Bahan Baku Tabir Surya yang Lebih Efektif Terinspirasi dari Mikroorganisme Laut

Aktivitas di luar rumah dapat menyebabkan kulit terkena radiasi ultraviolet (UV) akibat paparan sinar matahari. Radiasi UV terdiri dari UV A (panjang gelombang 315-400 nm) dan UV B (280-315 nm)1. Paparan sinar UV A dapat mengakibatkan terjadinya penuaan dini pada kulit, sedangkan UV B merupakan penyebab utama kulit terbakar akibat sengatan matahari. Selain itu, radiasi UV B yang terlalu tinggi juga dapat meningkatkan risiko kanker kulit (melanoma)2. Oleh karena itu, penggunaan tabir surya sangat penting ketika beraktivitas di luar ruangan.

Tabir surya ideal seharusnya memiliki rentang absorpsi UV yang luas (menyerap UV A dan UV B), aman, dan stabil. Salah satu kelompok senyawa yang terdapat pada mikroorganisme laut adalah Mycosporine-Like Amino Acid (MMA). MMA dilaporkan berpotensi sebagai tabir surya ideal. MMA merupakan senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang hidup di perairan dangkal seperti sianobakteri, fungi, serta mikroalgae sebagai bentuk perlindungan terhadap radiasi sinar matahari. Senyawa ini terdiri dari dua struktur dasar yaitu cyclohexenone dan cyclohexenimine.

MMA memiliki berat molekul rendah, dapat larut dalam air, stabil (secara termal dan fotokimia), non-flouresens, serta memiliki rentang absorpsi yang luas (310-360 nm). Hal ini menginspirasi Diego Sampedro dan tim dari La Rioja University untuk mendesain bahan baku baru tabir surya. Sampedro dan tim melakukan sintesis beberapa turunan MMA. Melalui beberapa tahapan uji, diperoleh sebuah kandidat baru tabir surya yang terdiri dari campuran 10% senyawa b, 10% octinoxate, dan 5% avobenzone dengan nilai SPF (Sun Protection Factor) 72,8 ± 10,8 dan UVA-PF (23,0 ± 1,3). Sebagai perbandingan, campuran 10% octinoxate dan 5% avobenzone yang merupakan bahan baku tabir surya komersial memiliki nilai SPF 28,6 ± 4,5 dan UVA-PF 11,7 ± 1,1. Kandidat tabir surya yang terinspirasi dari MMA ini juga menunjukkan mekanisme proteksi radiasi sinar UV yang berbeda1. Secara umum, mekanisme kerja tabir surya digolongkan menjadi dua, secara kimia (penyerapan sinar matahari) dan secara fisika (memantulkan cahaya sinar matahari).

Selain dapat meningkatkan nilai SPF dalam formulasi tabir surya, senyawa ini juga berpotensi untuk dikomersialkan karena jalur sintesisnya yang cukup mudah. Dengan keunggulan tersebut, maka senyawa turunan MMA dapat menjadi kandidat baru tabir surya yang prospektif dan menjanjikan. Meski demikian, uji lebih lanjut masih perlu dilakukan untuk memastikan keamanan dan efektivitas tabir surya ini jika diaplikasikan pada kulit.

Sumber:

  1. Losantos, R., Funes-Ardioz, I., Aguilera, J., Herrera-Ceballos, E., Garcia, Iriepa, C., Campos, P.J., Sampedro, D. 2017. Rational design and synthesis of efficient sunscreens to boost the solar protection factor. Ange. Chem. Int. Ed., 56, 1-5.
  2. http://www.alodokter.com/sedia-tabir-surya-sebelum-beraktivitas-di-luar-ruangan (Diakses pada 20 Januari 2018).
  3. https://www.aad.org/public/diseases/skin-cancer/melanoma (Diakses pada 25 Januari 2018)
  4. Drahl, C. (1 Februari 2017). Nature is the inspiration for this new crop of sunscreen candidates. www.forbes.com (Diakses pada 20 Januari 2018).