Benarkah Perempuan yang Berhijab Harus Baik Akhlak dan Perilakunya?

Seringkali saya mendengar pendapat orang seperti menyalahkan seorang perempuan muslim yang mengenakan hijab tetapi berbuat kesalahan. Padahal menurut saya akhlak dan perilaku seseorang itu tidak perlu dipengaruhi oleh seorang tersebut berhijab atau tidak.

contohnya ada pendapat seperti “dia berhijab tapi kok banyak tingkah (pecicilan)” pendapat tersebut seakan menyatakan bahwa apabila seorang berhijab maka harus selalu anggun, lemah lembut. Padahal seorang muslim mengenakan hijab karena kewajibannya, dan ia juga berhak mengekspresikan dirinya sebagaimana mestinya.

dan apabila seorang muslim yang berhijab ini melakukan kesalahan/kejahatan alangkah lebih baiknya jika tidak perlu menambahkan imbuhan “berhijab” karena kesalahan/kejahatan tersebut dilakukan oleh individu tersebut bukan karena ia mengenakan hijab maka ia melakukan kesalahan/kejahatan.

contoh lain, apabila ada seorang yang berhijab berkata kasar maka respon pertama biasanya “ia berhijab, kenapa masih berkata kasar?” apakah dengan seorang wanita tersebut tidak mengenakan hijab boleh berkata kasar? kembali lagi itu dilakukan oleh individu tersebut, dan diucapkan diwaktu dan tempat yang seperti apa?

menurut youdics bagaimana? apakah stigma perempuan berhijab pasti akan selalu baik akhlak dan perilakunya tersebut memang benar adanya? atau mungkin youdics pernah mengalami cemooh serupa?

Kalau aku pernah dibilangin gini “percuma kamu pakai jilbab, tapi kelakuan masih kayak gini , gak ada sopan-sopanya” dan masih ada yang lainnya.
Menurut aku hijab dan akhlak/perilaku merupakan dua hal yang berbeda.
perempuan berhijab bukan berarti dia sudah sempurna.
kalau istilah yang sering muncul di timeline adalah “perempuan menggenakan hijab bukan berarti ia sudah baik, tetapi perempuan baik sudah pasti berhijab” hal ini menurut aku benar, karena berhijab merupakan salah satu perintah yang sangat jelas telah disebutkan dalam kitab kita sebagai seorang muslim yaitu “Al-Qur’an” bahkan tidak hanya pada satu surah.
sudah jelas disebutkan dalam Q.S An-Nur ayat 31 dan Q.S Al-Ahzab ayat 59 tentang perintah menutup aurat salah satunya adalah dengan mengenakan hijab.

dan aku percaya bahwa perempuan yang sudah mengenakan hijab perlahan akan dilembutkan hatinya oleh Allah, dan ia akan mulai malu jika bertindak sembrono dengan hijab yang ia kenakan.
segala sesuatunya berawal dari kata mulai dan berani mencoba, karena hidayah itu dicari dan dijemput bukan hanya dinantikan.
bukankah sudah jelas bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum , maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar-Ra’d Ayat 11)

Semangat untuk semua perempuan yang sedang mencari, menanti, dan sudah mendapatkan hidayahnya semoga dikuatkan dan bisa istiqomah selalu.
Keep Hamasahh!!!

Memang benar menggunakan hijab merupakan kewajiban, menjaga akhlak yang baik juga kewajiban setiap muslim dan muslimah. dengan adanya stereotip bahwa wanita berhijab harus baik akhlak dan perilakunya, bukankah kita menjadi semakin terpancing untuk menjaga akhlak? karena nanti yang akan disalahkan adalah hijabnya atau bahkan mencela nama baik agama itu sendiri. hijab merupakan lambang wanita muslimah, dimana wanita muslimah ini selalu dipandang sebagai wanita terbaik karena ia telah melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh, yang artinya telah paham agama dengan baik dan benar. setiap agama pasti mengajarkan hal yang positif, itulah mengapa ketika wanita berhijab berperilaku buruk akan dicela.

seperti yang sudah saya katakan diatas, setiap muslim dan muslimah wajib untuk berakhlak baik. tak hanya wanita berhijab, pria muslim yang berperilaku buruk juga dicela dimasyarakat. tak jauh-jauh seperti anak laki-laki alm. uje yang tak jarang mendapatkan celaan di sosmed karena “katanya” sikapnya tidak mencerminkan anak ustad. mereka dicela karena mereka dikenal. banyak masyarakat muslim dan muslimah lainnya yang berakhlak buruk tetapi tidak terlalu dicela karena tidak dikenal netizen.

