Bagaimanakah konsep kebahagiaan menurut Islam?

kebahagiaan

(Ayyara Yuan Nisaka) #1

Menurut Imam Al-Ghaz al i (1058M-1111M), kebahagiaan ditafsirkan sebagai penyatuan antara ilmu, amal, rohani dan jasmani.

Ciri-ciri kebahagiaan yang dijelaskan oleh Al-Ghazali adalah terletak kepada semua ilmu yang bermanfaat kepada manusia mencakupi ilmu teori dan ilmu amali.

  • Ilmu teori adalah tergolong daripada ilmu mengenal Allah, Malaikat, Kitab, Rasul dan ilmu akidah karena seluruhnya mempunyai tempat yang tertinggi yakni mengenal Allah. Al-Ghazali menyatakan ilmu mengenal Allah SWT (ma„rifat Allah) adalah kunci kebahagiaan.

  • Ilmu amali ialah ilmu yang diterapkan dalam perbuatan dan amalan dalam keseharian seperti sosial, undang-undang, politik, syariah, ekonomi dan sebagainya. Dengan adanya hal tersebut kebahagiaan akan tercapai jika kesemua ilmu-ilmu teori dan amali digabungkan karena kedua-dua ilmu tersebut memberi kebaikan serta kenikmatan kepada hidup manusia.

Menurut Syamsi, kebahagiaan tidak terletak pada apa yang kita miliki, akan tetapi kebahagiaan terletak pada bagaimana kemampuan kita memanfaatkannya dengan baik dan tepat. Kebahagiaan juga tidak terletak pada apa yang kita inginkan, tetapi terletak pada manfaat yang bisa kita dapatkan dari kebahagiaan tersebut.

Mengikuti petunjuk Allah, itulah jalan kebahagiaan.

Kebahagiaan adalah kondisi dimana jiwa terdapat perasaan tenang, damai, ridha terhadap diri sendiri, dan puas terhadap ketetapan Allah. Kebahagiaan merupakan keimanan kepada Allah dan penguasaan terhadap makna dari ibadah serta memahaminya dengan pemahaman yang sempurna dan menerapkannya dalam kehidupan seluruhnya baik yang berkenaan dengan perkara umum ataupun khusus.

Kebahagiaan adalah hasil dari perbuatan di dunia yang langsung dirasakan. Tetapi ada juga kebahagiaan yang dinikmati di akhirat, yaitu di dalam surga yang kenikmatannya tidak pernah terputus. Adapula manusia yang sukses atau bahagia di dunia, namun celaka atau mederita di akhirat dan mendapatkan tempat di neraka. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh firman Allah Surat Hud ayat 105-108:

“Di kala datang hari itu, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia (105). Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih) (106). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki (107). Adapun orang-orang yang berbahagia, Maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya (108).

Makna kebahagiaan di dunia dan akhirat yang dijelaskan dalam AlQuran merupakan penjelasan yang memberi makna bahwa bagaimana kesuksesan dapat menjadi suatu kenikmatan, yakni ketika seseorang memperoleh surga (mendapat keridhaan Allah) dan ketika kesuksesan itu berasal dari ketenangan jiwa dan keadilan antara manusia.

Mereka yang berbahagia adalah hamba Allah SWT yang paling banyak timbangan kebaikannya ketika datang hari perhitungan (yaum al-hisab) (QS. Al-A’raf : 8):

“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), Maka Barangsiapa berat timbangan kebaikannya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung”.

Mereka yang termasuk orang berbahagia juga yang telah bertaubat setelah berbuat dosa dengan sebenar-benarnya taubat, beriman dan selalu beramal shaleh. (QS.Al-Qashash:67)

“Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang saleh, semoga Dia Termasuk orang-orang yang beruntung”.

Adapun ciri orang yang berbahagia dalam kitab Mukhtaaral Hadist Rasulullah SAW berkata " Kebahagiaan yg paling bahagia ialah panjang umur dalam ketaatan kepada Allah. (HR. Ad-Dailami dan Al Qodho’i) serta dalam hadistnya yang lain, Rasulullah juga menunjukan ciri bahagianya seseorang.

"Empat perkara yang merupakan kebahagian dari seseorang, yaitu: mempunyai isteri yang shalehah, mempunyai anak yang berbakti, mempunyai teman yang shaleh dan mencari rizki di negerinya sendiri (HR. Dailami dari Ali ra).


(Bhanu Wayan Mehrunisa) #2

Menurut Usman Kusumana, dalam tulisannya yang berjudul “Menemukan Makna Kebahagiaan Sesungguhnya” terdapat empat golongan orang yang dikatakan berbahagia, yakni :

  • Pertama, Manusia yang termasuk “Sa’iidun fiddunyaa wa sa’iidun fil akhirat” orang yang bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Itulah karakter orang yang menemukan 'hasanah fiddunya, hasanah fil akhirat". jabatan tinggi, harta berlimpah, keluarga sehat, dia taat beribadah kepada Allah dan banyak memberi kemanfaatan terhadap sesama.

  • Kedua, Manusia yang termasuk “Sa’iidun fiddunya, saqiyyun fi aakhirat” orang yang “bahagia” hidup di dunianya tapi tidak bahagia (celaka) kehidupan akhiratnya. Terdapat tanda petik dalam kalimat bahagia, karena kebahagiaaan yang dimaksud sebatas pengertian lahiriah manusia, dia bahagia dalam segala keberlimpahan materi, tapi dia jauh dari Allah, tidak pernah mau berbagi dan memberi manfaat pada sesama manusia.

  • Ketiga, Manusia yang termasuk “Saqiyyun fiddunya, Wa Sa’iidun fil aakhirat” orang yang tidak bahagia atau sengsara hidup di dunianya, tetapi dia bahagia hidup di akhiratnya. Boleh jadi dia hidup dalam serba kekurangan, tidak bahagia dalam pandangan manusia kebanyakan, miskin harta, tapi dia rajin beribadah kepada Allah, memiliki sikap yang baik dalam menjalani kehidupan, menikmati kemiskinannya dan baik pergaulannya dengan sesama manusia, banyak memberi manfaat dengan apapun yang dimilikinya.

  • Keempat, manusia yang tergolong “Saqiyyun Fiddunya wa Saqiyyun fil akhirat” orang yang tidak bahagia di dunia dan tidak bahagia juga hidupnya di akherat pada golongan inilah yang paling sengsara dan celakanya manusia. Dia hidup miskin, serba kurang, sombong, malas beribadah, sama orang bermusuhan, dan ketika meninggal dalam kehidupan akhirat kelak lebih celaka. Rasulullah SAW berkata

“Aku benci orang kaya yang sombong, tapi aku lebih benci orang miskin yang sombong”.


(Bima Satria) #3

Menurut al-Ghazali (1989), kebahagiaan yang sempurna hanya akan didapat ketika seseorang hamba telah mampu ikhlas dalam beragama, yang berarti ikhlas ketika melaksanakan seluruh ibadah yang diwajibkan kepadanya secara terus-menerus (Sapuri, 2009).

Tidak ada lafal An-Najah (sukses) tertera dalam konteks bahasa Al- quran yang berarti bahagia, tetapi yang ada adalah lafal As-Sa’adah (kebahagiaan) yaitu terdapat dua kali dalam surah Hud sebagai lawan dari kata Asy-Syaqa’ (penderitaan atau celaka). Allah berfirman tentang kiamat:

Di kala datang hari itu, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi[736], kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, Maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. (QS. Hud (11): 105-108)

Kebahagiaan adalah buah dari perbuatan di dunia yang langsung dirasakan. Tetapi ada juga kebahagiaan yang dinikmati di akhirat, yaitu di dalam surga yang kenikmatannya tidak pernah terputus. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut. Ada juga orang sukses di dunia, tetapi celaka atau menderita di akhirat dan tempat kembalinya adalah neraka.

Makna kebahagiaan (Ridha, 2006) di dunia dan di akhirat yang dijelaskan dalam Al-quran merupakan penjelasan yang memberi makna bahwa bagaimana kesuksesan itu bisa menjadi suatu kenikmatan. Yakni ketika seseorang memperoleh surga, mendapatkan keridhaan Allah. Dan ketika kesuksesan itu berasal dari ketenangan jiwa dan keadilan antara manusia.

Kesimpulannya, bahwa sesungguhnya keberhasilan itu hanya bisa dinikmati kalau bersumber dari nilai-nilai. Allah SWT berfirman:

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang- orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS. Al-Kahfi (18): 103-104)

Mereka yang berbahagia (Sapuri, 2009) adalah hamba Allah Swt. yang paling banyak timbangan kebaikannya ketika datang hari perhitungan (yaum al-hisab)

Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), Maka Barang siapa berat timbangan kebaikannya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-„A‟raf:8)

Juga mereka yang bertaubat setelah berbuat dosa dengan sebenar- benarnya taubat, beriman dan selalu beramal saleh.

Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang saleh, semoga Dia Termasuk orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Qashash:67)

Kebahagiaan merupakan motivasi semua orang dalam melakukan kebajikan. Islam memberikan garis bahwa kebahagiaan di dapat dengan iman, amal saleh yang banyak untuk menambah timbangannya pada hari perhitungan dan permohonan ampun agar segala keburukan pada dirinya tidak dilihat Allah Swt. dan hanya kebaikannya saja yang tersisa dari seluruh amaliahnya saja ketika hidup di dunia.

Secara zahir (Sapuri, 2009) betapa orang kerja keras, banting tulang hanya untuk memenuhi rasa bahagia. Betapa shalat yang dilakukan dengan baik, apalagi berjamaah akan mendatangkan rasa bahagia. Kebahagiaan merupakan kepuasan spiritual tersendiri dalam kacamata seorang Muslim.

Sebenarnya kebahagiaan dalam pandangan Islam (Sanusi, 2006) bertumpu kepada upaya untuk tidak kecewa dengan apa pun yang diterima dari Allah. Sedikit atau banyak tetap disyukuri dan diterima sebagai yang terbaik menurut pilihan Allah swt.atau dengan kata lain bersifat qana’ah.

Qana’ah terdiri dari lima aspek yang terkait langsung dengan kehidupan manusia, antara lain:

  1. Menerima dengan rela apa yang diberikan Allah
  2. Memohon kepada Allah tambahan yang pantas dan tetap berusaha
  3. Menerima dengan sabar akan ketentuan Allah
  4. Bertawakal kepada-Nya
  5. Tidak tertarik dengan tipu daya kesenangan dunia

Kelima aspek di atas praktis mengarahkan kita kepada kebahagiaan. Dengan sikap qana’ah, seseorang tidak akan silau dengan prestasi yang telah diraih oleh orang lain, tetapi sibuk mengurus dan mengelola apa yang sudah diterimanya dan berusaha mensyukurinya. Demikian pentingnya sikap ini sehingga Rasulullah saw. Menganggapnya sebagai “harta” yang tidak akan hilang.

Ketenangan dan kebahagiaan (Sanusi, 2006) sumbernya berasal dari Allah. Oleh sebab itu kita harus memiliki cara yang tepat (dengan belajar terlebih dahulu) untuk mewujudkannya. Untuk “dekat” kepada Allah tidak dengan menggunakan satu jalan, cara untuk memperoleh kebahagiaan pun memiliki banyak jalan. Misalnya melalui jalan dalam bidang social dan politik, seperti berlaku adil, berbuat baik kepada sesama, menyayangi yatim piatu, bersahabat dengan fakir miskin, menyingkirkan duri di jalan, menyebar senyuman kepada saudara, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, selalu tawadhu, selalu bersyukur atas karunia yang sudah diberikan, dan lain-lain.


