Bantu Anak Pahami Kesalahan Bikin Mereka Lebih Baik?

Jakarta, CNN Indonesia – Apa yang Anda lakukan bila anak melakukan kesalahan? Orang tua biasanya langsung marah dan menghukum anaknya. Tapi sains menganjurkan orang tua dan pihak sekolah untuk membantu anak memperhatikan dan memahami kesalahan mereka alih-alih cuma mengomeli.

Hal ini didasari oleh adanya temuan ilmiah terbaru yang menyatakan bahwa anak dapat jadi lebih baik bila memperhatikan kesalahan yang pernah dibuat, dan bangkit dari kondisi tersebut.

Melansir Live Science, para peneliti mengatakan kondisi ini mungkin terjadi karena anak-anak dengan pemikiran yang berkembang lebih fokus pada kesalahan mereka dibanding mereka yang memiliki pemikiran statis.

Para ahli menyebut pemikiran yang berkembang menandakan bahwa kepintaran seseorang dapat berubah, sedangkan pemikiran statis bermakna sebaliknya.

Hans Schroder, penulis utama studi sekaligus mahasiswa doktoral Michigan State University mengatakan bantuan orang dewasa dalam melihat kesalahan anak akan mendorong anak berusaha lebih keras di kemudian hari.

“Dampak utama dari penelitian ini adalah manusia perlu memperhatikan kesalahan dan menggunakannya sebagai kesempatan untuk belajar,” kata Schroder dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Development Cognitive Neuroscience itu.

Temuan ini berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 123 anak rata-rata berusia tujuh tahun. Dalam usia ini, pola pikir anak dipercaya akan mempengaruhi prestasi akademik.

Seluruh peserta diuji dengan permainan yang mengharuskan mereka menekan tombol spasi. Sebagai penilaian, peneliti melihat respons gelombang otak ketika mereka melakukan kesalahan.

Dari uji coba itu, anak-anak yang memberikan respons gelombang otak tinggi cenderung lebih perhatian terhadap kesalahan yang diperbuat.

Sementara sisanya dapat dikategorikan sebagai anak yang berpikir statis dan tidak terlalu peduli akan kesalahan.

Peneliti percaya bagi anak dengan pemikiran statis, mereka tetap bisa mengembangkan kemampuan mereka bila benar-benar memperhatikan kesalahan yang pernah dilakukan.

Schroder mengatakan hasil tersebut dapat menjadi perhatian bagi orang tua dan guru untuk tidak hanya menghibur anak-anak saat mereka melakukan kesalahan.

“Menghibur memang naluri alami, tapi cara itu hanya akan mengalihkan perhatian anak untuk belajar dari kesalahan. Lebih baik ajak mereka memperhatikan apa yang salah dan mencari tahu bagaimana yang benar,” ujar Schroder.

(okt/chs)