Benarkah membaca berita menyebabkan tidak bahagia?

Informasi terutama dalam bentuk berita saat ini menjadi hal yang sangat lumrah muncul di segala media, mulai dari yang secara sengaja diakses maupun muncul tiba-tiba tanpa diminta.

Nah, saya sedikit tertohok ketika mendengar pertanyaan @Muhammad_Ardani “Coba sebutkan berita yang berguna buatmu dari Januari sampai Juni ini”. Pertanyaan tersebut sebenarnya merupakan isi dari buku Rolf Dobelli berjudul Stop Membaca Berita . Saya pikir memang ada sisi kurang tidak menyenangkan ketika selalu disuguhi berita yang sebenarnya tidak begitu memiliki manfaat bagi kita, bahkan skenario terburuk adalah berita menghilangkan kebahagiaan diri. Bagaimana pendapatmu tentang hal ini?

1 Like

Sesuai pengalaman sendiri, saya pikir tidak ada korelasi antara membaca berita (secara umum/yang tersebar di media publik) dan kebahagiaan. Toh, kita juga bisa memilih berita mana yang akan kita baca. Jika memang merasa ada berita yang hanya akan memberi dampak negatif bagi kita, ya tidak perlu dibaca.

Pun, jika kondisinya sebuah berita dirasa memang perlu kita baca dan ketahui, sekalipun sadar bahwa itu bukanlah berita yang menyenangkan, saya sendiri akan tetap membacanya. Setidaknya mengetahui sesuatu lebih baik daripada tidak tahu sama sekali, sebab berita yang kurang menyenangkan bukan berarti akan membawa ketidakbahagiaan pada hidup kita. Malah, mengetahui sesuatu yang buruk kemungkinan besar bisa jadi pelajaran bagi kita untuk menghindari sesuatu itu, mengatasinya, atau mencegahnya muncul lagi di lain hari.

Saya setuju akan hal itu karena sepertinya saya mengalaminya sendiri. Tapi tentu saja tergantung dengan berita apa yang kita konsumsi.

Ini benar sekali, sayangnya sekarang informasi sangat mudah didapatkan di mana-mana dan terkadang sangat sulit untuk tidak dibaca. Terlebih di media sosial.

Saya cukup sering membuka twitter. Setiap detik selalu ada cuitan baru dari orang-orang, baik itu akun pribadi ataupun akun berita. Dengan tampilan yang simpel dan muatan kata tiap tweet yang sedikit, sering kali saya tidak bisa untuk tidak membacanya.

Ada saat di mana pandemi Covid19 sangat buruk dan timeline saya dipenuhi oleh berita-berita yang menyedihkan. Berita kematian di mana-mana, kisah sedih dari orang-orang yang ditinggalkan oleh keluarga, beigtu pula dengan ujaran-ujaran konspirasi. Tidak bisa dipungkiri membaca hal-hal seperti itu akan mempengaruhi kebahagiaan secara lambat laun. Bahkan sempat membuat saya putus asa bahwa pandemi ini tidak akan berakhir dan bumi akan semakin parah kondisinya. Pemikiran seperti ini bahkan mendorong saya untuk merasa putus asa untuk menjalani hidup.

“It can be damaging to constantly be reading the news because constant exposure to negative information can impact our brain,” says Annie Miller.

Mengutip dari verywell.com, Miller mengatakan bahwa saat kita merasa terancam, otak akan mengaktifkan respon fight or flight. Mengkonsumsi berita dapat mengaktifkan sistem saraf simpatik, yang menyebabkan tubuh Anda melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Kemudian, ketika krisis terjadi, dan kita mengalami respon stres ini lebih sering, Miller mengatakan gejala fisik mungkin muncul. Beberapa gejala yang paling umum adalah kelelahan, kecemasan, depresi, dan sulit tidur.

Akan tetapi, semua berita yang kita konsumsi tetap bisa kita kontrol. Salah satu caranya adalah mengikuti sedikit akun-akun berita, terlebih yang media yang tidak hanya menjual klikbait. Selain itu, karena berita mudah menyebar di media sosial, kita juga bisa memblokir beberapa kata kunci tertentu yang tidak ingin kita baca di media sosial kita.