(Amalia Laisa) #4

Makna bahagia dapat dipahami secara harfiah dari kata al-insan (manusia) itu sendiri yang dalam al-Qur’an disebut sebanyak 65 kali. Menurut Quraish Shihab, kata al-insan berasal dari akar kata yang berarti “jinak”, “harmonis”, “gerak/dinamis“, “lupa”, dan “merasa bahagia/senang”. Ketiga arti ini menggambarkan sebagian dari sifat atau ciri khas manusia: ia bergerak dan dinamis, memiliki sifat lupa dan dapat melupakan kesalahan-kesalahan orang lain, atau merasa bahagia dan senang bila bertemu dengan jenisnya, bahkan idealnya selalu berusaha memberi kesenangan dan kebahagiaan kepada diri dan makhluk- makhluk lainnya. Hal ini juga berarti bahwa manusia berpotensi untuk selalu merasa senang, bahagia, dan membahagiakan orang lain. Itulah misi hidup manusia di muka bumi ini.

Makna dan Hakikat Kebahagiaan dalam al-Qur’an

1. Kehidupan yang baik

Makna ini dapat dilihat dalam dua ayat berikut ini:

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS. an-Nahl: 97).

“Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkat mereka di daratan dan lautan, dan Kami telah memberikan rezeki yang baik kepada mereka, dan Kami telah lebihkan mereka dari makhluk- makhluk lain yang telah Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna” (QS. Al-Isra: 70).

“Orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik” (QS. ar-Ra’du, 13: 29).

Dalam Tafsir al-Mishbah Quraish Shihab menjelaskan bahwa ungkapan “kehidupan yang baik” di atas mengisyaratkan bahwa seseorang dapat memperoleh kehidupan yang berbeda dengan kehidupan yang berbeda dengan kebanyakan orang. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kehidupan yang baik itu bukan berarti kehidupan mewah yang luput dari ujian, tetapi ia adalah kehidupan yang diliputi rasa lega, kerelaan, serta kesabaran dalam menerima cobaan dan rasa syukur atas nikmat Allah.

Dengan demikian, orang yang memiliki kehidupan yang baik tidak merasakan takut yang mencekam atau kesedihan yang melampaui batas, karena dia selalu menyadari bahwa pilihan Allah adalah yang terbaik, dan di balik segala sesuatu ada ganjaran yang menanti. Seorang yang durhaka, meskipun kaya, dia tidak akan pernah merasa puas, selalu ingin menambah kekayaannya, sehingga selalu merasa miskin dan diliputi kegelisahan, rasa takut tentang masa depan dan lingkungannya. Dia tidak menikmati kehidupan yang baik.

Kehidupan yang baik juga dapat dipahami sebagai kehidupan di surga kelak, alam barzakh, atau kehidupan yang diwarnai oleh qona’ah, yaitu rasa puas atas sesuatu (rizki) yang halal.

Berikut adalah pendapat ahli terkait dengan kehidupan yang baik :

  • Dalam Tafsir al-Azhar, HAMKA menyatakan bahwa kehidupan yang baik adalah anugerah Allah yang dijanjikan kepada orang yang beriman dan beramal shalih di dunia ini.

  • Ibnu Katsir mengartikan kehidupan yang baik dengan ketenteraman jiwa, meskipun banyak menghadapi gangguan.

  • Bagi Ibnu Abbas, kehidupan yang baik adalah mendapatkan rizki yang halal lagi baik dalam hidup di dunia ini.

  • Menurut Ali bin Abi Thalib, kehidupan yang baik adalah rasa tenang dan sabar menimpa berapapun dan apapun yang diberikan Allah, dan tidak merasa gelisah.

  • Sementara, Ali bin Abi Thalhah dan Ibnu Abbas memaknai kehidupan yang baik dengan as-sa’adah atau rasa bahagia. Satu riwayat dari ad-Dahhaak menyatakan bahwa kehidupan yang baik ialah rizki yang halal, kelezatan dan kepuasan beribadah kepada Allah dalam hidup, dan lapang dada.

  • Menurut Ja’far as-Shadiq, kehidupan yang baik adalah tumbuhnya ma’rifah atau pengenalan terhadap Allah di dalam Jiwa.

  • Menurut al- Mahayami, kehidupan yang baik adalah ketika seorang mukmin merasa berbahagia dengan amalnya di dunia ini, lebih daripada kesenangan orang yang berharta dan berpangkat dengan harta dan pangkatnya, dan kebahagiaan perasaannya itu tidak ditumbangkan oleh kesulitan hidupnya. Hal itu terjadi karena yang bersangkutan merasa ridho menerima pembagian yang diberikan Allah kepadanya, sehingga harta benda tidak terlalu dipentingkannya. Sebaliknya, orang kafir, meskipun banyak harta, dia tidak pernah merasa bahagia, malah tambah rakus dan takut bila hartanya akan habis. Sementara itu, orang yang diberikan kehidupan yang baik di dunia ini akan juga diberi ganjaran yang lebih baik di akhirat.

  • Menurut al-Qasimi, kehidupan yang baik adalah rasa sejuk (tenteram) dalam dada karena puas dan yakin, merasakan manisnya iman, ingin menemui apa yang telah dijanjikan Allah dan ridha menerima ketentuan (qadha) dari Tuhan. Selanjutnya, jiwanya dapat melepaskan diri dari apa yang telah memperbudaknya selama ini, merasa tenteram dengan satu Tuhan yang disembah, serta mengambil cahaya (nur) dari rahasia wujud yang berdiri padanya, dan lain-lain kelebihan yang telah ditentukan pada tempatnya masing-masing. Itulah kehidupan yang baik di dunia, adapun kehidupan keakhirat akan lebih baik dan sempurna ganjarannya.

Kata HAMKA, semua penafsiran di atas tidak berlawanan, tetapi saling melengkapi, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits:

“Sungguh bahagia orang yang telah ditunjukkan kepada Islam (menjdai muslim), mendapat rezeki sekedar cukup, dan menerima dengan senang apa yang diberikan Allah kepadanya.” (HR. Imam Ahmad dari Ibnu Umar).

Intinya, kata Hamka, sesunggnya segala amal saleh yang dikerjakan oleh manusia yang bersumber dari rasa iman tidaklah sepadan dengan pahala dan ganjaran yang akan kita terima di akhirat kelak. Sesungguhnya, amal yang dikerjakan manusia sangatlah sedikit, tetapi ganjaran yang ia terima berlipat ganda. Umur manusia terbatas, sementara balasan terhadap amal manusia tidak pernah habis dan selalu kekal.

Itulah makna kebahagiaan dalam arti kehidupan yang baik yang merupakan naluri spiritual yang khas manusia, sebagaimana diisyaratkan dalam QS. al-Isra: 70. Artinya, pada dasarnya bahagia adalah fitrah bagi manusia. Bahagia sudah seharusnya dimiliki oleh setiap manusia, karena menurut fitrahnya, manusia diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kesempurnaan. Manusia adalah makhluk yang paling baik dan sempurna dibanding dengan makhluk lainnya.

Kabir Helminski, seorang sufi penerus tradisi Jalaluddin Rumi, menulis tentang manusia sempurna dalam bukunya, The Knowing Heart: A Sufi Path of Transformation. Menurut tokoh ini, sifat manusia sempurna adalah refleksi dari sifat-sifat Tuhan yang sebagian tercermin dalam 99 nama Allah (al-Asma’ul Husna). Kesempurnaan manusia adalah takdir bawaan manusia, yang memerlukan hubungan yang harmonis antara kesadaran diri dan rahmat Ilahi. Itulah capaian kebahagiaan yang sesungguhnya.

2. Kebaikan

Kebahagiaan dalam arti kebaikan atau yang baik dapat dipahami dari QS. at-Taubah: 50; ar-Ra’du: 6,22; an-Nahl: 30,41,122; an-Naml: 46,89; al-
Qashash: 54, 84; al-Ahzab: 21; az-Zumar: 10; Fushshilat: 34; as-Syuura: 23; dan al-Mumtahanah: 4,6.

Dan kami beri dia di dunia ini kebaikan, dan sesungguhnya dia di akhirat termasuk orang- orang yang shaleh” (QS an-Nahl: 122).

HAMKA menjelaskan tentang kandungan ayat ini dengan melihat anugerah (kebahagiaan) yang diperoleh oleh Nabi Ibrahim AS. Maksudnya adalah bahwa kebaikan dunia yang telah nyata diterima oleh beliau adalah ketika beliau nyaris tidak mengharapkan lagi akan mendapatkan keturunan (putera), karena usianya yang telah menua, maka kemudian beliau memiliki putera (Ismail) pada usia 86 tahun. Kemudian pada usia 100 tahun beliau memiliki anak kedua (Ishaq) dari isteri beliau yang diduga mandul, yaitu Sarah. Kedua putera inilah yang kemudian menurunkan bangsa-bangsa besar. Selain itu, HAMKA melihat dari rizki yang diperoleh Ibrahim yang berlipat ganda di hari tuanya. Sudah menjadi hal yang lumrah (umum) bahwa keturunan dan harta benda adalah lambang kebaikan dunia dan kemegahannya. Sungguh sebuah keniscayaan, jika orang yang telah berjuang demi Allah, sebagaimana Ibrahim yang telah mendapat gelar “Khalilullah”, akan mendapatkan tempat yang layak pula di akhirat, bersama orang-orang shalih lain, yaitu para Nabi, Rasul, dan para pengikutnya yang setia.

Kata hasanah, yang berarti kebaikan dapat ditemukan pula dalam QS. ar- Ra’du: 6 sebagai berikut:

“Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam- macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan (yang luas) bagi manusia sealipun mereka dzalim, dan sesunggunya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksa-Nya.

Al-Maraghi menjelaskan makna hasanah dalam ayat di atas sebagai balasan bagi orang yang beriman, yaitu berupa kemenangan dan keberuntungan di dunia serta pahala di akhirat. Dalam konteks ayat di atas, kata hasanah merupakan lawan dari kata sayyiah yang berarti azab yang diancamkan kepada orang-orang kafir. Janji ini sesungguhnya telah disampaikan oleh Nabi Saw. kepada kaum kafir agar mereka mau beriman, tetapi yang terjadi adalah justru mereka minta (menantang) kepada Nabi untuk disegerakan azab buat mereka.

Sementara, dalam menjelaskan makna hasanah (kebaikan) dalam QS. at- Taubah ayat 50, al-Maraghi mengartikannya sebagai sesuatu yang apabila tercapai akan menyenangkan jiwa, seperti harta rampasan perang, kemenangan, dan sebagainya. Intinya, kata al-Maraghi, kebaikan adalah segala hal yang membuat manusia gembira, seperti kemenangan dan rampasan perang yang didapatkan oleh umat Islam waktu Perang Badar.

Hasanah dalam ayat ini dapat dipahami secara berpasangan dengan mushibah yang dapat diartikan sebagai kesusahan, kekalahan, atau tercerai-berainya tentara umat Islam waktu Perang Uhud.

