Benarkah Anak Dari Orang Tua yang Sibuk Cenderung Bermasalah?

Masa remaja memang merupakan masa transisi dalam perkembangan seseorang sebelum mencapai usia dewasa. Di masa ini, remaja mencari jati dirinya dengan menjajal banyak hal, baik yang positif maupun yang negatif. Sayangnya banyak juga remaja yang akhirnya terjerumus dalam hal-hal yang dinilai tidak sesuai dengan norma dan hukum, seperti mengonsumsi narkoba, alkohol, free sex, mencuri, tawuran, dan lain sebagainya.

Fenomena kenakalan remaja ini menjadi suatu fenomena sosial yang banyak dikaji, terutama oleh para psikologi dan pendidik. Dalam salah satu penelitian disebutkan bahwa kenakalan remaja disebabkan oleh ketidakmampuan remaja dalam melakukan tugas perkembangannya secara adaptif. Tugas perkembangan remaja sendiri adalah mencapai kemampuan sosial atau social skill untuk melakukan penyesuaian dengan kehidupan sehari-hari. Dari banyak faktor, menurutku faktor terbesar dari hal ini adalah kurangnya pendampingan dan perhatian dari keluarga. Terutama bagi remaja yang kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan.

Kalau menurut kalian, apakah memang anak remaja dengan orang tua yang sibuk cenderung bermasalah? Atau, apakah ada faktor lainnya yang lebih berpengaruh?

Sifat anak memang menurun dari bagaimana sikap orang yang ada disekitarnya. apabila orang tua dirumah sering mengajarkan kebaikan, maka anak akan cenderung melakukan kebaikan begitupun sebaliknya. Namun, pandangan masyarakat akan tindakan buruk anak sering tertuju pada cara orang tua mendidiknya. Hal ini tidaklah salah, karena orang tua di rumah sebagai sekolah pertama tentu menjadi alasan berpikir anak dalam bertindak, tapi kita tidak boleh memandang hanya dari orang tuanya saja. Lingkungan turut mempengaruhi hal itu, sehingga pembawaan anak di masyarakat justru lahir dari bagaimana ia melihat, mendengar, dan merasakan sebuah interaksi sosial di masyarakat.
Bisa saja orang tua di rumah telah mengajarkan kebaikan, tapi anak justru bertindak sebaliknya. pengaruh lingkungan menjadi faktor kedua berubahnya sikap anak. Pengaruh lainnya ialah dari dirinya sendiri. Bagaimana seorang anak menerima perilaku di luar kebiasannya, bagaimana seorang anak beradaptasi dengan masyarakat yang mempunyai budaya berbeda, dan lain sebagainya.

benar, menurut sudut pandang saya sendiri bahwa ketika anak yang masih usia balita sampai remaja itu membutuhkan sesosok orang tua yang bisa memberikan arahan kepada sang anak. ketika anak yang berusia 2 - 3 tahun yang ingin belajar berbicara, belajar berjalan tetapi kedua orang tuanya sibuk kerja, apakah anak tersebut bisa berkembang dengan cepat? tidak. ketika sudah beranjak remaja, anak anak butuh seseorang untuk tempat bercerita, ketika orang tua sibuk psikologi sang anak akan terbentuk dengan pemikiran bahwa orang tuanya tidak peduli dengan sang anak dan tidak sayang kepada anakn tersebut.

melihat pandangan saudara @jihanarisanti25 dan @Yamyam saya justru tertarik menanyakan, bagaimana jika orang tua itu sibuk memang karena tuntutan hidup yang dijalaninya? jika keduanya tidak bekerja maka keluarganya tidak bisa hidup kedepannya. bagaimana dengan situasi demikian? para orang tua sebenarnya juga tidak tega, atau bahkan tidak mau jika harus berada di posisi seperti ini. namun bagaimana lagi, keadan yang tak bersahabat menuntut mereka memaksa meninggalkan anak-anaknya.

remaja adalah fase dimana rasa haus akan keingintahuan dan pencarian jati diri. dimasa ini peran orang tua saat diperlukan agar tidak menyimpang dari norma sosial.
orang tua yang sibuk, tidak mempunyai waktu untuknya sehingga tidak dapat memantau aktivitas anaknya merupakan hal yang salah. remaja juga harus dibina, diberitahu mana yang benar dan mana yang salah. diberi kasih sayang yang cukup.
dikarenakan orang tua yang sibuk, anak lebih banyak belajar dari teman dan lingkungan sekitarnya. siapa lagi yang bukan mengajari mereka akan norma dan adat istiadat jika bukan orang tua ? oleh karena itu, orang tua harus selalu mengawasi dan membina anak anaknya

