Bagaimanakah sejarah jenderal A.H Nasution?

AH Nasution merupakan salah satu nama yang masuk dalam beberapa target jenderal yang dihabisi pada peristiwa Gerakan 30 September

Sejarah mencatat, Indonesia hanya punya tiga jenderal besar. Salah satunya Abdul Haris Nasution. Pria kelahiran Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, pada 3 Desember 1918 itu bersama Soeharto dan Soedirman, menerima pangkat kehormatan Jenderal Besar yang dianugerahkan saat HUT ABRI 5 Oktober 1997.

Tak ada yang bisa membantah peran besar Jenderal Besar yang karib disapa Pak Nas ini. Tidak saja matang di medan tempur serta karier kepangkatan yang panjang di tubuh militer Indonesia, Pak Nas juga dikenal sebagai sosok pemikir. Hal itu dibuktikan dengan 77 buku, jurnal, dan makalah yang pernah dia tulis.

Dari puluhan buku itu, yang paling fenomenal tentu saja buku Pokok-Pokok Gerilya . Buku inilah yang membuat nama Nasution mendunia dan diakui sebagai penggagas perang gerilya yang kemudian banyak diterapkan militer negara lain. Tak heran kalau Pak Nas juga dinobatkan sebagai Bapak Angkatan Darat Militer Indonesia.

Buku Pokok-Pokok Gerilya berisi pengalaman Pak Nas saat berjuang dan mengorganisir perang gerilya selama perang mencapai Kemerdekaan Indonesia. Pengalaman tempur juga dia dapatkan saat terjun dalam Revolusi Kemerdekaan (1946-1948) ketika memimpin Divisi Siliwangi. Berlanjut kemudian pada Revolusi Kemerdekaan II (1948-1949) saat menjabat Panglima Komando Jawa.

Dari momen itulah Nasution mendapat pelajaran berharga tentang perang gerilya sebagai bentuk perlawanan rakyat kepada penjajah. Strategi perang tersebut terus dipelajari hingga menjadi matang dan sulit ditaklukkan musuh.

Dalam buku itu, Pak Nas membeberkan bahwa peperangan abad ini adalah perang rakyat semesta. Ia menguraikan bahwa dalam peperangan bukan hanya kedua belah pihak angkatan bersenjata yang berperang. Peperangan menjadi lebih luas dan lebih dalam karena kemajuan teknik.

Peperangan dewasa ini meminta sifat yang semesta, seantero rakyat, baik harta dan tenaga tersedia untuk diolah, untuk mencapai kemenangan. Semua sumber-sumber yang tersedia itu harus dipergunakan.

“Untuk mengalahkan lawan, bukan saja harus dibinasakan angkatan bersenjatanya, melainkan harus demikian pula semua susunan dan lembaga politik dan sosial ekonominya. Perang dewasa ini, bergolak sekaligus di sektor militer, politik, psikologis, dan sosial-ekonomis. Maka sifat serangan adalah semesta,” demikian antara lain ditulis Pak Nas dalam bukunya.

Berkat metode perang gerilya itu pula, kemenangan diraih dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Padahal, militer Belanda pada masa itu sangat unggul dari sisi teknologi maupun kekuatannya. Faktor gerilyalah yang kemudian menjadi pembeda dan kunci keberhasilan yang diakui publik dunia.

Setelah melalui proses penulisan yang detail, buku tersebut diterbitkan pada 1953 oleh PT Pembimbing Masa. Sejak diterbitkan, Pokok-Pokok Gerilya menjadi salah satu buku yang paling banyak dipelajari oleh akademi militer di dunia bersama dengan karya-karya Mao Zedong.

Salah satunya adalah sekolah perwira militer Amerika Serikat, West Point. Buku yang antara lain diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul Strategy of Guerrilla Warfare itu menjadi rujukan banyak pendidikan militer dunia karena dianggap mampu menjawab pertanyaan besar militer dunia.

