Bagaimanakah sejarah Agama Islam masuk ke Nusantara ?

sejarah_islam

(Putra Dwiki Anggara) #1

Proses menyebarnya agama Islam di bumi Nusantara sungguh unik, mengingat masyarakat yang awalnya beragama Hindu-Budha, dengan serta merta dapat menerima ajaran agama Islam. Agama Islam menjadi agama yang dianut oleh mayoritas penduduk bumi Nusantara saat ini. Bagaimanakah sejarah Agama Islam masuk ke Nusantara ?


(Johan Kusuma Wijaya) #2

Terdapat empat teori utama terkait bagaimana ajaran Agama Islam menyebar di Nusantara, terutama Indonesia. Nusantara sendiri mempunyai wilayah yang lebih luas dibandingkan wilayah Indonesia saat ini.

Nusantara digunakan untuk menyebut wilayah yang sekarang disebut Kepulauan yang meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Brunei Darussalam.

Teori Arab


Beberapa tokoh yang mengusung teori ini adalah Crawfurd (1820), keyzer (1859), Niemann (1861), De Hollander (1861) dan Veth (1878). Sedangkan Tokoh dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang mendukung teori ini diantranya adalah Hamka, A. Hasymi, dan Syed Muhammad Naquib Al-Attas.

Pada acara Seminar ”Sejarah Masuk masuknya Islam di Indonesia” pada tahun 1962, Hamka menyebutkan bahwa kehadiran Islam di Indonesia telah terjadi sejak Abad Ke -7 dan berasal dari Arab. Pendapat ini di dasarkan pada berita Cina yang menyebutkan bahwa pada Abad ke- 7 terdapat sekelompok orang yang di sebut Ta-shih yang bermukim di kanton (Cina) dan Fo-lo-an (termasuk daerah Sriwijaya) serta adanya utusan Raja Ta-shih kepada Ratu Sima di Kalingga Jawa ( 654/655 M) . sebagian ahli menafsirkan Ta-shih sebagai orang Arab.

Crawfurd menyatakan bahwa Islam datang langsung dari Arab. Sedangkan Keyzer beranggapan bahwa Islam datang dari Mesir yang bermazhab Syafi’i, sama seperti yang di anut kaum Muslimin Nusantara umumnya.

Teori ini juga di pegang oleh Neiman dan De Holander, tetapi dengan menyebut bahwa Islam datang ke Nusantara dari Hadramaut, bukan Mesir, sebab Muslim Hadramaut adalah pengikut Mazhab Syafi’i seperti juga kaum muslimin Nusantara. Sedangkan Veth hanya Orang-orang Arab, tanpa menunjuk asal di Timur-Tengah maupun kaitannya dengan Hadramaut, Mesir atau India.

Teori India


Teori India merupakan teori yang mengatakan bahwa Islam di Nusantara dari India. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Pijnapel pada 1872. Berdasarkan terjemahan perancis tentang catatan perjalanan Sulaeman, Marcopolo, dan Ibnu battuta, Ia menyimpulkan bahwa Islam di Asia Tenggara di sebarkan oleh orang-orang Arab yang bermazhab Syafi’i dari Gujarat dan Malabar di India. Oleh karena itu Nusantara, menurut teori ini menerima Islam dari India.

Kenyataan bahwa Islam di Nusantara berasal dari India menurut teori ini tidak menunjukan secara menyakinkan dilihat dari segi pembawanya. Namun Pijnapel mengemukakan bahwa Islam di Nusantara bersal dari orang-orang Arab yang bermazhab Syafi’i yang bermigrasi ke Gujarat dan Malabar. Pijnapel sebenarnya memandang bahwa Islam di Nusantara di sebarkan oleh orang-orang Arab. Pandangan ini cukup memberikan pengertian bahwa pada hakikatnya penyebar Islam di Nusantara adalah orang-orang Arab yang telah bermukim di India.

Pendukung lain dari teori ini adalah Snouck Hurgronje. Ia berpendapat bahwa ketika Islam telah mengalami perkembangan dan cukup kuat di beberapa kota pelabuhan di anak benua India, sebagian kaum Muslim Deccan tinggal disana sebagai pedagang, perantara dalam perdagangan timur tengah dengan Nusantara.