Pertanyaan yang general namun selalu mnjadi pembahasan yang hangat, disini akan saya bahas pertanyaan dari kak Madeline Nasution. Seperti yang kita ketahui di dunia globalisasi ini semua orang semakin massif dalam mengejar asa demi sebuah impian terutama dalam segi materi. Namun perlu digaris bawahi konotasi sibuk dalam masalah ini , maksud sibuk disini dalam konteks yang seperti apa? Mungkin dalam pembahasan kali ini, saya limitasikan yaitu adalah orang tua yang sibuk menjuru kepada orang tua yang ia bekerja di suatu perusahaan dan memiliki jabatan tinggi sehingga kadang membuat ia bermukim atau jarang pulang ke rumah dikarenakan tugas, perjalanan dinas dan sebagainya.

Dan hal seperti itu membuat seorang anak tidak mendapatkan perhatian layaknya anak anak pada umumnya, namun hal ini menurut saya bukan menjadi tolak ukur sebenernya kepada bermasalah atau tidaknya seorang anak. Juga orang tua yang sibuk memiliki cara mendidik tersendiri, dan terkadang memiliki mindset dalam mendidik anaknya seperti memberikan kebebasan ,namun dalam hal tertentu seorang anak harus mengikuti perintah dari orang tua. Dengan begitu seorang anak memiliki sifat kepekaan tanpa harus di direct oleh orang tuanya dalam melakukan suatu hal.

Seperti ( Melvin Tenggara ,2020) Salah satu dari member Crazy Rich Surabayans yang akhir akhir ini viral karena kekayaannya dan juga bisnis orang tuanya yang dimana mana, yang notabene ia di besarkan oleh keluarga yang mampu dan Ayahnya sendiri merupakan penggerak di 3 bidang bisnis sekaligus seperti property, shipping , dan alat berat, sehingga waktu nya akan sebagian di forsir untuk pekerjaan. Dan sampai saat ini terbukti mevin Tenggaraini juga telah mendpaat kan tiga gelar dan juga bisa melanjutkan uusaha miliknya sendiri. Itu merupakan salah satu contoh dari orang tua yang sibuk tidak selalu memberikan dampak buruk kepada anak, tergantung dari strategi atau cara mendidiknya sendiri.

dan menurut artikel yang saya kutip dari IDNTimes.com orang tua yang terlalu mengekang atau mengontrol semua yang dilakukan oleh anaknya malah menjadi sumber masalah bagi anak itu sendiri. karena pada dasarnya anak muda ketika ia mencari jati diri, ia butuh untuk mengeksplor ke dunia luar, sehingga semakin dikekang maka keinginannya untuk keluar akan semakin besar, sehingga ketika ia berada di luar pantauan orang tuanya, seperti contoh anak yang sudah mulai merantau ketika berkuliah ia malah menjadi terlalu bebas sampai melewati batasan.

Pada kesimpulannya , orang tua yang sibuk bukan factor utama seorang anak menjadi Trouble Maker atau bermasalah, justru orang tua yang terlalu mengekang dapat menimbulkan masalah baik di internal keluarga bahkan bisa berpengaruh ke eksternal pergaulan anak seperti cara mereka bergaul. Dan pun juga orang orang sukses saat ini yang notabene memiliki priviledge terlahir dari orang tua yang sibuk pula. Namun diluaritu tadi, Orang tua memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan moral yang komprehensif, dan hal tersebut hanya dilakukan secara persuasive atau verbal, dan dituntun tanpa harus men direct yang berlebihan. karena antara mendidik anak dan bekerja mencari nafkah adalah 2 kewajiban yang tidak dapat dibenturkan. Sehingga kedua hal tersebut harus balance dan tidak berat sebelah. Terimakasih.

download (4)

Menurut saya tidak semua anak dari orang tua sibuk akan bermasalah. Hal tersebut bergantung pada diri anak tersebut dan bagaimana orang tua tersebut bersikap serta mendidik anaknya. Jika orang tua tersebut memberikan didikan yang tulus sepenuh hati dan terbuka pada anaknya meskipun hanya memberikan sedikit waktu yang mereka punya dari kesibukannya untuk sang anak. Tetapi anak tersebut akan lebih mengerti dan memahami mengenai maksud dari orang tuanya yang tulus. Anak akan berfikir bahwa kesibukan orang tuanya adalah untuknya kelak nanti. Anak yang sudah dapat mengerti mengenai untuk apa kesibukan orang tuanya, mereka akan cenderung menjadi anak yang mandiri dan semangat.