Pertanyaan itu adalah tentang faktor penyebab kekalahan yang dialami pasukan AS dalam Perang Vietnam. Padahal, dari sisi kekuatan personel dan peralatan tempur, AS tak ada lawan. Karena itulah perwira AS belajar dari buku Pokok-Pokok Gerilya karena cara dan siasat tentara Vietnam atau Vietkong identik dengan apa yang diungkapkan Pak Nas dalam bukunya.

Para komandan Vietkong disebut-sebut mempelajari gagasan Nasution untuk diterapkan dalam perang yang berlangsung sejak 1965 hingga 1973 itu. Mereka tidak melakukan peperangan frontal, namun bertahan di tengah hutan dengan perlawanan-perlawanan kecil. Dengan berbekal senapan serbu AK-47, perlahan perlawanan gerilyawan Vietkong membuat frustrasi tentara muda Amerika Serikat yang tidak berpengalaman di dalam hutan.

Berbagai peralatan canggih tentara Amerika Serikat tak berfungsi dalam hutan. Sebagai puncaknya, pada Maret 1973 Amerika Serikat meninggalkan Vietnam Selatan, dan tak lama kemudian Saigon jatuh ke tangan Vietnam Utara.

pertemuan, saran Nasution bahwa TKR harus melakukan perang gerilya melawan Belanda disetujui. Meski bukanlah Panglima TKR, Nasution memperoleh pengalaman peran sebagai Panglima Angkatan Bersenjata pada bulan September 1948 saat Peristiwa Madiun.

Pada 1 Oktober 1965, pasukan yang menyebut diri mereka Gerakan 30 September (G30S) mencoba menculik tujuh perwira Angkatan Darat antikomunis termasuk Nasution. Letnan Arief yang memimpin pasukan untuk menangkap Nasution, dan timnya yang terdiri dari empat truk dan dua mobil militer berjalan menyusuri Jalan Teuku Umar yang sepi pada pukul 04.00 WIB pagi. Rumah Nasution di Jalan Teuku Umar Nomor 40. Saat tiba, para penjaga rumah Nasution tak curiga dengan kedatangan mereka karena menggunakan pakaian layaknya tentara pada umumnya.

Sersan Iskaq, yang bertanggung jawab menjaga rumah saat itu sedang berada di ruang jaga yang terletak di ruang depan bersama beberapa tentara. Sedangkan, beberapa di antaranya sedang tidur. Dua ajudan Nasution yakni Letnan Muda Pierre Tendean dan Ajun Komisaris Polisi Hamdan Mansjur pun sedang tertidur.

Sebelum alarm menyala, pasukan Letnan Arief telah melompat pagar dan menguasai para penjaga yang mengantuk di pos jaga dan ruang jaga. Lainnya masuk dari seluruh sisi rumah dan menutupinya dari belakang. Sekitar lima belas tentara masuk ke rumah.

Nasution dan istrinya terganggu oleh nyamuk dan terjaga. Mereka tidak mendengar para penjaga yang telah dikuasai tapi Nyonya Nasution mendengar pintu dibuka paksa. Dia bangkit dari tempat tidur untuk memeriksa dan membuka pintu kamar tidur, ia melihat tentara Cakrabirawa (pengawal presiden) dengan senjata siap menembak.

Dia menutup pintu dan berteriak memberitahu suaminya. Nasution ingin melihatnya dan ketika dia membuka pintu, tentara menembak ke arahnya. Dia melemparkan dirinya ke lantai dan istrinya membanting dan mengunci pintu. Orang-orang di sisi lain mulai menghancurkan pintu bawah dan melepaskan tembakan-tembakan ke kamar tidur.

Nyonya Nasution mendorong suaminya keluar melalui pintu lain dan menyusuri koridor ke pintu samping rumah. Nasution berlari ke halaman rumahnya menuju dinding yang memisahkan halamannya dengan Kedutaan Besar Irak. Dia ditemukan oleh tentara yang kemudian menembaknya tapi meleset. Memanjat dinding, Nasution mengalami patah pergelangan kaki saat ia jatuh ke halaman Kedutaan Irak untuk bersembunyi.

