Benarkah Jadi Orang Baik Selalu Dimanfaatkan?

b

Orang baik dimana-mana akan banyak disukai orang. Kehadiran mereka menolong kita dengan tulus dan membantu menyelesaikan masalah kita. Namun, tak jarang ketika kita berlaku sebagai orang baik, orang lain memanfaatkan kebaikan kita secara sengaja. Belum lagi, ada tipe orang yang datang ketika butuh saja dan ketika terbantu bahkan tidak mengucapkan terima kasih. Akibat dari perlakuan orang lain yang memanfaatkan kebaikan kita, maka kita sendiri sampai marah bahkan menyesal kenapa saya terlalu baik dan sebagainya.

Menurut kalian apakah menjadi orang baik selalu dimanfaatkan? Bagaimana cara kalian untuk memendam amarah jika kalian tahu telah dimanfaatkan? Yuk utarakan pendapat kalian

2 Likes

Kita sebagai manusia dan makhluk sosial, memiliki sifat yang baik itu sudah menjadi tugas semua insan. Terlepas dari kebaikan kita akan dimanfaatkan atau tidak, bersikap baik dan saling menolong sudah menjadi tanggung jawab semua orang. Tidak bisa dipungkiri, perasaan kesal atau bahkan kecewa akan muncul ketika kita mengetahui kebaikan yang kita lakukan hanya dimanfaatkan saja. Tapi siapa yang tau, “dimanfaatkan” yang kita maksud ini perlakuan yang baik atau tidak. bisa jadi karena orang sudah menganggap kita baik, dan mereka tau kita memiliki kapabilitas untuk menolong mereka jadi apa mereka juga termasuk kedalam orang yang memanfaatkan kita dengan sengaja? Iya. tapi apa itu buruk? tidak.

Terlebih lagi, siapa kita bisa menilai baik buruknya diri kita sendiri. Karena aku sendiri meyakini bahwa orang baik yang sesungguhnya ialah orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sendiri baik. Bukan insecure atau merendah, tapi lebih kepada ia tidak menyadari atau tidak menganggap “kebaikan” yang ia lakukan itu adalah sesuatu yang berarti. karena ia melakukan “kebaikan” itu dengan ikhlas tanpa mengharapkan perlakuan atau “kebaikan” yang serupa dengan apa yang ia lakukan. Jika membahas orang baik berdasarkan persepsiku sangat jarang ditemukan bukan? hehe memang jarang, tapi bukan berarti tidak ada yaa. Karena aku sendiri baru menemukan “orang baik” versi ku saat aku memasuki dunia perkuliahan. Bahkan ada satu pernyataannya yang membuatku tertampar yaitu ketika aku bertanya pernahkah ia dimanfaatkan oleh orang lain? dan ia menjawab “setiap manusia itu bermanfaat, jadi wajar kalo dimanfaatkan dan kita sendiri juga pasti pernah untuk memanfaatkan seseorang untuk keperluan kita sendiri kan. perampok dan begal itu kan mereka orang jahat, apa mereka tidak bisa dimanfaatkan? bisa. itu mereka yang berlaku jahat juga dimanfaatkan oleh bos/ atau atasannya kan. Jadi harusnya sih kita lebih legowo, perasaan kesel atau gak terima atas perlakuan orang lain terhadap apa yang kita lakukan pasti ada. tapi ambil aja hikmahnya berarti kita masih layak disebut manusia, karena masi bisa bermanfaat bagi orang”.

Jadi dari kejadian hari itu, aku sendiri merubah mindset ku mengenai “kebaikan” tidak harus mendapatkan balasan yang baik juga. Untuk menghindari rasa marah dan tidak terima atas perlakuan orang lain yang tidak sesuai dengan perlakuan kita terhadapnya, aku tidak berekspektasi atau menaruh harapan orang akan melakukan atau membalas “kebaikanku” dengan hal baik juga. Percayalah hal ini memang sangat sulit dilakukan, tapi ketika kita memjadikannya sebuah kebiasaan, hidup akan jauh lebih tenang, dan jauh dari penyakit hati lainnya :relaxed:

1 Like

menjadi orang yang baik tentu saja mendapatkan teman yang banyak, dan ketika dibutuhkan akan selalu ada dan memberikan bantuan yang terbaik. ini tergantung dari sisi mana kita memandang, jika kita memandang menjadi orang baik selalu dimanfaatkan ya berarti kita meminta perbuatan baik kita itu mendapatkan balasan. jika kita memandang dari sisi lain ya mungkin bisa dibilang sukarela, kita tidak peduli apa kata orang yang terpenting adalah orang lain senang mendapatkan bantuan kita dan begitupun kita yang senang memberikan bantuan. jika kita melakukannya secara ikhlas maka teman yang meminta bantuan akan segan kepada kita.
cara meredam amarah ketika tau dimanfaatkan mungkin lebih baik diutarakan dari pada memendam. tanyakan kepentingannya apa kepada kita, kenapa memperlakukan kita seperti yang tidak diharapkan. semuanya akan terkendali jika komunikasi yang terjalin lacar, baik, dan tidak ada misscommunication.

1 Like

Sebetulnya setiap manusia itu bermanfaat bagi orang lain, dan baik atau buruknya seseorang itu menurutku tidak bisa diukur oleh manusia. karena menurutku setiap orang itu memiliki sifat yang baik pada porsinya masing-masing. Namun, berdasarkan pertanyaan “benarkah orang baik selalu dimanfaatkan?”, menurutku tidak selalu. karena sebagian besar dari mereka mungkin saja tidak berharap akan diberikan imbalan atau kebaikan dari orang yang sama, sebab mereka tau bahwa kebaikan itu datangnya dari mana saja. Namun, ada pula sebagian besar orang yang merasa dirinya dimanfaatkan oleh orang lain karena mereka tau bahwa ia tidak segan untuk menolong orang lain yang membutuhkan bantuan mereka. Tetapi, ketika ia sebaliknya yang meminta pertolongan, orang tersebut enggan untuk menolongnya. sehingga ia merasa dirinya hanya dimanfaatkan ketika orang itu membutuhkannya.

