© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagiamana pendapat Anda mengenai tindakan imitasi di lingkungan sosial?

Imitasi bisa dikatakan sebagai suatu kegiatan meniru apa yang dilihat, lantas bagimana pendapat anda mengenai tidakan imitas di lingkungan sosial?

Imitasi bisa dikatakan sebagai suatu kegiatan meniru apa yang dilihat. Jika memang tindakan imitasi yang dilakukan membawa dampak postif maka hal itu justru akan membawa hal yang baik pula bagi diirnya, dan juga sebaiknya, jika tindakan imitasi ini mengarah ke hal yang negatif akan membawa bencana bagi kehidupannya.


Imitasi merupakan salah satu faktor yang mendukung terjadinya interaksi sosial. Imitasi sendiri secara harafiah berarti juga meniru. Terdapat beberapa pendapat ahli dari berbagai sudut pandang yang menjelaskan mengenai definisi imitasi. Imitasi dalam ilmu jiwa diartikan sebagai suatu gejala pada seseorang yang melakukan sesuatu karena pengaruh orang lain. Imitasi dalam sosiologi menurut Tarde (dalam Soegarda, 1982) merupakan suatu aspek dalam kehidupan masyarakat yang manifestasinya terlihat dalam penciptaan-penciptaan hal-hal baru dan peniruan (imitasi) dari penemuan baru itu. Menurut Tim Sosiologi (dalam Dyah Ayu M, 2012) imitasi adalah proses sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain melalui sikap, penampilan, gaya hidupnya, bahkan apa saja yang dimiliki oleh orang lain.

Menurut Tarde (dalam Bimo Walgito, 2003) imitasi merupakan dorongan untuk meniru orang lain. Masyarakat itu tiada lain dari pengelompokkan manusia di mana individu-individu yang satu mengimitasi dari yang lain dan sebaliknya. Selain itu, Bimo Walgito (2003: 67) menyebutkan bahwa “imitasi tidak berlangsung dengan sendirinya, sehingga individu yang satu akan dengan sendirinya mengimitasi individu yang lain, demikian sebaliknya. Dengan kata lain, imitasi tidak berlangsung secara otomatis, tetapi ada faktor lain yang ikut berperan, sehingga seseorang mengadakan imitasi”. Dapat disimpulkan bahwa imitasi merupakan proses sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain, baik sikap penampilan, gaya hidupnya, bahkan apa-apa yang dimilikinya.

Bentuk-bentuk Perilaku Imitasi


Perilaku imitasi dibedakan atas beberapa bentuk diantaranya adalah menurut Miller dan Dollard. Miller dan Dollard (dalam B.R. Hergenhahn dan Matthew H. Olson, 2008: 357-358) membagi perilaku imitasi (tiruan) menjadi tiga kategori, yakni:

  • Same behavior (perilaku sama).
    Perilaku ini terjadi ketika dua atau lebih individu merespon situasi yang sama dengan cara yang sama. Misalnya, kebanyakan orang berhenti di lampu merah, bertepuk tangan saat suatu konser berakhir, dan tertawa saat orang lain tertawa. Melalui perilaku yang sama, semua individu yang terlibat di dalamnya telah belajar secara independen untuk merespon stimulus tertentu dengan cara tertentu, dan perilaku mereka muncul secara simultan saat stimulus, atau sejenisnya terjadi di lingkungan itu.

  • Copying behavior (perilaku meniru atau menyalin).
    Perilaku ini terjadi ketika seseorang melakukan perilaku sesuai dengan perilaku orang lain. Perilaku meniru atau menyalin merupakan suatu perilaku yang didasarkan atas pengamatan yang jelas terhadap model. Misalnya adalah ketika seorang guru memberikan suatu contoh perilaku menulis yang baik dan benar di papan tulis, kemudian anak-anak menirukan atau menyalinnya. Perilaku anak yang meniru atau menyalin inilah yang kemudian disebut dengan copying behavior.