Berangkat dari berbagai penafsiran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa makna hasanah adalah segala kebaikan yang menimbulkan rasa bahagia, yang didapatkan manusia di dunia; berupa kemenangan, rizki, kejayaan, kesuksesan, anak, harta benda, dan sebagainya, dan di akhirat sebagai balasan yang lebih kekal yang sifatnya lebih ruhani. Kebaikan dunia dan akhirat inilah yang akan didapatkan bagi orang-orang yang beriman dan berjuang di jalan Allah.

3. Bahagia atau beruntung

Makna bahagia atau beruntung dapat disimpulkan dari redaksi kalimat yang terdapat dalam dua ayat berikut ini:

“Di kala datang hari itu, tidak ada seorangpun yang berbicara melainkan dengan seijin-Nya, maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia” (QS. Huud: 105)

“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhan- Mu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tiada putus-putusnya” (QS. Huud: 108)

Istilah kebahagiaan dalam dua ayat di atas dapat dipahami dalam konteks dualitas, yaitu merupakan lawan dari kata celaka (sengsara). Kesadaran manusia pada dasarnya selalu bersifat dualistis. Artinya, kehidupannya di setiap tempat dan waktu merupakan polarisasi yang tajam antara sakit dan lezat, bahagia dan derita. Ia akan selalu berhadapan dengan kesusahan atau kesenangan, bahagia atau sengsara. Manusia akan selalu berhadapan dengan dua realitas ini, yaitu kesenangan atau kesusahan, termasuk ekspresinya, yaitu tertawa atau menangis.

Tangisan adalah tanda kesedihan atau sesuatu yang menyakitkan, sedangkan tertawa adalah bukti kebahagiaan, kegembiraan, atau kesenangan. Orang yang bahagia biasanya menampakkan wajah yang penuh senyuman atau berseri-seri. Sebaliknya, orang yang sedih biasanya menunjukkan wajah yang muram atau penuh tangisan. Orang yang sengsara adalah orang yang sesat, tidak tahu jalan hidup yang harus ditempuh, tidak sadar apakah ia berbuat benar atau salah, atau tidak dapat membedakan mana yang hak dan yang batil.

Orang yang bahagia adalah kebalikan dari itu. Jiwanya tenang, hati tenteram, tenang menghadapi persoalan, hatinya disinari cahaya iman kepada Allah, di dalam jiwanya tertanam akidah yang kuat, dan sadar bahwa segala sesuatu telah diatur oleh Allah Swt.

Orang bahagia adalah orang yang merasa aman, tenang, dan punya kekuatan untuk menjalani kehidupan, sebagaimana firman Allah di bawah ini: 54
“Lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)

Sementara itu, makna kebahagiaan dalam arti lainnya, yaitu kata aflaha terambil dari kata falah yang diartikan sebagai ”memperoleh yang dikehendaki”. Kata ini sering diterjemahkan dengan “beruntung”, “berbahagia”, memperoleh kemenangan, dan sejenisnya. Sebagaimana telah disebutkan di atas, kata aflaha ditemukan dalam al-Qur’an sebanyak empat kali, salah satunya adalah QS.Thaha: 64, yang merupakan ucapan Fir’aun ketika akan terjadi pertandingan sihir antara Nabi Musa dan ahli-ahli sihirnya:

“Pasti memperoleh keberuntungan (kebahagiaan) siapa yg hari ini lebih tinggi sihirnya” (QS. Thaha: 64).

Menurut Quraish Shihab, kata aflaha merupakan penegasan Allah Swt. yang ditemukan pada surat al-a’la ayat 14, as-Syams ayat 9, dan al- mu’minun ayat 1. Dalam al-Mu’minun ayat 1-9, dikemukakan sifat-sifat orang-orang mukmin yang akan meraih al-falah (kemenangan). Sifat-sifat tersebut mencerminkan pula usaha-usaha mereka (orang-orang yang beriman) yang pada akhirnya dapat dinilai sebagai upaya penyucian diri (tazakka), sebagaimana ada di QS. Al-A’la.

Upaya-upaya itu meliputi khusyu dalam shalat, menunaikan zakat, menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia, menjaga kemaluan kecuali pada pasangan yang sah, memelihara amanat dan janji, dan memelihara waktu shalat.

Dalam QS. Al-a’raf 157 ditegaskan pula bahwa orang-orang yang beriman kepada Nabi Saw., memuliakan, dan membela beliau, termasuk orang-orang yang beruntung. Selain itu ditegaskan pula dalam QS. Al-Qashahsh 67:

“Adapun orang-orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal saleh, maka semoga dia termasuk yang beruntung”.

Jadi, mengamalkan sifat (pekerjaan) di atas akan mengantarkan seseorang memperoleh keberuntungan sekaligus menjadikan jiwanya suci dan bersih.

Di sisi lain, ditemukan pula lima sifat atau perbuatan yang secara tegas dinyatakan Qur’an sebagai faktor yang tidak akan membawa keberuntungan (kebahagiaan), yaitu: penganiayaan (QS. 6: 21), kriminalitas (QS. 10: 17), sihir (QS. 10: 77), kekufuran (QS. 23: 117), dan kebohongan dengan mengatasnamakan Allah (QS. 10: 69).

Penegasan al-Qur’an yang berbicara tentang orang yang memperoleh keberuntungan cenderung dituntut untuk melakukan sifat (pekerjaan) yang tidak ringan. Maka, sangat tidak tepat jika tazakka dalam QS. Al-A’la 14-15 ditasirkan dengan sekedar zakat fitrah dan Shalat ‘Id sebagaimana dipahami oleh sebagian mufassir.

Dengan melihat berbagai penafsiran di atas, maka makna kebahagiaan dalam arti falah, sa’adah, dan fauz lebih bersifat umum, meliputi kesenangan, kegembiraan, dan keberuntungan yang didapatkan oleh orang- orang yang beriman, bertaqwa, beramal saleh, serta mengikuti petunjuk Allah dengan cara mengikuti para rasul-Nya. Kebahagiaan ini berdimensi fisik, psikis, dan spiritual, baik di dunia maupun di akhirat.

4. Ketenangan dan ketenteraman

Kebahagiaan dalam arti ketenteraman dan ketenangan dapat digali dari dua lafadz di atas sebagaimana tersebar dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Dua istilah di atas, yaitu ketenangan (sakinah) dan ketenteraman (thuma’ninah), sering dipertukarkan penggunaannya. Akan tetapi, menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dua istilah ini memiliki beberapa perbedaan, yaitu:

  • Sakinah merupakan keadaan secara tiba-tiba yang terkadang disertai dengan hilangnya rasa takut, sedangkan thuma’ninah merupakan pengaruh yang timbul dari adanya sakinah. Ringkasnya, thuma’ninah merupakan puncak dari sakinah.

    Keberuntungan yang diperoleh karena sakinah seperti seseorang yang berhadapan musuh. Artinya, ketika musuhnya sudah lari, maka hati yang bersangkutan menjadi tenang. Sedangkan thuma’ninah seperti orang yang masuk ke dalam benteng yang pintunya terbuka, sehingga dia merasa aman dari musuh.

  • Thuma’ninah sifatnya lebih umum, karena ditunjang oleh ilmu, pemberitaannya, keyakinan, dan dan keberuntungan. Sebagai contoh misalnya, hati menjadi thuma’ninah karena bacaan al-Qur’an. Hal ini terjadi karena ada rasa iman kepada al-Qur’an, mengetahuinya, dan mendapat petunjuknya. Sementara, sakinah merupaka keteguhan hati yang dapat mengusir rasa takut dan hilangnya kecemasan, seperti keadaan pasukan Allah yang dapat membunuh musuh.

Secara sufistik, sakinah (ketenangan) termasuk tempat persinggahan pemberian dan bukan pencarian atau usaha. Artinya, sakinah adalah ketenangan yang diturunkan Allah ke dalam hati hamba-Nya ketika mengalami keguncangan dan kegelisahan karena ketakutan yang mencekam. Setelah itu, dia tidak lagi merasakannya, karena ketakutan itu sudah disingkirkan, sehingga menambah keyakinan, keimanan, dan keteguhan hatinya.

Menurut Sayyid Quthb, ketika menafsirkan QS al-Fath: 5, sakinah merupakan istilah yang mengungkapkan, menggambarkan, dan menaungi. Apabila sakinah diturunkan Allah ke dalam hati manusia, terjadilah ketenteraman, ketenangan, keyakinan, kepercayaan, kekokohan, keteguhan, kepasrahan, dan keridhoan. Dalam pembukaan surat ini Allah menurunkan berita kebahagiaan untuk Rasulullah, yaitu berupa kemenangan yang nyata, ampunan yang menyeluruh kenkmatan yang sempurna, hidayah yang kokoh, dan pertolongan yang kuat. Akan tetapi, dalam ayat kelima ini Allah selanjutnya juga menjelaskan nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kaum mukminin berupa kemenangan, sentuhan ketenteraman dalam hati mereka, dan nikmat lainnya yang tersimpan untuk mereka di akhirat.

Menurut Ibnu Taimiyyah, sakinah dapat dibedakan dalam tiga derajat, yaitu :

  • Derajat pertama, yaitu sakinah kekhusyu’an saat melaksanakan pengabdian, berupa memenuhi hak, mengagungkan, dan menghadirkan hati di hadapan Allah. 62 Sakinah model ini berarti ketenangan, kewibawaan, dan kekhusyu’an yang diperoleh pelakunya karena berbuat kebajikan. Allah berfirman:

    “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)?” (QS. al-Hadid: 16)

    Karena iman mengharuskan munculnya kekhusyu’an atau mengajak kepada kekhusyu’an, maka Allah menyeru orang-orang yang beriman dari kedudukan iman kepada kebajikan. Dengan kata lain, Allah berfirman: “Belumkah tiba saatnya bagi mereka untuk mencapai kebajikan dengan iman?” Untuk mewujudkannya hal ini orang yang beriman memerlukan kekhusu’an saat mereka mengingat apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Yang dimaksud memenuhi hak dalam derajat ini adalah memenuhi hak pengabdian kepada Allah Swt., yaitu saat seseorang memiliki rasa pengagungan dan hadirnya hati saat menyaksikan Allah yang disembah, seakan-akan ia dapat melihat-Nya.

  • Derajat yang kedua, yaitu sakinah saat bermuamalah, dengan menghisab diri, lemah lembut terhadap makhluk, dan memperhatikan hak Allah. Derajat inilah yang biasa dimiliki oleh para sufi dan yang menjadi ciri mereka dalam bermuamalah dengan Allah dan makhluk, yang diperoleh dengan tiga hal, yaitu menghisab diri, lemah lembut terhadap makhluk, dan memperhatikan hak Allah.

    Menghisab diri adalah senantiasa menghitung diri dan bertanya terhadap diri sendiri tentang kekurangan setiap amal yang dilakukannya di hadapan Allah, sebagai bahan perbaikan. Lemah lembut terhadap makhluk adalah tidak memperlakukan mereka, khususnya manusia, dengan kaku dan keras, karena hal ini akan membuat mereka lari menghindar, merusak hati dan hubungan dengan Allah, dan membuang waktu. Sebaliknya, seorang mukmin yang memiliki sakinah akan dapat berinteraksi dengan manusia secara lemah lembut.