Sumber

Benar sekali kak, membaca berita membuat kita tidak bahagia. Kalau yang dibaca adalah berita negatif misalnya perselisihan. Terlebih jika berita tersebut memuat porsi informasi yang tidak seimbang alias berat sebelah. Contoh lebih menitik beratkan pada kerugian pihak yang disinyalir sebagai korban, padahal kejadian yang sebenarnya bisa jadi tidak demikian.
Sesuai pengalaman biasanya setelah membaca atau menonoton berita seperti itu saya jadi lebih sering berfikir negatif dan ngomel-ngomel sendiri sebab teringat berita tersebut.

Tetapi jika yang dibaca adalah berita informatif dan positif tentu imbasnya tidak demikian. Kita justru akan terbawa dalam suasana yang positif pula. Bahkan turut merasa bangga dengan isi berita yang disampaikan.

Jadi ya korelasi antara baca berita dengan perasaan bahagia itu tergantung berita apa yang kita baca. Oleh sebab itu sebaiknya kita pandai memilah dan memilih mana berita yang harus kita bbaca dan yang tidak perlu kita baca.

Saya sangat setuju ketika terdapat diskusi mengenai dukungan terhadap berhenti membaca berita. Kegiatan ini adalah sebuah manifesto untuk mencapai kebahagiaan karena menghindari sebuah ketidakpastian dan kerusuhan dalam berita. Ketika kita disuguhkan berita mengenai pernikahan artis, pemain sepak bola cedera, terbitnya film, pohon jatuh, bangkrutnya perusahaan, hingga anak saudagar lulus ujian polisi harusnya kita perlu berpikir jauh “untuk apa kita tahu berita ini? apa untungnya?”.

Kalau semisal kita disuruh untuk membaca berita positif, itu sangat lucu. Apakah Anda tahu ketika melihat judul berita sehingga meyakini atau menebak kalau berita itu positif? Anda harus membaca dulu sehingga Anda tahu berita itu positif atau negatif. Anda buang-buang waktu untuk membaca yang tidak berguna dan tak pasti. Bagaimana?

Baiknya, daripada membaca berita, lebih baik kita membaca buku, jurnal, makalah, dan berdiskusi langsung dengan ahli yang sesuai dengan “lingkaran kompetensi” kita. Kita harus menyesuaikan dengan lingkar kompetensi kita ketika mendalami sebuah disiplin ilmu. Kalau Anda seorang ilmuan biologi, maka Anda patutnya mendalami keilmuan biologi, dan seterusnya. Jadi, mulai hari ini, Anda patut mematikan televisi kita bahkan meng-uninstall aplikasi berita di smartphone. Mulai dari sekarang!

Pada topik diskusi kali ini saya antara sepakat dan tidak sepakat. Saya sepakat bahwa ada beberapa orang yang memang tidak bisa membaca berita karena kondisi mentalnya. Misalnya dia menjadi tidak tenang, panik, dan merasakan kecemasan berlebihan ketika membaca berita yang tidak menyenangkan seperti kondisi pandemic covid-19 di belahan bumi saat ini. Atau berita-berita gosip yang di dalamnya terdapat unsur pamer atau kesia-siaan yang ditunjukkan media kepada penonton.

Namun apabila dikatakan ”Stop Membaca Berita”, saya tidak sepakat. Karena bagaimanapun kondisi tentang apapun di hari ini dan up to date ya kita dapatkan dari berita, kemudian kembali pada diri kita sendiri untuk memilih media berita yang kredibel, yang sekiranya layak untuk kita baca. Bahkan membaca berita tidak hanya sekedar mendapat informasi namun dari informasi tersebut bisa kita analisa lagi. Contohnya, saya sering mendiskusikan kondisi-kondisi terkini yang ada di Indonesia, seperti kasus-kasus korupsi yang ada di Indonesia. Tentunya korupsi memiliki dampak negatif bagi generasi bangsa, untuk membahas hal tersebut tentunya saya harus membaca banyak berita tentang kasus tersebut, baru kemudian saya menaganalisis dari infomasi yang saya dapat yang akhirnya saya pahamkan ke masyarakat terkait kondisi politik saat ini. Hal ini dapat dikatakan sebagai menyeru kepada kebaikan untuk perubahan yang lebih baik.

Apabila kita hanya fokus pada kebahagiaan diri sendiri tanpa mengerti kondisi yang ada hari ini, tentunya akan menggeser status kita sebagai makhluk sosial yang peduli sesama.

