Bagaimanakah review film 99 cahaya di Langit eropa?


Initial release: November 29, 2013
Director: Guntur Soeharjanto
Screenplay: Hanum Salsabiela Rais
Nominations: Citra Award for Best Supporting Actor, MORE
Music composed by: Fatin Shidqia, Joseph S. Djafar

Ada kesamaan dari beberapa display picture teman-teman saya di social media akhir-akhir ini. Semuanya tampak sedang bergaya dengan background Musée du Louvre atau Museum Louvre yang terletak di Paris. Apakah ada hubungannya dengan film 99 Cahaya Di Langit Eropa yang berlokasi di tempat ini? Entahlah, tapi yang jelas euphoria terhadap film ini cukup terasa di media sosial.

Film 99 Cahaya Di Langit Eropa diangkat dari novel non fiksi yang berjudul sama karya Hanum Salsabiela Rais dan suaminya Rangga Mahendra.Film ini berlokasi di 4 negara yaitu Vienna (Austria) , Paris (Prancis) , Cordoba (Spanyol) dan Istanbul (Turki).

Film ini menceritakan perjalanan spiritual yang dialami Hanum dan Rangga ketika tinggal di Eropa selama 3 tahun untuk menyelesaikan program S3 Rangga di WU Vienna.Selama 3 tahun itu mereka menyadari bahwa ada yang menarik dari sekedar Menara Eiffel,Tembok Berlin,Colosseum Roma ataupun San Siro stadium.

Semuanya berawal dari pertemuan Hanum dengan Fatma, muslimah asal Turki yang ditemuinya di kelas Bahasa Jerman di Vienna. Melalui Fatma,banyak misteri di benua Eropa yang sangat berhubungan erat dengan Islam.Seperti peralatan makan pada jaman dahulu yang disimpan di Museum Louvre ternyata berkaligrafikan tulisan Arab, kaligrafi di kerudung Bunda Maria yang ternyata tulisannya Lailahailallah,alasan Napoleon membangun Louvre, Arc de Triomphe du Caroussel dan Arc de Triomphe de l’Étoile dalam satu garis menuju tenggara dan lain sebagainya.

Dari film ini saya mendapatkan suatu pemahaman bahwa Islam yang diwakili bangsa Turki itu sangatlah besar, kuat dan berpengaruh pada masanya. Jika saja Kara Mustapha Pasha dapat mengalahkan Austria pada saat itu,mungkin Eropa tidak akan seperti sekarang ini.Overall saya sangat puas dengan film, walaupun saya sedikit terganggu dengan satu adegan di film ini.
Pada bagian pertama menceritakan bagaimana berada di negara orang lain selama 3 tahun adalah suatu perjalanan jauh yang menarik untuk belajar, menambah pengalaman, berpetualang, dan mencari tahu hal-hal baru. Eropa menyimpan begitu banyak rahasia dan misteri tentang Islam. Namun, kini hubungan antara keduanya semakin merenggang sehubungan dengan adanya pihak-pihak yang memperkeruh keadaan. Maka, seolah-olah di masa sekarang, Eropa tak menyimpan peradaban Islam dan dikuasai oleh masyarakat non-Islam. Akan tetapi, yang sebenarnya Eropa adalah satu dari segelintir negara yang pertama kali dikuasai Islam sehingga banyak sekali benda-benda, bangunan, dan peninggalan Islam di Eropa.
Novel ini juga menceritakan seorang imigran Turki yang tinggal di Wina, Austria yang merupakan keturunan dari Kara Islami Pasha, pejuang Islam yang gagal mempertahankan Islam namun kerja keras beliau sangatlah besar. Hanum dan Fatma lalu mengatur rencana untuk melihat jejak-jejak Islam dari barat hingga ke timur Eropa. Dari Andalusia Spanyol hingga ke Istanbul Turki. Hingga pada akhirnya, perjalanan ini justru mengantarkannya ke Kota Paris, pusat ibukota peradaban di Eropa.
Di Paris inilah, Hanum bertemu dengan Marion Latimer yang merupakan seorang mualaf. Ia bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris. Marion menunjukkan bahwa Eropa adalah tempat yang memiliki bukti banyak tentang kebesaran Islam. Penjelasan dari Marion ini membuat Hanum semakin yakin bahwa Islam adalah agama yang besar dan sempurna. Di kerudung Bunda Maria terdapat bukti kebesaran Allah yaitu bertuliskan lafal “Lailahailallah”.
Pada bagian kedua, terdapat beberapa konflik yang terjadi seperti masalah keluarga yang menerpa rumah tangga Hanum dan Rangga dimana ada kecemburuan karena Maarja selalu berusaha untuk mendekati Rangga dan menarik simpatiknya. Di sisi lain konflik semakin kompleks antara Stephan dan Khan karena perbedaan pendapat perihal sebuah keyakinan bahkan tak jarang dipicu oleh hal-hal kecil.
Di bagian kedua ini juga, latar belakang kehidupan para pemain lebih ditekankan sebagaimana kisah pilu Khan atas tujuannya menimba ilmu di benua biru hingga kisah menyedihkan di kala sang ayah harus tutup usia karena konflik peperangan di negaranya, Pakistan.
Pada bagian ini pun menitik beratkan pada sebuah perjalanan menapaki sejarah islam yang kali ini di awali dari Spanyol. Bangunan megah nan Indah bernama Cordoba yang menjadi saksi dimana peradaban islam pernah berjaya di masa lampau. Cordoba pernah difungsikan menjadi masjid namun kemudian beralih fungsi menjadi gereja, namun begitu masih jelas terlihat sisa-sisa peradaban islam di dalamnya.
Perjalanan kedua adalah menjajaki Turki, perjalanan Hanum dan Rangga di lakukan tatkala mereka mendapat kabar keberadaan Fatma. Ia meminta Hanum dan Rangga untuk singgah ke Turki sebelum bertolak ke Tanah air karena masa pendidikan Rangga yang telah selesai. Hanum dengan sangat antusias mereka pun berhasil menjumpai Fatma meski kabar duka pun harus di terimanya. Gadis kecil yang telah menyentuh hati Hanum telah pergi untuk selamanya karena kanker yang di deritanya.
Sutradara : Guntur Soeharjanto
Penulis Naskah : Hanum Rais, Rangga Almahendra
Pemain: Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Raline Shah, Dewi Sandra, Nino Fernandez, Marissa Nasution, Alex Abbad, Fathin Sidqia, Gecchae

sumber : http://rubik-search.blogspot.co.id/2016/04/ulasan-atau-review-film-99-cahaya-di.html