Benarkah Mendengar Musik Klasik Membuat Kita Lebih Cerdas?

musik klasik

Benarkah mendengarkan musik klasik membuat otak kita cerdas?

Musik klasik di dalam Kamus Besar Indonesia diartikan sebagai :

  1. ilmu atau seni yang mempunyai nilai atau posisi yang di akui serta langgeng, dan sering di jadikan tolak ukur dan tidak diragukan;
  2. karya sastra yang bernilai tinggi serta langgeng dan karya susastra jaman kuno yang bernilai kekal;
  3. sederhana, serasi dan tidak berlebihan;
  4. tradisional.

Musik klasik memiliki kompleksitas tinggi, matematis, terstruktur, harmonis, kreatif, dan meningkatkan kecerdasan spasial, serta memiliki nilai spiritual, kedamaian dan ketentraman.

Ciri-ciri musik klasik adalah ditandai oleh kesinambungan yang mengalir, kejernihan, dan seimbang. Musik klasik ditandai oleh aksen dan dinamika yang bisa berubah secara tiba-tiba dan mengejutkan sehingga iramanya tidak monoton, sehingga musik klasik sangat efektif untuk merangsang keterkaitan di dalam otak, memicu ingatan dan kreativitas

Siegel (1999:72) mengatakan bahwa, musik klasik menghasilkan gelombang Alfa yang menenangkan yang dapat merangsang sistem limbik jaringan neuron otak. Sedangkan menurut Martin Gardiner dalam Fauzi (2008:8) menyatakan bahwa seni dan musik dapat membuat para siswa lebih pintar, musik dapat membantu otak berfokus pada hal lain yang dipelajari.

Musik klasik dipercaya dapat menguatkan pikiran dan emosional sehingga menjadikan orang lebih kreatif. Musik dapat memberikan pengaruh dan energy positif bagi manusia, di antaranya sangat berperan dalam menunjang perkembangan intelektual dan sosial, serta menjaga keseimbangan antara jiwa dan fisik. Selain itu, dengan mendengarkan musik klasik akan merangsang otak bagian kanan.

Otak kanan berfungsi dalam hal perasaan, khayalan, kreatifitas, bentuk dan ruang, emosi, musik, dan warna. Daya ingat otak kanan bersifat jangka panjang.

Oleh karena itu, saya berkesimpulan bahwa musik klasik tradisional, misalnya gamelan, dapat melatih otak untuk membuat orang lebih kreatif, sehingga secara langsung maupun tidak langsung akan membantu kita menjadi lebih cerdas.

Note : Otak manusia bekerja seperti otot manusia, dia hanya bisa berkembang apabila mendapat rangsangan (dengan berlatih) secara terus menerus.

Musik dan kehidupan merupakan dua hal yang terasa sulit dipisahkan. Di setiap waktu, kita dapat merasakan keterpaduan unsur musik dan irama kehidupan. Alampun memberikan irama sendiri. Bunyi angin berhembus, deburan ombak, burung berkicau, dan gesekan daun, juga memiliki ritme sendiri dalam memperkaya semesta kehidupan ini.

Di setiap alunan musik, dalam pemahaman yang lebih luas, sedikit banyak dapat berpengaruh pada psikologis manusia. Musik di sini diartikan sebagai bunyi yang dihasilkan dari nada dan irama yang teratur. Ada berbagai macam pendapat mengenai hal ini. Dari awal kehidupan pun diyakini bahwa musik memiliki pengaruh bagi anak.

Hal ini dikuatkan dari penelitian yang dilakukan oleh Anne Blood dari Universitas McGill di Kanada, suara degup jantung ibu yang didengar si bayi saat menyusu pun dapat membuat berat bayi bertambah (Intisari, 2008).

Christanday mengatakan bahwa musik sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Musik memiliki 3 bagian penting yaitu beat, ritme, dan harmony".

Beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, sedangkan harmony mempengaruhi roh atau ruh kita.

Sheppard (2007) menyatakan bahwa dalam menciptakan musik, kombinasi ekspresi diri, disiplin, dan kegembiraan, juga kemampuan bekerja dengan orang lain akan meningkat secara positif. Lebih lanjut Sheppard juga menegaskan bahwa musik membantu:-perkembangan mental-koordinasi fisik- keterampilan bahasa-kemampuan matematis-keterampilan sosial-daya ingat-keterampilan kerja tim- ekspresi diri dan kreativitas anak.

Dengan kesadaran yang lebih baik, saat ini banyak orangtua menyadari mulai mengenalkan musik dari sejak usia dini. Hal ini terbukti tumbuhnya berbagai kursus musik yang merupakan bagian dari jawaban akan besarnya animo masyarakat mengenai pentingnya mengenalkan musik dari sejak usia dini.