terima kasih atas ceritanya kak @dindapitaloka19 , menurut aku keren banget kakak bisa melewati salah satu ujian tersebut. semoga kedepannya tidak mendapatkan cemooh serupa lagi ya kak!

aku setuju banget sama komentar kakak, karena banyak sekali orang yang menurut aku mencari alasan untuk tidak menggunakan hijab padahal seorang muslimah wajib untuk mengenakan hijab seperti yang telah kakak sampaikan juga sebelumnya

terkait hal tersebut, bagaimana sih tanggapan kakak apabila ada temen deket yang masih mengelak untuk mengenakan hijab dengan dasar “aku masih belum baik, hati aku belum suci nanti aja deh pakai hijabnya kalau aku sudah baik” ?

aku kurang sependapat dengan kak @Sherlyeza terkait hal ini, walaupun benar dengan menggunakan hijab mungkin beberapa individu jadi merasa terpancing untuk menjaga sikap dan perilakunya. Tetapi menurutku menyalahkan hijab atau mencela seseorang berdasarkan agamanya itu tidak bisa dibenarkan.

karena yang melakukan kesalahan adalah individunya, dan individu tersebut sudah berusaha menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslimah untuk menutup auratnya salah satunya dengan mengenakan hijab.

selain itu, kita hidup di Negara yang mengakui keberadaan 6 agama, bukankah dengan mencela seseorang berdasarkan agamanya itu termasuk kedalam tidak menghargai orang lain? dalam prinsip persatuan dan kesatuan bangsa juga pasti mengetahui semboyan “bhineka tunggal ika” yang artinya walaupun kita berbeda agama, ras, suku yang berbeda tetapi kita tetap satu kebangsaan yaitu bangsa Indonesia.

terkait hal ini juga saya kurang setuju, tetapi ini tidak hanya dirasakan oleh public figure saja kok setau saya anak ustadz dimana saja akan selalu dikait-kaitkan dengan orang tuanya apabila melakukan kesalahan/perilaku tercela. nah, terkait hal ini menurut kak @Sherlyeza apasih yang menyebabkan masyarakat kita dengan mudah membuat stigma seperti itu?

Referensi

Bhinneka Tunggal Ika: Sejarah, Arti, Fungsi dan Prinsip Halaman all - Kompas.com

https://indonesia.go.id/profil/agama

Hijab dan kelakuan, itu ngga ada hubungannya. Karena “jilbabku bukan simbol kesalihan”. Kaya gimana ya, seakan-akan setiap perempuan di dunia ini selalu punya hujatan masing-masing, bahkan dalam hal berpakaian. Tidak pakai hijab dibilang tidak saleh, dibilang bukan muslimah, bahkan dibilang bukan Islam. Lalu disalahkan jika menjadi korban pelecehan seksual karena pakaiannya. Bagaimana dengan yang berhijab syar’i ? Mereka dibilang saleh, agamis, tapi tiap gerak geriknya selalu diawasi. Salah sedikit bisa dikomentari sampai habis. Diawali dengan “Maaf sekedar mengingatkan…”, lalu hadis diluncurkan, dan kalimat-kalimat nasihat mengikuti dengan mulus. Jadi masalahnya bukan dipakaian yang dikenakan, tapi memang pada faktanya perempuan adalah pihak yang selalu terintimidasi, perempuan masih kesulitan untuk mendapatkan kesetaraan, keadilan, perlindungan korban, dan hak untuk melawan di negeri ini.