1 Like

Semua orang pasti ingin dikenal menjadi “orang baik”, karena pasti tidak ada juga yang ingin diberi label “orang jahat”. Namun apakah dengan hal tersebut bisa membuat semua orang di dunia ini menjadi “orang baik” ?, tentu tidak, mungkin kita tidak pernah menyadari nya.

Di dunia ini memang ada baik dan jahat, dan kedewasaan adalah ketika kita sudah dengan benar dapat menilai mana yang baik dan mana yang jahat.

Dan saya setuju dengan penyataan ini

Orang baik sering dimanfaatkan karena orang baik tidak pernah bisa berfikir dirinya akan dimanfaatkan orang lain, yang sering kita pikirkan adalah “saya membantu, menolong dia yang kesulitan” tanpa memikirkan imbalan apapun.

Namun, pernah gak sih misalkan contoh sederhana nya, ketika kita sedang ada tugas kelompok dan kita tergolong orang yang “rajin” dan “bisa”. Harusnya tugas tersebut dilakukan bersama, namun tidak jarang loh kelompok yang beranggotaan 7 orang tapi yang mengerjaka hanya 2 orang, lalu sisanya kemana? diajak diskusi tidak muncul, mereka menghilang seperti lepas tanggung jawab dan merasa santai karena yang “ditinggalkan” dalam kelompok adalah orang yang mampu handle tugas tersebut, dan boom… selesai. Mungkin jika 1 kejadian seperti ini, kita merasa biasa saja dan memaklumi, namun jika terus menerus hingga merasakan kita yang berjuang sendirian? pasti yang tersisa adalah rasa kesal dan amarah yang sudah meluap namun tidak bisa meninggalkan begitu saja karena ini merupakan tanggung jawab.

Saya sering di posisi seperti itu, dan karena saya tipe orang yang selalu memendam, jadi tidak bisa mengekspresikan, hanya terkadang berkeluh kesah, dan menangis, karena itu yang membuat kita bisa menenangkan diri kita sendiri, dan berpikir positif bahwa setiap tindakan yang kita lakukan, pasti berujung baik dan akan dibalas dengan baik juga, suatu saat nanti.

Setiap orang itu pasti bermanfaat bagi orang lain. Entah itu orang baik, atau orang jahat. Karena sejatinya tidak ada orang yang benar-benar baik maupun orang yang benar-benar jahat. Sebaik-baiknya orang pasti pernah melakukan kekhilafan, begitupun seburuk-buruknya orang juga pasti pernah melakukan kebaikan sekecil apapun itu.
Jika ada yang merasa menjadi orang baik selalu dimanfaatkan, daripada itu, lebih baik kita lihat dari sudut pandang positif. Jika menjadi orang baik selalu dimanfaatkan bukankah bagus? Itu artinya kita bermanfaat bagi orang itu. Seperti ungkapan HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Karena sesungguhnya kebaikan yang kita lakukan akan kembali pada diri kita sendiri.

Menurut saya tidak. Selama orang yang bersangkutan know their limits. Kita memang manusia sebagai makhluk sosial secara nature atau default settingnya akan selalu menolong orang lain yang membutuhkan bantuan. Tapi, kita sebagai manusia juga masih memegang kendali atas diri kita sendiri, kita masih diizinkan berlaku tegas ketika mengetahui kebaikan kita ternyata dimanfaatkan oleh sebagian orang. Kita harus tahu batasan kita itu dimana dan sampai kapan. Kalo kita beralasan “tidak enak” jika mau berkata tidak, lho, lha gimana, wong orang lain saja sudah bertindak seenaknya sama kita?

Saya dulu sering ketika mengerjakan tugas kelompok, selalu menjadi pihak yang dimanfaatkan. Mereka berpikir bahwa saya bisa handle semua sendiri, hingga pada suatu titik saya menyadari bahwa “kebaikan” saya ini sudah mereka manfaatkan. Sehingga saya mencoba untuk tegas, jika mereka tidak mengerjakan bagiannya, ya saya juga tidak akan berinisiatif mengerjakan tugas mereka juga. Kalau sudah tepat di deadline dan tugas tidak kunjung mereka selesaikan, baru saya ‘bersuara’. Saya hanya ingin mereka sadar bahwa tugas kelompok itu membutuhkan team work, bukan one person.

Menurut aku tidak selamanya orang baik itu dimanfaatkan oleh orang lain. Tapi mungkin ada beberapa orang baik yang dimanfaatkan, dan pertanyaannya adalah mengapa itu bisa terjadi? Ya dikarenakan mungkin kita sebagai orang baik terlalu berlebihan dalam menanggapinya. Tidak ada yang salah ketika kita ingin menjadi orang baik yang bisa diandalkan. Bahkan setiap dari kita pasti diajarkan untuk selalu berperilaku baik terhadap orang lain. Namun apa jadinya jika kita terlalu baik hingga mudah dimanfaatkan orang lain? Hal baik yang kita lakukan untuk orang lain pun harus tulus dan juga tidak perlu selalu mengiyakan, karena masing-masing dari kita juga memiliki kemampuan dan prioritasnya sendiri.