Orang-orang Deccan inilah kata Hourgronje datang ke dunia Melayu – Indonesia sebagai penyebar Islam pertama. Orang-orang Arab menyusul kemudian pada masa-masa selanjutnya.62 Mengenai waktu kedatangannya, Hourgronje tidak menyebutkan secara pasti. Ia juga tidak menyebutkan secara pasti wilayah mana di India yang yang di pandang sebagi tempat asal datangnya Islam di Nusantara. Ia hanya memberikan prediksi waktu, yakni abad ke 12 sebagai periode yang paling mungkin sebagi awal penyebaran Islam di Nusantara

Dukungan yang cukup Argumentatif atas teori India di sampaikan oleh W.F. Stutterheim. Ia dengan jelas menyebutkan bahwa Gujarat sebagai Negeri asal Islam masuk ke Nusantara. Pendapatnya di dasarkan pada argument bahwa Islam disebarkan melalui jalur dagang antara Nusantara – Camabay (Gujarat) – Timur Tengah – Erofa.

Argumentasi ini di perkuat dengan pengamatannya terhadap nisan-nisan makam Nusantara yang di perbandingkan dengan nisannisan makam di Wilayah Gujarat. Relief nisan Sultan pertama dari kerajaan Samudera (pasai), Al –Malik al- Saleh (wafat 1297) menurut pengamatan Stutterheim bersifat Hinduistis yang mempunyai kesamaan dengan nisan yang terdapatdi Gujarat. Kenyataan ini cukup memberikan keyakinan pada dirinya bahwa Islam datang ke Nusantara dari Gujarat.

Teori yang di kemukakan Stutterheim mendapat dukungan dari Moquette, sarjana asal Belanda. Penelitian Moquette terhadap bentuk batu nisan membawanya pada kesimpulan bahwa Islam di Nusantara berasal dari Gujarat.

Moquette menjelaskan bahwa bentuk batu nisan, khususnya di Pasai mirip dengan batu nisan pada makam Maulana Malik Ibrahim (wafat 822 H/ 1419 M) di Gresik Jawa Timur. Sedangkan bentuk batu nisan di kedua wilayah itu sama dengan batu nisan yang terdapat di Camabay (Gujarat). Kesamaan bentuk pada nisan-nisan tersebut menyakinkan Moquette bahwa batu nisan itu diimpor dari India. Dengan demikian Islam di Indonesia, menurutnya, bersal dari India, yaitu Gujarat. Teori ini di kenal dengan “teori batu nisan”

Teori Benggali


Teori Benggali merupakan teori yang menyatakan bahawa Islam datang dari Benggali (Kini Bangladesh). Teori ini dikembangkan oleh S.Q Fatimi dan dikemukakan pula oleh Tome Pires. Ada beberapa alasan mengapa kedua tokoh ini berkeyakinan demikian. Tome pires berpendapat bahwa kebanyakan orang-orang terkemuka di Pasai adalah orang Benggali atau keturunan mereka.

Pendapat ini dikembangkan oleh Fatimi. bahwa Islam muncul pertama kali di Semenanjung Melayu yakni dari arah timur pantai bukan dari barat Malaka, melalui Kanton, Pharang (Vietnam), Leran, dan Trengganu. Proses awal Islamisasi ini, menurutnya terjadi pada abad ke-11 M.

Masa ini di buktikan dengan ditemukannya batu nisan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun yang wafat pada tahun 475 H. atau 1082 M di Leran Gresik.

Berkenaan dengan teori batu nisan dari Stutterheim dan Moquette yang menyatakan Islam di Nusantara berasal dari India. Fatimi menentang keras pendapat itu, menurutnya bahwa menghubung-hubungkan seluruh batu nisan di Pasai dengan batu nisan dari Gujarat adalah suatu tindakan yang keliru.

