Bencana alam apa saja yang mengubah sejarah dunia ?

serba_serbi_sejarah

(Ardy Satria) #1

Bencana alam telah mengubah jalan sejarah manusia. Walaupun tidak semua orang sepakat tentang dampaknya, kaitan antara kejadian-kejadian alamiah itu dengan perubahan sosial ekonomi sungguh menakjubkan.

Tentu saja bencana alam menjadi bagian dari dinamika planet ini sejak awal pembentukannya dan semua itu telah memberi pengaruh yang berdampak hingga sekarang.
Berikut ini adalah peristiwa bencana alam pada masa lalu yang berdampak dan kemudian mengubah jalan sejarah kita:

Gempa Bumi Lisbon (1755)

Gempa bumi dan tsunami Lisbon adalah salah satu gempa terbesar yang terjadi, diduga pada magnitudo 9 menurut skala magnitudo gempa – hampir setara dengan gempa dan tsunami Samudra Hindia pada 2004.

Gempa pada 1755 bisa dibilang telah membinasakan Lisbon dengan korban jiwa sekitar 100 ribu orang. Muncullah rekahan-rekahan selebar 5 meter di kota. Para penyintas (survivor) segera bergegas ke kawasan pelabuhan yang relatif terbuka, tapi mendadak datang tsunami setinggi 30 meter.

Gempa itu terasa hingga ke Tanah Hijau, Finlandia, kawasan Karibia, dan Afrika Utara. Sementara itu, tsunami setinggi 20 meter menghantam Afrika Utara sehingga menghancurkan Barbados dan Martinique. Gelombang setinggi 3 meter mencapai Cornwall, Inggris.

Dampak budaya peristiwa itu membawa perubahan hingga beberapa abad kemudian. Kejadian itu mengawali perbincangan kalangan cendekiawan pada masa itu terkait pengertian mendasar tentang dunia dan pengetahuan kita.

Abad Pencerahan berkaitan langsung dengan kejadian pada 1 November 1755, yaitu Hari Raya Semua Orang Kudus, apalagi karena bencana itu menghancurkan hampir semua bangunan keagamaan dan gereja di Lisbon dan Portugal.

Kejadian itu menyebabkan kebingungan massal tentang Tuhan yang dianggap menjatuhkan bala kepada bangsa yang taat pada agama Katolik Roma. Para filsuf pun mendebatkannya dengan para rohaniwan.

Gempa bumi itu juga berdampak bencana pada ekonomi Portugal. Hanya dalam sekejap, gempa itu memusnahkan kekuatan mereka sebagai penguasa lautan sehingga merenggut 45 persen PDB kerajaan.

Voltaire menggunakan puisi “Poeme sur le desastre de Lisbonne,” dan beberapa bagian dari Candide untuk menyerang filsafat “Tuhan yang mengetahui” pada masa itu yang melarang orang untuk mempertanyakan hal-hal terkait keyakinan.

Dimulailah perlawanan terhadap indoktrinasi keagamaan secara buta, menuju kepada pertanyaan yang lebih logis tentang mengapa kita menaati apa yang kita lakukan.

Hal itu membuka jalan kepada metode ilmiah yang mensyaratkan bukti bagi kenyataan fisik kita. Immanuel Kant, Jean-Jacques Rousseau, dan banyak cendekiawan lain mendapat inspirasi dari gempa itu dan membawa kita kepada revolusi budaya, politik, ideologis, dan industrial di Eropa.
Bencana itu juga menjadi titik terpenting dalam ilmu seismologi dan mengapa Bumi bereaksi seperti itu. Penjelasan itu menjadi sumber utama yang dipercaya dan diterima.

Bencana itu juga memunculkan gagasan seperti kebebasan, kemajuan, toleransi, persaudaraan, pemerintahan konstitusional, dan pemisahan agama dari negara. Hadirlah ungkapan oleh Sapere, “Berani mengetahui.”

Gagasan intelektual dan filosofis berdasarkan nalar merupakan akibat langsung dan tidak langsung terhadap gempa bumi besar itu sehingga mengguncang peradaban kita seperti halnya ia telah mengguncang Lisbon.

Erupsi Kuwae (1452–1453)

Kuwae adalah volkano dan kaldera bawah laut di Vanuatu yang terletak di salah satu kawasan gunung berapi paling aktif di dunia. Banyak terjadi erupsi bawah laut di sana.

Kadang-kadang, letusannya sampai menembus permukaan laut sehingga meninggalkan bekas berupa pulau-pulau kecil yang perlahan tenggelam kembali ke laut. Misalnya erupsi 1901 yang meninggalkan jejak berupa pulau sepanjang 1 kilometer dengan lebar 15 meter yang kemudian tenggelam lagi 6 bulan kemudian.

Ledakan raksasa pada 1452-1453 menghancurkan pulau Kuwae dan meninggalkan 2 pulau yang lebih kecil bernama Tongoa dan Epi, terpisahkan oleh kaldera seluas 12x 6 kilometer persegi di antara keduanya.

Kaldera itu sering mengalami kegiatan vulkanik. Erupsi tersebut melepaskan sekitar 39 kilometer kubik abu dan pulau itu amblas hingga 1.100 meter di bawah permukaan laut.
Letusan itu sekaligus menjadi salah satu kejadian vulkanik terbesar dalam 10 ribu tahun terakhir, enam kali lebih dahsyat daripada letusan Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991.

Erupsi tersebut berkaitan dengan denyut ke-2 Abad Es Kecil dan dirasakan di seluruh dunia sebagai pendinginan iklim. Hal tersebut ditengarai melalui tampilan cincin-cincin batang pohon, inti es Tanah Hijau (Greenland), dan sejumlah kegagalan panen yang tercatat dalam sejarah.
Para penulis sejarah pada masa Dinasti Ming menyebutkan tanggal kejadian secara khusus dengan menuliskan “salju tiada henti yang merusak panen.”

