Benarkah Menjadi Keluarga Kelas Menengah di Indonesia Cukup Menyedihkan?

Di Indonesia masyarakat memiliki kelas ekonomi yang dikategorikan menjadi tiga, yaitu kelas bawah, menengah, dan atas. Banyak orang Indonesia yang menjadi keluarga menengah mengeluh karena susah untuk mendapatkan bantuan. Contohnya seperti beasiswa bidikmisi yang digunakan untuk membantu biaya kuliah keluarga kelas ekonomi bawah. Dan keluarga kelas menengah pun tidak termasuk dalam kategori penerima beasiswa karena dirasa cukup kaya dan mampu untuk membiayai perkuliahan tanpa bantuan. Padahal, mereka sebenarnya juga merasa ngos-ngosan ketika akan membayarkan uang UKT per-semester anaknya. Tidak mendapat bantuan karena dirasa cukup mampu, tapi tidak kaya sehingga bisa membayar tanpa memikirkan besok akan punya uang atau tidak. Apalagi, kalau memiliki jumlah anak yang banyak dan bukan hanya anak yang berkuliah saja yang membutuhkan biaya.

Karena itu, keluarga menengah merupakan keluarga yang cukup dirasa menyedihkan. karena miskin juga tidak, tapi hidupnya juga pas-pasan sesuai dengan kebutuhan hidup. Apalagi untuk keluarga menengah yang tinggal di kota-kota besar.

Bagaimana menurutmu, benarkah bahwa menjadi keluarga kelas menengah cukup menyedihkan di Indonesia?

Well, Harus diakui memang jika saat ini situasi perekonomian kita sedang sangat tidak menentu ditambah lagi dengan berbagai kebutuhan yang semakin banyak dan juga semakin tinggi harganya membuat banyak keluarga kelas menengah di Indonesia menjadi pusing dengan keadaan seperti ini. Terkadang pendapatan yang ada, tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan yang ada sehingga mau tidak mau, manajemen keuangan harus semakin di perketat demi mencakup semua kebutuhan yang ada seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Hal inilah yang membuat orang - orang zaman sekarang enggan memiliki anak dengan jumlah banyak atau bahkan memilih untuk childfree saja karena takut mereka tidak bisa membiayai kebutuhan anaknya dengan baik kelak (terutama biaya pendidikan). Saya pun juga pada akhirnya berpikir - pikir lagi tentang memiliki anak untuk kedepannya di tengah situasi yang serba tidak pasti seperti sekarang ini.

Menurut saya, boleh jadi memang ada benarnya juga kamu menanyakan jika keluarga kelas menengah di indonesia itu menyedihkan. Dengan segala kebutuhan dan prioritas yang ada tak jarang membuat segala sesuatunya terasa berat terutama bagi para kepala keluarga kelas menengah yang mau tidak mau harus memikirkan berbagai macam alternatif untuk mendapatkan penghasilan tambahan untuk keluarga mereka. Di zaman corona seperti ini, banyak keluarga kelas menengah yang menjerit karena kepala keluarga mereka kehilangan pekerjaan karena PHK yang masif terjadi sementara mereka memiliki mulut - mulut yang harus diberi makan dan juga bagaimana dengan keperluan lainnya. Hal ini tentunya sangat meningkatkan stress dan juga kecemasan.

Hal inilah yang membuat saya berpikir matang lagi untuk memulai sebuah keluarga. pertanyaannya adalah, apakah kita sebagai generasi muda yang sekarang sudah siap untuk menghadapi kompleksitas seperti itu dalam membangun keluarga dengan pasangan kita masing - masing di masa yang akan datang ?

Mungkin iya. Saya banyak menjumpai keluarga dengan taraf ekonomi menengah yang bisa dikatakan meradang, terutama di kondisi pandemi seperti sekarang ini. Seperti yang sudah disampaikan di deskripsi pertanyaan, keluarga dengan ekonomi menengah saya rasa posisinya serba salah. Menurut saya, esensi ‘cukup’ disini seolah dikambinghitamkan, minta bantuan tidak bisa, tapi harus tetap banting tulang sekeras mungkin untuk memenuhi kebutuhan yang membludak. Di sini, terkadang saya merasa kasihan pada anak-anaknya terutama yang masih tergolong balita dan remaja karena harus ditinggal kedua orang tuanya bekerja sejak pagi hingga petang.

‘Cukup’ yang diartikan disini juga menyeret mereka untuk memenuhi kebijakan seperti iuran desa, misalnya di daerah saya berupa iuran bahan pokok selama pandemi berlangsung. Namun, giliran ada bantuan dan semacamnya, mereka tersingkirkan oleh masyarakat yang memang berasal dari kelas bawah. Yang saya amati pada keluarga kelas menengah seperti ini adalah mereka menjadi multitasking. Maksudnya, kepala keluarga memiliki penghasilan sampingan di luar penghasilan utamanya. Bahkan beberapa orang sempat mengaku bahwa dirinya memilki 3-4 pekerjaan sampingan. Katanya kalau tidak berbuat demikian, maka akan tertindas dengan himpitan ekonomi dengan embel-embel berkecukupan.