Berdasarkan hasil pengamatannya, Fatimi menyatakan, bentuk dan gaya batu niasan Al-Malik Al- Saleh berbeda dengan batu nisan yang ada di Gujrat. Ia berpendapat bentuk dan gaya batu nisan itu mirip dengan batu nisan yang ada di Benggal. Oleh karena itu, batu nisan tersebut pasti di datangkan dari Benggal bukan dari Gujarat.

Analisis ini di pergunakan Fatimi untuk membangun teorinya yang menyatakan bahwa Islam di nusantara berasal dari Benggal. Tetapi terdapat kelemahan substansial pada pendapat Fatimi, bahwa perbedaan Mazhab Fiqih yang dianut Muslim Nusantara yaitu Mazhab Syafi’i yang berbeda dengan yang ada di Benggali, yaitu Mazhab Hanafi. Perbedaan mazhab Fiqih ini menjadikan teori Fatimi lemah dan tidak cukup kuat diyakini kebenarannya.

Teori Tionghoa


Teori ini mengutip teori Emanuel Godinho de Eradie seorang ilmuan Spanyol yang menulis pada 1613 M terkait dengan penyebaran ajaran Agama ISlam.

“ Sesungguhnya Aqidah Muhammad telah di terima di Pattani dan Pam di pantai Timur kemudian di terima dan di kembangkan Paramesywara pada 1411 M."

Sementara itu ekspedisi Laksamana Cheng-Ho yang memasuki Nusantara menimbulkan dugaan bahwa Islam bisa dimungkinkan datang melalui Cina. A. Dahana, Guru besar studi Cina, Universitas Indonesia (UI) Depok, berpendapat perkiraan bahwa Cheng-Ho juga menyebarkan Islam dalam Ekspedisinya tidak mengada-ada. Fakta ini bisa di telusuri dari faktor Tionghoa dalam Islamisasi Asia Tenggara. Selama ini katanya arus Islamisasi yang di kenal hanya berasal dari dua tempat yaitu Gujarat dan Timur Tengah.

“Munculnya teori tentang peran warga Tionghoa dalam penyebaran Islam di Nusantara merupakan proses pengayaan khazanah kesejarahan kita.”

Prof. Hembing Wijayakusama dalam kata pengantar buku Laksamana Cheng-Ho menyatakan bahwa Cheng-Ho berjasa besar dalam penyebaran agama Islam, pembauran dan peningkatan sumber daya manusia dalam bidang perdagangan, dan pertanian bagi daerah yang dikunjunginya. Cheng-Ho memiliki peran besar dalam membentuk Masyarakat Muslim Tionghoa dan membangun hubungan Diplomatik dan persahabatan antara Negara Tiongkok dan masyarakat Indonesia serta dengan masyarakat dunia lainnya.

Slamet Mulyana, ahli sejarah, seperti yang di kutip Azyumardi Azra, juga menyinggung kemungkinan Islam di Nusantara “bersal dari Cina.” Hubungan antara Nusantara dan Cina lanjut Azra sudah terjalin sejak masa pra- Islam, sehingga meninggalkan berbagai jejak historis penting. Sumber-sumber Cina bahkan memberi informasi-informasi yang cukup penting tentang Nusantara, termasuk pada masa-masa awal kedatangan Islam di Nusantara.

Riwayat perjalanan pendeta pengembara terkenal I-Tsing yang singgah di pelabuhan Sribuzza (Sriwijaya) pada 671 telah mencatat kehadiran orang-orang Arab dan Persia disana. Riwayat pengembara Chau Ju Kua juga memberitakan tentang adanya koloni Arab di Pesisir Barat Sumatera, yang paling mungkin di Barus.

Sumber-sumber Cina ini sangat penting, tetapi masalahnya adalah sulitnya mengidentifikasi nama-nama (orang dan tempat) yang mereka sebutkan dengan nama-nama yang di kenal dalam Sejarah Nusantara.