Beberapa saat kemudian, ketika abu menghalangi sinar matahari, mereka menuliskan adanya “Salju setinggi beberapa kaki yang jatuh di 6 provinsi. Puluhan ribu orang beku hingga tewas.”
Sesudah itu ada lagi acuan kepada masa yang panjang adanya hujan salju, laut membeku, dan warga yang meninggal karena kelaparan dan kedinginan. Tapi, korban terbesar adalah jatuhnya Kekaisaran Bizantium dengan dicaploknya Konstantinopel.
Di bawah pimpinan Sultan Mehmed II, pihak Turki Ottoman menyerbu Konstantinopel pada 5 April 1453 dan mendudukinya pada 29 Mei 1453.

Catatan sejarah kota pada masa itu menyebutkan adanya dampak parah letusan gunung berapi, termasuk kabut tebal pada bulan Mei yang tidak pernah ada sebelumnya, hujan deras yang ganas, langit merah darah di siang hari, dan banjir bertubi-tubi.

Orang-orang di luar kota menduga kota itu sedang terbakar. Menurut pada ahli sejarah, “Kobaran api menyelimuti Hagia Sophia dan petir-petirnya bisa terlihat dari tembok-tembok, tampak berkilauan dari jauh di pinggiran kota di belakang perkemahan Turki (di barat).”

Tapi itu sebenarnya pantulan dari awan debu berwarna merah pekat yang ada di atmosfer. Pengepungan mungkin saja ditunda kalau panennya berhasil sebelum kedatangan pasukan penyerbu.

Kegagalan panen akibat debu vulkanik menyebabkan pengepungan hanya berlangsung selama beberapa minggu, tidak perlu berbulan-bulan. Hal itu menyebabkan kehancuran Kekaisaran Bizantium sehingga memungkinkan Kesultanan Ottoman berkembang.

Hanya karena suatu pulau yang sekarang sudah lenyap di Samudra Pasifik itu, maka para pelarian dari Konstantinopel – termasuk para penulis, musisi, ahli astronomi, arsitek, seniman, filsuf, ilmuwan, politisi, ahli teologi dan lainnya – dibawa ke Eropa Barat untuk melanggengkan dan menularkan pengetahuan dari peradaban mereka.

Letusan Laki (1783–1784)

Patahan volkano Laki sepanjang 25 kilometer di Islandia memiliki 130 cerobong vulkanik. Letusan terjadi di patahan itu pada 1783 – 1784 dengan kekuatan 6 VEI.
Kira-kira 14 kilometer kubik lava basal dimuntahkan saat itu, bersama dengan awan beracun terbuat dari campuran sulfur dioksida dan asam hidroklorik yang menyebar ke seluruh dunia.
Awan itu menyebabkan hujan asam di sebagian besar Eropa dan debu di seluruh dunia yang menghalangi sinar matahari sehingga menurunkan suhu secara global. Akibatnya, kelaparan, penyakit, dan maut hadir di mana-mana. Bencana itu terjadi hanya beberapa tahun setelah bencana di Lisbon.

Dampak di Islandia adalah meninggalnya 25 persen populasi di sana, 50 persen ternak, dan hampir semua panen tahun itu. Aliran tiang lava dari letusan itu bisa mencapai ketinggian 1.400 meter ke udara – sekitar 5 kali tiang lava Hawaii.

Selain itu, letusan juga melepaskan sekitar 8 juta ton hidrogen fluorida dan 120 juta ton sulfur dioksida ke seluruh Eropa. Semburan itu kemudian dijuluki “kabut Laki”.
Gas dan debu itu memperlemah monsoon di Afrika dan India serta membawa kematian seperenam penduduk Mesir pada masa kelaparan 1784. Panen di seluruh Eropa mengalami kegagalan. Sulfur dioksida di udara juga menyebabkan penyakit pernafasan yang membawa kematian sekitar 23 ribu orang di Inggris.

Di Amerika, musim dingin paling ganas dan paling panjang yang pernah tercatat telah menunda penghentian Perang Revolusi Amerika karena para anggota Kongres terlambat datang ke Annapolis untuk memberikan suara pada Perjanjian Paris.
Kelaparan dan penyakit menyebar di seluruh Eropa, dan pemulihannya baru kira-kira satu dekade kemudian. Ketika diberi tahu bahwa rakyatnya kelaparan dan tak punya makanan, Marie Antoinette diduga melontarkan ucapannya yang terkenal, “Qu’ils mangent de la brioche” – biarkan mereka makan kue.

Prancis sudah babak belur setelah Perang Tujuh Tahun. Kemudian, Perang Saudara Amerika menyebabkan mereka jatuh dalam utang yang dalam. Bangkitlah keresahan sosial dan prakarsa pajak yang tidak populer.

Kelaparan akibat letusan Laki, berbarengan dengan pajak yang tidak populer dan dampak Pencerahan, menjadi pendorong terjadinya Revolusi Prancis.
Salah satu kejadian penting dalam sejarah manusia sebagian disebabkan oleh bencana vulkanik di Islandia. Bencana itu memicu berkurangnya monarki absolut secara global dan menggantinya dengan republik dan demokrasi liberal.

Hal itu juga menjadi inspirasi bagi gagasan-gagasan liberal dan radikal yang mengakibatkan tekanan kepada sistem feodal, emansipasi perorangan, dan pembagian lebih besar terhadap tanah, penghapusan hak istimewa keturunan ningrat, dan lahirnya kesetaraan.
Pada akhirnya, semua itu mengarah kepada penyebaran liberalisme, radikalisme, nasionalisme, sosialisme, kapitalisme, feminisme, dan sekularisme.

Letusan Gunung Tambora (1815)

Letusan Gunung Tambora pada 1815 merupakan letusan terbesar dalam sejarah modern, dengan VEI tingkat 7. Dampak dahsyatnya terasa ke seluruh dunia, misalnya keberadaan “tahun tanpa musim panas.”

