Benarkah Perempuan Lebih Sulit Move On Dibandingkan Laki-Laki?

Putus cinta merupakan hal yang menyakitkan bagi banyak orang. Hal ini karena perasaan tidak rela atas kepergian orang yang kita cintai, sehingga tidak jarang banyak orang yang mengalami kesedihan secara berlebih. Oleh karena itu, move on merupakan salah satu cara untuk dapat mengatasi kegalauan seseorang. Namun, hal itu tidaklah mudah untuk dilakukan oleh setiap orang.

Lantas, apakah benar stigma perempuan lebih sulit untuk move on dibandingkan dengan laki-laki? dan apa alasannya?

Sumber

TribunNews.com

1 Like

Menurut penelitian dari Binghamton University , New York, pada umumnya perempuan adalah pihak yang paling tersakiti saat putus dengan pasangannya. Hal ini membuat mereka lebih susah untuk move on daripada laki-laki.
Berikut adalah alasan mengapa perempuan lebih susah move on daripada laki-laki

    1. Perempuan lebih merasakan sakit secara emosional dan fisik
    1. Perempuan lebih rentan terkena depresi
    1. Perempuan akan berusaha mencari dukungan emosional
    1. Perempuan lebih sering menyalahkan diri sendiri
1 Like

Menurutku stigma mengenai perempuan lebih sulit move on itu benar adanya. Karena berdasarkan pengalaman, cara perempuan dan laki-laki ketika berada dalam proses transisi dari setelah putus itu berbeda. Biasanya perempuan lebih banyak memberikan waktu untuk intropeksi diri pasca putus cinta. Sedangkan laki-laki lebih mengalihkan kekecewaannya pada hal yang membuat dia terlihat baik-baik saja. Tak jarang kita temui, di saat awal putus cinta biasanya perempuan menangis berhari-hari, sakit, bahkan mengalami gangguan kecemasan. Tapi berbanding terbalik dengan para laki-laki yang bisa terlihat baik-baik saja, seperti tidak ada masalah dari perpisahan tersebut.

Hal itu bisa terjadi karena yang kita ketahui semua bahwa wanita sering disebut sebagai makhluk paling perasa, para perempuan yang baru putus biasanya merasa tersakiti, perempuan menjadi lebih sulit untuk membuka hati, dan menerima orang lain. Dan alasan para perempuan menyatakan sangat tersakiti sebab mereka mengaku telah serius ketika menjalani hubungan. Juga memiliki cinta yang sangat dalam terhadap pasangannya. Maka dari itu, ketika mereka putus cinta, kaum perempuan, kebanyakan, menjadi sangat susah untuk move on.

Reference

Natalia, Deasy. 2021. Kenapa Perempuan Susah Move On dari Mantan Pacar?. Belajar dari cinta.

1 Like

Dalam penelitian yang 5.705 orang yang pernah mengalami putus cinta diminta untuk menilai rasa sakit yang mereka rasakan dari 1 hingga 10. Hasilnya, angka rasa sakit emosional dan fisik yang dirasakan perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.

Ini karena perempuan pada umumnya jatuh cinta lebih dalam daripada laki-laki. Tidak hanya itu, memang benar bahwa kebanyakan perempuan lebih mengutamakan perasaan daripada logika sehingga mereka lebih rentan merasakan sakit.

1 Like

Bener sih kalo menurutku :joy:
Alasannya karena perempuan itu lebih emosional, dia lebiih menggunakan perasaannya, “apa-apa dirasain” itu ciri khas perempuan. Beda dengan laki-laki yang sering menggunakan logikanya, mereka cukup logis. Mereka akan menjadi kepala keluarga nantinya, mereka harus bekerja untuk bisa menghidupi istrinya kelak. Jadi para lelaki berpikir bahwa jika terus menyesali dan menangisi mantannya, akan menghambat langkahnya untuk masa depannya, “masa iya aku mau jadi kepala keluarga di masa depan, tapi masiih menangisi 1 perempuan di masa lalu” mungkin itu yang dipikirkan laki-laki. Alasan kedua karena perempuan biasanya menjadi pihak yang merasa tersakiti, alias perempuan adalah korban. Secara keseluruhan perempuan cenderung lebih setia, lebih jujur. Berangkat dari up bringingnya dari lingkungan keluarga, terutama dari sang ibu yang menjaid role modelnya. Tapi sebenarnya kalo susah move in itu tidak selalu karena orangnya kok, tapi pada kebiasaannya yang telah terputus

1 Like

Monmouth University melakukan penelitian yang melibatkan 155 peserta yang dibagi menjadi kelompok pria dan wanita. 71% partisipan setuju kalau mereka bisa melihat sisi positif dari perpisahan setelah 11 minggu. Namun, ada perbedaan siginifikan dari kedua kelompok tersebut. Ketika baru putusan, pria cenderung merenungi mantannya tanpa ada tindakan move on sama sekali. Setelah lewat 11 minggu, mereka baru berani keluar dari lubang gelapnya dan memutuskan untuk move on .