Kesadaran ini diyakini karena adanya penelitian tentang musik, terutama musik klasik ternyata sangat mempengaruhi perkembangan IQ (Intelegent Quotient) dan EQ (Emotional Quotient). Anak-anak yang sejak kecil terbiasa bergaul dan mendengarkan musik akan memiliki kecerdasan emosial dan intelegensi yang lebih berkembang, dibandingkan anak-anak yang yang jarang mendengarkan musik. Dalam hal kedisiplinan juga demikian, biasanya anak yang sering mendengarkan musik akan jauh lebih disiplin daripada yang tidak.

Hal ini diperkuat juga oleh Siegel, yang didasarkan atas teori neuron (sel kondiktor pada sistem saraf), menjelaskan bahwa neuron akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik, rangsangan yang berupa gerakan, elusan, suara mengakibatkan neuron yang terpisah bertautan dan mengintegrasikan diri dalam sirkuit otak. Semakin banyak rangsangan musik diberikan akan semakin kompleks jalinan antarneuron itu. Itulah sebenarnya dasar adanya kemampuan matematika, logika, bahasa, musik, dan emosi pada anak.

Mengacu pada salah satu ahli psikologi perkembangan kognitif yaitu Jean Piaget (1969) menyatakan dalam teori belajar yang didasari oleh perkembangan motorik, salah satu yang penting yang perlu distimulasi adalah keterampilan bergerak. Melalui keterampilan motorik anak mengenal dunianya secara konkrit. Dengan bergerak ini juga meningkatkan kepekaan sensori, dan dengan kepekaan sensori ini juga meningkatkan perkiraan yang tepat terhadap ruang (spatial), arah dan waktu.

Perkembangan dari struktur ini merupakan dasar dari berfungsinya efisiensi pada area lain. Kesadaran anak akan tempo dapat bertambah melalui aktivitas bergerak dan bermain yang menekankan sinkronis, ritme dan urutan dari pergerakan. Kemampuan-kemampuan visual, auditif dan sentuhan juga diperkuat melalui aktivitas gerak.

Gallahue, (1998) mengatakan, kemampuan-kemampuan seperti ini makin dioptimalkan melalui stimulasi dengan memperdengarkan musik klasik. Rithme, melodi, dan harmoni dari musik klasik dapat merupakan stimulasi untuk meningkatkan kemampuan belajar anak. Melalui musik klasik anak mudah menangkap hubungan antara waktu, jarak dan urutan (rangkaian) yang merupakan keterampilan yang dibutuhkan untuk kecakapan dalam logika berpikir, matematika dan penyelesaian masalah.

Dalam Solechuddin (2008) dikatakan juga bahwa musik dapat menjadikan anak pintar terutama di bidang logika matematika dan bahasa. Keindahan musik adalah kata-kata yang menyatu dengan nada, sehingga anak memiliki keinginan yang kuat untuk bergabung di dalamnya dan tanpa disadari anak turut berdendang dengan kata-katanya sendiri misalnya dengan menyanyikan ba…ba…ba…ba…ba, mengetuk-ngetukkan atau menjentik-jentikan jari-jari tangan atau mengangguk-anggukkan kepala setiap kali mendengar irama musik dan sebagainya. Tapi keinginan untuk mengikuti lagu yang ia dengar, akan mendorongnya untuk berlatih terus menerus.

Musik juga dapat membantu anak yang kurang pandai berbicara untuk menyalurkan perasaan dan emosi yang terpendam. Bermain musik dapat memicu kepintaran kinestetis atau kepintaran gerak tubuh dan mengurangi stress anak. Jadi bila anak sedang suntuk atau kesal, dengan bermain musik atau mendengar musik beberapa menit, akan menyegarkan otak si anak.

image

Hasil penelitian lain yang di lakukan Dr.Howard Gardner (1993) membuktikan bahwa musik mampu mempengaruhi perkembangan intelektual anak dan bisa membuat anak pintar bersosialisasi. Alunan musik memberikan manfaat pada perkembangan intelektual anak, bahkan didalam kandunganpun dianjurkan memperdengarkan musik kepada anak. Ketertarikan anak pada permainan musik berawal dari mendengarkan musik, dengan mendengarkan musik akan melatih fungsi otak anak yaitu berhubungan dengan daya nalar dan intelektual anak.

Musik dapat mengoptimalkan perkembangan intelektual anak dan musik juga bisa membuat anak jadi cerdas sekaligus kreatif, musik juga dapat membangun rasa percaya diri dan kemandirian.