Letusan itu juga menjadi denyut terakhir dalam Zaman Es Kecil, yang ditandai dengan peningkatan vulkanisme, pengurangan kegiatan matahari, dan berkurangnya interaksi manusia dengan iklim.

Ada 3 denyut penting selama masa itu. Letusan Kuwae menjadi yang ke-2 hingga menambah ketidakstabilan iklim. Dari 1808 hingga 1815, ada beberapa letusan vulkanik dan letusan Tambora menjadi yang terkuat.

Ada suatu letusan misterius berkekuatan 6 VEI pada 1808 – 1809, lalu La Soufriere (Saint Vincent) pada 1812, letusan Gunung Awu (Indonesia) pada 1812, letusan Suwanosejima (Jepang) pada 1813 dan letusan Gunung Mayon (Filipina) pada 1814. Dengan demikian, dekade 1810-an menjadi yang terdingin selama 500 tahun terakhir.

Awan abu semburan Tambora menghalangi radiasi matahari sehingga iklim membeku dan menggagalkan panen sebagaimana dicatat di Eropal Amerika, dan China.
Harga-harga meningkat 4 kali lipat dari tahun sebelumnya sehingga menimbulkan kerusuhan dan kekacauan masyarakat di seluruh Eropa. Badai, banjir, dan kebekuan yang tidak normal juga melanda banyak bagian dunia.

Dampaknya sangat terasa di Eropa, sehingga melahirkan banyak kebijakan dan hak kemasyarakatan sesudahnya. Beberapa tahun sesudah bencana, terjadi peningkatan luar biasa penyakit tifus dan kolera di Eropa dan India.

Secara budaya, lukisan-lukisan J. M. W. Turner menggambarkan langit yang merah sebagai pemandangan luar biasa terbenamnya matahari. Kurangnya pakan ternak mungkin memicu Karl Drais menciptakan velocipede yang menjadi cikal bakal alat angkutan mekanis.

Letusan-letusan itu juga mungkin telah memicu pemukiman di jantung daratan Amerika. Para pemukim pindah dari New England karena panen yang gagal. Mungkin juga ini menjadi penyebab awal gerakan anti-perbudakan.

Pupuk mineral diciptakan sebagai akibat langsung kelaparan di seluruh dunia. Justus Freiherr von Liebig, seorang ahli kimia berkebangsaan Jerman, mengingat masa kecilnya yang dilanda kelaparan. Ia kemudian dikenal sebagai “bapak pupuk modern.”


Apakah ada bencana alam lainnya yang dapat mengubah sejarah dunia ?

Sumber


(Kevin Raharjo) #2

Katastrofi: Bencana Besar yang Membentuk Sejarah Peradaban Manusia

Katastrofi atau bencana besar akan memengaruhi bahkan menentukan jalan sejarah dan peradaban manusia.Nusantara sebagai kawasan yang memiliki 129 gunung berapi aktif sekaligus berada di antara 3 patahan dan dengan garis pantainya yang panjang merupakan kawasan yang seringkali dilanda katastrofi.Sehingga, sejarah dan peradaban nusantara bukan saja dipengaruhi tetapi juga ditentukan oleh katastrofi.Tambora dan Krakatau merupakan contoh sejarah yang masih dapat dilacak, bahkan semburan Lumpur Lapindo adalah bukti sejarah terkini, belum lagi Toba, Kaldera Bromo, dan berbagai kawasan lain merupakan jejak-jejak sejarah yang belum terungkap sampai saat ini.

Nusantara adalah Kawasan Proses Bumi Aktif


Sam Andang, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) pada tahun 2000—2005, bersama kawan-kawan se-ide membentuk Team Terpadu Riset Mandiri, sebuah team yang bekerja secara mandiri dengan melakukan penelitian tentang kemungkinan ancaman bencana.Tim yang terbentuk dan bekerja sejak tahun 2009 ini meneliti tentang “Katastrofi Purba”, bencana-bencana hebat yang menentukan jalannya sejarah dan peradaban nusantara.

Mengawali dengan sebuah pernyataan, “Bumi dibentuk dari Proses Bencana”, Sam Andang menjelaskan mengenai proses alami bumi, khususnya proses yang terjadi di Bhumi Nusantara.

Indonesia atau Nusantara, memiliki 129 gunung berapi aktif, 95.000 KM pantai yang pernah terkena tsunami, banyaknya patahan yang menyebar di sepanjang Pulau Jawa, Sumatera, dan pulau-pulau lainnya. Indonesia (nusantara) ini adalah kawasan proses gelologi bumi yang aktif. Sulit diprediksi secara jelas tetapi dapat diperkirakan dengan bantuan statistic kebencanaan.

Reruntuhan candi borobudur

Sebagai contoh, Borobudur yang dibangun (terakhir) pada abad kedepalan masehi, sebenarnya bukan bangunan baru tetapi renovasi.Menurut penetlian, Candi yang digali dan dipugar oleh Raffles pada tahun 1800an, merupakan candi yang tertimbun oleh material vulkanik dari Gunung Merapi dengan Indeks Erupsi Vulkanik 6 pada tahun 1006, bandingkan dengan erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010 yang “hanya” memikik Indeks Erupsi Vulkanik 4.

Sayangnya, catatan-catatan sejarah katastropi yang terjadi di Nusantara hanya dapat dilacak sampai abad keempat saja. Catatan-Catatan sejarah Nusantara yang biasa tertulis pada prasasti, candi, dan berbagai bangunan atau media lain tidak dapat diketemukan.BIlapun ada, dapat dipastikan telah tertimbun oleh katastrofi atau sebagian telah diangkut ke Ledien, Belanda saat Nusantara dikuasai oleh VOC dan kemudian dilanjutkan oleh Pemerintah Kerajaan Belanda.