Hal itu berkebalikan dengan wanita yang sudah memutuskan move on di hari-hari pertama putus. Hari-hari pertama putus cinta mereka diisi dengan kegiatan seru bareng para sahabatnya atau membeli makanan enak. Sehingga setelah lewat 11 minggu, mereka sudah melenggang bebas tanpa terbebani pikiran tentang mantan. Wanita juga tidak ngotot mencari gebetan baru karena ada puluhan pria yang siap menemani mereka kapan saja. Jangan heran bila ada teman wanita Anda yang menggandeng pria baru tak lama setelah putus cinta. Mereka tidak perlu repot-repot mencari pasangan baru seperti pria.

Rutger University pernah melakukan penelitian bertajuk “ How Does The Brain React to a Romantic Breakup ” yang berhubungan dengan cara kerja otak setelah mengalami putus cinta. Dari penelitian itu ditemukan bahwa aktivitas otak pria meningkat di beberapa daerah yang berkaitan dengan motivasi, penghargaan, dan gangguan kondusif-kompulsif sehingga membuat daya juang seorang pria menjadi lebih tinggi dari sebelumnya. Peningkatan daya juang tersebut membuat pria menjadi lebih fokus memperjuangkan hal-hal lain yang belum ia capai sebelumnya. Jadi, apabila dikelola dengan baik, energi saat putus cinta bisa membuat seorang pria menjadi lebih dewasa dan tahan banting. Proses move on yang lama justru menjadi keuntungan bagi mereka. Jeda waktu tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan aspek-aspek di dalam dirinya.

1 Like

Wanita mengalami lebih banyak rasa sakit emosional setelah putus cinta, tetapi mereka juga lebih pulih sepenuhnya, menurut penelitian baru. Sementara putus cinta paling menyakiti wanita, mereka cenderung move on lebih cepat. Pria, di sisi lain, tidak pernah sepenuhnya move on. berdasarkan penelitian, hal ini bisa dijelaskan dengan, wanita berevolusi untuk berinvestasi jauh lebih banyak dalam hubungan daripada pria. bahkan pertemuan singkat tetap dapat menyebabkan sembilan bulan kehamilan, investasi biologis yang lebih tinggi ini adalah risiko yang membuat perempuan lebih memilih dalam menemukan pasangan. oleh karena itu, hilangnya pasangan ‘lebih menyakitkan’ bagi sorang wanita.
Di lain hal, pria berevolusi untuk bersaing mendapatkan perhatian dari wanita, kehilangan pasangan untuk pria mungkin tidak terlalu “menyakitkan” pada awalnya, pria akan lebih mungkin merasa kehilangan untuk jangka waktu yang sangat lama karena sebelumnya dia harus “mulai bersaing” lagi untuk menggantikan apa yang telah hilang atau lebih buruk lagi, menyadri bahwa kehilangan yang terjadi tidak tergantikan.

Sumber

Binghamton University. “Women hurt more by breakups but recover more fully.” ScienceDaily. ScienceDaily, 6 August 2015. <Women hurt more by breakups but recover more fully -- ScienceDaily>.
Craig Eric Morris, Chris Reiber, Emily Roman. Quantitative Sex Differences in Response to the Dissolution of a Romantic Relationship. . Evolutionary Behavioral Sciences , 2015; DOI: 10.1037/ebs0000054

1 Like

Menurut saya, memang benar wanita memiliki rasa emosional yang tinggi dibanding laki-laki, namun mengenai putus cinta dan sulit move on, menurut saya tidak bisa dikatakan bahwa wanita lebih sulit dibanding laki-laki. Karena hal tersebut dikemalikan lagi kepada tipe orang itu masing-masing. Banyak laki-laki malah yang lebih sulit move on dibanding pasangan nya. Mungkin kalau lebih emosional ketika abis putus bisa jadi perempuan, karena mereka emang lebih didominasi oleh rasa, dibanding laki-laki yang logika. Tapi kembali lagi, kalau perihal sulit move on wanita tidak dapat dikatakan bahwa mereka lebih sulit move on dibanding laki-laki.

Ada benarnya jika sedang putus cinta maka wanita akan lebih sulit move on karena menurut penelitian dari Binghamton University , New York, pada umumnya perempuan adalah pihak yang paling tersakiti saat putus dengan pasangannya. Hal ini membuat mereka lebih susah untuk move on daripada laki-laki.

Dalam penelitian yang sama, 5.705 orang yang pernah mengalami putus cinta diminta untuk menilai rasa sakit yang mereka rasakan dari 1 hingga 10. Hasilnya, angka rasa sakit emosional dan fisik yang dirasakan perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.Ini karena perempuan pada umumnya jatuh cinta lebih dalam daripada laki-laki. Tidak hanya itu, memang benar bahwa kebanyakan perempuan lebih mengutamakan perasaan daripada logika sehingga mereka lebih rentan merasakan sakit.

Summary