Ada beberapa manfaat yang dapat diambil apabila anak distimulus dengan musik sejak dalam kandungan, yaitu:

  1. Anak jadi lebih mudah menyerap masukan. Kepekaan terhadap alam menjadi lebih baik sebab mendengarkan dan merasakan musik lewat perasaan sehingga menggugah kepekaannya

  2. Memberikan kesenangan dan membantu anak mempelajari berbagai keterampilan yang perlu dikuasai anak atau yang sesuai dengan bakat anak

  3. Membantu anak untuk mengekspresikan dan mengembangkan kreatif anak. Anak mampu mengendalikan emosinya, perasaan sedih atau senang dapat dicurahkan melalui musik dan lagu.Imajinasi anak bisa berkembang lewat syair lagu. Musik klasik sangat bagus untuk mengembangkan imajinasi kreatif anak (Mozart 1994).

  4. Membangun perasaan pada anak memberi banyak pengalaman seni kreatif. Contohnya, menari, menggambar sesuai dengan irama musik yang didengar oleh anak. Musik dapat menentukan suasana hati yang menggairahkan anak untuk membuat sesuatu

  5. Apresiasi anak pada musik juga akan tumbuh dan berkembang dalam diri anak. Kalau apresiasi sudah tumbuh, maka ia bisa menganalisa nada.

  6. Musik dapat merangsang otak anak

  7. Musik memberi pengaruh positif dalam hal persepsi emosi

  8. Musik dapat meningkatkan perkembangan motoriknya, termasuk upaya anak saat belajar merangkak, berjalan, melompat dan lari.

Sumber : Rita Eka Izzaty, M.Si, Psi, “Musik dan Perkembangan Anak”

Apakah definisi dari cerdas itu ?

Apakah seseorang disebut cerdas karena nilai rapor-nya bagus dan aktif bertanya atau karena nilai IPK-nya tinggi dan cepat lulus ?

Hingga saat ini, tidak ada definisi baku apa yang dimaksud kecerdasan. Ada yang berpendapat bahwa kecerdasan sebagai tingkat kemampuan bernalar dalam wilayah koginitif (berpikir); ada yang berpendapat sebagai kemampuan beradaptasi (dalam hal ini membutuhkan rangkaian berpikir dan bertindak); ada juga yang berpendapat sebagai kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa dan juga kemampuan belajar.

Karena mendefinisikannya sulit maka beberapa ahli membuat spesifikasinya, yaitu kecerdasan yang berhubungan dengan:

  • pemahaman dan kemampuan verbal,
  • angka dan hitungan,
  • kemampuan visual,
  • daya ingat,
  • Penalaran, dan
  • Kecepatan perseptual

Bagaimana hubungannya dengan musik klasik ?

Musik klasik sangat patuh dengan notasi musik yang ada dalam partitur. Akibatnya penggemar musik klasik biasanya orang yang konservatif, mampu membuat pola yang sama dari berbagai kejadian dan bersifat konsisten/istiqomah.

Dalam hal ini, siapapun yang bermusik akan menghasal irama yang sama. Bandingkan dengan musik jaz yang bisa menyimpang dari partitur/pakem. Para pemusik jazz tidak pernah patuh ke partitur, seenaknya memodifikasi not-not musik yang ada tetapi masih tetap menghasilkan musik yang indah. Akibatnya, para pemusik jaz punya cirinya tersendiri.

Nah, dengan begitu ada sudut pandang yang bisa kita hubungkan antara musik klasik dan kecerdasan. Bisa jadi, seseorang harus cerdas dulu baru bisa bermain musik klasik. Atau bisa jadi pula, notasi-notasi musik klasik yang teratur dan konsisten mampu membuat seseorang yang awalnya berpikir berantakan menjadi lebih tertata sehingga disebut sebagai orang yang cerdas.

Satu hal yang mungkin bisa menjadi pegangan: musik berada dalam ranah emosi. Beberapa bagian emosi terkait dengan kecerdasan.

Sumber : Achmad Farajallah

Memang mendengarkan musik klasik tidak secara langsung membuat kita cerdas, tetapi secara tidak langsung, mendengarkan musik klasik akan membantu kita untuk mencapai kecerdasan. Tidak akan mungkin kita menjadi cerdas hanya dengan mendengarkan musik, tanpa membaca buku atau belajar tentang sesuatu.

Menurut Walberg & Greenberg (dalam De Porter et al., 2001) lingkungan sosial atau suasana kelas adalah penentu psikologis utama yang mempengaruhi proses belajar akademis. Lebih lanjut De Porter et al. (2001) mengemukakan bahwa suasana kelas dalam mendukung proses belajar mengajar dapat didesain secara menyenangkan, serta ditambahkan perangkat‐perangkat pendukung, seperti tumbuhan, aroma, hewan peliharaan dan musik.