Seluruh penghuni rumah terbangun dan ketakutan oleh penembakan itu. Ibu dan adik Nasution, Mardiah, juga tinggal di rumah dan berlari ke kamar tidur Nasution. Mardiah membawa putri Nasution Ade Irma Suryani Nasution (5) dari tempat tidurnya, memeluk erat anak itu dalam pelukannya, dan mencoba lari ke tempat aman.

Saat ia berlari, seorang kopral dari penjaga istana melepaskan tembakan ke arahnya melalui pintu. Irma tertembak dan menerima tiga peluru di punggungnya. Dia meninggal lima hari kemudian di rumah sakit. Sementara putri sulung Nasution, Hendrianti Saharah (13) dan perawatnya Alfiah sudah lari ke rumah pondok ajudan Nasution dan bersembunyi di bawah tempat tidur.

Tendean mengambil senjatanya dan lari dari rumah, tapi ia tertangkap dalam beberapa langkah. Dalam kegelapan, ia membuat kesalahan dan sudah berada di bawah todongan senjata. Setelah mendorong suaminya keluar rumah, Nyonya Nasution lari ke dalam dan membawa putrinya yang terluka.

Saat ia menelepon dokter, pasukan Cakrabirawa menuntutnya agar memberitahu mereka di mana keberadaan suaminya. Kabarnya dia melakukan percakapan singkat sambil marah-marah dengan Arief dan mengatakan kepadanya bahwa Nasution sedang keluar kota selama beberapa hari. Pasukan itu pun pergi dari rumah Nasution dan membawa Tendean pergi dengan mereka.

Nasution terus bersembunyi di halaman tetangganya sampai pukul 06.00 WIB ketika ia kembali ke rumahnya dalam keadaan patah pergelangan kaki. Nasution kemudian meminta ajudan untuk membawanya ke Departemen Pertahanan dan Keamanan karena dia pikir itu akan lebih aman di sana. Nasution kemudian mengirim pesan kepada Soeharto di markas Kostrad, mengatakan kepadanya bahwa ia masih hidup dan aman.

Setelah mengetahui bahwa Soeharto mengambil alih komando tentara, Nasution kemudian memerintahkan dia untuk mengambil langkah-langkah seperti mencari tahu keberadaan presiden, menghubungi Panglima Angkatan Laut RE Martadinata, Komandan Korps Marinir R Hartono serta Kepala Kepolisian Soetjipto Joedodihardjo, dan mengamankan Jakarta dengan menutup semua jalan yang mengarah ke sana.

Angkatan Udara tidak termasuk karena Panglima Omar Dhani dicurigai sebagai simpatisan G30S. Soeharto segera mengintegrasikan perintah tersebut ke dalam rencananya untuk mengamankan kota.

Sekira pukul 14.00 WIB, setelah Gerakan 30 September mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi, Nasution mengirim perintah lain untuk Soeharto, Martadinata dan Joedodihardjo. Dalam rangka itu, Nasution mengatakan bahwa ia yakin Soekarno telah diculik dan dibawa ke markas G30S di Halim. Dia langsung memerintahkan ABRI untuk membebaskan Presiden, memulihkan keamanan Jakarta, dan yang paling penting, menunjuk Soeharto sebagai kepala operasi.

Namun, pesan datang dari Soekarno di Halim. Soekarno telah memutuskan untuk menunjuk loyalisnya, Mayjen Pranoto Reksosamodra untuk mengisi posisi Panglima Angkatan Darat dan diminta menemuinya. Soeharto tidak mengijinkan Pranoto pergi tapi ia tahu bahwa Soekarno tidak akan menyerah untuk mencoba memanggil Pranoto. Untuk memperkuat posisi tawar, Soeharto meminta Nasution untuk datang ke Markas Kostrad.

Nasution tiba di markas Kostrad sekitar pukul enam sore, Soeharto mulai mengerahkan pasukan Sarwo Edhie Wibowo untuk mengamankan Jakarta dari Gerakan 30 September. Di sana, Nasution akhirnya menerima pertolongan pertama untuk pergelangan kakinya yang patah. Setelah Jakarta aman, Martadinata datang ke markas Kostrad dengan salinan Keputusan Presiden yang menunjuk Pranoto. Setelah melihat keputusan tersebut, Soeharto mengundang Martadinata dan Nasution ke ruangan untuk membahas situasi.