Berbicara soal hijab dan akhlak, seperti yang sudah aku katakan di muka, bahwa akhlak dan hijab tidak memiliki hubungan. Memakai hijab memang wajib bagi perempuan seperti yang sudah tercantum dalam al-quran, artinya, memakai hijab itu datang dari perintah Allah. Sedangkan tingkah laku dan akhlak, itu pure berasal dari diri manusia. Dari kedua hal tersebut sudah jelas bahwa hijab dan akhlak tidak memiliki korelasi. Contohnya, jika ada seorang muslimah berhijab melakukan dosa atau pelanggaran, itu bukan berarti karena hijab yang ia kenakan, melainkan memang ada yang salah dengan akhlaknya. Harus diakui, bahwa dalam pandangan masyarakat, muslimah yang berhijab itu selalu identik sebagai wanita yang kalem, baik, santun, rajin salat, dan hal-hal baik lainnya. Alhasil, karena itulah banyak orang yang mengaitkan hijab dengan akhlak. Padahal, keduanya jelas-jelas berbeda. Persepsi tentang akhlak wanita berhijab haruslah lembut, sopan, dan sebagainya, sebenarnya tidak harus selalu seperti itu. Tentu saja, tidak juga dapat dijadikan alasan bahwa wanita berhijab diizinkan berakhlak buruk. Karena lagi dan lagi, hijab adalah identitas sebagai seorang muslimah yang diharapkan akhlaknya selalu terjaga.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa mengenakan hijab adalah bentuk kewajiban seorang muslimah, tanpa melihat akhlaknya baik atau buruk. Dan, akhlak adalah perilaku manusia yang sangat dituntut untuk memiliki moral yang baik oleh ajaran Islam. Dan tentu saja, wanita muslim yang belum berhijab karena itu adalah pilihannya.

terima kasih atas tanggapannya kak @dinarizki

akan tetapi saya kurang setuju dengan pernyataan kakak yang ini

berdasarkan data yang ada dalam The Global Gender Gap Report yang telah dirangkum oleh Scholastica Gerintya di Tirto.id

pada data diatas ini skor 1 menunjukan keadaan kesetaraan dan 0 angka terendah adalah ketidaksetaraan. jadi, Bisa dilihat pada data diatas bahwa kesetaraan gender di Indonesia semakin bertambah setiap tahunnya.

meskipun masih pada peringkat 85 dari 153 Negara yang diteliti oleh World Forum Economic (WFE) pada tahun 2020, tetapi melihat angka pertumbuhannya terus naik seiring berjalannya waktu, menurut saya itu sudah jauh lebih baik daripada tidak ada kesetaraan gender sama sekali.

dan tentu saja tetap berharap semoga angka pertumbuhannya akan naik terus kedepannya.

Referensi

“Tingkat Kesetaraan Gender Indonesia Kalah Jauh oleh Filipina”, https://tirto.id/c9ms
Kesetaraan Gender Indonesia Peringkat 85, Tertinggal dari Myanmar dan Filipina | merdeka.com

hijab adalah sebuah kewajiban bagi seorang wanita muslim. jadi mengenakannya memang diwajibkan, menurut al-quran dan hadist. ketika seseorang mengenakan hijab, lalu ia berperilaku kurang baik, maka hal tersebut tidak berkaitan dengan hijabnya, melainkan dengan sifat dan perilakunya. meskipun dalam ajaran islam, wanita mengenakan hijab sebagai harapan agar dirinya selalu terjaga, baik dari perilaku buruk dari luar ataupun dari dalam. jadi menurutku, hanya karna seseorang menggunakan hijab, lalu ia bersikap tidak baik, maka jangan salahkan hijab atau agamanya, melainkan salahkan pribadinya sendiri. jadi, jangan gunakan hijab sebagai justifikasi atas perilaku nya.

1 Like

Halo, kak. Terima kasih atas sanggahan yang diberikan. Namun saya berkata demikian karena melihat realitas yang terjadi saat ini di Indonesia, tidak jarang pihak perempuan menjadi ‘sasaran’ patriarki. Perempuan harus di rumah ngurus anak, perempuan nggak pantes jadi pemimpin karena sering melibatkan perasaan daripada logika, perempuan itu cengeng, perempuan di rumah aja yang kerja biar suaminya, perempuan jadi bahan objektifitas media masa dalam periklanan (kak auliya bisa melihat iklan parfum, Axe misalnya) dan ketidaksetaraan peran sosial lainnya.
Dari kacamata saya, saya melihat bahwa perempuan memang masih menjadi kaum yang termarginalkan keberadaanya. Memang benar fakta dari data yang kak @nrauliyar sampaikan, tapi, masih ada tapinya, angka 0.7 itu bukan berarti sudah memenuhi kesetaraan segala aspek (keterlibatan politik, ekonomi, kesehatan dan pendidikan). Secara keseluruhan, keterlibatan perempuan dalam politik hanya terpenuhi 25%. Dan belum ada satu pun negara yang sudah menutup gap tersebut. Indonesia mendapat skor 0,7 dari skor 0-1. Namun, pada keterlibatan politik, Indonesia hanya mendapat skor 0,172. Keterwakilan perempuan di parlemen berada pada ranking 105 (skor 0,211), dan di kementerian pada peringkat 67 (skor 0,307). Jauh dari angka 1, artinya dalam keterlibatan politik perempuan belum mencapai kesetaraan. Data ini cukup menjadi bukti bahwa kesetaraan gender di Indonesia masih memiliki gap yang lebar.
Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, bahwa budaya patriarki yang kuat di Indonesia menuntun persepsi bahwa perempuan tidak “worth it” jika diikut sertakan terlibat dalam sistem politik. Jadi, jika pada salah satu aspek perempuan masih dianggap sebelah mata, apakah sudah pantas disebut setara?

