Benang Merah Kenangan Hari Esok

916c87ed9b426210af3eca1621e01bfd

Sepertinya malam ini akan turun hujan, udara menjadi sangat panas bila hujan akan turun. Tidak berapa lama terdengar rinai hujan terjatuh satu persatu di atap rumahku. Lima menit kemudian tidak terdengar lagi rintikannya.

“Eh, hujannya berhenti. Cuma membasahi bumi doang. Tapi jadi gerah dan panas banget ya?” tutur ibuku sambil terus berkipas-kipas dengan kipas tangan.

“Iya nih, gerah dan panas banget. Kipas angin padahal udah nomor 3, tapi masih gerah banget. Cuacanya seperti ini soalnya, Bu,” sahut Jeana melakukan hal yang sama seperti ibunya.

“Kok jadi ngantuk banget ya, ahh … tidur dulu sebentar deh. Nanti berapa menit, gue bangun lagi,” batin Jeana.

Aku pun tak lama terlelap, hingga tepat pukul 03:15 WIB dini hari alarm di ponsel pintarku berbunyi nyaring. Ibu membangunkan aku, agar aku mematikan alarm tersebut. Setelan alarm tidak pernah ku ubah karena biasa ku gunakan untuk sahur saat puasa. Terutama puasa ramadhan.

Usai mematikan alarm, aku terbuai dalam mimpi kembali dan aku terjaga selepas subuh. Mungkin sekitar pukul 05:30 WIB atau 06:00 WIB. Aku bergeming sekitar beberapa detik. Lalu menjadi sebuah kebiasaanku yaitu setelah mata terbuka aku langsung mengecek ponselku.

Ada sebuah pesan whatsapp dari sahabat kecilku yang bernama Nada. Tanpa ucapan basa-basi atau salam pembuka. Nada hanya mengetikkan bagian yang ingin ia sampaikan.
Isi whatsappnya seperti ini: Jea, Bokapnya Lissa meninggal …

Aku pun sontak tak percaya dan membalasnya untuk meyakinkan kalau yang ia maksud adalah ayahanda dari Lissa. Aku mengatakan, tahu dari mana dia. Ternyata sejak dari sebelum subuh ia sudah di kediaman Lissa. Ia pun mengatakan bahwa perkiraan wafatnya ayahanda Lissa sekitar bada’ maghrib. Bahkan ia pun baru tahu berita dukanya dari tengah malam dini hari sekitar pukul 00:00 WIB atau 01:00 WIB.

Nada bilang tanpa sakit, tiba-tiba wafat karena beliau sempat terjatuh. Nada menyuruhku mengabarkan kepada teman-teman yang lainnya. Yang dimaksud itu teman-teman SD sekelas kita dahulu. Sebab Lissa adalah sahabat masa kecilku juga bersama Nada. Kita bersahabat sejak duduk di bangku sekolah dasar. Oh tidak, banyak sekali kenangan di masa kecil itu. Apalagi kediaman Lissa, menjadi tempat yang mempunyai berjuta kenangan manis di masa kecil.

Tidak banyak orang yang bisa aku kabarkan, karena aku memang tidak menyimpan kontak mereka. Aku akhirnya menyuruh teman yang ku kabari untuk menyebarkan berita itu kepada teman yang lainnya juga. Namun tidak ada yang bisa datang melayat ke kediaman Lissa. Aku memutuskan pergi dengan calon suamiku. Aku juga sempat menghubungi Nada, menanyakan apa ia ingin kembali melayat? Akan tetapi ia sedang berada di kantornya.

“Bu, tadi kata Nada … ehmm … ayahnya Lissa meninggal dunia. Nanti Ibu mau ikut melayat juga?” ujar Jeana mengabari ibundanya.

“Innalillahi wa inna lillahi rojiun … kamu serius, Nak? Dari kapan beliau meninggal?” balas ibuku.

“Kata Nada sih … dari sehabis maghrib. Cuma Nada juga baru tahu beritanya tengah malam. Dia sih udah sempat ke sana sebelum subuh. Terus Nada bilang, nggak sakit apa-apa langsung meninggal karena sempat terjatuh sebelumnya. Apa mungkin ada riwayat penyakit darah tinggi atau jantung ya, Bu?” terang Jeana.