Nasution meminta Martadinata bagaimana caranya presiden datang untuk menunjuk Pranoto. Martadinata menjawab bahwa pada sore hari ia, Joedodihardjo, dan Dhani telah menghadiri pertemuan dengan Soekarno di Halim untuk memutuskan siapa yang harus menjadi Panglima Angkatan Darat setelah Yani tewas.

Pertemuan telah memutuskan bahwa Pranoto harus menjadi Panglima Angkatan Darat. Nasution mengatakan bahwa penunjukan Soekarno tidak dapat diterima karena penunjukan datang ketika Soeharto telah memulai operasi. Nasution dan Soeharto kemudian mengundang Pranoto dan meyakinkannya untuk menunda menerima pengangkatannya sebagai Panglima Angkatan Darat sampai setelah Soeharto selesai menumpas percobaan kudeta.

Dengan pasukan Sarwo Edhie, Jakarta dengan cepat berhasil diamankan. Soeharto kemudian mengalihkan perhatiannya ke Halim dan mulai membuat persiapan untuk menyerang pangkalan udara. Nasution memerintahkan angkatan laut dan polisi untuk membantu Soeharto dalam menumpas Gerakan 30 September.

Untuk angkatan udara, Nasution mengeluarkan perintah mengatakan bahwa mereka tidak akan dihukum atas pembangkangan jika mereka menolak untuk mematuhi perintah Panglima Angkatan Udara Laksamana Udara Omar Dhani. Pada pukul 06.00 WIB tanggal 2 Oktober, Halim berhasil diambil alih dan Gerakan 30 September secara resmi dikalahkan.

Pada 5 Oktober 1997, bertepatan dengan hari ABRI, Nasution dianugerahi pangkat Jenderal Besar bintang lima. Nasution tutup usia di RS Gatot Soebroto pada 6 September 2000, dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Abdul Haris Nasution dikenal sebagai seorang Jenderal Besar selain Jenderal Sudirman dan Soeharto. Nasution juga merupakan peletak dasar perang gerilya dan juga tokoh militer penting yang lolos dari maut kala peristiwa G30S/PKI.

Biografi Jenderal A.H Nasution Singkat

Jenderal Abdul Haris Nasution lahir di Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada tanggal 3 Desember 1918. Pria Tapanuli ini lebih menjadi seorang jenderal idealis yang taat beribadat. Ia dibesarkan dalam keluarga tani yang taat beribadat. Ayahnya bernama H. Abdul Halim Nasution dan ibunya bernama Zahara Lubis. Ayahnya adalah anggota pergerakan Sarekat Islam di Kotanopan, Tapanuli Selatan.

Jenderal A.H Nasution atau biasa disapa Pak Nas ini senang membaca cerita sejarah. Anak kedua dari tujuh bersaudara ini melahap buku-buku sejarah, dari Nabi Muhammad SAW sampai perang kemerdekaan Belanda dan Prancis.

Riwayat Pendidikan

Dalam biografi Jenderal A.H Nasution diketahui bahwa ia memulai pendidikannya di Hollandsch Inlandsche School (HIS) dan tamat pada tahun 1932. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan menengahnya dan tamat pada tahun 1935. Ia kemudian berangkat ke Yogyakarta untuk melanjutkan sekolahnya di sekolah guru. Pada tahun 1938, Ia meneruskan pendidikannya di AMS (Algemeene Middelbare School) bagian B di Jakarta dan lulus pada tahun 1938.

Riwayat Pekerjaan

Setelah menyelesaikan pendidikannya di pulau Jawa, A.H Nasution kemudian kembali ke pulau Sumatera dan menjadi guru di Bengkulu kemudian Palembang. Profesi tersebut ia lakoni selama dua tahun.