  • Derajat sakinah yang ketiga adalah sakinah yang menguatkan keridhaan terhadap bagian dirinya, mencegah dari omong kosong dan menempatkan orang yang memilikinya pada batasan ubudiyah. Sakinah ini tidak turun kecuali ke dalam hati para nabi, wali, dan orang yang terpilih dari hamba-hamba Allah. Orang yang memiliki sakinah jenis ini merasa ridha kepada bagian dirinya dan tidak menoleh ke bagian orang lain. Orang yang memiliki sakinah tidak akan berkata bohong, karena dusta hanya muncul dari hati yang tidak memiliki sakinah. Ini adalah anugerah yang paling agung yang dikaruniakan Allah hanya kepada para Rasul dan orang-orang mukmin sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas.

Tentang thuma’ninah, dengan merujuk pada QS. al-Fajr: 27-30, Ibnu Qayyim mengartikannya sebagai ketenteraman hati terhadap sesuatu, tidak cemas dan gelisah. Di dalam atsar disebutkan bahwa “Kejujuran merupakan ketenteraman dan kebohongan merupakan kebimbangan”.

Allah menjadikan thuma’ninah di dalam hati orang-orang beriman dan di dalam jiwa mereka, kemudian memberikan kabar gembira, bahwa yang masuk sorga adalah orang-orang yang memiliki jiwa yang tenteram (thuma’ninah). Ayat yang berbunyi:

“Hai jiwa yang tenteram, kembalilah kepada Tuhanmu”, merupakan dalil bahwa jiwa itu tidak kembali kepada Allah kecuali jika dalam keadaan thuma’ninah. Orang yang beriman dianjurkan untuk membaca do’a ulama salaf, sebagai berikut: “Ya Allah anugerahkanlah kepadaku jiwa yang thuma’ninah kepada-Mu”.

Sebagaimana sakinah, thuma’ninah oleh Ibnu Qayyim dibedakan menjadi tiga tingkatan, yaitu:

  • Thuma’ninah hati karena menyebut asma Allah Swt. Ini merupakan thuma’ninah-nya orang yang takut yang beralih ke harapan, dari kegelisahan ke hokum, dan dari cobaan ke pahala. Sifat thuma’ninah jenis ini bisa dipahami dari rasa tenang yang muncul karena menyebut nama Allah dan membaca kitab-Nya dan rasa tenteram yang dimiliki oleh hati seorang hamba yang merasa takut akan siksa-Nya, kemudian beralih ke rasa harap akan kasih sayang-Nya. Demikian halnya dengan rasa tenteram seseorang karena mengikuti hukum-hukum agama yaitu dengan mengikuti jalan yang lurus serta huku takdir, di mana Allah telah berkehendak akan seperti apa dan bagaimana nasib seorang hamba dengan takdir dan kekuasaan-Nya, atau rasa tenteram seorang hamba yang awalnya gelisah karena mendapat berbagai cobaan dari Allah, tetapi kemudian menjadi tenang karena yakin akan pahala atau pengganti yang dijanjikan oleh Allah Swt.

  • Thuma’ninah ruh saat mencapai tujuan pengungkapan hakikat, saat merindukan janji, dan saat berpisah untuk berkumpul kembali. Ruh menjadi thuma’ninah jika melihat tujuannya dan tidak ingin menengok ke belakang. Ruh akan merindukan apa yang dijanjikan kepadanya. Ia menjadi tenang dan tenteram karena yakin akan mendapatkan apa yang dijanjikan kepadanya. Ruh juga menjadi thuma’ninah jika ia berpisah denga hal-hal yang menjadi kebiasaannya, seperti orang yang lapar lalu mendapatkan makanan, yang membuatnya menjadi tenteram.

  • Thuma’ninah karena menyaksikan kasih sayang Allah, kebersamaan menuju kekekalan, dan kedudukan menuju cahaya azali. Derajat ini terkait dengan kefanaan dan kekekalan yang akan dialami oleh Ruh. Orang yang sampai kepada kesaksian kebersamaan dengan Allah akan merasa tenteram karena kasih sayang Allah. Ia juga tenteram karena yakin akan segala ketetapan Allah yang bersifat azali.

Berangkat dari berbagai pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan dalam arti sakinah (tenang) dan thuma’ninah (tenteram) adalah segala balasan, anugerah, dan nikmat dari Allah yang lebih bernuansa psikologis (emosi/perasaan), ruhaniyah (spiritual), dan ukhrowi, dari pada sekedar kebahagiaan yang bersifat material, jasadiyah, dan duniawi. Setiap muslim akan berusaha menggapai kebahagian jenis ini, karena merupakan puncak kebahagiaan atau kebahagiaan yang sesungguhnya.

5. Kelapangan dan kegembiraan

Makna kebahagiaan dalam kata lapang atau melapangkan dapat digali dari QS. al-Insyirah: 1. Menurut Quraish Shihab, kata ini berarti memperluas atau melapangkan, baik secara material maupun immaterial. Apabila kata ini dikaitkan dengan sesuatu yang material, maka ia berarti ‘memotong’ atau ‘membedah’, sedangkan jika dikaitkan dengan sesuatu yang non material, maka ia berarti ‘membuka’, ‘memberi pemahaman’, atau ‘menganugerahkan ketenangan’.

Dengan memperhatikan konteks QS. al-Insyirah dan ayat-ayat lainnya, misanya QS. az-Zumar: 22, al-An’am: 125, al-Hajj: 46, dan sebagainya, maka kata lapang lebih tepat dipahami kaitannya dengan sesuatu yang immaterial. Makna kelapangan dalam dalam ayat-ayat di atas lebih tepat dipahami sebagai kelapangan dada yang dapat menghasilkan kemampuan menerima dan menemukan kebenaran, hikmah dan kebijaksanaan, dan kesanggupan menampung bahkan memaafkan kesalahan orang lain.

Makna kebahagiaan dalam bentuk kata kegembiraan dapat ditemukan dalam beberapa tempat, yaitu: QS. Ali Imran: 120, 170, 188; al-An’am: 44; at-Taubah: 50, 81; Yunus: 22, 58; Huud: 10; ar-Ra’du: 26,36; al-Mu’minun: 53; an-Naml: 36; al-Qashash: 76; ar-Ruum; 4, 32, 36; al-Ghafir: 75,83; asy-Syuuraa: 48; dan al- Hadiid: 23.

Kata ini, terutama dalam konteks QS Ghafir: 75 , menurut ar- Raghib al-Ashfahani, digunakan dalam arti keceriaan dan kegembiraan hati akibat adanya kelezatan duniawi yang pada umumnya berupa kelezatan yang bersifat jasmaniah.

Pada dasarnya, menurut Quraish Shihab, kegembiraan dan keceriaan tidaklah dilarang agama, sehingga dalam ayat ini ada kata “tanpa hak”, karena bisa saja ada kegembiraan yang dibenarkan agama.

Berangkat dari penafsiran di atas, dengan melihat isyarat dari ayat-ayat yang lain yang menggunakan kata fariha, maka dapat disimpulkan bahwa makna kebahagiaan dalam kata ini bukanlah kebahagiaan yang obyektif dan pasti, tetapi merupakan kebahagiaan bersifat yang relatif, subyektif, dan dan belum tentu dibenarkan oleh agama. Artinya, sebagaimana diisyaratkan dalam QS. at-Taubah: 81, bisa saja ada orang (di jaman Nabi) yang merasa gembira tidak ikut berjuang (berjihad) di bawah pimpinan Rasulullah atau melalaikan kewajiban agama. Gembira model ini oleh HAMKA di katakan sebagai kegembiraan orang munafik yang tidak sesuai dengan agama.

Dalam konteks sekarang, apabila banyak dijumpai orang yang tidak beriman, tidak menjalankan ajara agama, atau melanggar aturan-aturan, atau bermaksiat kepada Allah, tetapi mereka merasa bahagia, gembira, senang, dan tertawa. Mereka tidak menyadari bahwa perilakunya akan membawa kesengsaraan di kemuadian hari. Maka, kebahagiaan yang semacam ini bukanlah kebahagiaan yang diperintahkan (dimaksud) oleh al-Qur’an untuk digapai oleh manusia. Sebaliknya, kebahagiaan yang seperti ini pada dasarnya adalah kesengsaraan.

6. Keberkahan, kesejahteraan, keselamatan, dan kedamaian

Kebahagiaan dalam arti keberkahan dapat dipahami dari QS. al-A’raf: 96; Huud: 48, 73; an-Nahl: 127; dan adz-Dzariyaat: 39. Kata barakah, sebagaimana yang terkandung dalam QS. al-A’raf: 96, oleh Quraish Shihab diartikan sebagai aneka kebajikan ruhani dan jasmani, sesuatu yang mantap, kebajikan yang melimpah beraneka ragam dan bersinambung.

Kolam dalam Bahasa Arab dinamai birkah, karena air yang ditampung dalam kolam itu menetap mantap di dalamnya dan tidak tercecer ke mana-mana. Ayat ini mengandung makna bahwa keberkahan Ilahi datang dari arah yang seringkali tidak diduga atau dirasakan secara material dan tidak pula dibatasi atau bahkan diukur. Teks ayat ini dan ayat-ayat lain yang berbicara keberkahan Ilahi di atas memberi kesan bahwa keberkahan tersebut merupakan curahan dari berbagai sumber, dari langit dan bumi melalui segala penjurunya. Dari sini bisa dipahami bahwa segala penambahan yang tidak terukur oleh indera disebut dengan berkah. Secara rinci makna barakah dapat dipahami pula dari makna yang terkandung dalam QS. al-An’am: 92.68

Adanya keberkahan pada sesuatu berarti terdapat kebaikan yang menyertai sesuatu tersebut. Misalnya, jika ada berkah dalam waktu yang diberikan Allah kepada seseorang, maka akan banyak kebaikan yang terlaksana dalam waktu itu, meskipun dalam waktu tersebut umumnya tidak banyak aktivitas yang dilakukan olehnya. Keberkahan makanan adalah cukupnya makanan yang sedikit untuk mengenyangkan orang banyak, meskipun pada umumnya makanan yang sedikit itu tidak dapat dimakan oleh orang yang banyak.

Dari kedua contoh ini, terlihat bahwa keberkahan berbeda sesuai dengan fungsi sesuatu yang diberkahi. Keberkahan pada makanan misalnya adalah dalam fungsinya mengenyangkan, menimbulkan kesehatan, menolak penyakit, mendorong aktivitas positif, dan sebagainya. Hal ini dapat terjadi bukan dengan sendirinya secara otomatis, tetapi karena ada karena karunia Allah Swt. Karunia di sini bukan menafikkan adanya hukum sebab akibat yang telah ditetapkan Allah, tetapi maksudnya bahwa Allah menganugerahkan kepada siapa yang akan diberi keberkahan kemampuan untuk menggunakan dan memanfaatkan huku-hukum tersebut seefisien dan semaksimal mungkin sehingga keberkahan tersebut hadir. Dalam hal keberkahan makanan misalnya, Allah Swt. menganugerahkan kemampuan kepada manusia yang akan diberi keberkahan makanan berupa aneka sebab yang ada sehingga kondisi badannya sesuai dengan makanan yang tersedia, misalnya kondisi makanan itu pun sesuai, sehingga tidak kadaluarsa, hilang, atau dicuri orang.

Intinya, keberkahan di sini bukan berarti campur tangan Allah dalam bentuk membatalkan sebab-sebab yang dibutuhkan untu lahirnya sesuatu.

