BENCI, Benar-Benar Cinta

Sumber Foto :

https://images.app.goo.gl/EufwSLFBn5duBFK96

“Maaf,” kata pria yang menyenggolku. Semua laporanku jatuh berserakan dilantai. Aku turun dan hendak memungut laporan yang baru saja aku cetak.

Dengan wajah yang datar, Fadil berdiri dihadapanku. “Karena itu. Sudah sepantasnya kamu berhati-hati,” ujarnya. Setelah mengatakannya ia langsung pergi sambil menginjak semua laporanku dilantai.

Selalu kuingat kejadian itu. Kejadian semester lalu. Aku memimpikan perilaku anehnya itu sambil menunggu pesananku.

“Lia,” Fadil membangunkanku. Dengan spontan aku langsung terbangun dan merapikan rambutku.

“Aku pesan satu lagi yang hangat,” kata Fadil sambil menyodorkan secangkir kopi.

“Sebenarnya tidak perlu repot-repot. Terima kasih.” jawabku.

“Sampai disini dulu hari ini. Pulanglah. Kamu memilah datanya dengan sangat baik. Sepertinya tidak akan memakan terlalu banyak waktu,” katanya dengan tersenyum.

Senyumannya itu. Nada bicaranya. Dan juga keramahannya. Orang yang selalu menjadi pusat perhatian dimana pun ia berada. Aku menyukainya. Sekaligus membencinya.

“Terima kasih sudah mengantarku pulang,” ucapku.

“Sampai jumpa besok,” jawabnya sambil tersenyum dan mengelus rambutku.

Sekalipun dia memperlakukanku dengan sangat baik, tetap saja ada rasa sungkan. Senior memiliki sisi yang tidak diketahui oleh orang lain. Aku yakin sekali akan hal itu. Aku selalu mencoba berpikir kearah yang positif saja. Senior Fadil memperlakukanku dengan baik. Itukan hal yang baik. Tetapi, entah kenapa ada rasa yang bagaimana begitu. Seperti semester lalu. Mungkin semester ini dia ingin lebih dekat denganku. Jangan-jangan dia naksir aku?

“Hei, gila ya? Katanya senior Fadil itu hanya pacaran dengan artis.” ejek Alif.

“Hei, kenapa memangnya dengan Lia? Wajahnya cantik, nilai akademisnya bagus, orangnya juga baik hati. Masa kau tidak tahu? Jika diperhatikan, Lia juga tidak kalah sama artis,” bentak Rahma.

‘Hei, terlalu membual,” larangku.

“Halo dek! Nanti ketemuan habis kuliah,” sapa Fadil.

“Maaf? Mencariku ada apa?” tanyaku.

“Tugas. Yang dikerjakan kemarin itu harus diprint keluar. Sampai nanti,” kata Fadil.

Lagi-lagi dia tersenyum. Kenapa harus tidak nyaman? Ada kemungkinan aku yang terlalu sensitif. Masa nyaman tidak nyaman harus ada alasannya? Memang bisa merasa tidak nyaman tanpa alasan? Tapi melihat sikap senior Fadil belakangan ini, beda jauh dengan setahun yang lalu. Senior yang mencurigakan memulai tindak-tanduk yang mencurigakan. Hari itu. Entahlah, yang pasti senior Fadil membuatku merasa tidak nyaman dan canggung. Orang yang dulunya begitu. Mungkin aku memang benar-benar menyukainya.

“Bagus. Besok tinggal tambahkan data yang sudah kupilah,” kata Fadil sambil memeriksa laporanku.

“Iya telah menyusahkanmu. Aku permisi dulu,” jawabku dan langsung berjalan pulang.

“Lia! Ayo makan bareng,” panggil Fadil.

“Ma…ma…makan?” jawabku terbata-bata.

Kami makan roti yang dibeli di supermarket dekat kampus.

“Cuman segitu? Tadinya aku berniat traktir kau makan yang enak,” kata Fadil.

“Ini cukup kok. Enak dan praktis. Akan kunikmati dengan baik,” jawabku.

“Aku membuatmu tidak nyaman?" tanya Fadil.

“Bukan tidak nyaman. Cuma untuk saat ini belum begitu akrab," jawabku dengan gugup.