Masuk di Dunia Militer

Di tahun 1940, A.H Nasution mendaftar prajurit di sekolah perwira cadangan yang dibentuk oleh Belanda. Setelah lulus, ia kemudian ditempatkan sebagai pembantu letnat di Surabaya. Ketika invasi Jepang ke Indonesia pada tahun 1942, A.H Nasution ikut bertempur melawan jepang di Surabaya. Namun kemudian para pasukan yang bertempur bersamanya bubar, A.H Nasution sendiri kemudian pergi ke Bandung. Disana ia menjadi seorang pegawai pamong praja. Tak lama kemudian, ia kembali masuk militer dan menjabat sebagai wakil komandan barisan pelopor di Bandung pada tahun 1943.

Kekalahan Jepang pada tahun 1945 dan merdekanya Indonesia membuat A.H Nasution bersama dengan para bekas tentara PETA kemudian mendirikan Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang menjadi cikal bakal TNI.

Karir militernya kemudian merangkak. Di bulan maret tahun 1946, A.H Nasution ditunjuk sebagai Panglima Divisi III/Priangan. Di bulai Mei 1946, Presiden Soekarno melantiknya sebagai Panglima Divisi Siliwangi. Pada tahun 1948, Ketika pemberontakan PKI yang dipimpin oleh Muso pecah di Madiun, Nasution memimpin pasukannya menumpas pemberontakan tersebut.

Penggagas Perang Gerilya (Guerrilla Warfare)

Ketika memimpin Divisi Siliwangi, A.H Nasution menarik pelajaran bahwa Rakyat mendukung TNI. Disinilah kemudian ia kemudian mengagas metode atau taktik perang gerilya atau Guerrilla Warfare yang diartikan sebagai bentuk perang rakyat. Buku yang ditulis oleh A.H Nasution berjudul Strategy of Guerrilla Warfare . Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing. Buku ini juga menjadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite bagi militer dunia, West Point Amerika Serikat (AS).

Metode perang ini dengan leluasa dikembangkannya setelah A.H Nasution menjadi Panglima Komando Jawa dalam masa Revolusi Kemerdekaan ketika agresi militer Belanda pada tahun 1948 hingga 1949. Setelah itu, beliau diangkat oleh presiden Soekarno kala itu menjadi Wakil Panglima Besar TNI dibawah Jenderal Besar Sudirman. Setelahnya, ia kemudian pindah posisi sebagai Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang Republik Indonesia. Di akhir tahun 1949, A.H Nasution kemudian menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

A.H Nasution kemudian menikah dengan Johana Sunarti, yang merupakan putri kedua dari R.P. Gondokusumo, aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak muda, Pak Nas gemar bermain tenis. Pasangan itu berkenalan dan jatuh cinta di lapangan tenis (Bandung) sebelum menjalin ikatan pernikahan. Pasangan ini dikaruniai dua putri namun salah satunya wafat yakni Ade Irma Nasution ketika G30S/PKI meletus. Dimasa mudanya, A.H Nasution sangat mengagumi Ir. Soekarno namun setelah masuk dalam jajaran TNI, ia kerap akur dan tidak akur dengan presiden pertama itu. Ia menganggap Ir. Soekarno ikut campur tangan dan memihak salah satu kelompok ketika terjadi pergolakan di internal Angkatan Darat tahun 1952. Dalam biografi Jenderal A.H Nasution diketahui bawa ia adalah orang yang berada di balik ”Peristiwa 17 Oktober”, yang menuntut pembubaran DPRS kemudian melakukan pembentukan DPR baru. Ir. Soekarno kala itu tidak senang dan kemudian memberhentikan A.H Nasution sebagai KSAD.

Namun Bung Karno kemudian mengangkatnya kembali pria yang akrab disapa pak Nas sebagai KSAD pada tahun 1955. Ia diangkat setelah meletusnya pemberontakan PRRI/Permesta. Pak Nas dipercaya Bung Karno sebagai co-formatur pembentukan Kabinet Karya dan Kabinet Kerja.

Di tahun 1957, A.H Nasution ikut dalam kancah politik Indonesia. Tahun 1957, terjadi pemberontakan PRRI/Permesta, Soekarno kemudian menyatakan status negara dalam keadaan perang. Ia ditunjuk sebagai Penguasa Perang Pusat. Pemberontakan kemudian dipadamkan dengan cepat.

