Benarkah LinkedIn dapat Memicu Toxic Productivity?

LinkedIn merupakan sebuah situs jejaring sosial yang dirancang khusus untuk kepentingan bisnis dan karier profesional. Dapat digunakan untuk menemukan pekerjaan yang tepat atau magang, menghubungkan dan memperkuat hubungan profesional, serta mempelajari keterampilan yang dibutuhkan untuk sukses dalam karir yang ingin kita raih.

Toxic productivity merupakan kondisi yang tidak sehat untuk memaksakan diri produktif setiap saat, entah itu saat melakukan pekerjaan di kantor maupun di rumah. Kondisi ini tak berhenti saat tugas kamu sudah selesai, justru ketika tugas sudah selesai, kamu malah merasa bersalah jika tak ada hal yang bisa dikerjakan lagi.

Beberapa orang berusaha keras untuk “mempercantik” profil linkedin miliknya yaitu dengan memperbanyak pengalaman dan pekerjaan. Lalu benarkah LinkedIn dapat memicu toxic productivity? Dan jika iya, bagaimana Youdics menyikapi hal tersebut?

Referensi

Lintang , E. (2021) https://journal.sociolla.com/lifestyle/cara-mengatasi-toxic-productivity Diakses paga tanggal 02 September 2021

Tergantung dari bagaimana seseorang melakukan pekerjaannya. Aktif mengikuti banyak kegiatan, entah untuk mengusir rasa bosan ataupun menambah pengalaman untuk dicantumkan di LinkedIn, sah-sah saja dilakukan. Yang harus diperhatikan adalah urgensi dan intensitasnya. Seperti yang telah dijelaskan oleh kak @Navyani sebelumnya, bahwa toxic productivity akan memaksa kita untuk “seakan-akan” produktif, padahal sebenarnya justru menyiksa diri kita. Kebanyakan kasus toxic productivity terjadi karena seseorang tidak mengetahui urgensi pekerjaan/kegiatan yang ia lakukan, jadi hanya sekadar melakukan saja atau bahkan mungkin ikut-ikutan saja. Intensitasnya pun juga tidak diperhatikan karena ia ingin terus-terusan sibuk, tanpa melihat kapasitas dirinya.
Biasanya orang-orang yang terkena toxic productivity ini berawal dari FOMO, ia melihat orang lain, entah teman atau bahkan orang asing yang ia lihat di sosial media seperti LinkedIn, melakukan begitu banyak kegiatan sementara dirinya hanya melakukan misalnya 1-3 hal saja. Dari situlah ia merasa khawatir akan tertinggal sehingga mulai melakukan banyak kegiatan sekaligus untuk mengejar rasa ketertinggalannya. Pada akhirnya, tanpa sadar ia sudah terkena toxic productivity.
Produktif, aktif berkegiatan, mencari pengalaman, atau apapun itu bentuknya memang baik, tapi kalau tidak tahu apa urgensinya, tidak bisa mengukur intensitasnya, bahkan sampai melewati kapasitas diri, tentu sudah tidak baik lagi untuk dilakukan karena bisa memicu toxic productivity. Namun, kalau masih dalam batas wajar, tidak hanya sekadar ikut-ikutan, dan bukan karena terpancing oleh pencapaian akun LinkedIn orang lain, saya kira sah-sah saja untuk aktif berkegiatan.

Referensi:

Preventing Toxic Productivity amid pandemic - Unair News
Toxic Productivity, bought to you by Social Media

1 Like

Nope. Justru yang memicu toxic productivity itu ya lingkungan mereka, cara bagaimana mereka memandang dan menilai lingkungannya merupakan pemicu terbesar, dan bisa dibilang justru Linkedin disini adalah korban wkwkwk. Seperti yang dikatakan oleh kak saiva ini

