Benarkah Generasi Muda Indonesia Kurang Sehat Secara Finansial?

20210819-070322000-1538121534-adult-banking-blur-1288483

Seperti kita ketahui bahwa di era serba digital ini sangat memudahkan kita untuk melakukan berbagai hal secara online, seperti berbelanja, pesan makanan, bekerja, belajar, mengakses berbagai informasi, dan lain-lain. Terlebih saat pandemic ini yang membuat kita melakukan berbagai aktivitas secara online, contohnya seperti berbelanja online. Secara umum, kegiatan belanja online didominasi oleh anak generasi muda karena dianggap lebih melek terhadap perkembangan teknologi dan mampu untuk terus beradaptasi dengan cepat. Pernyataan tersebut sesuai dengan hasil riset majalah Marketeers dalam Praharjo (2019) bahwa generasi milenial merupakan generasi yang paling banyak berbelanja di e-commerce. Dimana hal ini tentunya akan mempengaruhi kondisi finansial mereka.

Lantas, dengan adanya kemudahan dalam berbelanja online, generasi muda Indonesia kurang sehat dalam mengatur finansial mereka?

Sumber

Praharjo, Ardik. 2019. Perilaku Pembelian Secara Online Generasi Milenial Indonesia. XIX (1)

Gambar: https://www.kba.one/news/85-6-persen-generasi-muda-kurang-sehat-secara-finansial/index.html

Ya benar sekali, menurut aku generasi muda Indonesia kurang sehat dalam mengatur finansial mereka. Dengan berkembangnya zaman yang juga diikuti oleh perkembangan teknologi yang semakin maju, banyak kemudahan-kemudahan yang ditawarkan, salah satunya adalah berbelanja. Sudah banyak toko-toko di Indonesia yang telah join e-commerce, untuk itu masyarakat sangat dimudahkan untuk membeli barang sesuai dengan kesukaan dan kebutuhan mereka. Dengan segala kemudahan yang ditawarkan, pastinya banyak orang yang merasa telah dimanjakan oleh adanya teknologi yang semakin maju. Dengan hanya bermain gadget sambal tiduran pun juga bisa dapat berbelanja. Jadi gak heran kalau mereka sering melakukan belanja online, alhasil mereka jadi borohs dan tidak bisa menabung. Sehingga hal tersebut membuat finansial generasi muda menjadi kurang sehat.

Benar bahwa generasi muda indonesia kurang sehat secara finansial. Menurut hasil riset OCBC NISP Financial Fitness Index menunjukkan generasi muda Indonesia menjadi salah satu yang memiliki literasi keuangan yang rendah dengan rata-rata kesehatan finansial hanya mencapai 37,72. Riset ini juga menunjukkan hanya 14,3% anak muda yang terlihat berusaha menuju “sehat” finansial, namun nyatanya kondisi mereka masih belum ideal… Riset OCBC NISP Financial Fitness Index juga menunjukan 85,6% generasi muda terlihat “kurang sehat” secara finansial. salah satu penyebab rendahnya kesehatan finansial generasi muda Indonesia di karena pemahaman para generasi muda yang masih tidak tepat dan lengkap terkait kekayaan dan bagaimana mengelola keuangan.

Summary

https://www.medcom.id/ekonomi/keuangan/0kpoPaLb-generasi-muda-indonesia-belum-sehat-finansial
https://swa.co.id/swa/trends/business-research/ocbc-nisp-856-generasi-muda-indonesia-kurang-sehat-secara-finansial

Saya setuju dengan pernyataan mas dhani diatas, bahwa banyak anak muda memang sedang mengalami kurang sehat finansial. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal ini, dan ini saling berkaitan. Yang pertama karena memang teknologi yang memadai. Teknologi ini memudahkan anak muda atau siapapun untuk belanja apa saja yang ia inginkan dengan mudah. Hanya bermodal smartphone kita tinggal menunggu barang sampai ke rumah. Dan ini sangat memudahkan.