Berbeda dengan orang tua yang memang sibuk tanpa sama sekali memberikan pengertiaan kepada anaknya. Sikap orang tua seperti inilah yang dapat membuat beberapa anak merasa kesepian, dan berprasangka buruk pada orang tuanya. Yang pada akhirnya hubungan sang anak dan orang tuanya tidak harmonis dan menjadikan anak memiliki perilaku yang bermasalah.

Menurut pandangan saya sebuah bibit akan tumbuh bila di pupuk dengan baik, benar adanya bila faktor utama tumbuh kembangnya seorang anak adalah lingkungan sekitarnya. Orang tua sepatutnya untuk memberikan contoh yang baik terlebih dahulu agar kelak seorang anak tumbuh menjadi sosok yang ia harapkan, namun bukan tak banyak seorang anak yang dilahirkan dari keluarga sederhana atau mungkin tidak berkecukupan sehingga mengharuskan kedua orang tuanya untuk mencari nafkah, tak sedikit pula diantara anak tersebut menghausi sebuah kasih sayang, dan perhatian dari kedua orang tuanya.
Dan saat itu pula mncul lah berbagai macam kenakalan remaja yang sangat merugikan diri remaja itu sendiri, begitu juga orang disekitarnya.
Ada beberapa strategi yang dapat orang tua terapkan agar anak tidak haus akan kasih sayang dan tetap berada di zona pergaulan yang baik, misalnya

  1. Sesibuk apapun orang tua, harus tetap meluangkan waktu untuk anak
  2. Beri anak kepercayaan untuk tumbuh di lingungannya, tettapi tetap diawasi
  3. Menjadi sahabat untuk anak
  4. Memberi anak sebuah asumsi dan kisah pengalaman masa muda dari orang tua yang terkait dengan perjuangan hidup
  5. Sebelum anak beranjak dewasa, terapkan di dalam diri anak untuk tidak terlalu mudah mengikuti kata orang lain, selain keluarga, dan beri anak asumsi bahwa jalan terbaik dalam segala situasi adalah meminta kepada Tuhan

Mendidik anak dengan baik

#diskusionline

izin menanggapi kak @Calonalmh , saya setuju atas pandangan kakak yang mengatakan tidak semua anak terlahir dari keluarga yang beruntung, bahkan memiliki sebuah tuntutan hidup yang memang harus dipenuhi. Namun saya selalu percaya dengan suatu prinsip mengenai hukum tabur tuai, jika orang tua menginginkan anak nya tetap berada di zona pergaulan yang baik, maka kembali lagi kepada orang tua tersebut, ada banyak yang dapat ia tuangkan diwaktu senggang nya selagi tidak bekerja, seperti menjadi pendengar untuk anak, mengajak anak untuk selalu terbuka, memberikan semangat serta berbagai motivasi, dan yang paling penting adalah tidak mengekang anak tersebut. Karna di usia remaja, seorang anak memang lagi haus hausnya akan eksplorasi, rasa ingin tahu yang tinggi, bahkan sesekali mereka mau ikut ikutan dengan gaya hidup orang lain. Maka dari itu biarkan mereka tumbuh, tanpa harus ada rasa tertekan di dalam diri anak tersebut yang kelak malah akan membuatnya menjadi tidak percaya diri, takut, atau berbohong kepada orang tua.
Biarkan anak bereksplorasi tetapi tetap di dalam pantauan orang tua.

hipwee-71124-anak-bisa-tidak-punya-etika-jika-orangtua-terlalu-mengatur-650x422

anak pada masa remaja sering merasakan kebingungan dan ketidaktahuan atas berbagai hal baru. Pada masa remaja kita banyak mengeksplor berbagai hal baru sehingga tentunya menimbulkan masalah yang baru pula. Seperti kita tahu orang tua adalah tempat utama kita meminta bantuan dan petunjuk tentang masalah kita. Namun ketika orang tua sibuk pastinya sangat mempengaruhi waktu untuk mereka saling bertukar pikiran dan kasih sayang. Akan lebih bahaya juga ketika para remaja itu sudah merasakan kesibukan orang tuanya sejak kecil itu sangat memperngaruhi bonding antara anak dan orang tua. Hal-hal diatas dapat menyebabkan remaja kehilangan arah sehingga secara tidak sadar remaja melakukan hal yang tidak baik dan menjadi bermasalah.

