Benarkah Media Sosial Mempengaruhi Kesehatan Mental Seseorang?

bc9a8115-b9f2-49e4-84c0-1a3f96913b7c_169

Seiring dengan perkembangan era globalisasi, media sosial telah menjadi bagian dari cara berinteraksi sehari-hari bagi hampir setiap orang. Meskipun demikian, tidak sedikit juga yang belum menggunakannya dengan bijaksana sehingga dampak negatif media sosial masih sulit untuk dihindari. Pada umumnya, orang menggunakan media sosial untuk meredakan stres atau melampiaskan sesuatu. Mulai dari mengkritik suatu pemberitaan, layanan konsumen, menyerukan kampanye, melihat video lucu, dan lain-lain.

Media sosial memang bisa menghubungkan kita dengan siapapun dan dari manapun, serta bisa mengusir kebosanan. Tapi sayangnya, media sosial juga bisa menjadi pemicu depresi, adiksi atau distraksi dari hal-hal lainnya yang lebih penting. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan mental seseorang seperti merasa harga diri berkurang karena membandingkan diri sendiri dengan hidup orang lain di media sosial secara terus-menerus, munculnya kecemasan, mengalami gangguan tidur. Menurut para peneliti dari University of Pittsburg seseorang yang menggunakan media sosial lebih sering memiliki risiko sulit tidur tiga kali lebih besar daripada yang lainnya, dan efek-efek lainnya.

Berdasarkan fenomena diatas, menurut Youdics benarkah media sosial mempengaruhi kesehatan mental seseorang?

Referensi

CNN Indonesia. (2019, Juni 26). Medsos Sebabkan Gangguan Mental pada Orang Indonesia . Retrieved from CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190626100119-255-406497/medsos-sebabkan-gangguan-mental-pada-orang-indonesia

Aku setuju media sosial mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Coba mari kita bayangkan, ketika kita tidak menggunakan media sosial. Tentunya, kita tidak akan mengetahui perkembangan informasi apa saja yang di update oleh teman kita sendiri. Namun, dengan tidak menggunakan media sosial seseorang akan lebih merasa bahagia karena hidupnya selalu merasa berkecukupan. Tidak sedikit masyarakat yang selalu membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain ketika menggunakan media sosial. Sebagai contoh, teman kita memposting fotonya sedang berlibur ke luar negeri atau kita merasa teman kita jauh lebih keren dibandingkan dengan diri kita sendiri. Hal ini dapat memicu ketidakpercayaan diri kita karena selalu membanding diri orang lain lebih hebat daripada diri kita sendiri. Apalagi jika kita seringkali membuka media sosial setiap hari, setiap jam, otomatis kita akan selalu membandingkan-bandingkan orang lain. Tentunya, membandingkan-bandingkan orang lain akan membuat diri kita merasa bersalah, muncul rasa iri, rasa penyesalan, dan merasa tidak puas dengan kehidupan yang dijalaninya. Karena itulah, aku menganggap menggunakan media sosial akan lebih rentan mempengaruhi kesehatan mental seseorang karena adanya sikap membanding-bandingkan tersebut.

Menurut saya hal tersebut benar adanya. Di era digital seperti sekarang ini dimana berbagai kegiatan dan informasi pribadi kita dapat menjadi konsumsi publik, sering sekali kita temui sebagian besar orang mengeluhkan mengenai permasalahan kesehatan mentalnya. Hal ini wajar untuk dialami, mengingat kita hidup dimana sosial media tak ubahnya ibarat suatu kompetisi. Setiap orang berlomba-lomba menunjukan pencapaian pribadi, status, popularitas, hingga keelokan paras. Bagi sebagian besar orang, melihat hal-hal tersebut dapat dijadikannya motivasi, namun bagi sebagian yang lain hal itu memicu masalah baru pada kondisi kesehatan mentalnya, seperti insecure, overthinking , bahkan bisa berujung stres jika tidak mampu mengontrol emosi serta pikirannya. Fakta ini menunjukan bahwa kesehatan mental bukan lah hal yang sepele, setiap orang harus mulai memiliki kesadaran bahwa apa yang dilakukan di sosial media mampu berdampak pada orang lain, entah itu kecil ataupun secara masif.

Menurut saya media sosial dan kesehatan mental seseorang adalah dua hal yang saling berkaitan satu sama lainnya. Sudah banyak sekali penelitian dan artikel - artikel baik dari dalam maupun luar negeri yang mempublikasikan hubungan antara media sosial dan kesehatan mental seseorang. Pertama - tama, di tahun 2021 saat ini, media sosial sudah sangat berkembang pesat yang menjadi semacam medium baru bagi interaksi antar sesama manusia. Media sosial juga menjadi salah satu poin dalam globalisasi dikarenakan sifatnya yang menghubungkan orang - orang dari penjuru dunia, 24/7 dan menurut Rhys Edmonds, dalam tulisannya di Centre of Mental Health UK, per 2021 saja, saat ini sudah ada sekitar 3 milyar pengguna media sosial dari seluruh dunia yang membuktikan jika media sosial kini juga bertransformasi menjadi kebutuhan yang sifatnya integral bagi manusia modern.

