Bagaimanakah Struktur Makna Leksikal?


Pada kajian tataran makna terdapat makna leksikal.

Bagaimanakah struktur makna leksikal?

BATASAN LEKSIKAL

Istilah leksikal merupakan kata sifat dari lesikon (lexicon). Kata leksikon itu sendiri berasal dari bahasa Yunani lexicon yang artinya ‘kata’ atau ‘kosa kata’. Kata sifatnya leksikal, yakni sesuatu yang berkaitan dengan leksikon. Leksikon yang biasa juga disebut kosa kata, dapat diartikan sebagai berikut:

  • Kekayaan kata yang dimiliki oleh suatu bahasa.
  • Semua kata yang terdapat dalam suatu bahasa.
  • Idiolek: kata-kata yang dikuasai oleh seseorang atau dialek; kata-kata yang dipakai orang di lingkungan yang sama.
  • Istilah: kata-kata yang dipakai dalam suatu bidang ilmu pengetahuan.
  • Gloasarium: kamus yang sederhana, kamus dalam bentuk ringkas, daftar kata-kata dalam bidang tertentu dengan penjelasannya.
  • Komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaiannya.
  • Kamus: daftar sejumlah kata atau frasa dari suatu bahasa yang disusun secara alfabetis disertai batasan dan keterangan lainnya
  • Ensiklopedi: karya universal yang menghimpun uraian tentang beragai cabang ilmu atau bidang bidang ilmu tertentu dalam artikel-artikel terpisah terpisah dan tersusun menurut abjad.

Jika disarikan, leksikon atau kosa kata adalah sejumlah kata dalam suatu bahasa yang digunakan secara aktif maupun pasif, baik yang masih tersebar di kalangan masyarakat maupun yang sudah dikumpulkan berupa kamus.

KEGUNAAN LEKSIKON

Eksistensi bahasa dalam kehidupan manusia sebagai alat utama untuk berkomunikasi antar anggora masyarakatnya. Dalam komunikasi bahasa akan tergambarkan kehidupan (kebudayaan) masyarakat pemakainya. Bahasa menunjukkan bangsa. Pada prinsipnya pemakaian bahasa ialah penggunaan kata-kata atau kosa kata dalam kehidupan. Karena itu, terampil tidaknya seseorang menggunakan bahasa akan ditentukan oleh kuantitas dan kualitas kosa kata yang dimilikinya (Tarigan, 1985:2).

Kosa kata atau leksikon sangat bermanfaat dalam kehidupan, antara lain:

  • Meningkatkan taraf hidup, kemampuan mental dan perkembangan konseptual pemakai bahasa,
  • Mempertajam proses berfikir kritis
  • Memperluas cakrawala pendangan hidup pemakainya.

Dalam kaitannya dengan hal itu, Dale dkk. (1971:2-6) menjelaskan bahwa:

  1. Kuantitas dan kualitas, tingkatan dan kedalaman kosa kata seseorang, merupakan indeks pribadi yang terbaik bagi perkembangan mentalnya.
  2. Perkembangan kosa kata sejalan dengan perkembangan konseptual.
  3. Suatu program yang sistematis bagi pengembangan kosa kata akan dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, pendapatan, kemampuan bawaan, dan status sosial.
  4. Faktor-faktor geografis pun turut serta mempengaruhi perkembangan kosa kata seseorang.
  5. Telaah kosa kata yang efektif harus beranjak dari kata-kata yang telah diketahui menuju kata-kata yang belum atau tidak diketahui.

BENTUK LEKSIKAL

Bentuk adalah wujud atau rupa yang ditampilkan. Bentuk bahasa (form, expression, signifiant, surface structure) merupakan penampakan atau rupa satuan bahasa, satuan gramatikal, atau satuan leksikal dipandang secra fonis maupun grafius (periksa Kridalaksana, 1982:23). Dengan demikian, bentuk leksikal ialah rupa atau penampakan kosa kata atau leksikon suatu bahasa. Karena itu, bentuk leksikal akan berkaitan dengan pemadu leksikal (leksem), perwujudan leksem, leksikal, dan klasifikasi bentuk leksikal.

Pemadu Leksikal: Leksem

Kridalaksana (1982:98) menjelaskan bahwa leksem adalah satuan leksikal dasar yang abstrak serta mendasari pelbagai bentuk inflektif suatu kata. Misalnya: sleep, slept, sleeps, dan sleeping adalah bentuk-bentuk dari leksem sleep; kata atau frasa yang merupakansatuan bermakna; satuan terkecil dari leksikon.

Dalam karangannya yang lain, Kridalaksana (1987:52) menjelaskan bahwa leksem merupakan:

  1. Satuan terkecil dalam leksikon,
  2. Satuan yang berperan sebagai input dalam proses morfologis,
  3. Bahan baku dalam proses morfologis,
  4. Unsur yang diketahui adanya dari bentuk yang setelah disegmentasikan dari bentuk kompleks merupakan bentuk dasar yang lepas dari afiks, dan
  5. Bentuk yang tidak tergolong proleksem atau partikel.