“Terima kasih atas traktirannya,” ucapku.

“Lain kali kutraktir kau makan yang enak. Sampai jumpa,” ujar Fadil dengan tersenyum.

Keesokan harinya, aku kembali ke kampus seperti biasa. Rasa bosan terus mengulitiku. Aku terus mengotak-atik ponselku. Tidak ada yang spesial. “Halo Lia!” selalu saja terbayang senior Fadil memanggilku. Tidak semua orang bisa diperlakukan seperti itu oleh senior Fadil. Itu salah. Walaupun dari luar dia kelihatan sopan dan ramah terhadap siapapun, tetapi faktanya berbeda jauh. Sikapnya dulu terhadapku seperti apa. Sudah pasti tidak usah dipertanyakan lagi. Dua orang yang berpapasan tapi saling mengabaikan satu sama lainnya. Dan jika para mahasiswa satu jurusan berada ditempat, dia malah menyapaku.

“Halo Lia!” sapa Fadil. Aku terbangun dari lamunanku dan dengan spontan aku langsung merapikan rambutku.

“Oh iya. Besok kau tidak ada kelas kan? Besok juga tidak kerja kan? Besok kita pergi nonton yuk!” tanya Fadil.

“Kenapa? A…anu maksudnya kenapa ajak aku nonton?” tanyaku dengan gugup.

“Didalam proyek kita kan ada hubungannya dengan film. Kamu mau pergi kan?” tanya Fadil.


Kami duduk bersama di bioskop. Dug dag dig dug. Hatiku berdebar-debar. Aku sudah tidak lagi menikmati filmnya. Aku makin gugup saat dia meletakkan minuman disampingku. Gelisah. Dan tiba-tiba aku mulai menggigil. Mungkin gaun yang kupakai kurang tebal atau aku terlalu menyukainya. Dan aku malah salah tingkah saat dia memakaikanku jasnya dan mengatakan bahwa hari ini aku cantik sekali.


Senior mengantarku pulang. Kami sangat menikmati saat di bioskop tadi.

“Mungkin aku yang terlalu banyak pikiran jadi terasa capek. Persoalan yang bisa diabaikan, tapi aku malah memikirkannya sampai dua tiga kali. Tidak hanya sakit kepala, tapi menyusahkan diri sendiri juga,” keluhku.

“Orang-orang yang sama sekali tidak kenal, berkumpul bersama-sama. Akan ada kemungkinan seperti itu juga. Namun jika itu adalah kehidupan sosial, bisa jadi akan lebih parah lagi,” jawab Fadil.

“Makanya ingin merubah diri sendiri tidaklah mudah. Kebiasaan seseorang itu tidaklah gampang untuk diubah. Sehingga pada akhirnya selalu ingin melarikan diri,” kataku.

“Mendengar kau menceritakan apa yang ada dipikiranmu, membuatku merasa hubungan kita semakin dekat. Aku suka itu,”
“Lia. Aku tahu menurutmu. Dibandingkan tahun lalu perubahanku besar sekali. Tapi itu adalah kejadian setahun yang lalu. Aku sudah berubah,” kata Fadil dengan wajah yang hangat.

“Tidak tahu bagaimana pemikiran senior. Tapi tahun lalu aku…” jawabku dengan gugup.

“Dibandingkan dengan kejadian yang sudah berlalu. Aku ingin lebih mendengar rencana masa depanmu. Lia. Mau pacaran denganku?” tanya Fadil sambil memegang kedua tanganku.

Aku memasang wajah bingung.

“Kenapa eskpresinya seperti itu? Bukankah kau sudah tahu?” tanya Fadil dengan wajah yang sangat serius.

“Aku masih belum…melakukan persiapan. Juga tidak pernah memikirkan hal ini,” jawabku terbata-bata.

“Baiklah. Aku sudah tahu,” jawab Fadil dan mulai melepaskan tanganku.

“Aku…Aku…Bukannya benci sama senior!” kataku dengan merebut kembali kedua tangannya.

“Oh ya? Kalau begitu mari kita pacaran.” jawab senior Fadil.

#LombaCerpen #dictiocommunity #ManusiaDanCinta