Benarkah persahabatan antara perempuan dan laki-laki itu omong kosong?

Banyak yang bilang kalau persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu cuma omong kosong karena pasti melibatkan “perasaan”, baik itu di salah satu pihak atau malah dua-duanya. Benarkah demikian?

3 Likes

Bagi sebagian orang ada persahabatan yang seperti ini berhasil, karena masing-masing dari laki-laki dan wanita bisa memanajemen perasaannya dengan baik dan tidak melibatkan perasaan di dalamnya. biasanya mereka sudah terbiasa dari kecil berteman dengan lawan jenis. Namun menurut saya kemungkinan mereka tidak melibatkan perasaan hanya sekitar 20% dari total orang yang berteman dengan lawan jenis. Karena pada dasarnya fitrah manusia adalah tertarik dengan lawan jenis.

Sebagian teman saya juga memiliki permasalahan yang seperti ini… dengan dalih persahabatan, ternyata salahvsatu dari mereka menyimpan perasaan atau ujung-ujungnya saling suka dan akhirnya memutuskan untuk memiliki hubungan lebih dari sekedar teman. Tetapi minusnya adalah ketika hubungan sperti ini berangkat dari pertemanan, ketika hubungan asmara ini berakhir, maka pertemanan yang dulu tidak bisa kembali lagi.

2 Likes

Menurut saya enggak benar. Saya pribadi punya beberapa temen cowo dan ada yg bener² deket dan sudah bisa saya labeli dengan sebutan ‘sahabat’. Bener² kapan saya butuhin dia itu ada dan siap, dan saya juga berusaha lakuin hal sama ke dia. Sering juga saya pulang dari luar kota karena urusan kerjaan dan terpaksa sampainya itu dini hari, dia pasti yg paling setia jemput dan anterin saya ke rumah (walau sambil ngedumel). Kami sering ngobrolin (langsung atau via chat medsos) hal² yg ga penting, juga sering ngomelin satu sama lain kalau ada hal yg kami rasa salah—demi kebaikan.
Tentu dengan hal² begitu, ga sedikit orang yg ga percaya kalau kami bilang cuma sahabatan. Nyatanya, saya pernah pacaran lama sama temen se-organisasi sahabat saya ini, dan sahabat saya ini juga punya pacar yg sudah membersamainya bertahun-tahun dan akhirnya bakal menikah akhir tahun ini.
Singkatnya, bukti kami ga pernah menaruh ‘rasa’ satu sama lain adalah pernyataan sahabat saya “Aku ga akan pernah nganggep kau perempuan, swear”, dan saya yg langsung nanggepin “Emangnya aku pernah mandang kau itu laki?”, tentu sambil nabok muka songongnya.

Mungkin anggapan persahabatan antara perempuan-laki² itu omong kosong terbit dan semakin kuat karena cerita di film² atau novel romansa, terutama yang teenlit. Banyak sekali cerita dengan premis pemeran utamanya bersahabat dari kecil dan ternyata memendam rasa suka satu sama lain. Karena takut persahabatannya hancur, jadilah mereka berusaha tegar meski salah satunya mulai dekat dengan pihak ketiga, namun tetap ujung²nya perasaan keduanya terkuak dan bersatu juga di ending. Percayalah, di dunia nyata, masih banyak perempuan-laki² yg murni bersahabat. Saya bisa pastikan ini karena bukan cuma saya contohnya, lingkungan sekitar saya juga banyak yg demikian.

Karena udah terlalu panjang dan hampir jadi cerpen maka sekian dan terima kasih. :rofl::rofl::rofl:

3 Likes

Udah seperti cerita klasik yaa kasus seperti ini, tapi memang tidak dapat dipungkiri akan selalu ada hal tak terduga dalam kehidupan kita. Contohnya bisa memiliki sahabat (sebab tidak semua orang bisa memiliki sahabat) dan bahkan menemukan sahabat yang berbeda jenis kelamin. Ketika disodorkan pertanyaan Benarkah persahabatan antara perempuan dan laki-laki itu omong kosong? Saya merasa yang mengajukan pertanyaan seperti sudah memiliki asumsi sendiri yang buruk mengenai kehidupan persahabatan orang lain. Sebenarnya tidak masalah, hanya saja perlu diketahui bahwa untuk bisa mencapai kebijaksanaan pemahaman kita harus memahami esensi dari keingintahuan kita.

sahabat/sa·ha·bat/ n kawan; teman; handai: ia mengundang – lamanya untuk makan bersama-sama di restoran;-- dekat sahabat karib; – karib sahabat yang sangat erat (baik); teman yang akrab: dia adalah – karib kakakku; – kental sahabat karib;

Definisi dari KBBI tersebut sudah menunjukan bahwa tidak ada penjelasan mengenai jenis kelamin pada definisi ‘sahabat’. Asumsi bahwa bersahabat berbeda jenis kelamin adalah omong kosong seperti tidak berdasar. Karena dasar dari kata sahabat adalah hubungan teman, kenapa harus repot-repot membina hubungan persahabatan kalau sudah tahu itu omong kosong?