Terkait dengan tema kebahagiaan, dengan memperhatikan beberapa penafsiran di atas, maka dapat dipahami bahwa salah satu indikator kebahagiaan seorang manusia adalah bahwa apabila ia mampu mengisi hidupnya dengan berbagai aktifitas kebaikan baik yang bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, maupun umat manusia secara umum. Aktivitas kebaikan di sini adalah segala sifat dan amal perbuatan yang dapat dinikmati manfaatnya oleh banyak orang, bermakna, dan membahagiakan dirinya. Itulah makna hidup yang berkah. Orang yang bahagia adalah orang yang hidupnya berkah.

Kebahagiaan dalam arti salam (selamat, damai, atau sejahtera) dapat dipahami sebagai kebebasan dari segala macam kekurangan, apapun bentuknya, lahir maupun batin. Sehingga, seseorang yang hidup dalam salam akan terbebas dari penyakit, kemiskinan, kebodohan, dan sebagainya. Kata ini terulang di dalam al-Qur’an sebanyak 42 kali dengan beberapa maksud di bawah ini:

  • Sebagai ucapan salam yang bertujuan untuk mendo’akan sebagaimana tercantum dalam QS. adz-Dzariyat: 25 yang menceritakan kedatangan malaikat kepada Nabi Ibrahim As.

  • Keadaan atau sifat sesuatu, sebagaimana firman Allah dalam QS. al- Maidah: 16 yang menggambarkan keadaan atau sifat jalan yang ditelusuri oleh orang-orang yang beriman.

  • Menggambarkan sikap mencari selamat dan damai, seperti firman Allah dalam QS. al-Furqan: 63 yang memuji hamba-hamba-Nya yang selalu berusaha untuk mencari kedamaian saat menghadapi orang-orang “jahil” di sekitarnya.

  • Sebagai sifat Allah Swt., sebagaimana tersurat dalam QS. al-Hasyr: 23.

Menurut Quraish Shihab, dalam konteks QS al-Qadr: 4, jika kata salam dipahami sebagai do’a, maka ayat ini menginformasikan bahwa para malaikat itu mendo’akan setiap orang yang menemuinya pada malam lailat al-qadr supaya terbebas dari segala kekurangan lahir batin. Jika kata salam dipahami sebagai keadaan, sifat, atau sikap, maka malam lailat al-qadr dipahami sebagai malam yang penuh kedamaian yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang menjumpainya, atau dapat pula dimaknai bahwa sikap para malaikat yang turun pada malam ini adalah sikap yang penuh damai terhadap mereka yang merasa berbahagia mencari dan mendapatkannya.

Dalam ayat yang lain yang berbicara tentang makna salam, terdapat beberapa ayat yang menggambarkan ucapan salam yang ditujukan kepada para penghuni sorga kelak, yaitu di antaranya QS. Yunus: 10 dan ar-Ra’d: 24, atau istilah dar as-salam (negeri yang penuh kedamaian) yang menggambarkan kondisi kehidupan sorga, yaitu antara lain dalam QS. al-An’am: 125-127 dan Yunus: 25.

Kata salam, jika disifatkan kepada sesuatu maka berubah menjadi salim. Kata ini sesungghnya memiliki akar yang sama dengan kata Islam, yang berasal dari kata kerja salima, yang sama-sama bermakna selamat. Dalam al-Qur’an, yaitu surat asy-Syu’ara: 89 dan surat al-Shaffat: 84, kata salim digandengkan dengan kata qalb (hati). Secara bahasa, qalb salim bermakna hati yang selamat dari penyakit atau kerusakan apapun. Adapun pengertian khususnya adalah hati yang tidak mengenal selain Islam. Untuk memiliki hati yang selamat, manusia harus menerapkan seluruh akhlak mu’min yang terkandung dalam al-Qur’an.

Pada hari akhir nanti tidak ada yang bermanfaat kecuali manusia yang datang denga membawa hati yang selamat. Artinya, hati orang yang kafir tidak mungkin sampai ke pantai kedamaian dan keselamatan di hari itu. Oleh karena itu, hati yang selamat harus bersih dari kekafiran, kesyirikan, keraguan, dan kebimbangan. Hati yang penuh kekakfiran, betapapun pemiliknya berbuat baik dan humanis, tetap tidak dapat menjadi hati yang selamat.

Jika dikatakan oleh seseotang yang kafir bahwa: “ Hatiku bersih karena aku sangat mencintai manusia dan selalu berusaha menolong mereka”, maka ini adalah pernyataan yang kosong, karena hatinya berisi kekafiran dan pengingkaran. Hatinya bukanlah hati yang selamat dan bersih, sebab ia mengingkari Pemilik dan Penguasa alam. Mencintai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan adalah sesuatu yang penting dan baik. Akan tetapi, nilai-nilai kemanusiaan tesebut harus terlebih dahulu dipahami secara benar, kemudian pemahaman ini harus berkesinambungan dan tidak terputus. Pemahaman semacam ini terkait dengan dengan iman. Tanpa iman, segala bentuk kebaikan, keindahan, dan kemuliaan hanyalah dusta, sementara, dan tidak bernilai.

Ringkas kata, hati yang selamat adalah tema yang sangat penting, karena al- Qur’an memposisikan hal ini sebagai ganti dari harta dan anak-anak, sebagaimana diisyaratkan dalam QS. asy-Syu’ara: 88-89. Nasib seorang manusia di akhirat tergantung pada jawabannya atas pertanyaan berikut: Apakah ia hidup dalam keadaan diridhai ?, Apakah ia mati dalam keadaan diridhai ?, Mampukah ia dibangkitkan dalam keadaan yang diridhai ?, Mampukah ia menuju jalan Muhammad ?, Dapatkah ia sampai ke Telaga Kautsar? Apakah Rasulullah Saw. dapat melihatmu dari kejauhan dan mengenalimu? Rasulullah menegaskan bahwa pada Hari Kiamat beliau akan mengenali umatnya dan dapat membedakan mereka di antara seluruh umat. Ketika ditanya bagaimana hal itu terjadi, beliau menjawab, “Kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki oleh orang lain. Kalian mendatangiku dengan wajah yang bersinar terang karena bekas wudlu” (HR. Bukhori dan Muslim). Itulah salah salah satu manifestasi dan gambaran hati yang selamat.

Terlepas dari perbedaan makna ini, Ibnu Qayyim menyatakan pendapatnya seputar kedamaian dan ketenteraman hati. Ia berkata bahwa Hati yang damai dan tenteram akan mengantarkan pemiliknya dari ragu kepada yakin, dari kebodohan kepada ilmu, dari lalai kepada ingat, dari khianat menuju amanat, riya’ kepada ikhlas, lemah menjadi teguh, dan dari sombong menjadi tahu diri. 74 Inilah tanda jiwa yang telah mencapai derajat kedamaian, sebuah puncak kebahagiaan manusia.

7. Limpahan Karunia

Selain makna kebahagiaan di atas, makna kebahagiaan dapat dipahami pula dari kata “limpahan atau curahan karunia”. Kata ini terdapat dalam beerapa ayat al-Qur’an, misalnya QS. al-Baqarah: 199, 245, al-Maidah: 83, al- A’raf: 50, at-Taubah: 92, Yunus: 61, Ibrahim: 4, Shad: 26, al-Ahqaf: 8, dan al- Hadid: 11. Salah satu di antara yang dapat dibahas di sini adalah:

“ Dan penghuni neraka menyeru penghuni surge: “limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni sura) menjawab: “sesuangguhnya Allah telah mengharamkan keduanya atas orang-orang kafir” (QS. al-A’raf: 50)

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa al-faidh hanya diperuntukkan untuk para penghuni surga. Menurut Fethullah Gulen, istilah “limpahan karunia” dapat dimaknai dengan kebahagiaan atau kenikmatan. Al-Faidh dalam kehidupan duniawi adalah limpahan karunia Ilahi yang berkaitan dengan kehidupan hati dan spiritual manusia. Adapun di akhirat, اﻟﻔﯿﺾ adalah kedudukan dan kemuliaan yang diraih manusia, seperti masuk sorga, meraih ridha Allah, dan kehormatan melihat keindahan-Nya. Kandungan makna dari istilah ini begitu sangat luas dan mustahil bagi manusia untuk menjangkaunya secara tepat. Bisa saja terjadi bahwa berbagai limpahan karunia mendatangi manusia dari semua sisi, sedangkan ia sendiri tidak mengetahui dan merasakannya. Demikian pula, ketidakmampuan manusia mengetahui dan merasakannya termasuk karunia Allah Swt. atasnya., karena karunia terbaik-Nya adalah karunia yang tidak kita rasakan.

Dari sisi ini, lanjut Gulen, dapat dikatakan bahwa terdapat limpahan karunia Ilahi dan keberkatan pada semua ibadah yang dikerjakan manusia untuk Allah Swt. Betapa tidak terbayang sama sekali bahwa ada manusia yang menuju pintu-Nya lalu kembali dengan tangan kosong. Akan tetapi, manusia tidak boleh mengaitkan ibadahnya dengan limpahan karunia Ilahi atau kenikmatan yang didapatnya. Terkadang, shalat dilakukan saat seorang hamba sedang dalam kondisi spiritual yang sedang lemah, yaitu saat jiwa dan hatinya sempit. Secara lahiriah, shalat seperti ini dapat dikatakan payah, namun bisa saja shalatnya termasuk shalatnya yang paling baik atau paling diterima, karena ia melakukan shalat dalam kondisi lepas dari semua perasaan seraya tetap tidak lupa untuk menunjukkan penghambaannya kepada Allah Swt. Ia senantiasa tetap berdiri di pintu-Nya dan tidak pernah meninggalkannya, karena ia yakin bahwa Allah akan mengabulkan segala doanya. Dengan kata lain, kondisi di mana seorang hamba tidak menerima limpahan karunia Ilahi tidak membuat keikhlasannya lenyap. Inilah sebuah penghambaan yang tulus dan murni.

Dari sisi yang berbeda, Gulen menulis bahwa pencapaian kedudukan spiritual tidak boleh menjadi tujuan ibadah seorang hamba. Junaid al-Baghdadi berkomentar tentang orang-orang yang mengerjakan kewajiban ibadah demi mendapatkan surga. Menurutnya, ibadah yang seperti ini adalah ibadah para hamba surga, padahal surga tidak layak menjadi tujuan ibadah. Ibadah dikerjakan, karena Allah memerintahkannya, atau dalam rangka meraih ridha-Nya. Artinya, sebab hakiki ibadah adaah perintah Allah. Jadi, manusia mengerjakan berbagai kewajiban ibadah karena Allah memerintahkannya kepada mereka. Jika ada di antara mereka melakukan shalat kepada Allah, karena takut kepada neraka, maka orang itu adalah hamba neraka. Bagimana mungkin ia dapat menjdi hamba Allah Swt.? Manusia harus tetap melaksanakan shalat meskipun dalam kondisi iman (spiritual) yang sedang menurun, yaitu ketika tidak mendapatkan limpahan karunia Ilahi. Tangisan dan rintihan manusia, di samping menjadi sarana untuk mendapatkan limpahan karunia Allah dan keberkahan, juga dapat menjadi sarana ujian dan cobaan. Alhasil, manusia tidak dapat menetapkan penilaiannya secara pasti di hadapan Allah.

