BAHAGIA DENGAN BERBAGI

                      BAHAGIA DENGAN BERBAGI

Namaku Emi Rohmawati biasa dipanggil Emi, Aku hanya gadis desa biasa serba sederhana. Seiring berjalannya waktu dalam mencari jati diri, aku sering mengikuti berbagai macam kegiatan sosial, semua ini karena aku sadar segala yang kita miliki adalah bukan sepenuhnya milik kita tetapi ada sebagian hak orang lain. Terutama ketika mengikuti sebuah komunitas sedekah di kabupaten tempat aku tinggal. Di sana banyak sekali kegiatan yang membuatku membuka mata hati, menyaksikan secara langsung di luaran sana banyak orang-orang yang memerlukan uluran tangan, bahkan penderitaannya jauh lebih berat amat sangat berat dari kita.

Sebut saja Bunga (nama samaran), cerita ini aku peroleh ketika bersama tim sedekah mengunjungi Bunga yang usianya sekitar 21 tahun bertempat tinggal di salah satu desa pelosok kota, menderita penyakit Cerebral Palsy. Cerebral Palsy adalah penyakit yang menyebabkan gangguan pada gerakan dan kordinasi tubuh. Penyakit ini disebabkan oleh gangguan perkembangan otak, yang biasannya terjadi saat anak masih di dalam kandungan. Penderita Cerebral Palsy secara fisik dan mental memang tidak bisa normal layaknya orang biasa.

“ Assalamualaikum Bunga, Bunga, cantik sekali,” aku menyapa dengan melayangkan senyuman.

“ Bunga semakin sehat ya bu,” sahut Ines salah satu tim sedekah.

“ Alhamdulillah, sekarang makannya semakin lahap mbak,” jawab ibu mengusap rambut Bunga.

“ Alhamdulillah.” tim sedekah menjawab dengan serempak.

Berlangsung perbincangan kami dengan Ibu Bunga, tampak raut wajahnya yang lelah namun tetap berusaha kuat. Sempat terdengar jelas di telingaku. Bagaimanapun kondisi anak, ibu tidak akan pernah tega meninggalkan anaknya. Hatiku seakan tersentil keras, tiba-tiba ingat ibu di rumah ingin bersimpuh memohon maaf dan mengucapkan ribuan terimakasih atas jasannya selama ini.

“ Ibu, jangan lupa istirahat banyak bersabar dan berdo’a ya bu,” pintaku pada Ibu Bunga.

“ Pasti mbak, bagaimanapun susahnya saya. Saya tidak akan pernah meninggalkan Bunga !” jawab ibu Bunga sembari mengusap air matannya.

“ Do’a kami selalu menyertai ibu.” jawabku sambil memeluk Ibu Bunga.

Sosok Ibu Bunga, cukup tinggi, gemuk dan memiliki lesung pipi. Ketulusannya terpancar, kerja kerasnya luar biasa. Sebab beliau sudah pisah dengan sang suami. Sehingga Ibu Bunga sebagai tulang punggung keluarga. Bunga memiliki satu adik yang kira-kira berusia 3 tahun. Sungguh, aku tidak bisa membayangkan. Bunga adalah anak pertama. Tentu yang diharapkan oleh orang tua adalah anak pertama. Menjadi anak yang mampu menggantikan orang tua mencari nafkah, membantu perekonomian keluarga, penopang kehidupan adik-adiknya dll. Namun, kondisi keluarga Bunga tidak demikian, Anak pertama dari keluargannya memiliki keistimewaan dari Allah sehingga mungkin harapan-harapan tersebut belum bisa terpenuhi.

“ Ibu, setiap hari bekerja dimana bu?” tanya Ines pada Ibu Bunga.

“ Alhamdulillah, menjadi buruh cuci di rumah pak RT mbak.” sahut Ibu Bunga dengan memijat tangannya.

“ Ibu pasti capek ya, semoga ibu selalu sehat.” melihat Ibu Bunga memijat tangannya air mataku menetes.

“ Tidak mbak, saya tidak capek.” Ibu Bunga tersenyum.

Banyak hal yang aku dapatkan dari kunjungan di rumah Bunga, diantarannya bersyukur atas nikmat kesehatan fisik yang diberikan oleh Allah serta meningkatkan kepedulian dan bermanfaat untuk sekitar. Mungkin tanpa disadari setiap hari kita sering mengeluh dan lain sebagainya. Padahal Allah telah memberikan nikmat sehat yang luar biasa untuk kita. Sungguh tidak pantas mengeluh dan merasa kurang dengan apa yang kita miliki. Kurang cantik, kaya, putih dll. Halo, kalian akan bahagia bila mau bersyukur. Berhentilah menuntut, semua sudah ditakdirkan dan ditakar oleh Allah dengan kadar yang pas. Tanpa salah, kurang dan kelebihan semua sudah sesuai dengan ketentuan Allah. Tak terasa kami harus mengakhiri perbincangan dengan Ibu Bunga.

“ Ibu, terimakasih atas waktunnya. Ini ada sedikit dari kami, mohon diterima ibu. Rezeki untuk Bunga.” ungkapku sampil memberikan amplop kepada Ibu Bunga.

“ Terimakasih banyak mbak sudah datang ke sini dan membantu kami.” Ibu Bunga tampak tersenyum bahagia.

“ Sama-sama ibu, kami pamit undur diri. Assalamualaikum ibu, Bunga,”

“Waalaikumussalam,” jawab Ibu Bunga.

Semoga Bunga senantiasa diberi kekuatan. Selama di dunia mungkin belum mendapatkan hak bahagia dalam hidup. Tapi saya yakin Allah sudah menyiapkan kebahagiaan lain untuk Bunga suatu saat nanti. Bunga mungkin adalah makhluk yang sedikit khilafnya. Berbeda dengan kita yang setiap hari berbuat salah. Semua sudah tercatat masing-masing, intinnya jangan pernah berhenti bersyukur dan mendekatkan diri kepada Allah. Agar kita dijauhkan dari sifat sombong dan banyak menuntut. Yang perlu diingat, jangan hanya memikirkan diri sendiri. Buka mata dan hati banyak orang lain yang memerlukan perhatian kita. Sedikit dari kita akan sangat berharga bagi mereka yang membutuhkan. Semangat menebar manfaat dan semangat berbagi !