Berkelana Rindu Karena Mereka

Gambar Pertemuan antara Anaya dan Alana ( Sumber: https://thegorbalsla.com/puisi-sahabat/ )

Senin, 10 Januari 2005. Tepat lima belas tahun kami berpisah. Ingat betul bagaimana peristiwa itu terjadi, saat umur kami belum menginjak dewasa tetapi kami sudah harus mengenal apa itu arti perpisahan yang sesungguhnya. Saat itu kami baru saja merayakan hari istimewa kami yang ke-10 tahun. Suara tawa teman-teman kami yang mempunyai nasib seperti kami memeriahkan sedikit acara syukuran yang diadakan ibu pengasuh untuk ulangtahun kami.

Namaku Anaya Samira Abraham dengan saudara kembarku Alana Samira Abraham. Abraham itu nama ayah kami dan Mira nama ibu kami. Tapi kami tak mengenal bahkan tak mengetahui paras wajah ayah dan ibu kami. Satu hal yang selalu membuat kami terus bertanya, apakah kami lahir tak sesuai dengan keinginan mereka atau kami membuat kesalahan kepada mereka sehingga mereka tidak mau memaafkan kami dan membawa kami ke tempat yang tidak seharusnya kami ada, Panti Asuhan Damai.

Kalau dipikir-pikir kesalahan apa yang dibuat anak umur dua bulan? Rasanya aneh jika ayah dan ibu kami tidak bisa lagi menerima kami dengan alasan tersebut.

Aku dan saudara kembarku Alana sudah hidup berdua saling mengasihi dan menguatkan satu sama lain di bawah atap panti ini bersama 20 anak-anak panti lainnya. Kami berdua mempunyai impian, kerap kami melihat teman-teman kami satu per satu telah menemukan orangtua angkat yang ingin mengadopsi mereka, tentu kami juga ingin mempunyai orangtua. Tetapi kami berdua berjanji untuk tidak berpisah apapun yang terjadi. Paling tidak orangtua yang ingin menjadikan kami anaknya harus mau menerima kami utuh sebagai saudara kembar.

”Tidak bisa bu, anak ini tidak bisa dipisahkan,” tegas ibu panti kepada seorang wanita paruh baya yang dapat dilihat dari sorot matanya penuh dengan harapan.

“Mengapa tidak bisa?”

“Mereka ini kembar ibu, mereka bilang sama saya sendiri untuk tidak ingin dipisahkan atau ibu ingin mengadopsi keduanya?”

“Apa tidak bisa ibu memberi tahu ke mereka kalau salah satu dari mereka harus ikut kami?” Tanya laki-laki yang duduk di sebelah wanita tadi.

Perasaanku dan Alana sudah tidak enak, sepertinya mereka sedang membicarakan kami. Menegosiasi untuk tidak membawa kami sekaligus sebagai anaknya. Alana memegangi erat tanganku, aku tau perasaannya sangat tidak karuan jika nantinya kami akan terpisahkan, apalagi dia yang sangat bergantung pada diriku. Aku terus menyakin kan dia, kalau kita bakal tetap sama-sama.

“Aku gamau pisah sama Anaya bu, gamau,” jeritan disertai tangis jelas mengiringi telingaku, kami benar-benar tak ingin berpisah hanya karena keegoisan mereka.

Hari demi hari sampai berganti bulan dan tahun perasaan ini tetap hampa, semua berbeda ketika Alana harus ditarik paksa untuk ikut kedua orangtua barunya. Aku di panti kesepian, seakan semua tak lagi bersamaku.

10 Januari 2020, sudah lima belas kali aku melewati tanggal istimewa itu sendirian tanpa saudara kembarku, Alana. Aku ingin sekali bertemu dengan Alana, benar-benar rindu dirinya. Kuputuskan sepulang dari kerja untuk kembali ke panti itu, panti di mana aku dibesarkan. Aku ingin mencoba kembali untuk meminta nomor atau alamat orang tua Alana tinggal. Kerap kali aku memintanya selalu ada alasan ibu panti untuk tidak memberikan. Tapi, kali ini aku harus mendapatkannya.

Setelah aku memakirkan kendaraanku di samping gedung panti, aku segera bergegas berjalan melewati koridor menuju ruang ibu panti biasa.

“Anaya ….”

“Ibu, kali ini Ibu harus memberitahu aku di mana Alana tinggal, Bu. Anaya sudah tidak tahan lagi Bu, Anaya ingin bertemu Alana Bu,” pintaku kepada Bu panti dengan penuh harap.
“Tenang Anaya.”

“Tenang bagaimana maksud ibu?” Ucapku sedikit dengan nada tinggi kepada Ibu panti.

“Sekarang kamu ikut Ibu.”

“Kemana Bu?”

“Sudah ayo,” kata Ibu panti sambil berjalan menuju taman belakang panti yang aku ikuti dengan penuh rasa penasaran.

Ibu panti tiba-tiba berhenti tepat dan menunjuk perempuan yang sedang duduk di kursi taman membelakangi kami.

“Siapa itu Bu dan apa maksud i….”

Ketika aku belum menyelesaikan ucapanku, perempuan di sana berdiri dan berbalik badan serta dengan cepat menghampiri ku dan memeluk erat tubuhku.

“Anaya, ini Alana.”

Dengan penuh rasa tidak percaya dengan yang dia ucapkan, aku kembali memeluk erat dia, karna aku yakin dia Alana saudara kembarku.

Dari pertemuan ini kami mengambil hikmah dari setiap kejadian di hidup kami. Mengikhlaskan apa yang terjadi daripada harus berkenala mencari alasan apa yang terjadi. Orangtua kami dengan rasa keegoisan mereka telah membawa ke panti ini. Ibu panti dan orangtua yang mengadopsi Alana dengan rasa keegoisan mereka pula hingga memisahkan kami.

23 Likes