Bentala Lindang

https://id.pinterest.com/pin/637681628464210183/


Sumber : Pinterest

Laut. Membiru dengan kasar mewarnai langit yang kelabu. Berselisih dengan awan yang tak mau mengalah karena hujan yang sudah sakit hati akibat mentari. Laut tetap kaku. Bergeming tak ingin beranjak ataupun berpindah. Tak apa, setidaknya wajah karang masih nampak dari permukaan. Merah dan hijau yang tak pernah mau berbagi ruang untuk menciptakan keindahan. Suatu gradasi yang fana. Ikan dan pari yang berlomba-lomba mencari validasi dari hiu yang bersembunyi di balik batu. Anemon dan rumput laut tak pernah mau bersatu, walaupun pasir sudah semakin tipis terkikis landai.
“Kau lihat apa di sana, Nak?” katamu suatu kali.
“Tidak ada, aku hanya menjumpai diriku sendiri, Ayah” ujar gadismu yang beranjak remaja tanpa memalingkan muka. Dia terlalu jatuh cinta. Cinta yang membuat kita lupa memiliki apa yang harusnya tak dimiliki, membuat kita nyaman menikmati hamparan drama antar keindahan.
Langit. Menerpa halus raut wajahmu yang mulai layu. Awan yang bertengkar dengan laut, mengadukan kepada semesta katanya, laut tak mau berbagi. Laut adalah serakah yang tak pernah melihat ke bawah.
“Bukankah dia sudah di bawah?” kata semesta.
Awan membisu. Pencemburu. Berlari ke matahari, dikucilkan oleh angin yang mengerti maksud dan tujuan. Bukankah angin ada di manapun kita pergi? Sebagai sesuatu yang selalu tahu, lebih dari diri sendiri? Tidak, tak pernah ada yang mengetahuiku kecuali mata dan hati yang setiap malam berbisik.
Setiap aku hampir terlelap, hati berbisik dengan suara lembut mendekati senyap. Sedangkan logika berujar dengan kasar beserta frekuensi yang tak lagi beraturan. Bising. Mereka tak pernah menolak dan selalu menentang apabila aku berujar. Apabila suatu waktu, mungkin saja kau menjadi seorang pembangkang. Pemberontak atas dirimu sendiri. Bukankah aku juga ingin dimengerti? Tak hanya hati yang senyap dan logika yang kasar.
“Aku selalu benar,” kata hati.
‘Tidak, dia terlalu perasa. Aku rasional. Pemilik ilmu pengetahuan.” ujar logika.
Aku tak pernah bisa memilih. Aku yakin, diriku yang paling mengerti dan benar. Bukan mereka. Ketika kepala rasanya sunyi tanpa hati dan sepi dari keramaian mimpi akibat logika, aku berpulang pada daun-daun yang meninggi.
Pohon yang menua dan kayu yang melebar. Tak mau beranjak ataupun pergi dari kediaman. Ingin selalu dihampiri dan tak mau diusir. Semakin meninggi, bersinggungan dengan satu yang lain menggapai langit ataupun mimpi. Batang yang semakin kokoh dan ranting yang tak mau pergi saling menjatuhkan dengan daun yang mengering. Digoncang angin yang berkuasa, tak pernah mau disaingi bahkan oleh bulan dan bintang yang diidamkan. Tak rontok, ranting, dan daun kering tak mau beranjak.
Akibatnya, senja dan semburat oranye tak lagi menawan. Karena dedaunan yang biasanya mengindahkan langit sore itu tak lagi tampak. Hanya angin sepi dan kebut-kebutan corak biru tua yang mengusir senja. Senja tak pernah menuntut, toh walaupun dia diusir manusia tetap mencintainya melebihi malam dan hujan.
Senja selalu menjadi kecantikan semesta. Senja yang mencuri. Suka pergi dan tiba sesuka hati, sampai akhirnya biru tua harus menyeret paksa dari bumantara. Dia tetap merasa cantik walaupun hanya sejenak.
Aku di bibir waktu. Tanpa situasi yang pasti. Pergulatan antara semesta dan bumantara. Laut dan langit. Ranting dan angin. Senja dan malam. Hujan dan awan. Bahkan logika dan hati, aku tak pernah tahu. Tak pernah menemui jawaban di antara mereka, mengapa begitu ingin? Menjadi diinginkan. Lalu aku teringat ucapanmu.
“Semua di alam semesta adalah keindahan. Lupa akan Tuhan, mereka menjelma menjadi impulsif, mengais validasi dari manusia yang bahkan lupa akan eksistensinya,”
Benar. Kau benar. Semesta dari mulanya ajarkan kita untuk mencintai diri melebihi siapapun di muka bumi.

Arun,
15 April 2020