Catatan sejarah berupa Prasasti yang tertua yang dapat ditelurusi berakhir pada abab ke 4, yaitu Prasasti Kalingga dan Sima. Sedangkan periode yang lebih tua seperti jejak abad ke 0 sampai abad 8 SM, apalagi sampai abad 30 SM, dipastikan belum ada catatan dan jejak sejarah yang dapat ditelusuri. Seperti catatan tentang Tambora, baru diketemukan 6 tahun yang lalu, padahal letusan Tambora pada tahun 1816 telah mengubur 3 kerajaan.

Bagaimana dengan Kaldera Bromo, Rinjani, Gede Panggrango, Toba?

Peta kaldera Bromo-Tengger

Sejarah dan peradaban Nusantara terkubur dan kehilangan jejak masa lalunya. Bilapun ada, sebagian telah dihapus oleh Imperialis yang pernah menguasai Nusantara seperti Belanda dan Inggris. Nusantara seharusnya menyimpan sejarah yang besar dan agung. Permasalahan ketiadaaan catatan sejarah katastrofi di Nusantara sedikit banyak telah dapat dilacak dengan menggunakan Carbon Dating.

Metoda yang menggunakan teknik membalik radio aktif dari sisa-sisa katastrofi di masa lalu.Walaupun tidak menghasilkan data yang bersifat menyeluruh, tetapi paling tidak waktu peristiwa, jenis dan besarnya katastrofi dapat diperkirakan dengan akurat. Sedangkan pengungkapan peradaban di kawasan tersebut akan membutuhkan waktu dan biaya yang lebih besar lagi karena harus dilakukan pengangkatan (ekskavasi) besar-besarannya.

Selain masalah biaya, ekskavasi harus berhadapan dengan masalah-masalah lain. Contoh Kasus, Gunung Padang di Cianjur yang mulai marak sejak tahun 2012, penelitian yang awalnya hanya untuk melakukan kalibrasi alat yang akan dipergunakan untuk penelitian di Aceh pada November 2011. Gunung Padang diplih karena merupakan situs megalitikum terstruktur.Alat yang bernama Super String V.8, menemukan rongga (ruang) dan bangunan lain di bawah situs Gunung Padang.

Tempat eksperimen yang menjadi situs temuan. Katastrofi bukannya sebuah lubang hitam yang misterius yang tidak dapat diprediksi.Katastofi dapat dijelaskan secara ilmiah dan dapat pula dilakukan perkiraan yang bersifat ilmiah pula. Walau tempat dan tanggal yang tepat akan sangat sulit ditetapkan secara gamblang.Kasus Tsunami Aceh pada Desember 2004 misalnya, Dani Hilman seorang Pakar Geologi pernah memprediksi tentang kemungkinan adanya Gempa dan Tusami Aceh pada November 2004. Dani Hilman memprediksinya berdasar gerakan segmen-segmen patahan di Sumatera.Saat ini segemen-segmen patahan bergerak ke selatan, Padang di Sumatera Barat dan Jawa tinggal menunggu waktunya.Perkiraan besaran gempa yang akan terjadi di Padang mencapai 8,9—9,1 SR. Besaran gempa dapat diprediksi, tetapi kapan waktunya yang sulit dipreksi secara akurat kecuali secara statistic.Segmen-segmen yang saat ini sedang bergerak antara lain segmen Aceh—Lampung, Banten—Banyuwangi, Bali—Timor, Maluku, dan Sulawesi.

Sejarah Katastrofi Nusantara


Borobudur merupakan bangunan purba yang terkubur selama kurang lebih 800 tahun dan baru diketemukan kembali pada tahun 1815 oleh Raffles. Bagaimana tertimbunnya? Oleh bencana apa? Harus dibuktikan dengan catatan-catatan sejarah.

Catatan sejarah penting untuk mitigasi bencana, khususnya bencana-bencana besar (katastrofi). Catatan sejarah dapat tersebar di prasasti dan candi, seperti catatan yang ada di Candi Pawon. Catatan-catatan tentang katastrofi sebagai bagian dari proses bumi dapat berupa

  1. Quaternary coral growth (EQ Recorsd);

  2. Paleotsunami Layer Stratigraphy (tsunami records);

  3. Volcanic sediment statigraphy, banyak tercatat di

    • historical notes (prasasti) seperti Negara Kertagama yang menceritakan tentang erupsi Gunung Kelud di jaman Majapahit;
    • temple wall relief panels;
    • wall painting;
    • stratigraphyof sediment buried (carbon dating).

Indonesia merupakan kawasan proses bumi yang masih aktif. Berdasar seismotectonic map, Indonesia (Nusantara) memiliki 129 Gunung Berapi Aktif yang saat ini 22 gunung bersatus “waspada” dan 4 diantaranya sedang berstatus “awas”. Nusantara memiliki 95.000 km pantai yang terancan tsunami. Bila ingin mengetahui peta gunung berapi dan peta ancaman tsunami bisa mengakses ke US. Geological Survey.

Nusantara telah mengalami proses bumi dalam bentuk katastrofi berkali-kali. Sebagai contoh dan bukti, catatan karbon erupsi Toba yang terjadi pada 7.000 tahun SM tercatat sampai di Kutub Utara. Demikian juga dengan karbon erupsi Tambora pada tahun 1815 tercatat di kaki Gunung Tambora. Kebudayaan dan peradaban Nusantara berkembang dan selalu “dihancurkan” dan “dikuburkan” oleh adanya katastrofi.Contoh, Borobudur begitu megah dikubur oleh erupsi Gunung Merapi. Bangunan Borobudur yang begitu simetris dan presisi yang diarsiteki oleh Gunadharma tertimbun oleh Gunung Merapi pada tahun 1006 dengan Indeks Erupsi 6. Berbeda dengan Eropa dan Mesir yang keutuhan bangunan-bangunan bersejarahnya tetap terjaga dan terpelihara sampai saat ini.