Sekarang aku liat fungsi Linkedin sedikit terdistorsi, ya memang benar fungsi Linkedin untuk personal branding, tapi malah too much gitu lo kesannya. Kegiatan apapun yang sedang mereka lakukan tanpa filter langsung dishare di Linkedin, bahkan aku menyayangkan kalo mereka meampirkan CV dan langsung di share di Linkedin, padahal tidak ada yang benar-benar safe di media sosial, nah ini nanti kalo diterima orang yang ‘tidak tepat’ malah menimbulkan persepsi lain, mereka berpikir bahwa untuk menjadi ‘seperti itu’ berarti aku harus ‘seperti ini’ juga. Sama hal nya jika di share di Instagram, agr bisa menjadi ‘seperti itu’ berarti aku juga harus ‘seperti ini’ juga.
Nah, jadi, kesimpulannya tuh bukan apa nama aplikasinya, apa perantaranya yang memicu toxic productivity, tapi kesalahan si receiver yang tidak bisa mengukur batas kemampuannya. Dan juga, menjadi sibuk bukan berarti produktif

1 Like

Yap, sibuk tidak sama dengan produktif. Namun, sayangnya masih banyak orang yang sulit membedakan keduanya sehingga timbullah toxic productivity itu tadi. Singkatnya, perbedaan keduanya dapat dilihat dari skala prioritasnya, pola pikirnya, teknik scheduling-nya, dan tujuan hidupnya. Untuk penjelasan lengkapnya dapat kamu baca di sini: https://glints.com/id/lowongan/beda-sibuk-kerja-dengan-produktif/#.YTHMtVUzbIU

Ketika seseorang secara terus menerus mendorong kenalannya yang sedang tertimpa kemalangan untuk melihat sisi baik dari kehidupan, tanpa pertimbangan akan pengalaman yang dirasakan kenalannya itu atau tanpa memberi kesempatan kenalannya untuk meluapkan perasaannya this is when positivity becomes TOXIC.

Meski terdengar menyenangkan, konsep berpikir positif tak sebaik yang digambarkan. Manusia tak punya kemampuan memprogram dirinya sendiri untuk hanya merasa bahagia dan mengesampingkan perasaan sedih/kecewa/muram.

Kalimat seperti " Kalau kamu tetap positif, kamu akan mengatasi segala kesulitan yang ada " sama dengan mengabaikan perasaan sesungguhnya dari orang yang sedang bermasalah, seolah-olah perasaan negatif yang dialami dan ingin diungkapkan orang tersebut tidak penting bagi lawan bicaranya.

Menurut saya, tergantung bagaimana seseorang menyikapi apa yang diperlihatkan orang lain di LinkedIn.
LinkedIn sendiri merupakan platform media sosial yang berfungsi sebagai “CV Modern” yang memudahkan penggunanya untuk menyimpan pencapaian dirinya.

Dengan adanya LinkedIn juga, recruiters tidak sulit dalam mencari pegawai yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan mereka. Namun, beberapa orang menganggap bahwa LinkedIn merupakan “bukti” keproduktifan seseorang. Ada pula yang menganggap bahwa semakin hari, pemakaian LinkedIn seperti berlomba-lomba untuk produktif.

Menurut saya, tidak perlu merasa rendah diri karena profile LinkedIn seseorang. Sudah sewajarnya LinkedIn merupakan wadah pengembangan diri, dan tidak perlu memaksakan diri untuk produktif hanya agar bisa memenuhi profile LinkedIn.

Tujuan dari LinkedIn adalah mengenal para applicant, recruiter dari perusahaan, dan juga mengenal lebih dalam terhadap company profile.

Dikatakan memicu toxic productivity jelas bukan.

Karena platform LinkedIn digunakan sebagai pengenalan dalam mengembangkan diri dan menggali informasi seputar pekerjan.

Ketika kamu ingin memasuki sebuah posisi, pastinya memiliki persyaratan yang salah satunya adalah pengalaman yang berhubungan dengan posisi yang kamu pilih.
Dengan menulis pengalaman kamu, memudahkan para HR dapat mendapatkan para applicant yang cocok dengan posisi itu. Dan juga kamu tidak asing dengan posisi yang akan kamu tempati nantinya, karena kamu sudah memiliki basic knowledge yang memudahkan kamu menyelesaikan pekerjaan dari posisi itu, dan tujuan perusahaan dapat tercapai dengan tindakan kamu.

Bukan berlomba - lomba dalam branding ourselves, tapi menyatakan bahwa kredibilitas kita layak diperjuangkan dan layak diterima di perusahaan yang pilih