Referensi :

  • Naquib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan kebudayaan Melayu, Bandung ; Mizan, 1997
  • Uka Tjandrasasmita, Sejarah Nasional Indonesia III, Jakarta: Depdikbud,1975
  • Alwi bin Thahrir Al- Haddad, Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh, (Jakarta: Lentera, 2001.
  • Azra, Jaringan Ulama Timur- Tengah dan Nusantara
  • A. Hasymi, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Bandung: AlMa’arif, 1993.
  • Didin Saepudin, Proses Islamisasi Penduduk Indonesia dalam Perspektif Sejarah,
  • Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng-Ho,Misteri perjalanan Muhibah di Nusantara, Jakarta : Pustaka Popular Obor, 2005
  • Azyumardi Azra, Historiografi Islam Kontemporer, Jakarta: Gramedia. 2002

(Suseno) #3

Ada yang berpendapat bahwa ajaran Agama Islam masuk ke Indonesia melalui Persia. Pencetus teori ini adalah P.A. Hoesein Djajadiningrat, yang berpendapat bahwa agama Islam yang masuk dan berkembang di Nusantara berasal dari Persia, singgah ke Gujarat, itu terjadi sekitar abad ke-13.

  • Pandangan dalam teori ini berbeda dengan teori Gujarat dan Mekkah. Dalam teori ini lebih memusatkan kepada kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat Islam di Indonesia, dan disinyalir memiliki persamaan dengan Persia. Di antaranya adalah:

  • Peringatan Asyura atau 10 Muharram sebagai peringatan Syi’ah atas Syahidnya Husein.

  • Kesamaan antara Syaikh Siti Jenar dengan ajaran Sufi Iran al-Hallaj, meskipun al-Hallaj telah meninggal pada 310 H atau 922 M, akan tetapi ajarannya terus berkembang dalam bentuk puisi.

  • Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja atau membaca huruf Arab.

  • Nisan pada makam Malik Saleh pada tahun 1297 dan makam Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik dipesan dari Gujarat.

  • Pengakuan umat Islam di Nusantara terhadap Madzhab Syafi’i sebagai madzhab utama di wilayah malabar.


(Arisha Yonna Tanu) #4

Penyebaran Agama Islam di Maluku

Tanah Maluku terkenal sebagai pulau penghasil rempah-rempah terbesar di dunia. Rempah-rempah yang dihasilkan antara lain cengkeh dan pala. Karena kekayaan alam di tanah Maluku menyebabkan tanah Maluku banyak dikunjungi oleh pedagang diseluruh dunia. Seiring dengan gerak niaga tersebut, agama Islam menyebar luas di Maluku melalui jalur perdagangan.

Agama Islam memasuki Maluku melalui para pedagang dari muballigh-muballigh Islam yang ikut serta bersama para pedagang. Pengaruh agama Hindu juga masuk ke tanah Maluku, akan tetapi unsur dari pengaruh agama Hindu tersebut kurang kuat untuk menumbuhkan suatu kebudayaan agama di sana. Dengan sendirinya pengaruh agama tersebut menghilang perlahan-lahan.

Kemudian pada tahun 1500 agama Islam sudah mulai berkembang luas di antara kerajaan-kerajaan Maluku Utara. Tokoh pemeluk agama Islam yang pertama adalah Kolano Marhum (1465-1486) adalah seorang Raja (penguasa Ternate ke-18) pertama yang memeluk agama Islam bersama seluruh kerabat dan pejabat istana.

Kemudian menurun ke anaknya yaitu Zainal Abidin (1486-1500) yang meninggalkan gelar keluarga kerajaannya ‘Kolano’ menjadi ‘Sultan’. Sultan Zainal Abidin menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan, dan syariat Islam diberlakukan untuk membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan melibatkan para ulama.

Hal tersebut diikuti oleh kerajaan lain di Maluku tanpa diubah sedikitpun. Kemudian Sultan Zainal Abidin sang pencetus, mendirikan madrasah yang pertama di Ternate. Beliau mempunyai cukup ilmu untuk menyebarkan agama Islam.

Kabarnya ia pernah berguru pada Sunan Giri di pulau Jawa dan dikenal sebagai “Sultan Bualawa” (Sultan Cengkih).