  • Matched-dependent behavior (perilaku yang tergantung pada kesesuaian).
    Seorang pengamat diperkuat untuk mengulang begitu saja tindakan dari seorang model. Berikut ini adalah penjelasan dan pembahasan lebih lanjut mengenai bentuk-bentuk perilaku imitasi tersebut di atas. Miller dan Dollard memberikan contoh dengan mendeskripsikan situasi di mana anak yang lebih tua belajar lari ke pintu depan setelah mendengar langkah kaki sang ayah mendekati pintu. Ayah memperkuat perilaku anak itu dengan permen. Adiknya mengetahui bahwa jika dia berlari di belakang kakaknya menuju pintu, dia juga akan mendapatkan permen dari ayahnya. Tidak lama kemudian si adik berlari ke pintu setiap kali dia melihat kakaknya melakukan hal itu.

    Pada poin ini perilaku kedua anak itu dipertahankan oleh penguatan, namun masing-masing anak mengasosiasikan penguatan itu pada petunjuk yang berbeda. Bagi si kakak (model), suara langkah ayahnya mendekati pintu menyebabkan dia lari menyongsongnya, dan respon lari ini diperkuat oleh permen. Bagi si adik (imitator), dia lari jika melihat kakaknya lari dan respon lari ini juga diperkuat dengan permen.

Pengertian Imitasi

Kehidupan anak-anak pada dasarnya banyak dilakukan dengan meniru atau yang dalam psikologi lebih dikenal dengan istilah imitasi. Dalam proses imitasi ini, anak akan melihat orang tuanya sebagai figur utama yang layak ditiru sebelum meniru orang lain. Imitasi secara sederhana menurut Tarde (dalam Gerungan, 2010) adalah contoh-mencontoh, tiru-meniru, ikut-mengikut. Dalam kehidupan nyata, imitasi ini berkaitan dengan kehidupan sosial, sehingga tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa seluruh kehidupan sosial itu terinternalisasi dalam diri anak berdasarkan faktor imitasi. Dengan demikian, secara umum imitasi adalah proses sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain melalui sikap, penampilan gaya hidup, bahkan apa saja yang dimiliki oleh orang lain (Sasmita, 2011).

Sarsito (2010) mengatakan imitasi adalah suatu proses kognisi untuk melakukan tindakan maupun aksi seperti yang telah dilakukan oleh model dengan melibatkan indera sebagai penerima rangsang dan pemasangan kemampuan persepsi untuk mengolah informasi dari rangsangan, dengan kemampuan aksi untuk melakukan gerakan motorik.

Beberapa konsep imitasi di atas selaras dengan pandangan Barlow (dalam Muhibbin, 2003), yang mengatakan imitasi sebagian besar dilakukan manusia melalui penyajian contoh perilaku ( modeling ), yaitu proses pembelajaran yang terjadi ketika seseorang mengobservasi dan meniru tingkah laku orang lain. Sementara itu, menurut Bandura (dalam Carole, 2007) imitasi adalah perilaku yang dihasilkan ketika seseorang melihat model atau orang lain melakukan sesuatu dalam cara tertentu dan mendapatkan konsekuensi dari perilaku tersebut.

Pihak yang melakukan imitasi akan meniru sama persis tindakan yang dilakukan oleh pihak yang diimitasi, tanpa fikir panjang tentang tujuan peniruannya. Adapun perilaku yang diimitasi menurut Soekanto (dalam Arif, 2005) dapat berwujud penampilan ( performance ), sikap ( attitude ), tingkah laku ( behavior ), gaya hidup ( life style) pihak yang ditiru. Namun, imitasi tidak terjadi secara langsung melainkan perlu adanya sikap menerima, dan adanya sikap mengagumi terhadap apa yang diimitasi itu. Melalui imitasi, seseorang belajar nilai dan norma di masyarakat atau sebaliknya ia belajar suatu perbuatan yang menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku. Baik anak maupun orang dewasa belajar banyak hal dari pengamatan dan imitasi tersebut.