Sumber : Dr. Muskinul Fuad, M. Ag, Psikologi kebahagiaan dalam al-qur’an : Tafsir Tematik atas Ayat-ayat al-Qur’an tentang Kebahagiaan, IAIN Purwokerto


(Alfarezi Kavindra Aiwin) #5

Dalam Al-Qur’an, diantara kata yang paling tepat menggambarkan kebahagiaan adalah aflaha. Di empat ayat Al-Qur‟an (yaitu QS 20: 64, QS 23: 1, QS 87:14, QS 91:9) kata itu selalu didahului kata penegas qad (ang memiliki arti "sungguh‟, sehingga berbunyi qad aflaha atau "sungguh telah berbahagia‟. Aflaha adalah turunan dari akar kata falah.

Kamus-kamus bahasa arab klasik merinci makna falah sebagai berikut: kemakmuran, keberhasilan, atau pencapaian apa yang kita inginkan atau kita cari; sesuatu yang dengannya kita berada dalam keadaan bahagia atau baik; terus-menerus dalam keadaan baik; menikmati ketentraman, kenyamanan, atau kehidupan yang penuh berkah; keabadian, kelestarian, terus-menerus, keberlanjutan.

Menurut Jalaludin Rahmat (2010) dalam bukunya yang berjudul "Tafsir Kebahagiaan‟, perincian makna falah tersebut merupakan komponen-komponen kebahagiaan. Kebahagiaan bukan hanya ketentraman dan kenyamanan saja. Kenyamanan atau kesenangan satu saat saja tidak melahirkan kebahagiaan. Mencapai keinginan saja tidak dengan sendirinya memberikan kebahagiaan. Kesenangan dalam mencapai keinginan biasanya bersifat sementara. Satu syarat penting harus ditambahkan, yaitu kelestarian atau menetapnya perasaan itu dalam diri kita.

Jalaludin Rahmat mengungkapkan bahwa paling tidak sepuluh kali muadzin diseluruh dunia islam meneriakkan hayya ala al-falah, atau "marilah meraih kebahagiaan‟. Dalam mazhab ahlul bait, setelah hayya ala al-falah, mereka membaca hayya ala al khayr atau "marilah kita berbuat baik‟. Orang yang berbahagia cenderung berbuat baik. suara muadzin itu saja sudah cukup menjadi bukti bahwa agama Islam memanggil umatnya setiap saat untuk meraih kebahagiaan.

Kata turunan selanjutnya dari aflaha adalah yuflihu, yuflihani, tuflihu, tuflihani, yuflihna (semua kata itu tidak ada dalam Al-Qur‟an), dan tuflihuna (disebut sebelas kali dalam Al-Qur‟an dan selalu didahului dengan kata la’allakum. Makna la’allakum tuflihuna adalah "supaya kalian berbahagia‟). Dengan mengetahui ayat- ayat yang berujung dengan kalimat la 'allakum tuflihuna (dalam QS 2:189, QS 3:130, QS 3:200, QS 5:90, QS 5:100, QS 7:69, QS 8:45, QS 22:7, QS 24:31, QS 62:10) kita
diberi pelajaran bahwa semua perintah tuhan dimaksudkan agar kita hidup bahagia. Kutipan ayat-ayat yang memuat kalimat tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Bertakwalah kepada Allah agar kalian berbahagia (QS 2: 189)

  2. Wahai orang-orang beriman! Janganlah kalian memakan riba yang berlipat- lipat. Bertakwalah kepada Allah agar kalian berbahagia (QS 3: 130)

  3. Wahai orang-orang beriman! Bersabarlah dan saling menyabarkan, serta perkuat persatuanmu agar kalian bahagia (QS 3:200)

  4. Wahai orang-orang beriman! Bertakwalah kepada Allah. Carilah jalan untuk mendekatkan diri kepadanya. Berjuanglah di jalan Allah agar kalian berbahagia (QS 5: 35)

  5. Wahai orang-orang beriman! Sesungguhnya minuman keras, perjudian, undian, dan taruhan adalah kotoran dari perbuatan setan. Jauhilah agar kalian berbahagia (QS 5: 90)

  6. Katakanlah: tidak sama antara keburukan dan kebaikan, walaupun banyaknya keburukan memesona kalian. Bertakwalah kepada Allah agar kalian berbahagia (QS 5: 100)

  7. Kenanglah anugerah-anugerah Allah agar kalian berbahagia (QS 7: 69)

  8. Wahai orang-orang beriman! Jika kalian berjumpa dengan sekelompok musuh, teguhkanlah hatimu. Banyaklah berzikir kepada Allah agar kalian berbahagia (QS 8: 45)

  9. Wahai orang-orang beriman! Rukuklah dan sujudlah. Beribadahlah kepada tuhanmu, serta berbuatlah kebaikan agar kalian berbahagia (QS 22: 73)

  10. Bertobatlah kalian kepada Allah seluruhnya, wahai orang-orang beriman, agar kalian berbahagia (QS 24: 31)

  11. Apabila selesai melaksanakan shalat, menyebarlah dipenjuru bumi. Carilah anugerah Allah dan banyaklah ingat kepada Allah agar kalian berbahagia (QS 62: 10)

Ayat-ayat di atas tidak saja menunjukkan bahwa tujuan akhir dari semua perintah Tuhan adalah supaya kalian berbahagia, tetapi juga perincian perbuatan yang bisa membawa kita kepada kebahagiaan. Hal ini menunjukkan bagaimana sebenarnya apabila kita menginginkan sebuah kebahagiaan maka kita harus berbuat kebaikan dan beriman kepada Allah SWT.

Kebaikan-kebaikan di sini merupakan amal-amal yang positif yang dapat membawa manusia kepada ketenangan batin. Dalam Al-Qur’an, ketika Allah menyebutkan aamanuu selalu dikaitkan dengan kata amilus shaalihaat. Kata aamanuu mengarah kepada kebahagiaan akhirat sedangkan kata amilus shaalihaat menunjuk kepada kesejahteraan dunia yang diraih dengan kerja keras dan upaya yang sungguh-sungguh.

Inti dari kebahagiaan adalah keimanan kepada Allah dan penguasaan terhadap makna ibadah serta memahaminya dengan pemahaman yang sempurna dan lengkap, kemudian menerapkan pemahaman itu dalam kehidupan seluruhnya, baik yang berkenaan dengan perkara-perkara yang umum ataupun khusus. (al-Qu’ayyid, 2004).

Menurut al-Qu’ayyid (2004), standar yang digunakan untuk mengetahui kebahagiaan dan kesuksesan seseorang, diantaranya:

  1. Hubungan yang baik dengan Allah.
  2. Peningkatan kualitas kepribadian.
  3. Hubungan yang baik dengan keluarga.
  4. Hubungan yang baik dengan kedua orang tua.
  5. Hubungan yang baik dengan kerabat dan tetangga.
  6. Hubungan yang baik dengan masyarakat.
  7. Hubungan yang baik dalam hal pekerjaan, tugas, dan profesi.

(Adira Raveena Taleetha) #6

Secara fakta tidak mudah menemukan arti dari kabahagiaan. Karena kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan dalam diri seseorang. Dari berbagai literature yang ada, semua pengerti mengarahkan bahwa kebahagiaan adalah subjective well‐being (Uchida, dkk., 2004; Lyubomirsky dkk.,2005; Boven, 2005; Pavot, 2008).

Namun ada juga yang berpendapat bahwa subjective well‐being merupakan konsep lebih luas dan menyeluruh yang meliputi kebahagiaan itu sendiri. Pada beberapa penelitian istilah subjective wellbeing dipahami memiliki kesamaan makna dengan kebahagiaan.

Studi mengenai konsep kebahagiaan telah banyak dilakukan melalui berbagai perspektif. Masing-masing perspektif menyediakan berbagai penjelasan yang berbeda-beda mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan itu sendiri, yang pada akhirnya muncul hasil yang berbeda-beda pula mengenai bagaimana kebahagiaan itu bisa dicapai.

Para peneliti seringkali menemukan kesulitan untuk merumuskan konsep mengenai kebahagiaan. Kata ”kebahagiaan” ini memiliki makna yang beragam. Seringkali makna dari ”kebahagiaan” (happiness) disamakan dengan ”baik” (the good) ataupun ”hidup yang bagus” (the good life) (Eddington & Shuman, 2005).

Hamka (1988) mendasarkan teori pencapaian kebahagiaan kepada pemungsian, pemurnian, pengasahan dan penyempurnaan akal. Ia memandang akal sebagai alat, media dan sarana utama menemukan kebaha-giaan. Meskipun ia tidak benar-benar konsisten, namun dapat disimpulkan bahwa ia berbeda dengan pandangan yang berlaku umum di kalangan filosof dan sufi tentang eksistensi akal.

Akal menurut Hamka, sesuai dengan fitrahnya, senantiasa condong ke atas (kemuliaan, kebenaran, kebaikan dan kesucian), sedangkan hawa nafsu condong ke bawah (kehinaan, kesalahan, keburukan dan dosa). Dengan demikian, akal membawa kepada kebahagiaan, sementara hawa nafsu membawa kepada kesengsaraan atau penderitaan.

Kebahagiaan merupakan konsep yang luas, seperti emosi positif atau pengalaman yang menyenangkan, rendahnya mood yang negatif, dan memiliki kepuasan hidup yang tinggi (Diener, Lucas, Oishi, 2005).

Seseorang dikatakan memiliki kebahagiaan yang tinggi jika mereka merasa puas dengan kondisi hidup mereka, sering merasakan emosi positif dan jarang merasakan emosi negatif, selain itu kebahagiaan juga dapat timbul karena adanya keberhasilan individu dalam mencapai apa yang menjadi dambaannya, dan dapat mengolah kekuatan dan keutamaan yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat merasakan sebuah keadaan yang menyenangkan (Diener dan Larsen, 1984, dalam Edington,2005).

Kebahagiaan merupakan bahasan yang sangat berguna dan dianggap penting dibidang psikologi (Pavot, 2008) sejalan dengan berkembangnya bidang kajian positive psychology (Seligman, 2002). Telah banyak dikembangkan instrumen‐instrumen pengukuran psikologi yang mengukur konstrak kebahagiaan, seperti Oxford Happiness Inventory, Life Satisfaction Scale, PGC Morale Scale, dan sebagainya. Setiap alat ukur tersebut tentunya memiliki standar reliabilitas, validitas, dan objektivitasnya masing‐ masing. Umumnya instrument pengukuran kebahagiaan yang telah ada dikembangkan berbasis pada pendekatan general psychology. Namun berbagai penelitian mutakhir menyebutkan bahwa tidak semua teori-teori psikologi relevan disuatu daerah.

Kim dan Park (2006) menyebutkan bahwa budaya memiliki peranan yang sangat sentral dalam mempersepsi fenomena sosial. Oleh karena itu, dapat dipahami apabila suatu nilai kebahagiaan individu pasti dipengaruhi oleh konteks budaya yang berlaku.

Uchida, dkk. (2004) dalam penelitiannya mengenai konstruksi kultural kebahagiaan, menemu-kan bahwa terdapat perbedaan makna kebahagiaan dikonteks budaya Barat (individualistik) dan Timur (kolektivistik). Secara spesifik dikonteks budaya Barat atau Amerika Utara, kebahagian memiliki kecenderungan definisi terkait dengan pencapaian prestasi pribadi (personal achievement). Pada konteks budaya ini individu bertindak karena termotivasi untuk memaksimalkan pengalaman afek positif. Self‐esteem merupakan prediksi terbaik bagi kebahagiaan.

