannya kembali. Lagu lama itu tiba-tiba saja terputar random di youtube. Aku membiarkan diriku kembali tenggelam dalam kenangan yang tercipta dari setiap bait lagu yang menggema di sudut-sudut kamar. Aku mulai memejamkan mataku, membayangkan masa-masa di mana aku bersenandung di dalam mobil, mengiringi lagu yang terputar di tape recorder bersama ayah yang mengangguk-anggukkan kepalanya, alih-alih mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di kemudi mobil mengikuti irama ketukan lagu. Ayah sesekali ikut bernyanyi, terkadang di reff atau di beberapa part yang ayah sukai. Kemudian ayah akan memuji suaraku yang menurutnya bagus atau sekonyong-konyong menjahiliku dengan berkata bahwa aku bernyanyi layaknya seorang penyanyi sungguhan. ‘Meh, ayah. Aku tau kau pasti tengah bergurau saat itu.’ Kami lalu berakhir dengan tawa; bersama.

Lagu itu masih berputar manis, mengudara di kamar bersamaan dengan terbukanya mataku yang telah basah oleh air mata. Memori-memori indah itu berkelebat di kepalaku, tak bisa serta merta aku menghindari mata yang memanas seakan tersengat, sejurus bulir-bulir air itu turun dari mata. Perih.

Lantas, tangisanku pecah, masih dengan iringan lagu lawas itu. Sesenggukan. Dinding-dinding kamar mungkin dapat merasakan pilunya. Nyatanya, tangisan itu sedikit membuatku puas, alih-alih menyembuhkan luka dan perih kalbu. Mungkin itulah mengapa Tuhan menciptakan air mata. Dengan menangis memang tidak akan dapat merubah apa pun; menghidupkan kembali ayahku, misalnya. Tentu saja tidak. Menangis; meratap adalah bentuk ekspresi sederhana selayaknya pereda rasa sakit, sebagai bentuk ekspresi melepas penat, lelah, dan kecewa. Hingga muncul perasaan lega.

Akhirnya, tanpa sengaja, menangis menjadi caraku melepas emosi-emosi negatif, tak ayal pula rasa rindu. Mungkin seiring berjalannya waktu, aku akan terbiasa dengan semuanya. Aku akan terbiasa dengan keganjilan di pagi hari; tidak ada ayah yang tengah bersiap untuk bekerja atau keganjilan di hari-hari berikutnya; dua puluh empat jam penuh. Tiada hari tanpa dering telepon dari ayah yang menanyakan kabarku di Malang.

Begitu juga dengan aku yang akan terbiasa mendengarkan lagu-lagu lawas kesukaan ayah tanpa menitikkan air mata. Aku akan terbiasa mendengarnya berulang kali pun dengan rona wajah yang biasa juga perasaan yang tidak sekonyong-konyong berubah menjadi sendu. Namun, kini, aku masih ingin menikmati rasa sedihku. Tahun ini adalah tahun di mana aku akan menjadi sangat cengeng dan kerap menghabiskan bermili-mili air mata hanya untuk beberapa sebab-sebab sepele, seperti mengenang sesuatu atau tak sengaja menatap langit dan teringat akan suatu hal yang membuatku muram.

Aku tidak pernah tau berapa banyak air mata yang dimiliki setiap manusia. Namun, aku bersyukur tidak menggunakan air mataku terlalu sering di masa lalu. Aku jarang menangis, dulu. Aku tidak pernah merengek atau pun meronta, menginginkan sesuatu misalnya. Terkadang jika aku harus menangis, itu karena perasaanku yang terlalu sensitif. Aku bisa dengan mudah menangis karena suatu kisah atau telenovela. Dahulu, tak jarang aku menangis karena merasa tidak diperlakukan dengan adil dan baik oleh beberapa oknum (teman-temanku) semasa taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga menengah atas. Namun, itu bukan jadi masalah besar sekarang. Hal itu tidak lagi penting karena masa sekarang adalah masa yang tengah ku hadapi. Tidak ada gunanya menyimpan dendam untuk masa lalu atau semacamnya. Memaafkan dan mengikhlaskan terkadang menjadi obat terbaik untuk menyembuhkan rasa luka atau sakit hati. Saat itu aku berpikir, toh, aku masih memiliki kedua orang tua yang sangat-sangat menyayangiku. Aku mendapat banyak kasih sayang dari mereka dan aku bahagia. Tiada masalah hidup yang dapat menghalangiku, sekalipun itu cobaan berat, aku pantang menyerah dan merasa sangsi untuk sekadar mengeluarkan air mata. Hidupku terus bergulir indah, hingga sampai di awal tahun ini…
…tak sadar aku menggunakan air mataku secara cuma-cuma; mengeluarkannya dengan puas tanpa takut merasa kehabisan.

Apakah mungkin di kemudian hari, aku menangis tanpa air mata?
P.S: aku membuat cerita kenangan ini sembari mendengarkan lagu Dewa 19 yang berjudul ‘Air Mata’. Tanpa sadar, air mata benar-benar mendominasi isi cerita ini.