Manusia dapat meningkatkan kemampuan berpikir mereka secara kreatif sebanyak 30% saat diberikan wangi bunga tertentu. Hal ini disebabkan daerah penciuman merupakan reseptor bagi endorfin yang memerintahkan tanggapan tubuh menjadi merasa senang dan sejahtera (Hirsch, dalam De Porter et al., 2001).

Lavabre (dalam De Porter et al., 2001) menyebutkan penyemprotan aroma mint, kemangi, jeruk, kayu manis, dan rosemary akan meningkatkan kewaspadaan mental. Sementara wangi lavender, kamomil, dan mawar memberi ketenangan dan relaksasi.

Bagaimana dengan musik ?

Musik dapat menata suasana hati, mengubah keadaan mental siswa, dan mendukung lingkungan belajar. Penelitian mendukung penggunaan musik barok (Bach, Corelli, Tartini, Vivaldi, Handel, Pachelbel, Mozart) dan musik klasik (Satie, Rachmaninoff) untuk merangsang dan mempertahankan lingkungan belajar optimal (Schuster & Gritton, dalam De Porter et al., 2001).

Musik dalam proses belajar dapat digunakan untuk (De Porter et al., 2001) :

  • meningkatkan semangat,
  • merangsang pengalaman,
  • menumbuhkan relaksasi,
  • meningkatkan fokus,
  • membina hubungan,
  • menentukan tema untuk hari itu,
  • memberi inspirasi,
  • bersenang‐senang .

Berhubungan dengan musik dan proses belajar ada yang disebut ”efek Mozart”. Para peneliti menemukan bahwa siswa yang mendengarkan musik Mozart tampak lebih mudah menyimpan informasi dan memperoleh nilai tes yang lebih tinggi (Brown dalam De Porter et al.,2001).

Taher & Afiatin (2005) meneliti penga‐ ruh musik gamelan terhadap peningkatan pemahaman bacaan pada pelajar SMP Kanisius Kalasan kelas 1. Peneliti tersebut menggunakan musik gamelan yang tidak bersyair dan memiliki tempo 60 ketukan per menit dengan alasan subyek yang diteliti adalah anak‐anak Jawa.

Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan signifikan pemahaman bacaan antara kelompok eksperimen yang mendengarkan musik gamelan dengan kelompok kontrol yang tidak diperdengarkan musik gamelan.

Namun demikian, pada kelompok eksperimen, subjek yang biasa belajar sambil mendengarkan musik pop memiliki hasil post-tes yang lebih baik dibandingkan dengan subjek yang biasa mendengarkan musik gamelan dan diikuti dengan subyek yang tidak mendengarkan musik saat belajar.

Dalam hal ini, musik gamelan dengan tempo sekitar 60 ketukan per menit dan tanpa syair ternyata dapat membantu meningkatkan pemahaman bacaan subyek pada kelompok eksperimen, baik yang biasa mendengarkan musik pop, musik gamelan, maupun yang tidak mendengarkan musik saat belajar.

Tyasrinestu & Kuwato (2004) meneliti penggunaan musik pendidikan dalam pengembangan memori kosakata bahasa Inggris anak. Subjeknya adalah anak‐anak Taman Kanak‐kanak B, yang berusia 5 sampai 6,5 tahun, belum pernah ikut kursus bahasa Inggris dan belum pernah menerima pelajaran bahasa Inggris dari guru bahasa Inggris khusus.

Hasil penelitian menunjukkan,

  1. ada perbedaan yang signifikan dalam mengingat kosakata bahasa Inggris antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah mendapat perlakuan,
  2. musik pendidikan sebagai perlakuan pada kelompok eksperimen ternyata terbukti secara signifikan meningkatkan kemampuan mengingat kosakata bahasa Inggris anak lebih besar daripada kelompok kontrol,
  3. respon subyek terhadap aktivitas pelatihan musik pendidikan melalui lagu‐lagu anak berbahasa Inggris sangat antusias.

Referensi :

  • De Porter, B. ,& Hernacki, M. (2001). Quantum Learning. Bandung: Mizan.
  • De Porter, B., Reardon, M., & Nourie, S. S. (2001).Quantum Teaching. Bandung: Mizan.
  • Taher, D. & Afiatin, T. (2005). Pengaruh musik gamelan terhadap peningkatan pemahaman bacaan pada pelajar smp kanisius kalasan kelas 1. Sosiosains, 18(4), 605‐615.
  • Tyasrinestu, F., & Kuwato, T. (2004). Musik pendidikan dalam pengembangan memori kosakata bahasa inggris anak. Sosiosains, 18(1), 19‐28.