Hal ini berkebalikan dengan konteks budaya Asia Timur, dimana kebahagiaan memiliki kecenderungan definisi terkait dengan pencapaian hubungan interpersonal. Pada konteks budaya ini individu bertindak karena termotivasi untuk mempertahankan keseimbangan antara afek positif dan negatif. Cara terbaik untuk memprediksi kebahagian dikonteks ini adalah dengan melihat kelekatan diri atau individu dalam hubungan sosial.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa teori‐teori psikologi sebenarnya berkaitan dengan batasan budaya (culture‐bound), nilai‐nilai daerah (value‐laden) dan dengan validitas yang terbatas (Enriquez, 1993; Kim & Berry, 1993; Koch & Leary, 1985; Shweder, 1991, dalam Kim et al, 2006). Batasan‐batasan kontekstual inilah yang membuat relevansi suatu teori psikologi tidak selalu kuat apabila diterapkan didaerah atau konsteks budaya lain.

Ahli lain seperti Diener (2003) mengartikan SWB sebagai penilaian pribadi individu mengenai hidupnya, bukan berdasarkan penilaian dari ahli, termasuk didalamnya mengenai kepuasan (baik secara umum, maupun pada aspek spesifik), afek yang me-nyenangkan, dan rendahnya tingkat afek yang tidak menyenangkan Hal tersebut akhirnya oleh Diener dijadi-kan sebagai komponen-komponen spesifik yang dapat menentukan tingkat SWB seseorang. Komponen-komponen tersebut antara lain: emosi yang me- nyenangkan, emosi yang tidak menyenangkan, kepuasan hidup secara global, dan aspek-aspek kepuasan (Diener, dkk, 2003).

Namun demikian Lyubomirsky dan Lepper (1997) memberikan kritik bahwa untuk menilai tingkat subjective well-being tidak cukup dengan melihat masing-masing komponen. Dibutuhkan penilaian global mengenai keseluruhan hidup yang lebih luas daripada hanya melihat afek, kepuasan hidup, dan aspek- aspek kepuasan bagi individu.

Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa kebanyakan orang dapat menilai dirinya sebagai orang yang bahagia atau tidak. Tidak hanya itu, kebanyakan orang juga dapat menilai orang lain sebagai orang yang bahagia atau tidak. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah istilah mengenai kebahagiaan yang tidak sekedar menilai kebahagiaan seseorang dari komponen-komponen subjective well-being. Lyubomirsky dan Lepper (1997) menyebutnya sebagai subjective happiness.

Kebahagiaan dalam Islam

Karakteristik Kebahagiaan


Hamka (2002) seorang filsuf, ulama dan sastrawan, Islam mengajarkan pada manusia empat jalan untuk menuju kebahagiaan.

  • Pertama, harus ada i’tiqad, yaitu motivasi yang benar-benar berasal dari dirinya sendiri.

  • Kedua, yaqin, yaitu keya- kinan yang kuat akan sesuatu yang sedang dikerjakannya.

  • Ketiga, iman, yaitu yang lebih tinggi dari sekedar keyakinan, sehingga dibuktikan oleh lisan dan perbuatan.

  • Tahap terakhir adalah ad-diin, yaitu penyerahan diri secara total kepada Allah, peng- hambaan diri yang sempurna. Mereka yang menjalankan ad-diin secara sempurna tidaklah merasa sedih berkepanjangan, lantaran mereka benar-benar yakin akan jalan yang telah Allah pilihkan untuknya.

Lebih lanjut HAMKA menjelaskan teori pencapaian kebahagiaan kepada pemungsian, pemurnian, pengasahan dan penyempurnaan akal. Ia memandang akal sebagai alat, media dan sarana utama menemukan kebahagiaan. Meskipun ia tidak benar-benar konsisten, namun dapat disimpulkan bahwa ia berbeda dengan pandangan yang berlaku umum di kalangan filosof dan sufi tentang eksistensi akal.

Kebahagiaan tertinggi yang dapat dicapai akal adalah ma’rifatullah, yakni mengenal Allah

Referensi
  • Boven, V. L. (2005). Experientialism, Materialism, and the Pursuit of Happiness. APA Review of General Psychology, Vol. 9, No. 2, 132–142. Washington: Educational Publishing Foundation.

  • Diener, E. & Scollon, C. 2003. Subjective well being is desirable, but not the summon bonum. Paper delivered at the University of Minnesota interdisciplinary Workshop on Well- Being, October 23 - 25, 2003, Minneapolis

  • Diener, E., Suh, E.M., Lucas, R.E., & Smith, H.L. 2005. Subjective Well- Being: Three Decades of Progress. Psychological bulletin, 125, 276-302.

  • Emmons, R. A., & McCullough, M. E. 2003 Counting blessings versus burdens: An experimental investigation of gratitude Argyle, Martin & Crossland, 1989.

  • Friedman H.S. & Schustack M.W. 2006, Psikologi Kepribadian (teori Klasik dan Riset Modern) jilid 2, Jakarta: Erlangga (terjemahan)

  • Hamka 2002. Falsafah Hidup, Cet.XIII.Jakarta: Pustaka Panjimas, .

  • Hetherington, E. M., & Parke, R. D, “Child psychology: A contemporary viewpoint”, (5th ed.) McGraw-Hill, New York, 2003.

  • Kim, U., Yang, K., Hwang, K. (2006). Contributions to Indigenous and Cultural Psychology: Understanding People in Context. Dalam Kim, U., Yang, K., Hwang, K., (Eds). Indigenous and Cultural Psychology: Understanding People in Context. New York: Springer.

  • Lu, L., Gilmour, R., & Kao, S. (2001). Cultural Values and Happiness: an East‐West Dialogue, The Journal of Social Psychology, 141 (4), 477‐493.

  • Lyubomirsky, S., Sheldon K., & Schkade D. (2005). Pursuing Happiness: The Architecture of Sustainable Change. APA Review of General Psychology, Vol. 9, No. 2, 111–131. Washington: Educational Publishing Foundation

  • Pavot, W. (2008). The Assesment of Subjective well‐Being. Dalam Eid M. & Larsen R. J. The Science of Subjective Well‐Being. New York: Guilford Press.

  • Rice, F. P., & Dolgin, K. G, “The adolescent: Development, relationships, and culture”, (10th ed.), MA: Allyn & Bacon, Boston, 2002.

  • Russell, J.E.A. 2008. Promoting Subjective Well-Being at Work. Journal of Career Assessment, 16: 118-132.

  • Seligman, M. (2002). Authentic happiness: Using the new positive psychology to realize your potential for lasting fulfillment. New York: Free Press.

  • Uchida, Y., Norasakkunkit, V., Kitayama, S., (2004). Cultural Constructions of Happiness: Theory and Empirical Evidence. Journal of Happiness Studies, 5: 223‐239. Netherlands: Kluwer Academic.


(Abila Rezfan Azkadina) #7

Persoalan kebahagiaan telah menjadi tema utama pembahasan para sastrawan, agamawan, dan para filosof selama berabad-abad. Kebahagiaan, dalam berbagai bahasa seperti Inggris (Happiness), Jerman (Gluck), Latin (Felicitas), Yunani (Eutychia, Eudaimonia), Arab (Falah, Sa‘adah), menunjukkan arti sebagai berikut: keberuntungan, peluang baik, dan kejadian yang baik.

Dalam bahasa Cina (Xing Fu), kebahagiaan terdiri dari gabungan kata “beruntung” dan “nasib baik”. Setiap orang, dengan berbagai tingkatan usia dan latar belakang, memiliki gambaran yang berbeda-beda tentang kebahagiaan.

Para filosof sendiri berbeda pendapat dalam mendefinisikan kebahagiaan. Ada yang menggambarkan sebagaimana pendapat di atas dan ada pula yang melihat kebahagiaan jauh di atas itu. Menurut Aristoteles, manusia mampu melihat kebahagiaan jauh di atas kesenangan-kesenangan fisik. Sebagian filosof lain, misalnya kaum Hedonis dan Utilitarian, menetapkan kebahagiaan sebagai landasan moral. Baik buruknya suatu tindakan diukur sejauh mana tindakan itu membawa orang pada kebahagiaan (lebih tepatnya kesenangan). Ada pula filosof yang mengatakan bahwa perbuatan baik dan buruk tidak berkaitan sama sekali dengan kebahagiaan, karena boleh jadi ada tindakan yang membuat pelakunya bahagia, tetapi tidak bermoral, misalnya korupsi. Menurut kelompok ini, perbuatan baik adalah tuntutan etis untuk menjalankan kewajiban, walaupun membuat pelakunya menderita.

Makna Kebahagiaan


Pada dasarnya, bahagia adalah fitrah atau bawaan alami manusia. Artinya, ia merupakan sesuatu yang melekat dalam diri manusia. Bahagia sudah seharusnya dimiliki oleh setiap manusia, karena menurut fitrahnya, manusia diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kesempurnaan. Manusia adalah makhluk yang paling baik dan sempurna dibanding dengan makhluk lainnya. Hal ini telah dinyatakan oleh Allah dalam Al Qur’an sebagai berikut:

“Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkat mereka di daratan dan lautan, dan Kami telah memberikan rezeki yang baik kepada mereka, dan Kami telah lebihkan mereka dari makhluk-makhluk lain yang telah Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”. Q.S. Al-Isra’: 70

Kabir Helminski, seorang sufi penerus tradisi Jalaluddin Rumi, menulis tentang manusia sempurna dalam bukunya, The Knowing Heart: A Sufi Path of Transformation. Menurut tokoh ini, sifat manusia sempurna adalah refleksi dari sifat-sifat Tuhan yang sebagian tercermin dalam 99 nama Allah ( al-Asma’ul Husna). Kesempurnaan manusia adalah takdir bawaan manusia, yang memerlukan hubungan yang harmonis antara kesadaran diri dan rahmat Ilahi. Itulah capaian kebahagiaan yang sesungguhnya.

Kebahagiaan hidup seseorang dapat dinilai secara objektif (objective happiness) dan subjektif (subjective happiness). Secara objektif, kebahagiaan seseorang dapat diukur dengan menggunakan standar yang merujuk pada aturan agama atau pembuktian tertentu. Rakhmat mencontohkan, misalnya ada seseorang bernama Fulan. Ia menghabiskan waktu mudanya untuk berfoya-foya, termasuk dengan melakukan segala tindakan dosa. Ia tidak pernah mengalami sakit. Ia mengaku sangat bahagia. Benarkah ia bahagia? Menurut ukuran agama, ia dianggap tidak bahagia, karena pada hari akhirat kelak, jika ia tidak segera bertaubat, akan masuk neraka. Dalam bahasa Tasawuf, si fulan ini dikatakan sedang mengalami apa yang disebut dengan istidraj. Artinya ia sedang diberi ujian oleh Allah dengan nikmat (kesenangan) untuk melihat apakah ia sadar atau tidak dengan nikmat yang didapatkannya.