Di tahun 1959, A.H Nasution mengajukan gagasan pada Soekarno bahwa UUD harus “kembali ke UUD 1945”. Gagasan ini kemudian melahirkan dekrit presiden tertanggal 5 Juli 1959. Memasuki awal tahun 1960an, Hubungan antara A.H Nasution dan Presiden Soekarno menjadi tidak akur atau renggang. Sejak awal 1960-an, hubungan kedua tokoh itu mulai renggang. Kala itu Jenderal A.H Nasution menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan Indonesia.

Target Utama PKI

A.H Nasution tidak suka dengan sikap Ir Soekarno kala itu yang dekat dengan PKI. Ketika peristiwa G30/S PKI meletus pada tahun 1965, Jenderal A.H Nasution menjadi salah satu target dari PKI untuk diculik dan dilenyapkan bersama dengan Ahmad Yani dan beberapa jenderal lainnya. Namun upaya tersebut gagal karena A.H Nasution dapat melarikan diri dengan melompat lewat jendela. Namun ia harus kehilangan putrinya yakni Ade Irma Nasution yang tertembak ketika terjadi penculikan serta ajudannya Pierre Tendean yang disangka sebagai A.H Nasution.

Pasca G30S/ PKI, Jenderal A.H Nasution kemudian bekerja sama dengan Soeharto yang kala itu menjabat sebagai Pangkostrad menumpas habis para pimpinan dan pengikut PKI. Nasution juga merupakan tokoh yang sangat menentang PKI seperti menentang usul mempersenjatai buruh dan tani.

Beliau juga yang memimpin sidang istimewa MPRS yang kemudian melengserkan Ir Soekarno dari jabatannya sebagai presiden Indonesia pada tahun 1967 dan mengangkat Soeharto sebagai Presiden Indonesia kedua. Pasca Soeharto berkuasa sebagai Presiden, Jenderal A.H Nasution bertahun-tahun dikucilkan dan dianggap sebagai musuh politik pemerintah Orde Baru. Bahkan Kalau ada jenderal yang mengalami kesulitan air bersih sehari-hari di rumahnya, maka itulah A.H Nasution.

Tangan-tangan terselubung memutus aliran air PAM ke rumahnya, tak lama setelah A.H Nasution pensiun dari militer. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, keluarga Pak Nas terpaksa membuat sumur di belakang rumah. Usai tugas memimpin MPRS tahun 1972, jenderal besar yang pernah 13 tahun duduk di posisi kunci TNI ini, tersisih dari panggung kekuasaan. Ia lalu menyibukkan diri menulis memoar. Sampai pertengahan 1986, lima dari tujuh jilid memoar perjuangan A.H Nasution telah beredar.

Kelima memoarnya, Kenangan Masa Muda, Kenangan Masa Gerilya, Memenuhi Panggilan Tugas, Masa Pancaroba, dan Masa Orla. Dua lagi memoarya yakni Masa Kebangkitan Orba dan Masa Purnawirawan. Masih ada beberapa bukunya yang terbit sebelumnya, seperti Pokok-Pokok Gerilya, TNI (dua jilid), dan Sekitar Perang Kemerdekaan (11 jilid).

Tokoh Petisi 50

Jenderal A.H Nasution merupakan salah satu tokoh yang menandatangani Petisi 50 bersama Hoegeng, Ali Sadikin serta beberapa tokoh lainnya. Petisi ini memprotes penggunaan filsafat negara Pancasila oleh Presiden Soeharto terhadap lawan-lawan politiknya. Ini juga menjadikan ia sebagai musuh nomor satu oleh penguasa Orde Baru. Walaupun dianggap sebagai musuh orde baru, Soeharto juga memberikan gelar Jenderal Besar dengan pangkat bintang lima pada A.H Nasution.

Jenderal A.H Nasution Wafat

Jenderal Besar Abdul Haris Nasution menghembuskan nafas terakhirnya di RS Gatot Subroto tanggal 6 september di tahun 2000. Itu merupakan bulan yang sama ia masuk daftar PKI untuk dibunuh. Jasadnya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. Atas jasa-jasanya pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional. Namanya juga dipakai sebagai nama beberapa jalan di Indonesia.

