Beauty Privilege : Bagaimana Kita Menyikapinya?

WhatsApp Image 2021-04-20 at 22.02.23

Blockquote
“Jelas lah si A mau nikahin si B, Si B kan cantik. Coba kalau nggak cantik, mana mau dia nikahin”
“Palingan Pak Bos nerima kamu kerja karna kamu cantik doang”
“Pingin banget jadi artis, tapi syarat utama harus good looking

Ngomongin soal beauty privilege nggak akan ada ujungnya, setiap kali menemukan pembahasan terkait hal ini pasti ada yang namanya perdebatan. Secara singkat, beauty privilege merupakan keistimewaan seseorang karena kecantikan/ketampanannya sehingga mereka yang dianggap memiliki keistimewaan itu, sebagian masalah hidupnya berkurang.

Pembahasan ini menjadi menarik karena fenomenanya ada disekitar kita. Masih ingat dengan kasus narkoba yang melibatkan public figure muda Indonesia? Ia justru didukung dan diberi semangat oleh netizen yang sebagain besar adalah lawan jenisnya. Berbeda nasib dengan public figure lain yang dihujat karena kasus yang sama. Sebagian besar orang berspekulasi dan menyimpulkan bahwa perbedaan cara menyikapi dari netizen ini salah satunya karena faktor beauty privilege.

Lalu, apakah mereka salah memiliki beauty privilege? tentuk tidak. Kecantikan/ketampanan adalah anugerah Tuhan yang patut untuk kita syukuri, yang salah adalah mereka yang terlalu mengagung-agungkan ketampanan/kecantikan seseorang sehingga secara tidak sadar mereka berperilaku tidak adil pada orang lain yang tidak memiliki privilege yang sama.

Bagaimana menyikapi hal ini dengan bijak? hal pertama yang harus kita lakukan adalah bersikap adil tanpa memandang fisik seseorang. Selain itu, kita juga harus bersyukur dengan fisik yang sudah diberikan Tuhan karena setiap manusia memiliki keunikannya masing-masing. Nah, tergantung pada kalian, mau menggali itu? atau terus menyalahkan diri sendiri?.
Bagaimana pendapat kamu? yuk, sharing!

1 Like

Memang banyak yang bilang kalau dengan memiliki fisik yang menarik itu dapat mengurangi sekian persen masalah hidup. Tapi hal ini nggak berlaku di semua kasus.

Menurutku dua contoh kasus di atas malah menunjukkan disadvantage dari beauty. Orang jadi meremehkan kualitas lain yang dimiliki seseorang dan menganggap bahwa pencapaiannya hanya semata-mata karena keberuntungan. Terutama di kasus ke dua yang banyak terjadi di lingkungan kerja. Ada orang-orang “bertampang” yang dianggap mendapatkan suatu pencapaian hanya karena tampang bukan karena usaha.

Yaa sebenarnya kembali lagi dari bagaimana kita memandang orang lain dan diri sendiri. Kalau manusia bisa menghargai manusia lain dari substansinya, bukan sekedar fisiknya, maka seharusnya kecantikan fisik bukan masalah. Berlaku juga untuk diri sendiri. Nilai kita tidak ditentukan oleh fisik kita, tapi lebih pada apa yang kita upayakan.

1 Like

Setuju banget nih dengan pendapatnya Aaronlingga. Sontoh kasus tersebut malah sebenarnya menunjukan disadvantage dari beauty.

Tambahan: kalau menurut aku, kita tidak perlu terlalu mengagung-agungkan kecantikan secara berlebihan yang berujung pada adanya diskriminasi terhadap paras seseorang. Namun, kita juga tidak perlu menghilangkan objektivitas kita dengan menginjak orang yang mempunyai privilege berupa kecantikan sembari mengatakan “ah dia kalau ga cantik juga ga ada yang mau”.

Sesungguhnya fisik itu karunia dari Tuhan yang di dalamnya terdapat cobaan. Tidak perlu iri dengan orang lain yang kelihatannya lebih goodlooking. Itu value mereka. Mari cari dan buat value kita sendiri.

2 Likes

bener sekali, orang2 kadang malah meremehkan orang lain yang dianggapnya beruntung hanya karna tampang yang dimiliki. Saya juga sangat setuju dengan penilaian dan mengahargai seseorang gak harus dari fisiknya saja. Terima kasihh

Saya setuju kalau beauty privilage itu real hanya saja banyak masyarakat yang mempermasalahkan paras seseorang dan ujungnya selalu dikaitkan dengan pencapaian yang dimiliki orang tersebut. Contohnya di pekerjaan, banyak orang yang mempermasalahkan kenapa pegawai bank itu harus cantik dan proporsional apakah hal tersebut merupakan bentuk diskriminasi terhadap orang yang kurang di mata society? Padahal sebenarnya pegawai bank front liner memang harus rapih tidak harus good-looking tapi rapih dan proporsional. Karena mereka merupakan orang-orang yang pertama kali bertemu dengan masyarakat setiap hari. Sama halnya dengan SPG atau Pramugari. Jadi kembali lagi kita tidak bisa terlalu judgemental di bidang pekerjaan. Tergantung posisi mana yang kita apply dan memang ada beberapa posisi yang membutuhkan “beauty privilage” tersebut.