Tetapi, di balik itu semua, kita semua tahu jika media sosial menyimpan dampak yang tidak kecil bagi kesehatan mental seseorang terutama anak - anak muda saat ini. Dampak negatif yang di sebabkan oleh media sosial terhadap kesehatan mental antara lain seperti anxiety (kecemasan), kesepian, dan FOMO (Fear of Missing Out). gangguan kecemasan dan FOMO adalah dua hal yang paling sering terjadi terhadap pengguna media sosial. Pengguna media sosial merasakan gangguan kecemasan ketika mereka berusaha untuk mendapatkan gratifikasi dan pengakuan dari sesama pengguna media sosial lainnya dan juga trend membanding - bandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain di medsos juga menjadi satu alasan utama kenapa media sosial dapat menyebabkan gangguan kecemasan.

Untok FOMO sendiri, dapat diartikan sebagai ketakutan ketinggalan informasi yang membuat banyak orang yang sebentar - sebentar membuka media sosial mereka karena takut ketinggalan info atau sesuatu. intinya, banyak orang yang ingin selalu update di media sosial.

Untuk info yang lebih lanjut mengenai serba - serbi media sosial dan hubungannya dengan kesehatan mental, bisa kunjungi topik diskusi buatan saya seperti yang ada di bawah ini :

  1. Pernakah Kalian Mengalami Apa yang Disebut Sebagai Instagramxiety?
  2. Social Media vs Realita : Bagaimanakah Pendapat Kalian Mengenai Fenomena " Insta-Lie "?

Referensi :

saya pernah melakukan puasa sosial media, dan berdasarkan pengalaman tersebut saya merasa hidup saya lebih tenteram dan saya juga jadi banyak melakukan kegiatan lain yang lebih produktif seperti membaca buku, memasak dan mendalami hobi baru saya yaitu bercocok tanam.

tetapi, menurut saya media sosial itu penting sekali untuk saya di era transformasi digital ini khususnya untuk mendapatkan informasi terkini dan saya juga banyak belajar serta mendapatkan banyak tips kehidupan maupun pekerjaan salah satunya dari sosial media. untuk itu menurut saya penting sekali untuk tetap menggunakan sosial media.

mungkin sosial media akan mempengaruhi kesehatan mental apabila kita terpacu dengan apa yang dibagikan oleh teman kita sehingga membandingkan apa yang dimilikinya dengan apa yang kita punya. tetapi, apabila menggunakan sosial media hanya untuk hiburan semata dan sarana mendapatkan informasi yang lebih baik saya rasa itu tidak mempengaruhi kesehatan mental kita.

untuk itu, alangkah baiknya kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain karena apa yang dicapai oleh diri kita sendiri juga belum tentu tercapai oleh orang tersebut. Begitu juga dengan apa yang mereka capai, tidak semua apa yang dicapai orang lain kita juga harus mencapainya. dan banyak-banyak bersyukur dengan apa yang telah kita miliki.

Menurutku benar jika media sosial dapat mempengaruhi kesehatan mental. Dengan melihat media sosial dan postingan orang lain, terkadang kita merasa iri dengan pencapaian orang lain. Hal ini dapat memicu stress. Di sisi lain, media sosial juga banyak memberikan informasi-informasi penting, jadi menurutku gunakanlah sosial media secukupnya dan sebaik-baiknya.

Saya rasa pernyataan tersebut benar bahwa media sosial berpotensi menpengaruhi kesehatan mental seseorang. Namun, saya berpikir bahwa ketika kita secara sadar memainkan media sosial, bukankah secara tidak langsung kita juga sadar bahwa apa yang akan kita lihat nantinya adalah update informasi dari orang-orang yang kita ikuti? Dari sini sebenarnya saya sedikit ragu tentang jika mereka sadar akan melihat status orang lain, mengapa harus merasa tersaingi atau membandingkan diri mereka? Maksudnya adalah kita yang memainkan berarti kita juga yang harus bisa mengontrolnya.

Untuk itu, pintar-pintar dalam memainkan media sosial. Jika kita sadar akan semakin memburuk ketika bermain sosmed, lebih baik istirahat bersosial media saja. Untuk orang-orang yang mudah bersikap bodo amat mungkin hal ini bukan suatu masalah yang serius ya. Saya rasa tidak perlu memaksakan membuka media sosial dengan dalih ingin mencari informasi, tapi ujung-ujungnya yang dilihat adalah aktivitas teman-temannya. Kita seharusnya bisa bertangggung jawab terhadap diri kita sendiri, termasuk memutuskan aktif bermedia sosial.

Namun, yang sering saya jumpai malah bermain sosial media untuk menghilangkan stres dan healing dari tekanan lingkungan. Saya beberapa kali menemukan orang-orang yang aktif di media sosial sejak hubungan interpersonalnya dengan orang lain memburuk, misalnya dengan keluarga, sahabat, rekan, dan lain-lain. Oleh karena itu, terkait dengan dampak media sosial ini juga sangat didasarkan pada kondisi atau keadaan masing-masing individu pada awalnya.