Ilustrasi Situs Gunung Padang

Eropa dan Mesir jauh dari Gunung Berapi, Gempa, dan Tsunami. Sehingga, perkembangan teknologi dapat berlanjut dan berkesinambungan secara terus menerus. Sedangkan Nusantara, kebudayaan dan teknologinya dihancurkan beberapa kali oleh katastrofi, bersamaan dengan peradaban dan catatan-catatan sejarahnya.

Seharusnya, peradaban, kebudayaan, dan teknologi nusantara cukup tinggi dan maju bahkan sangat mungkin lebih maju ketimbang teknologi, kebudayaan, dan peradaban yang ada di Eropa. Sebagai contoh kecil saja, teknologi umpak, merupakan teknologi purba untuk mengantisipasi gempa.

Rumah dibangun di atas umpak, menjadi rumah tahan gempa. Local traditional wisdom yang modernnya belum lama ditemukan untuk rumah tahan gempa di Jepang dengan memanfaatkan per dan karet. Nusantara telah memilikinya ratusan tahun yang lalu. Sayangnya, penelitian dan pengungkapan teknologi, kebudayaan, dan peradaban Nusantara hanya berhenti sampai menjadi komoditas wisata.

Kurangnya perhatian dari Pemerintah ditingkahi dengan kurangnya tenaga ahli serta tentu saja pendanaan, menjadikan penelitian apalagi pengangkatan kawasan peradaban purba terhenti atau jalan di tempat dan bergeser menjadi kawasan wisata. Bukan saja tidak terungkap, situs-situs bersejarah tersebut malah hancur karena eksploitasi wisata.

Manusia merupakan bagian dari ekosistem bumi.Katastrofi sebagai bagian dari proses bumi secara berkala dan bersiklus menghapus peradaban yang ada pada masanya. Proses yang merupakan bagian dari siklus bumi. Sebagai contoh, Dinosaurus musnah pada 700 juta tahun yang lalu karena jatuhnya meteor yang merubah ekosistem bumi secara ekstrim, batu meteor yang jatuh pada masa itu dapat diketemukann di Yukatan, Meksiko. Di Nusantara, bencana banjir bandang di Wasior, Papua merupakan siklus yang selalu berulang antara 50—100 tahun sekali.

Sejarah manusia ditentukan oleh proses geologi bumi.

Sejarah dan kebudayaan manusia tidaklah linier dan sederhana, tetapi merupakan siklus dari proses bumi.Legenda dan mitos adalah penggambaran dari catatan sejarah yang tidak mampu diterima logika manusia saat ini. Contoh, kemegahan Borobudur tidak akan dapat diceritakan apalagi direkonstruksi dengan logika dan teknologi masa kini. Demikian pula dengan Stone Hang yang ada di Inggris. Demikian pula dengan Cupumanik dari cerita Ramayana karangan Walmiki pada abad ke 4.

Konsep Bencana Katastrofi

Bentuk-bentuk bencana besar (katastrofi) dapat berupa perubahan iklim yang drastic, gempa, letusan gunung berapi, tumbukan meteor, tsunami, dan berbagai bencana lainnya.Katastofi sebagai bagian dri proses bumi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi peradaban manusia.

Sebagai salah satu contohnya, erupsi Toba pada 70.000 tahun SM menyebabkan kerusakan besar di Nusantara dan setelah semua kembali normal muncul tesis mengenai migrasi manusia dari Afrika ke Nusantara. Demikian pula dengan erupsi Maninjau pada 55.000 tahun SM yang ditingkahi oleh erupsi Gunung Sunda pada 50.000 tahun SM yang membentuk Bandung sebagai Kaldera dan Gunung Tangkuban Perahu sebagai salah satu tepinya. Pada 10.000 tahun SM, terjadi banjir besar dengan naikknya muka air laut (sea level rise) yang bila ditarik tahun sejarahnya dengan catatan agama dekat dengan jaman Nabi Nuh. Sehingga, muncul thesis mengenai Adam yang manusia pertama merupakan manusia pertama dari siklus terakhir.

Menilik dari temuan Homo Sapiens yang berasal dari 150.000 tahun SM yang ditemukan di Sanggiran, sebelum Adam telah ada manusia dari siklus sebelumnya. Catatan tentang sejarah peradaban Nusantara hanya bisa dilacak sampai abad ke 4 berupa Prasasti Kalingga. Sedangkan Manusia Sangiran teridentifikasi ada di Jawa sejak 150.000 tahun SM.

Kemanakah catatan sejarah, budaya, teknologi, dan peradaban manusia Nusantara?

Catatan sejarah Nusantara yang pada jaman purba disebut dengan Sunda Land dengan North Sunda River malah dikemukakan oleh pakar dari Eropa. Mollen pada tahun 1937 memetakan aliran Sunda Land dan sungai-sungainya, menurutnya Sunda Land yang menyatu dari Thailand, Malaka, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan merupakan kawasan padang rumput dan hutan hujan yang sangat subur dengan suhu 18—20 derajat celcius. Sampai pada 10.000 tahun SM tenggelam oleh katastrofi naiknya muka air laut sehingga dataran rendahnya terkubur di bawah laut, Laut Jawa, Selat Karimata, Selat Malaka, dan Selat Sunda.

Pada 9.000 tahun SM air laut naik lagi, demikian pula pada 7.200 tahun SM yang akhirnya memisahkan pulau-pulau di Nusantara. Kawasan yang sangat kaya dengan bahan-bahan mineral seperti emas, lithium, lutil dan lain sebagainya.

Pembuktian secara ilmiah dapat dilakukan dengan menggunakan 3D Seismik yang memunculkan gambar-gambar sungai-sungai yang ada di dasar Laut Jawa. Jejak peradaban masa itu dapat ditelusuri sampai ke Teluk Thailand yang pada masa itu menjadi bagian dari Sunda Land. Sungai Caudpraya yang membelah Thailand merupakan bagian dari North Sunda Land River.