Pada abad ke-13, Kampung Wawane Provinsi Maluku, adalah tempat dimana penduduk lokal asli Maluku menganut animisme. Satu abad kemudian, datanglah para pedagang-pedagang dari Jawa ke wilayah ini. Mereka tidak hanya berdagang, namun tujuan utama mereka adalah mengenalkan agama Islam di daerah tersebut.

Masyarakat kampung Wawane yang menganut animisme, sedikit demi sedikit meninggalkan paham itu demi agama Islam yang dibawa oleh para pedagang Jawa. Masjid Wapaue, adalah masjid tertua di Indonesia yang menjadi simbol bahwa agama Islam masuk ke daerah Maluku pada tahun 1414. Masjid ini dinamakan ‘Wapaue’ karena letaknya di bawah pohon mangga.

Dalam bahasa Maluku ‘Wapa’ berarti bawah, sementara ‘Uwe’ adalah mangga. Masjid ini didirikan oleh saudagar kaya yang bernama Perdana Jamillu dan Alahulu.


(Ayu Paramitha) #5

Sejarah Masuknya Islam di Jawa Barat


Berdasarkan sumber sejarah lokal Tartar Sunda, konon pemeluk agama Islam yang pertama kali di Tatar Sunda adalah Bratalegawa. Bratalegawa adalah putra kedua Prabu Guru Panggandiparamarta JayadewaBrata atau Sang Buni Sora penguasa kerajan Galuh. Dia memilih hidupnya sebagai Saudagar besar sehingga banyak berpergian ke daerah atau negeri lain. Seperti ; Sumatera, Semenanjung Melayu, Campa, Cina, Sri Langka, India, Persia, bahkan Arab pernah dikunjunginya. Di Negara-negara itu Ia menjalin persahabatan dan persaudaraan sehingga banyak sahabat dan perkenalannya, baik sesama Niagawan maupun Pejabat setempat.

Di Gujarat, India, Ia mempunyai sahabat sekalipun rekanya berniaga bernama Muhammad. Muhammad mempunyai anak gadis bernama Farhana, dan Bratalegawa menjatuhkan pilihannya kepada gadis itu untuk dijadaikan istri. Bratalegawa kemudian memeluk agama Islam, kawin dengan Farhanah, lalu mereka kedua menunaikan ibadah Haji ke Mekah, dan Bratalegawa berganti nama menjadi Haji Baharuddin Al jawi.

Dari Mekah mereka kembali ke Galuh, Negara asal Bratalegawa. Disana mereka mengunjingi Ratu Banawati, Adik bungsunya yang sudah menjadi Istri salah satu seorang Raja bawahan Galuh. Mereka membujuk Banawati agar mau memeluk agama Islam, tetapi tidak berhasil. Kemudian mereka pindah ke Cirebon Girang, tempat kakak laki-lakinya berkuasa.

Upaya mengajak kakaknya memeluk agama Islam juga gagal. Kegagalan itu tidak sampai menyebabkan putusnya hubungan darah mereka. Dan Haji Baharuddin tetap memberikan bantuan kepada kedua saudaranya jika diperlukan. Di Galuh mereka tercata sebagai orang Islam dan haji pertama oleh karena itu Ia kemudian dikenal dengan gelarnya Haji Purwa Galuh atau Haji Purwa saja: Purwa berati pertama.

Bila kisah Haji Purwa ini di jadikan titik tolak masuknya Islam di Jawa Barat, hal ini mengandung arti bahwa :

Pertama, agama Islam yang pertama kali masuk ke Jawa Barat berasal dari Makah (teori Arab) yang dibawa oleh pedagang (Bratalegawa).
Kedua , pada tahap awal kedatangannya, agama Islam tidak hanya menyentuh daerah Pesisir Utara Tatar Sunda, namun diperkenalkan juga di daerah perdalaman. Akan tetapi agama itu tidak segera menyebar secara luas dimasyarakat. Hal ini disebabkan tokoh penyebarnya belum banyak dan pengaruh Hindu dari kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda Pajajaran terhadap Masyarakat setempat masih kuat.