Istilah leksem dalam leksikon dapat disamakan dengan istilah morfem dalam morfologi. Karena itu, jika morfem sebagai pemadu kata, leksem sebagai pemadu kosa kata atau leksikon. Singkatnya, leksem adalah satuan leksikal terkecil yang sama atau mirip yang berulang sebagai pemadu leksikon.

Perwujudan Leksem: Lekson dan Aloleks

Lekson (tata bahasa stratifikasi) ialah komponen dari leksem (Kridalaksana, 1982:99). Misalnya: unsur-unsur ‘tidak’ dan ‘ajakan’ adalah lekson-lekson yang membentuk leksem jangan. Istilah lain untuk lekson ialah leksis. Jika kita bandingkan istilah leksokon, leksem, lekson, dan alolek dalam tataran leksikologi, maka sejalan dengan istilah kata, morfem, morf, dan alomorf dalam tataran morfologi.

Usaha mendeskripsikan lekson dari lesem pernah dilakukan oleh MC Cawley (1973:157) dalam bukunya Grammar and Meaning, meskipun istilah yang digunakannya berbeda. Mc Cawley mendeskripsikan hal serupa dalam menganalisis makna kalimat dengan jalan mengabtraksikan Perdikat beserta Argumenargumennya. Analisis Predikat dan Argumen tersebut dilakukan sampai hal-hal yang lebih kecil, akhirnya usnur itu tidak dapat dianalisis lagi.

Analisis ini dilaksanakan dalam kebiasaan Tata Bahasa Kasus dengan rumus: X = Y — Z. Misalnya: kata membunuh (X) = membuat (Y) menjadi mati (Z) (Kridalaksana, 1976:143).

Pembahasan leksikon dan aloleks berkaitan erat dengan leksem. Leksem diwakili oleh lekson, bisa satu lekson atau beberapa lekson. Lekson-lekson itu tersusun dari fonem-fonem, dan masing-masing lekson dibedakan oleh bentuk fonemis dan maknanya. Karena itu, lekson dapat berupa:

  1. Fonem atau urutan fonem yang berasosiasi dengan suatu makna;
  2. Anggota leksem yang belum ditentukan distribusinya; dan
  3. Ujud konkret atau fonemis dari leksem.
    Beberapa lekson yang berbeda-beda bentuknya terwakili oleh satu semem, dan disebut aloleks. Jadi, aloleks adalah anggota satu leksem yang ujudnya berbeda, tetapi mewakili fungsi dan makna yang sama, atau anggota leksem yang telah ditentukan distribusinya. Untuk lebih menjelaskan leksem, lekson, dan aloleks, perhatikan contoh berikut. Leksem India memiliki struktur (India, Indo-), leksem sosial memiliki struktur (Sosial, sosio-), dan sebagainya. India, Indo-; sosial, sosio- masing-masing merupakan lekson, yang semuanya aloleks (anggota leksem yang sama) dari India dan sosial.

Pembentukan Leksikal

Bentuk leksikal atau leksikon adalah penampakan kosa kata dilihat dari unsur struktur atau struktur pembentuknya. Berdasarkan bentuknya, leksikon dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu: leksikon tunggal dan leksikon turunan (jadian, kompleks).

Proses leksemik atau leksikalisasi adalah pengungkapan kategori gramatikal-semantis menjadi sebuah unsur leksikal. Misalnya:

  • membuat + mati menjadi membunuh
  • tidak + mungkin menjadi mustahil

Penciptaan leksem atau leksikon baru (Kridalaksana, 1982:98). Jadi, proses leksemik sejalan dengan proses morfologis. Karena itu, proses morfologis dapat dipandang sebgai sub-sistem yang mengolah leksem menjadi kosa kata. Hal ini sesuai dengan pandangan Whorf (dalam Carrol, 1956:132) ketika membicarakan tipe-tipe derivasional bahwa ‘these may merge into or became identical with morpholo- gical categories, and in some languages this section is to be tranfered from the lexeme to the word: morphology’.

Dalam proses leksemik dan proses morfologis, leksem sebagai satuan berperanan sebagai masukan; sedangkan kata sebagai satuan gramatikal ber- peranan sebagai hasilan.

Terdapat anekaproses leksemik atau leksikalisasi yang sejalan dengan proses morfologis, antara lain, derivasi zero, afiksasi, reduplikasi, pemendekan, derivasi balik, dan perpaduan (lihat Kridalaksana, 1987:56-63).

1. Derivasi Zero (Perubahan Tanwujud)

Derivasi zero atau perubahan tanwujud ialah proses leksemik yang mengolah leksem tunggal menjadi (kosa) kata tunggal. Dalam proses ini leksem menjadi kata tunggal tanpa perubahan apa-apa. Misalnya: leksem lupa menjadi kata lupa.