Mosi mengenai masalah ini yang diajukan oleh kak @Madeline_Nasution biasa terjadi disekitar kita. Berdasarkan pemahaman saya anak yang orangtuanya sibuk itu bukan bermaksud mencari masalah. Namun cenderung mencari perhatian agar anak jauh lebih diperhatikan dan diajak berkomunikasi. Tidak semua anak dari orang tua yang sibuk mencari masalah, banyak dari mereka melakukan kegiatan yang disukai. Pada umumnya anak hanya membutuhkan perlindungan dari kedua orangtuanya, maka dari itu tidak dapat dipungkiri bahwa ada pula anak yang orang tuanya sibuk mencari perhatian lewat masalah-masalah yang diciptakan. Namun saya tidak setuju bahwa anak yang orang tuanya sibuk cenderung bermasalah.

Penelitian tentang hubungan antara kesibukan orang tua dan masalah perilaku pada anak telah menjadi topik diskusi yang cukup kontroversial dalam literatur psikologi dan perkembangan manusia. Beberapa penelitian mendukung ide bahwa anak-anak yang memiliki orang tua yang sibuk cenderung mengalami masalah perilaku, sementara penelitian lain menunjukkan hasil yang berbeda.

Salah satu argumen yang sering muncul adalah bahwa kesibukan orang tua dapat menyebabkan kurangnya perhatian dan interaksi yang diperlukan dalam pengasuhan anak. Anak-anak membutuhkan waktu dan perhatian dari orang tua mereka untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Ketika orang tua sibuk dengan pekerjaan atau tuntutan lainnya, mereka mungkin tidak dapat memberikan tingkat perhatian yang optimal kepada anak-anak mereka.

Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti perkembangan anak di Universitas XYZ menemukan bahwa anak-anak yang merasa kurang mendapat perhatian dari orang tua mereka cenderung menunjukkan tingkat stres dan kecemasan yang lebih tinggi. Mereka mungkin mencari perhatian dari sumber lain, termasuk teman sebaya atau perilaku yang dapat dianggap negatif. Ini dapat mencakup perilaku seperti memberontak, agresi, atau bahkan keterlibatan dalam perilaku berisiko.

Namun, penting untuk diingat bahwa setiap keluarga dan situasi adalah unik. Ada orang tua yang sibuk namun tetap berkomunikasi dan terlibat secara aktif dengan anak-anak mereka. Sebaliknya, ada juga orang tua yang mungkin memiliki lebih banyak waktu luang tetapi tidak memprioritaskan kualitas interaksi dengan anak-anak mereka.

Faktor-faktor lain juga dapat memainkan peran dalam hubungan antara kesibukan orang tua dan masalah perilaku pada anak. Misalnya, dukungan sosial dan sumber daya keluarga dapat memoderasi efek negatif dari kesibukan orang tua. Jika keluarga memiliki jaringan dukungan yang kuat atau dapat mengakses bantuan eksternal, anak-anak mungkin tetap dapat tumbuh dengan baik meskipun orang tua sibuk.

Penting juga untuk mempertimbangkan kualitas waktu yang dihabiskan bersama anak-anak. Meskipun orang tua mungkin sibuk, tetapi jika waktu yang dihabiskan bersama anak-anak diisi dengan kehangatan, dukungan, dan keterlibatan emosional, efek negatif dari kesibukan tersebut dapat diminimalkan.

Namun, penelitian lain menunjukkan bahwa anak-anak juga dapat mengembangkan kelebihan adaptasi dan kemandirian ketika mereka memiliki orang tua yang sibuk. Mereka mungkin belajar mengelola waktu mereka sendiri dan mengembangkan keterampilan diri yang kuat karena kebutuhan untuk mandiri ketika orang tua sibuk dengan pekerjaan atau tanggung jawab lainnya.

Dengan demikian, menyimpulkan bahwa anak-anak dari orang tua yang sibuk cenderung bermasalah atau tidak bermasalah dapat menjadi generalisasi yang terlalu sederhana. Setiap situasi keluarga memiliki dinamika sendiri, dan faktor-faktor seperti kualitas interaksi, dukungan sosial, dan kemandirian anak perlu diperhitungkan.

Perlu diingat juga bahwa kualitas waktu bersama anak-anak bukan hanya tentang kuantitas waktu, tetapi juga tentang kehadiran emosional dan keterlibatan. Orang tua yang sibuk tetapi mampu memberikan perhatian dan dukungan emosional yang cukup mungkin masih dapat menciptakan lingkungan yang positif bagi perkembangan anak-anak mereka.