Pengamatan yang dilakukan individu menghasilkan suatu perilaku imitasi yang dilihat dari orang sekitarnya, sehingga timbullah tingkah laku. Hal itu sejalan dengan pendapat Bandura (dalam Yustinus, 2006) yang mengatakan bahwa tingkah laku manusia harus dikaitkan dengan respon-respon yang dapat diamati. Tingkah laku tersebut merupakan hasil melakukan pengamatan individu di lingkungannya. Khususnya pada anak sebagai peniru ulung, anak selalu mengamati perilaku yang tampak dari lingkungan terutama keluarga.

Berdasarkan beberapa pengertian imitasi yang telah dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa imitasi adalah perilaku yang dihasilkan seseorang dengan mencontoh atau melihat individu lain melakukan sesuatu, baik dalam wujud penampilan, sikap, tingkah laku dan gaya hidup pihak yang ditiru. Dalam hal ini perilaku imitasi lebih dilihat kepada anak terutama dalam lingkungan keluarga melalui pengamatan secara langsung.

Tahap- Tahap dalam Melakukan Imitasi

Imitasi adalah proses peniruan tingkah laku seorang model, Sehingga disebut juga proses modeling. Ini dapat diaplikasikan pada semua jenis perilaku yang memiliki kecenderungan yang kuat untuk berimitasi. Proses ini tidak dilakukan terhadap semua orang tetapi terhadap figur-figur tertentu seperti orang- orang terkenal, orang yang memiliki kekuasaan, orang yang sukses, atau orang yang sering ditemui.

Figur yang biasanya menjadi model tersebut adalah orang tua itu sendiri. Namun menurut Tarde (dalam Gerungan, 2010) sebelum orang mengimitasi suatu hal, terlebih dahulu haruslah terpenuhi beberapa syarat, yaitu:

  • Memiliki minat/perhatian yang cukup besar akan hal tersebut.

  • Menjunjung tinggi atau mengagumi hal-hal yang akan diimitasi.

  • Ingin memperoleh penghargaan sosial seperti yang ditiru.

Imitasi berarti proses meniru, dalam proses imitasi ini seseorang bertindak sebagai stimulus atau sebagai kunci tingkah laku bagi orang lain. Anak mengamati stimulus itu dan berupaya melakukan tingkah laku atau respon yang sama jenisnya dan menirunya secara persis. Jadi langkah pertama yang dilakukan oleh si peniru adalah meniru model melalui panca indera yang dia butuhkan untuk diamati dan dipelajari pola-polanya. Setelah anak mengamati pola-pola perilaku dari model melalui panca indera, maka dengan kemampuan persepsi, anak mengolah informasi dari model yang dilihatnya, sehingga membentuk aksi berupa gerakan motorik yaitu tingkah laku yang diimitasi.

Imitasi sering dikaitkan dengan teori belajar sosial dari Bandura, karena belajar sosial dikenal sebagai belajar observasi atau belajar dari model, yaitu proses belajar yang muncul dari pengamatan, penguasaan pada proses belajar imitasi, serta peniruan perilaku orang lain. Di dalam imitasi ada proses belajar meniru atau menjadikan model tindakan orang lain melalui pengamatan terhadap orang tersebut. Dalam teori belajar sosial, individu belajar tidak melalui pengkondisian, tetapi melalui pengamatan, ( Mukhlis, 2010).

Belajar adalah suatu aktivitas yang berproses, karenanya di dalamnya terjadi perubahan-perubahan yang bertahap, begitu pula pada imitasi. Menurut Saguni (2007) setiap individu melakukan proses belajar sosial yang terjadi dalam urutan tahapan peristiwa sebagai berikut:

  • Tahap perhatian ( attention phase ). Individu dapat belajar melalui observasi apabila ada model yang dihadirkan secara langsung ataupun tidak langsung, dan secara akurat ada aspek-aspek yang relevan dengan aktivitas model. Respon yang baru dapat dipelajari dengan cara melihat, mendengarkan dan memperhatikan orang lain, maka perhatian dalam hal ini menjadi sangat penting. Namun seperti yang diketahui, tidak semua model yang dihadirkan akan mendapatkan perhatian dari individu. Oleh karena itu, supaya dapat mengamati dan belajar dari model maka perlu diarahkan dan ditingkatkan perhatiannya.