Kalau menurut saya sendiri, membaca berita tidak selalu menimbulkan perasaan tidak bahagia, ataupun bahagia. Ada kalanya kita membaca berita dan merasa biasa-biasa saja. Kebetulan saya juga membaca buku dari Rolf Dobelli yang berjudul " The Art Of Thinking Clearly" beberapa insight yang saya dapatkan dari buku tersebut yang menurut saya relevan dengan topik tentang membaca berita adalah mengapa kita bisa merasa tidak bahagia ketika membaca berita tertentu, dikarenakan adanya sebuah fenomena bernama " Confirmation Bias." Confirmation bias ini apa sih? konfirmasi bias adalah kecenderungan bagi orang-orang untuk mencari bukti-bukti yang menyatakan atau mendukung opini dan kepercayaan individu tersebut serta mengabaikan fakta-fakta yang ada. Bisa disimpulkan kalau gak happy ketika baca berita, berarti memang apa yang ada dalam berita tersebut kontradiktif dengan pemikiran yang sedang ingin anda baca saat itu.

Jika ditanya mengenai benar atau tidak terkait membaca berita itu menyebabkan tidak bahagia, itu tidak ada yang dapat disalahkan maupun dibenarkan. Karena membaca berita pun dari diri sendiri yang melakukannya. Apabila kita membaca berita terkait isu politik pasti kita akan terhasut perbincangan mengenai persoalan hukum bisa saja kita akan lebih mempelajari tentang hukum, pemerintahan dan sebagainya yang ada didalam berita tersebut, kita mungkin lebih mendalami suatu warta berita terkait politik tersebut. Tapi jika kita membaca berita tentang permasalahan tentang selebritis pasti akan banyak menyukai berita tersebut. Nah oleh karena itu, hal ini hanya suatu persepsi dari masyarakat yang membaca berita tersebut, karena sudut pandang masyarakat mengenai tanggapan ketika membaca berita itu berbeda-beda. seperti yang terjadi saat ini seluruh warta berita menyiarkan adanya kondisi dan situasi dimasa pandemi tersebut. Dan hal itu bisa saja membuat masyarakat menjadi tidak tenang dalam beraktifitas ketika ia selesai melihat maupun membaca berita terkait virus C-19 tersebut. kembali lagi karena psikis seseorang itu berbeda-beda dalam menanggapi sebuah berita yang mereka baca baik di koran maupun di media digital.

Saya pikir memang ada sisi kurang tidak menyenangkan ketika selalu disuguhi berita yang sebenarnya tidak begitu memiliki manfaat bagi kita, bahkan skenario terburuk adalah berita menghilangkan kebahagiaan diri . Bagaimana pendapatmu tentang hal ini?

Sebagai salah satu sumber informasi bagi masyarakat, berita sering kali kita jumpai baik secara fisik (koran, majalah) ataupun digital (website, e-news). Berita tentu saja tidak melulu membicarakan hal-hal negatif saja ataupun sebaliknya.

Pernyataan mengenai “berita mampu menghilangkan kebahagiaan diri” tidak sepenuhnya salah maupun benar. Sebab bagaimana kita merespon sebuah berita itulah yang akan menentukan reaksi apa yang akan muncul pada diri kita. Sehingga pentingnya cara kita menanggapi atau merespon sebuah berita sangatlah penting agar kebahagiaan diri tidak serta-merta hilang akibat berita.

Memilah sebuah berita juga termasuk bagian penting pada pernyataan ini. Sebab berita-berita yang kita baca haruslah merupakan berita yang faktual, terpercaya, dan dapat dipertanggung jawabkan. Hoax atau berita bohong adalah berita yang harus dihindari karena dapat menimbulkan permasalahan baik bagi diri sendiri ataupun orang lain yang membaca berita.

Bagi sebagian orang, membaca merupakan aktivitas yang dinilai begitu membosankan. Membaca juga dinilai sebagai salah satu aktivitas yang hanya cocok untuk orang-orang kutu buku saja. Padahal, pada kenyataannya membaca merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan dan memiliki berbagai manfaat buat kesehatan fisik serta psikis.

Menurut pengalaman pribadi saya, jika membaca berita-berita mengenai musibah bencana, kerusuhan, ketidakadilan, atau berita duka ini seringkali saya merasa ikut sedih dan tidak bahagia. Akan tetapi jika saya benar-benar stop membaca berita, bukan tidak mungkin kalau nantinya saya akan ketinggalan suatu informasi yang mungkin berguna untuk saya.

Selagi bisa mengontrol berita apa saja yang mau dilihat, setidaknya bisa menghindari dari hal yang membuat kita sedih dan merasa tidak bahagia.