Ingin membuktikan apakah persahabatan antara perempuan dan laki-laki itu omong kosong?

Coba lihat diri anda sendiri, apakah bisa menerima perbedaan jenis kelamin sebagai suatu gender? Kalau anda bisa artinya menjalin hubungan persahabatan dengan perbedaan jenis kelamin akan tetap bisa terjadi…

1 Like

Wkwkw. Mau numpang ketawa dulu, soalnya hal ini habis dibahas di tongkronganku.

Kalau kata temanku sih, persahabatan cewek dan cowok itu benar-benar murni kalau salah satu atau keduanya memiliki same sex attraction, atau memang fisiknya tidak menarik untuk satu sama lain (hehe… bahasaku agak ribet ya. Aku berusaha menghindari SARA, jadi please no offense, ini cuma celetukan ngawurnya temanku, tapi kupikir ada benarnya juga.)

Rasionalisasinya begini, sahabat adalah teman dekat yang punya intensitas lebih dibanding dengan teman biasa. Intensitas disini bisa diartikan interaksi yang lebih dalam atau pertemuan yang lebih sering. Nah, intensitas ini tidak akan terbangun kalau tidak ada kenyamanan. Kenyamanan ini banyak faktornya. Ada yang karena kebiasaan, kesamaan frekuensi sehingga obrolannya nyambung, atau punya kebutuhan yang bisa dipenuhi satu sama lain. Tapi faktor kebiasaan ini menurutku memiliki pengaruh yang sangat besar. Seseorang bisa nyaman karena terbiasa. Hal ini didukung oleh penelitian kalau secara psikologis kita nyaman dengan hal-hal yang familiar.

Dari sini kita tinjau lagi tentang definisi sahabat di awal. Kalau definisi yang dipakai adalah definisiku tadi, di mana sahabat adalah teman akrab dengan intensitas yang lebih dari teman biasa, maka tentunya kita akan lebih familiar dengan sahabat kita dibandingkan dengan teman yang lain. Dengan kata lain, kita akan merasa lebih nyaman saat bersama dengan sahabat kita. Daaan… menurut penelitian hal ini adalah salah satu dasar penting dalam ketertarikan atau attraction.

There is a certain comfort in knowing what to expect from others; consequently research suggests that we like what is familiar. While this is often on a subconscious level, research has found this to be one of the most basic principles of attraction (Zajonc, 1980).

Jadi menurutku, sangat besar kemungkinan adanya attraction antar sahabat laki-laki dan perempuan. Walaupun attraction sendiri jenisnya berbeda-beda, tapi kalau keduanya heteroseksual, attraction yang ada punya kecenderungan untuk mengarah ke perasaan yang sifatnya romantik.

Sebelum aku mengakhiri opiniku, aku ingin mengomentari ilustrasi yang dipakai penanya hehe. Pas sekali ya, ambilnya dari film friendzone. Biasanya memang para sahabat ini saling denial dengan perasaannya untuk mempertahankan status sahabat. Semangat ya buat kalian-kalian yang ada di zona teman hehehe.

Referensi:

Zajonc, R. B. (1980). Feeling and thinking: Preferences need no inferences. American Psychologist, 35 (2), 151–175. https://doi.org/10.1037/0003-066X.35.2.151

Memang ini sangat mungkin terjadi. Tapi yang perlu diingat, tidak semua perasaan sayang ataupun cinta itu bertendensi romantik. Ada juga yang sifatnya platonik. Buat yang belum tau aku coba berikan definisinya terlebih dahulu.

Definisi cinta platonik adalah hubungan emosi yang spesial antara dua individu yang tidak bersyarat, serta tanpa nafsu dan birahi

source : https://tirto.id/f9LN

Jadi perbedaan mendasar antara hubungan yang sifatnya romantik dan platonik ini terletak pada ada atau tidak adanya nafsu. Menurutku pribadi, hubungan romantik memiliki tendensi untuk memiliki. Dengan adanya tendensi itu, dengan sendirinya terbentuk syarat-syarat yang melandasi. Sementara itu, pada hubungan platonik, dasarnya adalah keinginan untuk memberi tanpa syarat. Hubungan ini buatku adalah bentuk hubungan yang paling murni.

Aku sendiri memiliki hubungan platonik dengan sahabatku. Aku tidak punya pikiran untuk memiliki dia sebagai pasangan atau pacar. Aku cuma ingin ada dan ikut senang kalau dia senang, ikut berempati kalau dia sedih, dan aku dengan suka rela akan mengusahakan sesuatu untuk kebahagiannya. Dengan tidak adanya tendensi apapun selain keinginan untuk saling memberi, sekalipun ada konflik, kita dengan mudah akan baikan lagi.

Jadi, menurutku persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu bukan omong kosong.

Artikel ini cukup menarik karena saat ini saya telah merasakan hal tersebut :smile: dari beberapa kasus seperti ini yang sudah saya temui mendapatkan hasil bahwa dalam persahabatan antara laki-laki dan perempuan, laki-laki menjadi pihak pertama yang akan melibatkan perasaan dalam persahabatannya.