Lalu faktor berikutnya adalah karena adanya gaya hidup anak muda yang boros. Gaya hidup yang diinginkan agar terlihat menarik adalah salah satu faktornya. Dengan tidak mengimbangi keinginan gaya hidup dengan keuangan ini dapat menyebabkan kesehatan keuangan memburuk. Jadi kita bisa menanggulanginya dengan menabung atau menurunkan gaya hidup yang kita inginkan.

Summary
  • Thttps://www.liputan6.com/bisnis/read/3214021/terkuak-4-alasan-kenapa-orang-susah-atur-duit-saat-muda

menurutku sekarang anak muda udah melek terhadap yang namanya investasi. sangat banyak anak muda mengikuti trading ataupun investasi saham bahkan pada usia dibawah 25 tahun. ini merupakan suaut kemajuan menurutku. juga banyak anak muda sekarang yang berani mengambil tindakan dalam usaha ataupun bisnis. banyak dari mereka yang mendirikan bisnis dari yang kecil hingga bisnis besar yang memberikan lapangan pekerjaan. dilain sisi banyak juga yang mengikuti program bisnis affiliate, video creator, ataupun kegiatan lainnya yang memberikan mereka penghasilan lebih diusia muda. untuk masalah berbelanja di e-commerse ini tentu saja memiliki beragam tujuan. ada yang sebagai self reward, ada juga untuk memenuhi kebutuhan usaha, ataupun hanya iseng membeli karena barangnya unik dan lainnya. menurutku generasi muda indonesia sudah mengenal bagaimana cara mengolah finansial dengan baik.

Rasanya sejak awal mindset generasi muda kita tentang kekayaan cukup salah dan perlu diperbaiki. Dari hasil riset (OCBC NISP Financial Fitness Index) tersebut, hanya ditunjukkan sejumlah kecil anak muda yang terlihat berusaha menuju ‘sehat’ finansial. Yakni hanya sebanyak 14,3 persen. Itu pun ternyata kondisi mereka belum dikatakan cukup ideal untuk sehat secara finansial.

Salah satu penyebab kesehatan keuangan generasi muda indonesia rendah karena pemahaman mereka terhadap kekayaan yang masih tidak tepat dan lengkap. Mereka juga masih belum paham tentang bagaimana mengelola keuangan. Hal ini jelas sangat terlihat dari berbagai berita yang menunjukkan orang-orang nekat terjun berinvestasi saham maupun crypto menggunakan uang sekolah atau tabungan nikah.

Selain itu juga, menurut aku pribadi juga bisa dipengaruhi dari gaya hidup yang salah, seperti pola asuh orang tua sejak kita kecil yang selalu dipenuhi segala keinginan. Sehingga saat kita dewasa itu tetap tertanam dalam diri kita bahwa apa yang kita mau harus kita dapatkan semudah itu. Adanya juga pengaruh dari teknologi yang semakin canggih, dan kebanyakan dari generasi muda akan boros untuk berbelanja hal-hal yang tidak begitu penting seperti di ecommerce.

Seperti yang dilansir dari Suara.com bahwa hingga saat ini, masih banyak kaum muda, khususnya generasi milenial yang belum disiplin dalam menjalankan rencana keuangan.

Hal tersebut terlihat dari riset yang dilakukan yang dilakukan Bank Commonwealth. Diketahui, 60 persen responden berusia 20 hingga 40 tahun mengaku memiliki banyak keinginan yang belum terwujud.

Sayangnya, mayoritas dari mereka berpendapat bahwa mereka sangat konsumtif hingga kesulitan untuk menabung. Bukan cuma itu, mereka juga tidak memiliki kebiasan yang baik perihal mengelola uang sehingga menjadi boros.

“Ketika akhir bulan mereka tidak tahu penghasilan mereka selama ini ke mana, itu yang kita temukan,” ungkap Head of Digital Channels and Delivery Bank Commonwealth, Rian Kaslan dalam acara peluncuran CommBank Mobile secara virtual Senin (3/5/2021) kemarin.