Peran bangsa Arab dalam perniagaan di perairan Asia telah di kenal sejak Abad ke-4 Masehi. Pada abad ke-10 Masehi, Perniagaan Dunia Timur telah mereka kuasi . di sepanjang perjalanan, mereka mendirikan koloni-koloni sebagai tempat tinggal mereka, seperti di Pantai Utara Sumatera, Pelabuhan Kanton dan lain-lain.

Oleh karena itu, sangat terbuka kemungkinan apabila Haji Purwa, Saudagar dari Galuh yang hidup pada pertengahan Abad ke -15, telah di Islamkan pada waktu sedang berniaga, karena hubungan perdagangan Cina dengan Indonesia, India, Timur- Tengah, dan sebaliknya telah terjadi sejak awal abad Masehi.

Lebih lanjut, Carita Purwaka Caruban Nagari menguraikan tentang Pada tahun (1416 Masehi), Angkatan laut Cina melakukan perjalanan keliling atas perintah Kaisar Cheng-tu atau Yeng-lo, Raja ketiga dari Dinasti Ming. Armada tersebut dipimpin oleh Laksamana Cheng-Ho atau Sam-po Tay-Kam yang telah memeluk Agama Islam. Perjalanan tersebut juga disertai seorang juru tulis yang bernama Ma-huan.

Armada tersebut terdiri dari 63 kapal dengan 27.800 prajurit. Tujuan utamanya adalah menjalin persahabatan dengan Raja-raja tetangga Cina di seberang lautan. Dalam armada ini terdapat Syaikh Hasanuddin. Mereka singgah di Pesambangan (Pelabuhan Muara Jati Cirebon). Ki Gedeng Jumanjati pada waktu itu sebagai penguasa pelabuhan Muara jati, Ia bersahabat dengan para Ulama Islam yang berasal dari Mekah dan Campa, antara lain Syaikh Hasanudin dari Campa.

Itulah beberapa kemungkinan terjadinya pengenalan Agama Islam pada Masyarakat Jawa Barat, yang mungkin pula selanjutnya diikuti dengan proses Islamisasi di daerah Jawa Barat, baik dari sumber-sumber Portugis maupun sumber-sumber tradisi.

Makin bertambah banyaknya saudagar dan tokoh-tokoh Islam yang berdatangan ke pelabuhan Muara jati (Cirebon), makin membuka kemungkinan masyarakat di daerah itu khususnya dan daerah-daerah Jawa Barat lain umumnya untuk dapat mengenal agama Islam, serta terjadinya proses Islamisasi di daerah tersebut.

Dengan didukung oleh kekerabatan, sifat toleransi khususnya dalam kehidupan beragama, dan sifat masyarakat pantai yang lebih terbuka terhadap hal-hal baru pula memungkinkan terjadinya proses Islamisasi di daerah Jawa Barat.

Sebagian besar Sumber-sumber Tradisi Cirebon selalu mengawali uraian tentang Islamisasi di daerah Jawa Barat dengan aktivitas Guru Agama Islam, yaitu Syaikh Quro di Karawang. Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, nama asli Syaikh Quro Karawang adalah Syaikh Hasanudin. Ia adalah putera Syaikh Yusuf Shiddiq, seorang Ulama terkenal dari Campa.90

Sumber lain yang menunjukan datangnya Islam pertama kali di Jawa Barat adalah naskah Carita Ratu Carbon Girang Japura dan Singapura. Naskah ini antara lain mengkisahkan pada tahun 1418 M telah datang di Negeri Singapura (Wilayah Cirebon) rombongan pedagang dari Campa, dimana di dalamnya terdapat Syaikh Hasanuddin bin Yusuf Sidik seorang Ulama penyiar agama Islam.

Kemudian setelah beberapa saat tinggal di Singapura, lalu Syaikh Hasanudin pergi lagi dan menetap di Karawang. Beliau mendirikan Pesantren Quro, sehingga Syaikh Hasanudin di kenal dengan nama Syaikh Quro91 Syaikh Quro adalah Ulama pertama yang mendirikan Pesantren di Jawa Barat pada tahun 1338 Caka (1416 Masehi.) di Pura Dalem Karawang. Ia bermaksud menyebarkan Agama Islam di pulau Jawa bagian Barat .