Terekam dengan menggunakan 3D Seismik dan foto-foto satelit, bukan ada sungai tetapi Nampak adanya jaringan irigasi yang tertata, bukti tingginya teknologi dan peradaban saat itu. Selain itu, catatan-catatan sejarah katastrofi di Thailand yang dapat ditelusuri sampai 500 tahun SM menjadi petunjuk sah keberadaan Sunda Land.

Catatan sejarah lain tentang katastrofi dan peradaban di Nusantara dapat ditelusuri di Banda Aceh pada catatan sejarah Kerajaan Indrapura dan Indraparwa. Makam Raja-Raja Indrapura dan Indraparwa yang berada di Banda Aceh, saat ini berada di bawah permukaan laut dan semakin hari semakin tenggelan jauh. Turunnya tanah di Banda Aceh dikarenakan tarikan (regangan) patahan Sumatera. Pada tahun 1.200, Indrapuri dari Samudra Pasai membangun Masjid yang menandakan Samudra Pasai sebagai Kerajaan Islam. Masjid tersebut dibangun di atas bangunan lain yang berbentuk candi peninggalan dari kerajaan sebelumnya, kerajaan Pra Islam.

Catatan lain adalah Situs Batu Jaya yang ditemukan pada tahun 1997.Di situs tersebut ada catatan sejarah tentang tenggelamnya Jakarta oleh Banjir Bandang. Selain itu ada catatan lain tentang Gempa Bumi yang terjadi pada tahun 1699 dikarenakan gerakan patahan yang ada di Selatan Pulau Jawa.Catatan penting lain tentu saja tentang erupsi Gunung Krakatau dan tsunami yang diakibatkannya pada tahun 416 dan terulang lagi pada tahun 1883 dan meletus lagi pada tahun 1927. Situs Batu Jaya dengan Candi Balandongan berjarak 14 KM dari pantai dan pernah terendam karena tsunami akibat erupsi Gunung Krakatau pada tahun 416.Masih ada candi lain lagi yang belum terteliti sampai saat ini.

Kanal-kanal dan desain kerajaan Majapahit

Kanal Kerajaan Majapahit juga memberikan cerita yang lain lagi. Kanal tersebut dibangun untuk sarana transportasi dan mengatasi bencana. Terdapat lapisan-lapisan batu bata dari jaman yang berbeda. Batu bata laipsan teraras berasal dari abad keduabelas, dibangun dijaman Hayam Wuruk. Lapisan kedua berasal dari abad ketujuh dibangun dijaman Empu Sendok. Lapisan terbawah berasal dari abad ketiga yang tidak diketahui siapa yang membangunnya. Jadi, saat Raden Wijaya membuka Alas Tarik untuk dijadikan lokasi pembangunan Kerajaan Majapahit bukan tanpa sengaja.

Pembangunan Kerajaan Majapahit dilakukan di atas kerajaan lain yang terkubur oleh erupsi Gunung Penanggungan. Buktinya lain adalah Candi Kedaton yang ternyata dibangung di atas reruntuhan candi yang lain. Catatan lain tentang peradaban agung Nusantara yang terkubur oleh katastrofi adalah Situs Gunung Padang. Situs ini terletak di zona patahan Lembang – Cimandiri. Lokasinya tepat di tengah-tengah tapal kuda bekas gunung purba yang meletus kurang lebih 1,5 juta SM. Di Gunung Padang, terdapat struktur bangunan di luar situs saat ini. Bila dibandingkan dengan Machu Pichu di Peru yang dibangun pada abad keempatbelas, masih lebih besar dan lebih megah.

Luasan Situs Gunung Padang seluas 15 hektar yang artinya 10 kali dari luas Borobudur. Dibangun jauh kurang labih lima abad sebelum masehi. Ditemukan adanya semen purba diantara kolom-kolom batu berupa kerak logal yang setelah diteliti dengan menggunakan jejak karbon.

Belajar dari Peninggalan Peradaban dan Katastrofi


Belajar dari Candi Borobudur.

Dibangun pada tahun 800 Masehi oleh Smaratungga dari Dinaasti Syailendra dengan Gunadharma sebagai arsiteknya.Terkubur oleh erupsi Gunung Merapi dan diketemukan kembali oleh Raffles pada tahun 1815.Dipugar kembali pada tahun 1973. Terdapat banyak relief dengan banyak kisah dari berbagai tingkatan Borobudur, dan hanya sebagian yang dapat ditafsirkan (relief tentang Sidharta Gautama, Mahabarata, dan Ramayana), tetapi banyak relief yang tidak dapat ditafsir (manusia menggunakan helm dan bentuk piring terbang).

Bangunan sangat simetris dan presisi dengan relief yang terukir halus. Ternyata, Borobudur yang dibangun pada abad kedelapan tersebut dibangun di atas bangunan lain. Hanya sekitar 10% informasi tentang Borobudur yang terungkap sampai saat ini.

Belajar dari Situs Gunung Padang.

Sketsa situs Gunung Padang

Berumur 2.500 tahun (diperkirakan dibangun pada tahun 500 SM). Terdapat struktur batu dengan perekar semen puba. Berdasar Carbon Dating, diketahui ada bangunan lain di bawah Situs Gunung Padang. Terdapat gambar tapak harimau dan gambar kujang di bebatuan. Terdapat danau di depan situs yang masuk ke Sungai Cimandiri dan bermuara di Pelabuhan Ratu. Kaki Situs kemungkinan tempat berlabuh perahu. Bahkan, ada teknologi bantalan pasir penahan getaran dyang diletakkan di bawah Situs Gunung Padang.

