Benarkah di Indonesia Peran Seorang Ayah Dalam Mengasuh Anak Masih Minim?

untuk menjadi seorang ayah yang baik bukan berarti harus menjadi superman atau superdad, tetapi cukup meluangkan waktu untuk bisa bermain bersama anak atau mendengarkan keluh kesah sang anak itu juga merupakan salah satu kewajiban seorang ayah.

Indonesia menempati urutan ketiga sebagai negara dengan anak tanpa ayah terbanyak di dunia.

fenomena tersebut dikenal sebagai fatherless. Dampak dari fatherless ini beragam contohnya adalah anak jadi kurang percaya diri, rentan depresi yang mungkin akan mengganggu kehidupan sosialnya hingga menjadi salah satu pemicu terjadinya tindak kriminal dan kekerasan oleh anak.

lantas, menurut Youdics benarkah di Indonesia peran ayah dalam mengasuh anak masih minim sehingga kita menempati urutan ke tiga dunia? dan apa sih penyebab di Indonesia peran ayah dinilai minim dalam mengasuh anak?

Referensi

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210331171003-277-624531/fatherless-ketika-ayah-tak-hadir-di-kehidupan-anak

Mengenal fenomena "fatherless" dan pentingnya peran ayah bagi anak - ANTARA News

Mengenal Fatherless, Fenomena Tanpa Kasih Sayang Ayah

Jika berbicara mengenai peran laki-laki pada seorang anak mungkin tidak akan lepas dari maskulinitas dan budaya patriarki yang masih cukup tinggi di Indonesia. Maka tidak heran jika dikatakan Indonesia merupakan negera ketiga dengan fatherless tertinggi.

Konsep maskulinitas yang terjadi pada seorang ayah. Misalkan sosok seorang ayah identik dengan seorang pencari nafkah, otoriter, memiliki peran instrumental, pengambil keputusan, superior, dan tidak dekat dengan keluarga. Sehingga seringkali seorang ayah dikatakan tidak memiliki andil dalam pengasuhan dan perkembangan anak.

Padahal di negara lain, seperti yang dilakukan studi yang oleh Boston College Center for Work and Family, AS, mengenai New Dad, Caring, Commited, and Conflicted yang dilakukan pada tahun 2010 mengungkapan bahwa 70% ayah merasa ada dua hal yang penting menjadi tanggung jawabnya kepada anak, yaitu mengasuh dan memenuhi kebutuhan finansial. Dan hanya 10% yang merasa tanggung jawabnya sebagai ayah hanya mencari uang semata.

Kemudian banyaknya kasus seperti pernikahan dini di Indonesia, menyebabkan terdapatnya orang tua muda yang masih kurang pendidikan dan tanggung jawab. Kemudian kehamilan diluar nikah dan perceraian yang menyebabkan seorang wanita harus menjadi single parent. Dan kasus-kasus tersebut semakin meningkat semasa pandemi kemarin, seperti siswi di lombok yang memilih menikah karena jenuh sekolah online. Hal-hal tersebut sangat mempengaruhi tingkat fatherless di Indonesia.

Referensi

Untuk mengasuh maupun membentuk pola pikir seorang anak sendiri, orang tua bekerjasama dalam hal tersebut baik dalam pemenuhan jasmaninya maupun rohani anaknya. Terkait hal pola asuh seorang ayah untuk anaknya sendiri, saya setuju dengan mengatakan masih minim. Namun masih minim disini diartikan seorang ayah mungkin berusaha untuk menjalin kedekatan kepada anaknya dengna caranya sendiri yaitu ketegasan, mandiri dan pantang menyerah. Hal ini memang sangatlah baik namun, tidak akan tepat jika pola asuh tersebut tidak dibarengi dengan pendekatan hati dan saling pengertian dan memahami karakter anak yang berbeda-beda. Seorang ayah kerap kali kewalahan bahkan kebingungan untuk mengasuh anaknya sendiri dengan menerapkan pola seperti apa. Mungkin sebagian ayah akan menerapkan pola asuh yang mengikuti cara ibu-ibu dalam mengasuh anaknya namun, mungkin contoh seperti itu dapat berjalan dengan baik. Namun tidak sepenuhnya dapat berjalan dengan lancar akibat dari sifat alamiah seorang laki-laki sendiri yang kita tahu mereka lebih mengedepankan logika ketimbang perasaan. Jika dihadapkan oleh situasi pola asuh anak sendiri maka seorang ayah akan berpikir dengan logikanya tentang anak yang mampu bertanggung jawab dan tangguh ketika menghadapi berbagai situasi dan kondisi pada kehidupannya. Ini merupakan hal yang terbaik menurut seorang ayah. Namun tidk semua anak dapat memiliki sikap yang langsung mau menerima dengan didikan maupun pola asuh seperti ini.

Benar. Saya sendiri mengamati bahwa kebanyakan ayah di sekitar saya hanya berorientasi tentang bagaimana mengumpulkan uang lalu memberikannya ke istri untuk keperluan sehari-hari. Apalagi bagi para pekerja berat, pasti sudah tidak mau lagi berpikir tentang urusan anak karena sudah terlanjur lelah bekerja dari pagi.

Berangkat dari hal tersebut, kita bisa memprediksi bahwa intensitas komunikasi dan kepedulian visual yang diberikan oleh sosok ayah ini tergolong rendah. Ditambah lagi dengan sehari-harinya si anak selalu ditemani oleh ibu semakin melemahkan hubungan anak dan ayah karena si anak merasa tidak nyaman berlama-lama dengan si ayah (tidak terbiasa). Dengan keadaan yang demikian, saya merasa bahwa hal ini hampir sebelas-dua belas dengan single parents.

Oleh karena itu, untuk menyikapi fenomena tersebut, mungkin saat hari libur, si ayah bisa memfokuskan dirinya kepada keluarga, terutama si anak. Hal ini dapat mendorong terjalinnya komunikasi yang lebih dekat dan dapat sebagai upaya mengenali karakter anak dengan lebih baik. Dengan begitu, ke depannya bisa tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan dan diinginkan oleh anak.