Selain itu, seperti yang dilansir dari databoks.katadata.co.id bahwa pandemi Covid-19 menguntungkan perdagangan elektronik (e-commerce). Sebab para konsumen mulai mengubah gaya hidupnya dan bergantung pada e-commerce untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga konsumen pun meningkatkan ekspektasinya seperti pada toko fisik, yakni adanya kemudahan penggunaan serta ketersediaan dan kelayakan produk.

Konsumen berusia 20-34 tahun cenderung berbelanja dalam jaringan (daring) karena lebih menghemat waktu dan barang dapat diantar pada hari yang sama. Hal itu dikemukakan 32% dan 29% responden. Hanya 9% responden yang berbelanja daring guna mendapatkan barang-barang favoritnya.

Pola belanja yang berbeda tampak dari konsumen berusia 65 tahun ke atas. Mereka berbelanja daring karena dapat menemukan beragam barang dalam satu tempat, sekaligus menghemat waktu. Pernyataan kedua kategori itu diamini 28% responden.

Referensi

Survei Sebut Generasi Milenial Buruk dalam Kelola Keuangan, Kamu Termasuk?

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/11/04/mayoritas-anak-muda-berbelanja-di-e-commerce-untuk-hemat-waktu

Wah saya setuju sekali dengan pendapat kak angel di atas, terlebih lagi saya sempat membaca dari salah satu sumber. Memang benar, bahwa menurut riset yang dilakukan oleh OCBC NISP Financial Fitness Index tersebut dikatakan bahwa generasi muda Indonesia kurang sehat secara finansial.** Terdapat empat indikator utama yang digunakan dalam laporan tersebut, yaitu financial basic untuk memenuhi kebutuhan pokok atau utang, financial safety untuk mempersiapkan dana cadangan, financial growth untuk membangun kesuksesan jangka panjang, serta financial freedom untuk membangun pendapatan pasif agar mencapai kemerdekaan finansial. Financial basic generasi muda Indonesia, seperti kemampuan membayar pinjaman rumah, memenuhi kebutuhan dasar, dan mengelola utang memiliki skor rata-rata yang cukup baik yaitu 73,37. Namun, berbeda dengan indikator lainnya yang masih memiliki skor cukup rendah.

Menurut saya pribadi rendahnya skor kesehatan finansial juga dipengaruhi oleh kebiasaan buruk generasi muda Indonesia. Sebagai contohnya adalah menghabiskan uang untuk mengikuti gaya hidup, meminjam uang ke orang tua, hingga membayar kartu kredit melebihi batas minimum.

1 Like

Menurut saya, generasi muda yang kurang pandai mengatur keuangannya tidak dapat disamaratakan. Semua tergantung dari masing-masing individu tersebut. Disekeliling saya, teman-teman saya ada banyak yang sudah menerapkan hidup minilais dan ‘melek’ investasi bahkan dari usia masih sekolah, ada juga yang sampai menyentuh kepala tiga masih tidak memiliki tabungan apapun.

Lingkungan dan keteguhan pada diri sendiri menjadi kunci yang paling utama. Kebanyakan anak-anak muda sekarang termakan dengan janji ‘hidup hanya sekali, jadi nikmatilah’ penyataan tersebut membuat mereka kalap dan selalu menggunakan uangnya untuk hal-hal yang dirasa dapat membahagiakan dirinya atau yang dikenal dengan istilah self reward . Memang penting untuk membeli hal untuk mengapresiasi diri sendiri, namun harus diperhatikan kembali apa hal yang kamu mau beli itu masih memiliki value yang sama bahkan untuk beberapa tahun kedepan atau malah menurut dan menghilang nilainya? Jika masih memiliki nilai yang tinggi, silahkan untuk membelinya sebagai self reward, namun jika tidak sebaiknya cari alternatif lain untuk bentuk self rewardnya.