Benarkah Mata Kita Tidak Bisa Berbohong?

Ketika berinteraksi dengan seseorang, kita selalu dianjurkan untuk menatap lawan bicara. Selain sebagai tanda menghormati, melakukan kontak mata katanya bisa memberikan sinyal kepada kita apakah lawan bicara sedang jujur atau berbohong. Beberapa referensi yang pernah saya baca juga menyebutkan bahwa pergerakan bola mata bisa mewakili atau menggambarkan bagaimana keadaan atau perasaan seseorang.

Saya sendiri sebenarnya masih belum bisa menangkap dengan jelas maksud dari ungkapan ini. Dalam sehari-hari, saya juga tidak mampu menebak apa yang dipikirkan orang lain hanya dengan melihat tatapan matanya saja. Bagaimana dengan kalian? Apakah teman-teman memiliki pengalaman yang menarik mengenai ungkapan ini? Apakah ungkapan mata tak bisa bohong benar adanya?

Ketika kita sedang melakukan percakapan dengan orang lain, terkadang apa yang ia ucapkan kita seakan tak percaya dan terkadang beranggapan jika lawan bicara kita suka berbohong. Padahal, mulut terkenal suka berbohong, maka caranya kamu bisa melihat bagaimana gerak gerik mata dia.
Banyak studi mengatakan, apabila sekitar 80 persen dari sebuah aksi komunikasi manusia adalah menggunakan non-verbal.

Banyak orang percaya bahwa mata tidak bisa berbohong. Namun, hasil studi terbaru oleh para ilmuwan dari dua universitas di Inggris menunjukkan bahwa hal ini hanyalah mitos. Mereka mengklaim bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa mata bukanlah poligraf. Dalam penelitian, mereka menguji teori-teori yang diyakini psikolog sebagai indikator alami kebohongan, misalnya, jika seseorang berbicara dengan pandangan ke kanan, mereka bisa berbohong. Sedangkan melirik ke kiri diartikan sebagai tanda kejujuran.

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal jaringan Public Library of Science ONE menunjukkan bahwa hasil pengujian teori itu salah. Mereka mengklaim tidak ada hubungan antara gerakan mata dan kejujuran, karena keduanya adalah elemen kunci dalam neurolinguistic programming (NLP), sebuah metode untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan pendekatan psikologis. Caroline Watt, seorang peneliti di Universitas Edinburgh, menyatakan bahwa teori mata dan kebohongan sudah tidak relevan lagi dan tidak terbukti kebenarannya.

Referensi
Tempo. (2012). Benarkah mata tidak bisa berbohong?. Diakses pada Rabu, 29 September 2021 melalui
https://tekno.tempo.co/read/417426/benarkah-mata-tak-bisa-bohong/full?view=ok

Untuk pengalaman mengenai hal ini sih tidak ada, jadi Saya tidak ada pengalaman yang membuktikan apakah mata berperan penting dalam melakukan kebohongan. Tapi, Saya rasa mata belum tentu benar bisa mendeteksi sebuah kebohongan. Ibaratnya, jika ada seseorang yang menjadi pembohong handal. Pastinya dia sudah melatih matanya sehingga saat berbohong mata tidak akan berpengaruh.

Dalam pengamatan yang dilakukan oleh Caroline Watt dari University of Edinburgh terdapat kesimpulan bahwa mereka tak menemukan adanya bukti bahwa gerakan bola mata berkaitan dengan cara mendeteksi kebohongan. Tampaknya ini saatnya meninggalkan metode lama ini untuk mendeteksi kebohongan. Metode lama yang dimaksud, yaitu kepercayaan bahwa gerakan mata ke bagian kiri atas adalah pertanda kebohongan. Hal ini rupanya berakar dari teori bernama Neuro-Linguistic Programming (NLP) yang ada pada tahun 1970-an.

Jadi, karena semakin berkembangnya zaman, dan manusia sendiri pun mulai mempelajari bagaimana cara menyembunyikan perasaannya, metode melihat mata apakah berbohong atau tidak sudahlah tidak relevan lagi.

Referensi