    Cara yang dipakai tidak selalu sama untuk semua orang, misalnya anak- anak berbeda dari orang dewasa dalam mengarahkan perhatian. Namun secara umum untuk meningkatkan perhatian dapat digunakan reward dan penonjolan pada kualitas model misalnya model mempunyai daya tarik tertentu.

  • Tahap Retensi ( retention phase ). Setelah aktivitas model diobservasi, langkah selanjutnya adalah proses encoding dalam bentuk visual dan atau verbal symbol . Informasi yang diperoleh ini selanjutnya akan disimpan di memori dalam short-term memory ataupun long- term memory . Namun sebenarnya tidak semua informasi dari model akan disimpan oleh individu, jika individu tidak berminat dan tidak perhatian, biasanya informasi akan segera dilupakan. Informasi yang diterima akan lebih efektif jika disampaikan model secara visual ataupun verbal, tetapi untuk tahap perkembangan awal (anak-anak) informasi secara visual ternyata lebih baik mengingat perkembangan verbal anak-anak memang belum sempurna. Informasi yang sudah disimpan itu akan sangat membantu individu apabila sering diulang dengan latihan.

  • Tahap Reproduksi Motorik ( reproduction phase ). Apa yang telah disimpan dalam memori perlu diwujudkan dalam bentuk aktivitas. Dalam tahap reproduksi motorik ini feedback dapat diberikan untuk mengoreksi imitasi perilaku sehingga dapat dilakukan penyesuaian. Dalam proses ini diperlukan syarat-syarat tertentu agar aktivitas dapat terwujud, yaitu:

    • Individu mempunyai komponen skill yang mendukung terwujudnya aktivitas yang telah diamati.

    • Individu mempunyai kapasitas fisik untuk melakukan koordinasi aktivitas tersebut.

    • Hasil dari koordinasi ini dapat diamati

  • Tahap Motivasi ( motivation phase ). Tahap terakhir adalah tahap penerimaan dorongan yang dapat berfungsi sebagai reinforcement atau penguatan . Penguatan adalah bersemayamnya segala informasi dalam memori seseorang. Pada tahap motivasi ini reinforcement dapat digunakan sebagai motivator untuk merangsang dan mempertahankan perilaku agar diwujudkan secara aktual dalam kehidupan. Menurut Bandura ada tiga cara pemberian reinforcement, yaitu:

    • Secara langsung; reinforcement diberikan segera setelah perilaku muncul.

    • Vicarious reinforcement ; hanya dengan melihat orang lain merasakan akibatnya seolah-olah berlaku pada diri sendiri.

    • Self-reward ; dengan cara memotivasi diri sendiri, misalnya mengatakan diri sendiri mampu melakukan aktivitas.

Tahap-tahap yang telah diuraikan di atas, dimulai dari adanya perilaku individu sebagai model dan berakhir dengan tahap penerimaan stimulus, yang berfungsi sebagai reinforcement atau penguatan yang tersimpannya informasi pada individu tersebut sehingga munculnya suatu perilaku pengimitasian.

Dalam keseharian individu, keempat tahap itu tidak bisa terpisahkan karena tahap perhatian merupakan tahapan paling mendasar, yang tentunya anak akan mengalami perhatian untuk mengagumi suatu aktivitas yang membuat anak mengikutinya. Pada saat anak mengimitasi pada salah satu perilaku keagamaan misalnya pada gerakan sholat, awalnya perhatian anak akan tertuju pada aktivitas sang model yaitu sholat, kemudian mengingat-ingat apa yang sudah dilihatnya dalam bentuk simbolik berupa gerakan, dengan kemampuan motorik membantu memproduksi tingkah laku sehingga meniru gerakan sholat tersebut dan jenis reinforcement yang menyertainya dalam mempertahankan perilaku meniru gerakan sholat.