“Oh … dadakan gitu ya? Iya, bisa jadi emang ada darah tinggi atau jantung. Soalnya kalau punya penyakit tersebut agak rawan kalau sampai terjatuh bisa mengakibatkan stroke dan bisa juga menyebabkan kematian.”

“Nanti melayatnya bareng Rulan juga, Bu. Aku udah mengabarinya juga. Ia nanti ke sini menjemput kita.”

Aku dan ibuku bersiap-siap untuk melayat ke kediaman Lissa. Kami mengenakan pakaian gamis beserta hijab serba hitam. Karena hari ini adalah hari berkabung. Hanya warna gelap yang cocok untuk menghadiri suatu kehilangan yang disebabkan oleh kematian.

“Lama sekali sih Rulan, Nak. Nanti keburu dimakamkan jenazahnya lho. Emang kapan akan dimakamkannya?” tegur ibuku.

“Nada bilang selepas shalat dzuhur. Iya, sih Rulan udah dikabari dari tadi malah belum bangun. Jadi sekarang buru-buru karena baru bangun, Bu,” jelas Jeana.

Sepuluh menit berlalu, Rulan pun tiba. Kami bertiga menuju kediaman Lissa. Karena jarak rumah Lissa tidak terlalu jauh, kami memutuskan berjalan kaki tanpa menggunakan kendaraan.

Sesampainya di sana, jenazah ayahanda Lissa sedang dimandikan. Kami menunggu sampai proses pemandian jenazahnya selesai. Beberapa menit kemudian, jenazah usai dimandikan dan bersiap untuk dikafankan. Kami pun masuk ke dalam rumah dan menyaksikan prosesnya. Saat itu seluruh tubuh jenazah telah terbungkus kafan kecuali wajahnya.

Aura kesedihan terpancar di setiap sudut dan sisi ruangan itu. Aku baru menginjakkan kakiku di depan pintunya saja sudah merasakan kehilangan yang begitu kuat. Mataku pun mulai berkaca-kaca, padahal sejak di halaman depan aku tidak terpikir atau merasakan kesedihan sama sekali.

Seperti kebahagiaan, canda dan tawa selalu menularkan orang-orang di sekitarnya. Begitupun dengan kesedihan, kedukaan dan rasa kehilangan juga selalu menularkan orang-orang di sekitarnya juga. Di ruang itu, hanya kedukaan dan air mata yang membanjiri seisi ruangan.

Aku mencari sosok Lissa. Aku melihatnya nampak terpukul dengan air mata yang mengalir deras di pipi halusnya. Padahal baru tahun lalu ayahnya menjadi wali atas pernikahannya dengan suami pilihan hatinya. Seperti pertanda ya? Lissa pun tak akan pernah tahu jika ayahnya akan wafat satu tahun setelahnya. Ia beserta adik kandung dan adik tirinya mencium jenazah ayahnya untuk terakhir kalinya. Terakhir kalinya melihat beliau berada di dunia sebelum beliau terkubur di liang lahat.

Sesekali aku selalu memerhatikan Lissa dan suaminya yang menenangkan ia di sampingnya. Di belakang Lissa ada Ibunda Lissa yang terlihat mengeluarkan air mata kesedihannya. Walau saat itu, ia sudah bukan lagi istrinya. Karena sejak Lissa kelas enam SD, ayahnya menikah lagi dan ibunda Lissa memilih untuk bercerai.

Ku lihat istri mudanya maksudku sekarang sudah menjadi ibu tirinya Lissa, menangis dengan napas tersengal-sengal bahkan air matanya pun telah kering. Mungkin hampir semalaman ia menangisi kepergian mendiang suaminya.

Wajah jenazah ayahanda Lissa telah tertutup kain kafan dengan sangat rapat artinya sudah tiada lagi pihak keluarga yang dapat melihat wajah beliau. Kami semua berdo’a untuk mendiang alm. ayahanda Lissa. Usai berdo’a seorang bapak yang tadi membantu mengurusi jenazah dan memimpin do’a berpesan agar mereka selalu mendo’akan orang tua mereka dan selalu menjaga ikatan tali silaturahim. Aku selalu berharap agar Lissa bisa akrab dan menerima ibu tiri dan adik-adik tirinya.