Pasir setebal 30—40 CM yang diayak halus dengan ukuran butiran yang sama, diletakkan dan ditata dengan sengaja. Bebatuan dari Situs Gunung Padang berasal dari lelehan lava (tubuh lava), membentuk columnar joints (tiang-tiang batu atau lonjoran-lonjoran batu). Situs Gunung Padang terdiri dari 4.000 pilar batu.

Bagaimana teknologi untuk membangun dan menatanya?

Strategi pengungkapan dilakukan dengan pemugaran di luar pagar dan perlahan menuju puncak (untuk sementara dimulai di permukaan), dari dasar sampai puncak. Pengungkapan bangunan di dalam, diungkap kemudian. Belajar hanya dari dua situs situ saja dapat disimpulkan bahwa budaya, Ilmu pengetahuan, dan teknologi Nusantara sangat tinggi. Sayangnya, catatan sejarah, peradaban, pengetahuan, dan teknologi adiluhung Nusantara tertimbun oleh katastrofi.

Eksplorasi dilakukan untuk sekedar berbangga diri semata tetapi untuk belajar tentang budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi bagi kesejahteraan rakyat Indonesia saat ini.

Belajar dari Pengalaman-Pengalaman Lain

Katastrosi selalu berulang dan membentuk siklus. Terbukti dengan adanya bangunan-bangunan besar nan megah yang teruruk dan tertimbun katastrofi. Harus dieksplorasi dan diekskavasi untuk mengetahuai budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi masa lalu yang dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat pada saat ini.

Contohnya, Kerajaan Majapahit yang dibangun di atas reruntuhan kerajaan sebelumnya yang dihancurkan oleh bencana alam. Contoh lain keagungan budaya Nusantara adalah ditemukannya topeng yang dibuat dari bahan semi konduktor di Jombang.Topeng yang berasal dari abad kelima ini dibawa ke Jepang dan tidak diberitakan. Adanya pihak-pihak tertentu yang tidak mau sejarah Nusantara terungkap.

Sejarah pertambangan juga mengungkap banyak cerita. Di lokasi Tambang Newmont di Batu Hijau, Nusa Tenggara Barat, ditemukan banyak tembikar. Sudah dilaporkan ke Badan Arkeologi Nasional, tetapi mendapat jawaban “tidak patut diteliti lebih lanjut”. Ternyata menurut sejarahnya, tambang tersebut sudah ditambang sejak dahulu, sejak sebelum Gunung Tambora meletus pada tahun 1815.

Demikian pula tambang pada abad keempat, pada jaman Kalingga telah ada tambang-tambang besi yang dipergunakan sebagai alat perang.Bahkan keris yang bagus dibuat dari batu meteorit dan dibuat dengan tangan hampa. Legenda dan mitos disertai klenik menjadi cara bagi manusia modern saat ini untuk merasionalisasi ketakmampuan rosionalnya akan budaya, pengetahuan, dan teknologi masa lalu.

Candi Pari di Porong

Candi Pari di Porong, merupakan candi penanda peristiwa banjir lumpur pada masa lalu di kawasan Porong.Manusia Nusantara belajar dari peristiwa alam pada sebuah kawasan. Pengeboran Lapindo tidak mempertimbangkan fakta sejarah dan merasa menguasai teknologi terkini. Lapindo melakukan pengeboran di Porong bukan tanpa pengetahuan tetapi terjebak pada underspect dan penanganan yang tidak benar.

Situs Kaldera Mahameru (Bromo, Tengger, Semeru) belum diteliti dan tidak ada referensi. Semestinya sangat menarik karena akan memunculkan penelitian baru seperti ‘Arkeologi Vulalkanologi” atau “Arkeologi Geologi”.

Situs Gunung Padang tidak dapat diungkap dengan segera karena adanya keberatan dari beberapa pihak.Bukan saja karena kendala dengan budaya dan kepercayaan masyarakat Sunda tetapi juga karena adanya pihak-pihak tertentu yang tidak ingin sejarah dan budaya unggul Nusantara diungkap. Terbukti dengan keraguan penguasa (pemerintah) untuk mengambil tindakan dan keputusan. Khususnya ketaktegasan menghadapi kepenting para Menteri yang saling menyandera.

Sebagai contoh, Instruksi Presiden tidak ditindaklanjuti oleh Menteri dan Dirjen, tetapi tidak ada tindakan keras dari Presiden. Team Mandiri benar-benar mandiri sehingga terbebas dari sandera kepentingan dari pihak-pihak tertentu tersebut. Kedekatan dengan Andi Arif (Penasehat Presiden Bidang Kebencanaan) dimanfaatkan untuk mempermudah perijinan dan masalah administrasi. Birokrasi tidak akan bekerja tanpa kepentinganya. Pertarungan kepentingan bukan saja terjadi di lingkaran penguasa (rezim) dan birokrasi saja, tetapi juga terjadi di lingkaran para ahli geologi. Banyak ahli geologi dari luar negeri yang datang meneliti dan ditolak karena tidak mau hasil penelitiann diangkut ke luar negeri.

Tetapi para ahli geologi dalam negeri saling sikat atas temuan geologi dan mencoba untuk menjatuhkan temuan dari kolega. Mengacu pada Teori Konspirasi, banyak teknologi yang dikuasai oleh USA dan Israel dengan tujuan-tujuan tertentu. Contohnya adalah Area 51,monopoli informasi dan teknologi untuk kepentingan sendiri. Contoh yang lain, banyak prasasti dan kitab lontar yang dibawa oleh Pemerintah Belanda ke Leiden sejak jaman penjajahan dulu.Nusantara telah kehilangan masa lalu dan sejarahnya. Harus diungkap bukan untuk menjadi kawasan wisata semata tetapi untuk membangun peradaban yang lebih baik di kemudian hari. Hipotesis tentang Atlantis.