Sumber : https://www.biografiku.com/biografi-jenderal-ah-nasution.

“Tentara yang tidak mendapat dukungan rakyat pasti kalah.”

Jenderal Besar A.H. Nasution adalah sosok yang tak mungkin dilupakan oleh bangsa ini. Tokoh ini bisa tampil tegar, misalnya dalam mengambil sikap ketika kekuatan komunis merajalela, tetapi Pak Nas juga bisa menitikkan air mata ketika melepas jenazah tujuh Pahlawan Revolusi di awal Oktober 1965.

Pak Nas dikenal sebagai penggagas Dwifungsi ABRL Konsep yang digagasnya telah menyimpang ke arah yang destruktif. Orde Baru yang ikut didirikannya (walaupun ia hanya sesaat saja berperan di dalamnya) telah menafsirkan konsep itu dalam peran ganda militer yang sangat represif dan eksesif. Tentara tidak lagi menjadi pembela rakyat, tetapi ber­ main dalam lapangan politik.

Selain konsepsi dwifungsi ABRI, ia dikenal seba­ gai peletak dasar perang gerilya. Gagasan perang gerilya dituangkan dalam bukunya yang fenomenal, Strategy of Guerrilla Warfare. Selain diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, karya itu menjadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite militer dunia, West Point, Amerika Serikat.

Abdul Haris Nasution lahir 3 Desember 1918, di Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Anak petani ini bergelut di dunia militer setelah sebelumnya sempat menjadi guru di Bengkulu dan Palem­ bang. Tahun 1940, ketika Belanda membuka sekolah perwira cadangan bagi pemuda Indonesia, ia ikut mendaftar. Selanjutnya, ia menjadi pembantu letnan di Surabaya. Tahun 1942 ia mengalami pertempuran pertamanya saat melawan Jepang di Surabaya. Pasu­ kannya bubar. Bersepeda, ia lari ke Bandung. Di kota ini ia bekerja sebagai pegawai pamong praja. Tidak betah dengan pekerjaan sebagai priyayi, tahun 1943 ia masuk militer lagi dan menjadi Wakil Komandan Barisan Pelopor di Bandung.

Setelah Jepang kalah perang, Nasution bersama para pemuda eks-Peta mendirikan Badan Keamanan Rakyat. Karirnya langsung melesat dan Maret 1946, ia diangkat menjadi Panglima Divisi Ill/Priangan. Mei 1946, ia dilantik Presiden Soekarno sebagai Pang­ lima Divisi Siliwangi. Februari 1948, ia menjadi Wakil Panglima Besar TNI (orang kedua setelah Jenderal Soedirman). Tapi, sebulan kemudian jabatan “Wa­pangsar” dihapus dan ia ditunjuk menjadi Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang RI. Di penghujung 1949, ia diangkat menjadi KSAD.

Dalam Revolusi Kemerdekaan I (1946-1948), ke­tika memimpin Divisi Siliwangi, A.H. Nasution betul­betul mempelajari arti dukungan rakyat dalam suatu perang gerilya. Dari sini lahir gagasannya tentang metode perang gerilya sebagai bentuk perang rakyat. Metode perang ini dengan leluasa dikembangkannya setelah Pak Nas menjadi Panglima Komando Jawa pada masa Revolusi Kemerdekaan II (1948-1949). Ia menyusun Perintah Siasat No. I, yang berisi juklak “tentang persiapan perang gerilya. Instruksi tersebut kemudian dikenal sebagai doktrin pertahanan rakyat total”. Doktrin itu sampai hari ini masih dianut militer Indonesia.