memang benar masih rendah, dan seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya

terkait perempuan dalam sistem politik di Indonesia, berikut data yang saya dapatkan dari Badan Pusat Statistik

seperti yang bisa dilihat dalam data diatas, setiap tahunnya ada penambahan jumlah perempuan yang menduduki bangku parlemen di Indonesia. melihat hal tersebut saya rasa pendapat kak @dinarizki mengenai

kurang sesuai dengan keadaan yang ada saat ini.

Dengan melihat data yang terus naik 3 tahun belakangan ini pada keterlibatan perempuan di parlemen seluruh Indonesia dan naiknya presentase kursi DPR dan DPRD yang diduduki oleh perempuan pada setiap masa jabatan tersebut sudah bagus menurut saya.

dan hal tersebut tidak menutup kemungkinan kedepannya akan naik terus hingga bisa mencapai kesetaraan perempuan di bidang politik. melihat hal tersebut, berarti sudah banyak perempuan yang sadar ia juga bisa memasuki dunia politik dan menjadi contoh bagi perempuan lainnya kedepannya.

Saya rasa, secara general, setiap orang tidak memandang apapun semuanya harus berperilaku dan berakhlak yang baik tanpa terkecuali. Namun bila melihat konteksnya wanita berhijab, saya rasa juga harus memiliki sikap, akhlak serta perilaku yang baik. Karena stereotip dimasyarakat berkeyakinan bahwa orang yang berhijab dianggap orang yang “lebih” baik dibanding yang tidak. Karena secara penampilan mereka dinilai lebih agamis. Namun sejatinya hal tersebut tidak ada kaitannya sama sekali. Bukan berarti yang tidak berhijab tidak harus berakhlak atau berperilaku baik, tentu tidak. Kewajiban berakhlak dan berperilaku baik merupakan kewajiban setiap orang. Berperilaku dan berakhlak baik merupakan cerminan pribadi yang beragama dan berpendidikan.

1 Like

Menurutku tidak. Hijab merupakan sebuah kewajiban bagi seorang wanita muslim, sedangkan akhlak adalah tingkah laku yang terdapat pada diri seseorang.
Jadi seharusnya kita semua tahu bahwa muslimah yang berhijab tidak ada kaitannya dengan akhlak. Contohnya saja, jika ada seorang muslimah berhijab melakukan dosa atau pelanggaran, itu bukan berarti karena hijab yang ia kenakan, melainkan akhlaknya.

Persepsi tentang akhlak wanita berhijab haruslah lembut, sopan, dan sebagainya, sebenarnya tidak harus selalu seperti itu. Tentu saja, tidak juga dapat dijadikan alasan bahwa wanita berhijab diizinkan berakhlak buruk. Karena lagi dan lagi, hijab adalah identitas sebagai seorang muslimah yang diharapkan akhlaknya selalu terjaga. Mereka yang belum berhijab dengan alasan belum siap atau ingin menjilbabkan hati dulu perlu diketahui bahwa menakar kesiapan dan kebaikan diri tidak akan pernah ada habisnya. Pasti akan selalu ada kekurangan dalam diri.

Perihal pemahaman agama, perlu digarisbawahi kalau tidak semua wanita berhijab memiliki pemahaman agama yang baik. Akan tetapi, berhijab menjadi tanda bahwa dia telah berusaha untuk menjalankan kewajiban agama sebagai muslimah. Sementara, wanita muslim yang memilih untuk tidak berhijab menjadi hak orang itu sendiri.

1 Like