Paling cocok adalah Sunda Land yang tenggelam karena naiknya muka air laut dan gunung meletus. Data dari Dani Hilman mendukung hipotesis tersebut. Data lengkap tentang arkeologi laut dimiliki oleh perusahaan-perusahaan minyak.Bisa dikumpulkan dan dielaborasi. Sejak jaman purba, Jawa Timur berbentuk tapal kuda karena bentukan Sungai Bengawan Solo dan Sungai Berantas. Belanda membelokkan Sungai Bengawan Solo pada abad kesembilan belas yang menjadi Ujung Pangkah.Ujung Galuh (Surabaya) menjadi hilang. Pelabuhan Kambang Putih di Pati, Pelabuhan Muria, Lasem, dan Tuban mendangkal sehingga pelabuhan di Utara Jawa selalu bergeser ke timur.Di Indonesia hanya ada 2 orang ahli tentang pelabuhan purba, tetapi karena keterbatasan dana, tidak banyak penelitian yang berhasil diungkap. Penambangan pasir besi di selatan Jawa Timur seperti di Jember, Lumajang, Malang, dan Blitar akan memperparah ancaman tsunami dari Laut Indonesia.Kerentanan terhadap Tsunami akan meningkat karena hilangnya gumuk (bukit) pasir.

Ancaman terhadap lingkungan dan alam mengancam keamanan manusia. Kondisi Pulau Jawa, selatan terus menerus naik tetapi sisi utara terus menerus turun. Ancaman terhadap masuknya iar laut semakin meningkat diiringi dengan naiknya muka air laut akibat global warming. Salah satu contoh nyata perubahan permukaan Pulau Jawa adalah berbeloknya Sungai Bengawan Solo Purba yang dulunya bermuara di selatan Pulau Jawa menjadi bermuara di utara Pulau Jawa.

Siklus bumi bersifat dinamis.Di Indonesia saja ada 129 gunung berapi aktif dan 22 berstatus waspada dengan 4 berstatus awas pada saat ini. Mitigasi bencana ke masyarakat kurang dan kurang tahunya pemerintah terhadap ancaman bencana gunung berapi. Selain kematian dan rusaknya infrastuktur serta ekonomi, gunung berapi akan berampak pada hilangnya kerifan local.

Global warming adalah proses alami, tetapi campur tangan manusia memperparahnya. Saat ini kita berada di sklus terakhir global warming berdasar data dari 200 tahun terakhir. Setelahnya manusia dan bumi akan menghadapi global cooling, sebagai siklus dinamis bumi.

Gunung Wukir di Karang Ploso

Keberadaan Gunung Wukir di Karang Ploso dan Gunung Katu di Pakis Aji mirip punden berundak. Berdasar peta geologi, kedua gunung tersebut merupakan bentukan magma gunug berapi. Tetapi perlu penelitian lebih lanjut karena bentuknya tidak berubah. Ekplorasi dan penelitian dilakukan berdasarkan kecurigaan dan harus dibuktikan.

Sejarah Nusa Tenggara Timur dikumpulkan dari syair dan catatan mantra yang sayangnya dihancurkan oleh Gereka karena alasan mengancam iman. Geologi adalah sejarah bumi, hubungannya sangat kuat dengan sejarah manusia. Di Flores ada situs-situs megaliltik dapat menjadi awal penelitian untuk membuka tabir sejarah.Pulau Timor memiliki batuan yang sama dengan Australia sampai ke Pulau Seram, Pulau Kei, dan Papua. Memiliki landas kontinen yang sama.

Gunung Katu di Pakis Aji

Selat Timor merupakan selat yang kaya akan minyak, cadangan minyak di Selat Timor saat ini sama dengan seluruh cadangan seluruh Indonesia saat ini. Sangat dikejar oleh Australia. Sejarah adalah milik pemenang. Penulis sejarah sesuai kebutuhan rezim yang berkuasa.Contoh: Sejarah Ken Arok yang berbeda antara Pararaton dan Prasasti Kediri. Sejarah manusia dan bumi membentuk sejarah budaya dan teknologi manusia. Sejarah geologi membentuk peradaban. Kraton (batuan yang paling tua) yang ada di Victoria (Australia), Saudi Arabia, Afrika merupakan batuan yang tidak bergerak karena aktvitas buminya berhenti. Indonesia adalah kawasan yang proses buminya masih terus bergerak.

Australia akan membentur Pulau Jawa dan Nusa Tenggara kurang lebih pada 50 juta tahun lagi. Benturan dua lempeng akan membentuk kawasan baru, seperti lempeng India dan membentu Asia menciptakan Pegunungan Himalaya.

Penutup

Babad Kediri yang ditulis pada tahun 1832 merupakan tulisan yang dipesan oleh Pemerintah Kolonial Belanda setelah Perang Jawa (Diponegoro). Caranya adalah membuat seseorang kesurupan roh masa lalu dan dari omongan dan ocehannya ditulis sebagai Babad Kediri. Tetapi ada misteri-misteri yang terungkap pula. Di Gumarah (Gurah pada saat ini) ditemukan Patung Totok Kerot, patung seorang raksaksa perempuan yang ingin melamar Prabu Jayabaya.

Patung ditemukan pada tahun 1981 dengan deskripsi yang sama persis dengan yang diceritakan di Babad Kediri. Patung Totok Kerot terbenam dan tertutup erupsi beberapa kali, Patung yang terbukti secara ilmiah dibuat pada abab kesebelas.

Nusantara seharusnya memiliki peradaban yang tinggi, karena merupakan kawasan hunian manusia sejak 1,5 juta tahun yang lalu.Tetapi Nusantara mengalamai 4 kali Glasilasi atau Katastropi.Dibuktikan dengan adanya homo sapiens yang telah menghuni Jawa. Sayangnya, sejarah panjang Nusantara belum diajarkan selain itu pencarian sejarahpun belum selesai.Ada masih banyak bukti sejarah dan peradaban Nusantara yang belum terungkap dan masih tertimbun tanah. Sejarah menanti untuk diungkap.

–daniels stephanus–