2. Afikasasi (Pengimbuhan)

Afiksasi ialah proses leksemik yang mengubah leksem tungal menjadi kosa kata berimbuhan. Misalnya: leksem lupa menjadi kata melupakan setelah mengalami afiksasi dengan meN - - kan.

3. Reduplikasi (Pengulangan)

Reduplikasi ialah proses leksemik yang mengubah leksem menjadi kata kompleks dengan jalan penyebutan leksem sebagian atau seluruhnya. Misalnya: leksem rumah menjadi kata rumahrumah.

4. Pemendekaan (Abreviasi)*

Pemendekan ialah proses leksemik yang mengubah leksem atau gabungan leksem menjadi kata kompleks atau akronim (singkatan). Ada beberapa jenis pemendekan:

  • Pemenggalan (reduksi), misalnya: ibu menjadi bu.
  • Haplologi, misalnya: leksem tak dan akan menjadi takkan.
  • Akronim, misalnya: leksem bukti dan pelanggaran menjadi kata tilang.
  • Penyingkatan, misalnya leksem-leksem sekolah, menengah, dan atas menjadi SMA.

5. Derivasi Balik

Derivasi balik ialah proses leksemik yang masukkannya berupa leksem tunggal, dan hasilannya berupa kata yang secara historis muncul kemudian dari asalnya itu, kejadiannya seperti afiksasi. Misalnya: Leksem mungkir menjadi pungkir dalam bentuk seperti dipungkiri terjadi karena proses derivasi balik.

Kita tahu bahwa leksem mungkir lebih dulu ada daripada leksem pungkir, karena leksem itu berasal dari bahasa Arab dan pungkir hanya ada dalam bahasa Indonesia.

6. Perpaduan (Pemajemukan)

Perpaduan adalah proses leksemik yang menggabungkan beberapa leksem tunggal menjadi kata kompleks. Misalnya leksem daya dengan leksem juang menjadi kata daya juang.

Klasifikasi Bentuk Leksikal

Kosa kata atau leksikon dalam bahasa Indonesia dapat dikalsifikasikan menjadi beraneka ragam. Keanekaragaman bentuk leksikal itu masing-masing dipaparkan sebagai berikut:

1. Kosa Kata Aktif dan Kosa Kata Pasif

Dilihat dari frekuensi pemakaiannya, kosa kata dapat dibedakan menjasi dua bagian. Kosa kata aktif ialah kosa kata yang sering dipakai dalam komuni-kasi berbahasa, dan kosa kata pasif ialah kosa kata yang jarang atau tidak pernah dipakai lagi.

2. Kosa kata Asli dan Kosa Kata Serapan

Dilihat dari asal-usulnya, kosa kata dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu kosa kata asli dan kosa kata serapan. Kosa kata asli ialah kosa kata yang berasal dari bahsa kita sendiri, sedangkan kosa kata serapan ialah kosa kata yang berasal atau diserap dari bahasa daerah atau bahasa asing.

3. Kosa Kata Abstrak dan Kosa Kata Kongkret

Dilihat dari acuan atau rujukannya, kosa kata dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu kosa kata abstrak dan kosa kata kongkret. Kosa kata abstrak ialah kosa kata yang mempunyai rujukan berupa konsep atau pengertian, dan kosa kata kongkret ialah kosa kata yang mempunyai rujukan berupa obyek yang dapat dicerap oleh pancaindera (dilihat, diraba, dirasakan, didengar, atau dicium).

4. Kosa Kata Umum (Luas) dan Kosa Kata Khusus (Sempit)

Dilihat dari cakupannya, kosa kata dapat dibedakan menjadi dua bagian. Kosa kata umum ialah kosa kata yang luas cakupannya atau ruang lingkungpnya sehingga mencakup aneka hal, dan kosa kata khusus ialah kosa kata yang yang sempit atau terbatas cakupannya.

5. Kosa Kata Populer dan Kosa Kata Kajian

Dilihat dari ranah atau matranya, kosa kata dapat dibedakan menjadi dua bagian. Kosa kata populer ialah kosa kata yang dikenal dan dipakai oleh semua lapisan masyarakat dalam komunikasi sehari-hari, dan kosa kata kajian atau istilah ialah kosa kata yang dikenal dan dipakai oleh bidang tertentu atau dalam bidang keilmuan.

6. Kosa Kata Baku dan Kosa Kata Nonbaku

Dilihat dari kaidah ragam bahasa, kosa kata dapat dibedakan menjadi dua bagian. Kosa kata baku (standar) ialah kosa kata yang pemakaiannya mengikuti kaidah ragam bahasa yang telah ditentukan, dan kosa kata nonbaku ialah kosa kata yang epmakaiannya tidak mengikuti kaidah ragam bahasa yang telah ditentukan.

Referensi

http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_DAERAH/196302101987031-YAYAT_SUDARYAT/Makna%20dalam%20Wacana/STRUKTUR_MAKNA.pdf