Pak Nas merupakan sosok yang bisa mengambil jarak terhadap kekuasaan. Meski mengaku menga­ gumi Soekarno, ia tidak menyangkal kalau sering terlibat konflik dengan presiden pertama RI ini. Perang dingin di antara keduanya muncul ketika ia tidak bisa menerima intervensi politisi sipil dalam persoalan internal militer. Ia lalu mengajukan petisi agar Bung Karno membubarkan Parlemen (Peristiwa 17 Okto­ ber 1952). Karena dianggap menekan Presiden akhirnya Pak Nas dicopot dari jabatannya. Tapi, konflik internal AD tak kunjung reda, sehingga tahun 1955 Bung Karno memberikan lagi jabatan yang sama. Hubungan keduanya pun mulai membaik. Bahkan KSAD jadi co-fonnateur dalam pembentukan Kabinet Karya dan Kabinet Kerja.

Selanjutnya, giliran Pak Nas yang menyeberang ke pentas politik. Tahun 1957, terjadi pemberontakan PRRI Permesta, Bung Karno menyatakan SOB (negara dalam keadaan perang). Ia ditunjuk sebagai Penguasa Perang Pusat dan pemberontakan bisa dipatahkan dengan cepat. Tapi, di konstituante, para anggota parlemen terus berdebat tentang UUD baru. Pertengahan 1959, perdebatan menjurus pada perpecahan. Sebagai Penguasa Perang, Pak Nas mengajukan gagasan pada Bung Kamo untuk “kembali ke UUD 1945”. Tangga15 Juli 1959, keluarlah Dekrit Presiden yang bersejarah itu.

Tapi bulan madunya dengan Soekamo tidak berlangsung lama. Sejak awa11960-an, hubungan kedua tokoh itu mulai renggang. Ia tak bisa menerima sikap Bung Kamo yang dekat dengan PKI. Pertentangan antara keduanya akhimya menjadi rivalitas terbuka pasca peristiwa G 30 S. Pak Nas bekerjasama dengan Pangkostrad Mayjen Soeharto, menumpas habis PKI. Bung Karno tidak mau “menyalahkan” PKI. Akhir­ nya Pemimpin Besar Revolusi itu pun terguling.

Nasution nyaris menjadi korban G 30 S. Namanya termasuk dalam daftar penculikan. Beruntung, ia dapat lolos dari kepungan, walaupun kehilangan puterinya, Ade Irma Suryani. Pak Nas memang sosok yang berani terang-terangan menentang komunis. Pada tahun 1948 ia memimpin pasukan Siliwangi menumpas pemberontakan PKI di Madiun. Ia juga aktif menghalangi manuver-manuver PKI, antara lain menentang usul mempersenjatai buruh dan tani.

Awal pemerintahan Orde Baru, Pak Nas sempat berperan. Semula, beberapa tokoh AD, seperti Kemal ldris, H.R.Dharsono, dan Sarwo Edi, mendesaknya untuk menjadi presiden. Tetapi, Pak Nas hanya menjadi Ketua MPRS. Tahun 1968, lewat keputusannya, MPRS mengangkat Soeharto menjadi presiden.

Kemesraan Nasution-Soeharto juga tidak lama. Setelah Soeharto berkuasa, Nasution malah disingkirkan. Keterlibatannya dalam Petisi 50 dianggap sebagai biang keladinya. Puncaknya, 1972, setelah 13 tahun memimpin angkatan bersenjata, Nasution dipensiunkan dini dari dinas militer. Sejak saat itu Nasution tersingkir dari panggung politik.

Dalam masa tuanya, Pak Nas sempat dibelit persoalan hidup. Rumahnya di JI. Teuku Vmar Jakarta, tampak kusam dan tidak pernah direnovasi. Secara misterius pasokan air bersih ke rumahnya terputus, tak lama setelah Pak Nas pensiun. Namun, setelah 21 tahun dikucilkan, tiba-tiba Nasution dirangkul lagi oleh Soeharto. Tanggal 5 Oktober 1997, bertepatan dengan hari ABRI, prajurit tua yang dikenal taat beribadah itu dianugerahi pangkat Jenderal Besar bintang lima. Selain Nasution, ada dua jenderal yang menyandang bintang lima sepanjang sejarah RI: yaitu Soedirman dan Soeharto.

Abdul Haris Nasution tutup usia di RS Gatot Soebroto, pukul 07.30 WIB, pada tanggal 6 September 2000.