Setelah semua orang berdiri, aku mendekati Lissa untuk sekedar mengucapkan belasungkawa kepada ia dan juga keluarganya.

“Liss … yang tabah dan sabar ya!!!” bisikku sambil menahan isak nangis.

Aku hampir tak kuasa membendung air mataku, bibirku bergetar hebat. Aku tak sanggup bertutur kata lagi. Aku hanya sedikit berbicara kepada Lissa.

“Oh iya, elo udah ketemu Nada?” tegurku setelah bisa mengatasi kesedihanku.

“Nggak, gue dari semalam di dalam kamar aja. Soalnya gue lagi hamil,” terang Lissa.

"Oh … elo lagi hamil? Berapa bulan? tambahku melirik ke arah perut Lissa yang telah membuncit.

“Udah tujuh bulan.”

“Yaudah, gue ke depan ya.”

“Iya, makasih ya udah mau datang,” sahut Lissa

Percakapan kita memang seperti teman yang baru kenal hanya ucapan basa basi saja. Memang telah lama aku dengannya tidak lagi pernah bertemu. Dahulu ia memang teman sebangkuku di sekolah dasar bahkan kami sangat akrab dan setiap hari selalu bermain bersama. Zamanlah yang mengubah segalanya. Satu persatu sahabat dan teman-temanku menjauh perlahan dariku.

Rumah ini, ya kediaman Lissa ini menjadi tempat masa kecilku dulu bermain bersama Lissa. Canda, tawa, suka dan duka terekam jelas di dalamnya. Dinding-dinding, jendela dan pintu rumah ini adalah saksi bisu persahabatan kita. Kami bukan hanya berdua, namun ada Nada dan juga Diandra. Sampai saat ini aku hanya lebih sering bertemu Nada. Akan tetapi sejak kelulusan SD, kami bertiga tidak pernah berjumpa lagi dengan Diandra. Ia pindah ke kota Medan.

Aku berniat mengantarkan mendiang alm. ayahanda Lissa ke pemakamannya. Namun karena ada berapa hal yang tidak dapat ditunda, aku pun mengurungkan niatku. Aku berpikir, apa ini cara Tuhan memberikan kehidupan. Saat ayah Lissa wafat, ia menitipkan janin mungil di tubuh Lissa. Yang artinya setelah kematian selalu ada kelahiran kembali. Begitupun seterusnya sampai dunia ini berakhir selamanya.

Rasa kehilangan dan kesedihan bukanlah satu-satunya di dunia ini, karena setiap yang pergi, hilang dan mati maka Allah SWT akan selalu memberikan penggantinya dan terlahir kembali.

Walau kenangan masa lalu tidak dapat terulang kembali, setidaknya Tuhanmu menghadirkan cinta yang terlahir kembali di masa depan. Aku selalu percaya hukum reinkarnasi, bila seseorang meninggal dunia maka ia akan terlahir kembali dengan jiwa yang baru dan lebih murni. Sebab jiwa yang lama dan penuh dosa telah mati bersama sisa-sisa kenangan masa lalu. Jiwa baru hanya untuk kehidupan di masa depan tanpa pernah bisa menghapus jejak kenangan di masa lalu.

Seperti aku yang berharap kembali ke masa kecil dan bermain bersama ketiga sahabatku. Seperti Lissa yang berharap ayahnya kembali hidup ke dunia ini. Dan berharap kembali seperti masa lalu adalah hal yang mustahil. Biarlah kenangan itu menjadi benang cinta abadi kami di masa depan kelak. Agar kami dapat terlahir kembali menjadi jiwa-jiwa yang suci dan murni.

TAMAT
.
:camera:: Pinterest
.
.
.

Jakarta, 17 Oktober 2020
Oleh: Yuki Shiota
Challenge 30 Hari Menulis Karya Sastra || Hari ke 27 || Cerpen Tema Kenangan