Referensi :

  • Ayatrohaedi, Sundakala "Cuplikan Sejarah Sunda berdasarkan Naskah-Naskah“, Panitia Wangsakerta Cirebon, Jakarta: Pustaka jaya, 2001
  • Sri Mulyati, “Carita Ratu Carbon Girang, Japura dan Singapura, transliterasi dan Terjemahan disertai kajian teks”, Bandung : Museum Negeri Propinsi Jawa Barat “SRI BADUGA”, 1999
  • Atja, “Carita Purwaka Caruban Nagari : Karya Sastra sebagai Sumber Pengetahuan Sejarah”, Bandung: Proyek Permuseuman Jawa Barat, 1986
  • Edi S. Ekadjati, “Penyebaran Agama Islam di Jawa Barat dalam Sejarah Jawa Barat dari Masa Pra sejarah hingga Masa Penyebaran Agama Islam”, Bandung: Proyek Penunjangan Peningkatan Kebudayaan Nasional Propinsi Jawa Barat, 1975

(mandala aditya) #6

Islam di Papua


Sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Papua sama halnya dengan sejarah Islamisasi di daerah-daerah lain Nusantara. Sebagian besar juga melalui jalur perdagangan. Letak Papua yang strategis inilah menjadi perhatian dunia barat serta para pedagang lokal.

Papua kaya akan barang galian atau tambang yang tidak ternilai harganya, serta kekayaan rempah-rempah, sehingga papua dijadikan target oleh para pedagang untuk mencari hasil. Kepulauan Papua secara geografis terletak pada daerah pinggiran Islam di Nusantara. Sehingga Islam di Papua termasuk dalam kajian para sejarawan lokal maupun asing.

Masuknya Islam di tanah Papua juga masih menjadi perdebatan di antara pemerhati, peneliti, maupun para keturunan raja-raja di daerah Raja Ampat-Sorong, Fak-Fak, Kaimana, dan Bintuni-Manokwari. Di-antara mereka saling berpendapat bahwa Islam lebih dahulu datang di daerahnya yang dapat dibuktikan dengan tradisi lisan tetapi tanpa didukung dengan bukti-bukti tertulis maupun bukti arkeologis.

Saksi bisu masuknya Islam di tanah Papua adalah berdirinya Masjid Patimburak di Distrik Kokas, Fak-Fak. Masjid ini dibangun oleh Raja Wertver I, yang memiliki nama kecil ‘Semempe’.

Pada tahun 1870, agama Islam dan Kristen sudah menjadi agama yang hidup saling berdampingan di Papua. Wertver sang Raja tak ingin kepercayaan rakyatnya terpecah belah. Oleh sebab itu Wertver membuat sayembara, dimana masing-masing agama ditantang untuk membangun tempat ibadahnya masing-masing. Islam membangun masjid dan Kristen membangun Gereja di sana. Masjid didirikan di daerah Patimburak, sedangkan Gereja didirikan di Bahirkendik.

Dalam sayembara tersebut dikatakan bahwa, apabila salah satu di antara kedua agama tersebut dapat menyelesaikan bangunannya dalam jangka waktu yang ditentukan, maka seluruh rakyat Wertver akan memeluk agama tersebut.

Pada akhirnya masjidlah yang berdiri di tanah Papua untuk pertama kalinya. Maka Raja dengan bijaksana melaksanakan janji yang ia buat. Raja Wertver beserta seluruh rakyatnyapun akhirnya memeluk agama Islam pada masa itu. Bahkan raja Wertver menjadi Imam dengan mengenakan pakaian kebesarannya, yaitu Jubah, Sorban, serta tanda pangkat dibahu-nya.

Dalam sejarah islamisasi kepulauan Papua, terdapat tujuh pendapat (teori) mengenai masuknya agama Islam yaitu:

1. Teori Papua

Teori ini berkembang berdasarkan pandangan adat dan legenda yang melekat pada sebagian masyarakat papua, terutama yang terdapat di wilayah fak-fak, Kaimana, Manokwari dan Raja Ampat (sorong). Teori ini berpendapat bahwa Islam tidak berasal dari luar Papua dan tidak dibawa serta disebarkan oleh kerajaan ternate dan tidore, serta pedagangan muslim dari Arab, Sumatera, Jawa, maupun Sulawesi.