Lebih tepatnya musik klasik dapat menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan. Otak kiri digunakan untuk berhitung, logika, daya ingat, analisis, atau hal-hal yang berhubungan dengan akademis. Setiap orang lebih banyak menggunakan otak kirinya untuk berpikir, karena terbiasa menggunakannya di saat sekolah.

Sedangkan otak kanan berkaitan dengan perkembangan artistik dan kreatif, perasaan, gaya bahasa, irama musik, imajinasi, lamunan, warna, pengenalan diri dan orang lain, sosialisasi, serta pengembangan kepribadian.

Penelitian menunjukkan bahwa bayi tikus yang selama dalam kandungan sering dimainkan musik klasik memiliki kemampuan lebih unggul dibandingkan dengan bayi tikus biasa di saat mereka berlomba berjalan di jalan yang ruwet.

Penelitian diatas menguatkan hasil penelitian selama ini mengenai pengaruh musik klasik pada peningkatan kecerdasan. UNESCO Music Council malah telah menegaskan, pertama, musik klasik adalah alat pendidikan. Kedua, musik adalah alat untuk mempertajam rasa inteletual manusia (intellect Einfullung). Musik demikian biasanya mempunyai keseimbangan antara empat unsur musik, yakni melodi, harmoni, irama (rhythm) dan warna suara (timbre). Musik yang memenuhi persyaratan ini adalah musik klasik.

sumber : https://exactjulife.wordpress.com/2012/02/05/pengaruh-musik-klasik-terhadap-perkembangan-otak-manusia/

Sayangnya, anggapan ini ternyata tidak benar. Mitos musik klasik dapat mencerdaskan sebetulnya merupakan salah paham dari artikel hasil eksperimen 3 peneliti asal University of California di Irvine, Amerika Serikat. Dalam eksperimen tersebut, mereka meminta sekelompok mahasiswa mendengarkan sonata karya komposer ternama Wolfgang Amadeus Mozart selama 10 menit.

Rupanya, kemampuan spasial-temporal para mahasiswa tersebut meningkat 8 sampai 9 persen. Kemampuan spasial-temporal sendiri adalah kemampuan untuk mengenali ruang, bentuk, dan arah. Hasil penelitian ini kemudian diterbitkan di salah satu jurnal ilmu pengetahuan paling bergengsi di dunia.

Bagaimanapun, peningkatan kemampuan khusus ini salah diterjemahkan banyak orang sebagai peningkatan seluruh IQ alias kecerdasan intelektual kita. Dalam bukunya, seorang dokter spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan bernama Alfred A. Tomatis mengklaim bahwa mendengarkan karya Mozart dan musik klasik lainnya dapat memicu penyembuhan tubuh dan perkembangan otak.

Beberapa tahun kemudian, seorang pendidik sekaligus musisi bernama Don Campbell menerbitkan buku berjudul Efek Mozart yang langsung laris manis di pasaran. Saking booming-nya, survei menemukan bahwa 73% mahasiswa pengantar psikologi di Amerika Serikat bahkan percaya bahwa mendengarkan musik Mozart bisa menambah kecerdasan. Gubernur negara bagian Georgia dan Tennessee, Amerika Serikat pun sampai menyiapkan dana khusus untuk membagikan CD musik Mozart gratis bagi setiap bayi yang baru lahir.

Akhirnya seperti saat kita sedang main pesan berantai, semakin lama anggapan ini tersebar, justru semakin ngawur. Entah bagaimana, sebuah artikel di Amerika Serikat menulis bahwa Efek Mozart bisa membantu anak-anak meningkatkan kinerja pikiran mereka. Sebuah artikel koran di Tiongkok bahkan menyatakan bahwa bayi yang mendengarkan musik Mozart sejak dalam kandungan bisa lahir lebih pintar dari bayi-bayi yang lain.
Setelah diteliti lebih lanjut, rahasia meningkatkan kinerja otak kita ternyata bukan musik Mozart atau musik klasik lainnya, tapi kegairahan emosional! Artinya, apa pun yang membuat kita enjoy kemungkinan dapat membuat kita berpikir dan mengerjakan tugas dengan lebih baik. Hal ini tidak cuma berlaku buat musik klasik, tetapi juga musik lain seperti rock keroncong, dangdut, bahkan campur sari.

sumber: https://kokbisachannel.wordpress.com/2016/10/05/script-benarkah-mendengarkan-musik-klasik-membuat-kita-pintar/