Mereka meyakini bahwa Islam berasal dari kepulauan Papua itu sendiri yaitu sejak Allah SWT menciptakan kepulauan Papua. Mereka juga berpendapat bahwa kepulauan Papua adalah tempat turunnya nabi Adam dan Hawa.

2. Teori Aceh

Sejarah masuknya Islam di Fak-fak ditandai dengan datangnya Muballigh yang berasal dari Aceh yaitu Abdul Ghafar di Fatagar Lama, kampung Rumbati Fak-fak. Muballigh tersebut berdakwah selama 14 tahun (1360-1374 M) di Rumbati dan sekitarnya. Setelah menyebarkan agama Islam di daerah tersebut, kemudian beliau wafat pada tahun 1374 M dan dimakamkan pula di belakang masjid kampung Rumbati.

3. Teori Arab

Agama Islam mulai masuk dan diperkenalkan di kepulauan Papua pertama kali yaitu di wilayah Jazirah Onin (Patimunin-Fak-Fak) oleh seorang sufi yaitu Syarif Muaz Al-Qathan yang bergelar Syekh Jubah Biru dari negri Arab.

Hal ini dibuktikan dengan adanya Masjid Tunasgain yang telah berumur sekitar 400 tahun.

4. Teori Jawa

Berdasarkan silsilah keluarga Abdullah Arfan pada tanggal 15 Juni 1946, yang berpendapat bahwa orang pertama yang memeluk agama Islam adalah Kawalen yang kemudian menikahi seorang Muballigh asal Cirebon yaitu Siti Hawa Farouk.

Setelah memeluk agama Islam Kawalen berganti nama menjadi Bayajid. Jadi jika dilihat dari silsilah keluarga tersebut, Kawalen merupakan nenek moyang dari keluarga Arfan yang pertama kali memeluk agama Islam.

5. Teori Banda

Halwany Michrob berpendapat bahwa Islamisasi di Papua khususnya wilayah Fak-fak disebarkan oleh pedagang-pedagang Bugis melalui Banda yang kemudian diteruskan ke Fak-fak melalui Seram Timur oleh Hawaten Attamimi, yaitu seorang pedagang dari Arab yang telah lama menetap di Ambon.

Michrob juga berpendapat Islamisasi yang telah dilakukan oleh dua orang yang berasal dari Banda yaitu Salahuddin dan Jainun dengan cara ‘Khitanan’, tetapi pada saat itu kedua Muballigh tersebut dibawah tekanan penduduk setempat. Mereka ditekan oleh penduduk dengan perjanjian khitan, apabila yang di’khitan’ meninggal, maka kedua muballigh tersebut akan dibunuh. Jika tidak, maka penduduk akan masuk Islam. Namun kedua muballigh tersebut berhasil dalam khitanan yang mereka lakukan, dan penduduk berduyun-duyun masuk agama Islam.

6. Teori Bacan

Arnold berpendapat bahwa Raja Bacan yang pertama kali masuk Islam adalah Zainal Abidin yang memerintah pada tahun 1521 M. Pada saat itu raja bacan telah menguasai suku-suku di Papua serta pulau-pulau disebelah barat lautnya seperti Waigeo, Misool, Waigama dan Salawati.

Kemudian beliau memperluas daerah kekuasaannya sampai ke semenanjung Onin Fak-fak. Berkat pengaruhnya dan para pedagang muslim maka penduduk sekitar pulau tersebut memeluk agama Islam.

7. Teori Maluku Utara (Ternate-Tidore)

Penyebaran Islam dikabupaten Fak-fak terjadi sekitar pertengahan abad ke-15. Proses masuknya melalui jalur perdagangan, perkawinan, pendidikan non formal, dan politik. Islam masuk ke wilayah tersebut tidak terlepas dari pengaruh kesultanan Ternate dan Tidore sebagai pelopor Islamisasi di Indonesia bagian Timur.