Menurut ukuran (pembuktian) rasional, ia juga tidak bahagia, karena lama-kelamaan ia pasti akan kehilangan harta, kesehatan, dan kesenangannya. Secara subjektif, kita dapat mengukur kebahagiaan seseorang dengan bertanya kepadanya dengan singkat apakah ia bahagia atau tidak. Demikian pula dengan konsep makna hidup.

Komponen Kebahagiaan


Pada saat materialisme menjadi panglima, di mana kekayaan, jabatan, dan ketenaran menjadi dewa yang diagung-agungkan, kematian bunuh diri seorang aktor hebat peraih Oscar (Robin William) adalah sebuah tragedi kemanusiaan. Kenyataan yang mengenaskan ini meniscayakan adanya redefinisi terhadap ukuran kesuksesan dan kebahagiaan. Dua komponen yang selama ini dianggap sebagai ukuran utama kesuksesan, yaitu kekayaan dan kekuasaan, perlu dilengkapi dengan hal-hal yang lebih mendasar lagi.

Ariana Huffington menawarkan empat elemen kesuksesan, yaitu: kesehatan lahiriah-batiniah (well-being), ketakjuban (wonder), kearifan (wisdom), dan sikap memberi (giving). Dalam ukuran baru ini, sukses harus berbanding lurus dengan kebahagiaan. Sukses haruslah sebangun dengan kebermaknaan hidup. Jadi, persoalan setiap manusia adalah bagaimana menemukan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya dengan mengisinya dengan hal-hal yang bermakna.

Kehidupan pribadi yang bermakna ditandai oleh adanya aspek-aspek berikut ini pada diri seseorang, yaitu:

  • hubungan antar pribadi yang harmonis, saling menghormati, dan saling menyayangi; kegiatan-kegiatan yang disukai dan menghasilkan karya-karya yang bermanfaat buat orang lain;

  • kemampuan mengatasi berbagai kendala kehidupan dan menganggap kendala ini bukan sebagai masalah, tetapi sebagai peluang dan tantangan;

  • tujuan hidup yang jelas sebagai pedoman dan arahan kegiatan yang dilandasi oleh keimanan yang mantap;

  • rasa humor yang tinggi, yaitu mampu melihat secara humoristis pengalaman-pengalaman sendiri, termasuk pengalaman hidup yang tragis;

  • secara sadar berusaha meningkatkan taraf berpikir, bertindak positif, mengembangkan potensi diri, yang meliputi fisik, mental, emosi, sosial, dan spiritual, secara seimbang, untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik dan meraih citra diri yang diidam-idamkan; dan melandasi semua hal yang di atas dengan do’a, ibadah, dan niat yang suci.

Aspek-aspek di atas pada dasarnya merupakan turunan dari tiga jenis nilai yang oleh Frankl diyakini bisa menjadi sumber kehidupan yang bermakna, yaitu meliputi: nilai-nilai kreatif atau berkarya (creative values), nilai-nilai penghayatan (experiential values) dan nilai-nilai bersikap (attitudinal values), serta ditambah dengan satu jenis nilai yang dikemukakan oleh Bastaman, yaitu nilai-nilai pengharapan (hopeful values).

Selanjutnya, beberapa komponen atau instrumen kebahagiaan dapat diidentifikasikan secara objektif ke dalam beberapa hal berikut, yaitu:

  • Terpenuhinya kebutuhan fisiologis (material), misalnya makan, minum, pakaian, kendaraan, rumah, kehidupan seksual, kesehatan fisik, dan sebagainya;

  • Terpenuhinya kebutuhan psikologis (emosional), misalnya, adanya perasaan tenteram, damai, nyaman, dan aman, serta tidak menderita konflik batin, depresi, kecemasan, frustasi, dan sebagainya;

  • Terpenuhinya kebutuhan sosial, misalnya memiliki hubungan yang harmonis dengan orang-orang di sekelilingnya, terutama keluarga, saling menghormati, mencintai, dan menghargai;

  • Terpenuhinya kebutuhan spiritual, misalnya mampu melihat seluruh episode kehidupan dari persepektif makna hidup yang lebih luas, beribadah, dan memiliki keimanan kepada Tuhan.

Apabila keempat kebutuhan di atas dapat dipenuhi secara seimbang, dapat dipastikan bahwa seseorang akan merasakan kebahagiaan hidup. Jadi, kata kuncinya adalah pada terdapatnya keseimbangan dalam hidup seseorang. Para filosof muslim sendiri membedakan adanya tiga tingkatan kebahagiaan, yaitu:

  • Pertama, kebahagiaan yang bersifat badani.

  • Kedua, yang lebih tinggi dan lebih memuaskan, adalah kebahagiaan yang lebih bersifat intelektual, yakni penguasaan ilmu pengetahuan.

  • Ketiga, yang merupakan kebahagiaan puncak (hakiki), adalah kebahagiaan yang bersifat spiritual. Kebahagiaan jenis ini sering disebut pula kebahagiaan yang bersifat Ilahi, sebagaimana dipromosikan kaum Sufi.

Para filosof meenyebut kebahagiaan puncak ini dengan peraihan cinta Ilahi.

Di samping tingkatan kebahagiaan di atas, dikenal pula beberapa kategori kebahagiaan yang meliputi: kebahagiaan yang bersifat jangka pendek-panjang, peripheral-ultimate, dunia-akihirat, jasmani-ruhani, hakiki-tidak hakiki, dan sebagainya. Perlu diingat kembali, bahwa pengkategorian ini bukan dalam arti memisahkan secara diametral, tetapi sekadar untuk memudahkan pemahaman dan pengetahuan bagi manusia.

Ibn Miskawaih merinci tanda-tanda orang yang berbahagia sebagai berikut: penuh energi, optimis, penuh keyakinan, tabah dan ulet, murah hati, memiliki sikap istiqamah, dan rela (qana’ah). Ciri-ciri ini tidak melihat kebahagiaan dari dimensi instrumental (bendawi), tetapi lebih mengacu pada dimensi etis yang berangkat dari nilai-nilai dan akhlak Islam.

Dengan demikian kebahagiaan seseorang dapat dilihat dari tiga sudut pandang.

  • Pertama, secara objektif, yaitu dengan melihat sejauhmana tingkat pemenuhan kebutuhan, baik fisik, psikis, sosial, maupun spiritual pada diri seseorang secara seimbang.

  • Kedua, secara preskriptif (eksternal), yaitu dengan melihat apakah secara etis seseorang memiliki sifat, standar, atau ciri-ciri orang yang berbahagia.

  • Ketiga, secara subjektif (internal), yaitu dengan menanyakan kepada seseorang tentang perasaan subjektifnya terhadap ke- hidupannya. Misalnya, ketika seseorang mengatakan : “Saya merasa bahagia”, tentu memiliki perbedaan dengan orang yang mengatakan: “Saya sedih”.

Metode Menuju Kebahagiaan


Seorang sufi, bernama Kabir Helminski, menggambarkan karakteristik kesempurnaan manusia sebagai berikut:

  1. Pengetahuan diri, meliputi tingkat pengetahuan manusia terhadap diri- sendiri, kelemahan, keterbatasan, karakteristik, dan motivasi diri.

  2. Pengendalian diri, yaitu kemampuan untuk membimbing dan mentran- sendensikan dorongan-dorongan nafsu.

  3. Pengetahuan yang objektif, yaitu pengetahuan yang berkesesuaian baik dengan kebutuhan praktis maupun realitas objektif yang dapat diketahui melalui hati yang sadar dan suci.

  4. Pengetahuan batin. Artinya kemampuan untuk mengakses bimbingan dan makna dari dalam batin sendiri.

  5. Hadir. Artinya kemampuan untuk tetap dalam kondisi khusyu’, yaitu secara sadar merasakan pengalaman.

  6. Cinta tanpa pamrih. Artinya mencintai Tuhan dan ciptaan-Nya tanpa motif kepentingan diri.

  7. Meningkatkan perspektif Ilahiyah, yaitu kemampuan untuk selalu melihat kejadian-kejadian, termasuk dirinya sendiri sebagai manusia, dari pers- pektif cinta tertinggi dan Tauhid, serta tidak terperosok ke dalam penilaian dan pendapat yang egois.

  8. Intim dengan Tuhan. Artinya menyadari adanya hubungan dengan sumber Ilahi.

Merujuk pada beberapa poin di atas, apa yang dikemukakan oleh Bastaman agaknya perlu diapresiasi oleh para konselor dan psikolog muslim. Ia menyatakan bahwa pengembangan hidup yang bermakna dan berbahagia pada dasarnya tidak berbeda dengan pengembangan pribadi pada umumnya, yaitu mengaktualisasikan potensi diri dan melakukan transformasi diri ke arah kondisi kehidupan yang lebih baik. Prosesnya paling tidak memerlukan sembilan unsur pokok yaitu: niat, potensi diri, tujuan usaha, metode, sarana, lingkungan, asas-asas sukses, dan yang tak kalah pentingnya adalah ibadah (do’a).

Hidup yang bermakna dan berbahagia dapat diraih dengan jalan lebih dahulu ada niat kuat untuk berubah (Niat) dan menetapkan tujuan yang jelas ingin dicapai (Tujuan) serta berusaha mengaktualisasikan berbagai potensi diri (Potensi), kemudian berusaha melaksanakannya (Usaha) dengan menggunakan metode yang efektif (Metode) dengan sarana yang tepat (Sarana). Proses ini akan lebih berhasil jika mendapatkan dukungan lingkungan social (Lingkungan), khususnya kerjasama dengan orang-orang terdekat, terlebih lagi jika selalu diikuti dengan ibadah dan doa kepada Allah (Ibadah).

Kembali kepada prinsip dasar pengembangan pribadi, Bastaman merangkum beberapa pandangan sebagai berikut:

  1. Citra diri Muslim ideal. Citra diri (self image) atau konsep diri (self concept) adalah gambaran seseorang menegenai dirinya. Citra diri adalah salah satu hal penting dalam proses pengembangan pribadi. Citra diri yang positif akan mewarnai pola sikap, cara berpikir, corak penghayatan, dan ragam perbuatan yang positif pula. Citra Diri Muslim adalah gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri, dalam arti sejauh mana ia menilai sendiri kualitas keislaman, keimanan, dan keihsanannya berdasarkan tolok ukur ajaran Islam. Penilaian ini memang tidak mudah, karena mengandung kadar subjektivitas yang tinggi, tetapi hal ini sangat dianjurkan dalam ajaran Islam, yaitu adanya kewajiban menghitung diri (muhasabah) sebelum dihisab (dihitung) di hari Akhirat.

  2. Manusia dapat berubah secara dinamis dari buruk menjadi baik, dan sebaliknya dari baik menjadi buruk. Artinya manusia bertanggungjawab dalam menentukan kondisi dan kualitas pribadinya. Allah berfirman:

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa- apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. ar-Ra’du: 11)

  3. Pengembangan diri yang positif merupakan upaya terus-menerus untuk meningkatkan diri lebih baik daripada sebelumnya.

  4. Pentingnya pemahaman dan pengembangan diri. Berkaitan dengan citra diri muslim, salah satu masalah yang perlu diketahui adalah aspek “ the technical know-how –nya”, yaitu bagaimana metode, proses, dan tindakan- tindakan yang terencana untuk mengembangkan kualitas pribadi mendekati citra diri Muslim yang ideal. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan “pelatihan pemahaman dan pengembangan pribadi”. Pelatihan ini pada dasarnya merupakan proses untuk lebih menyadari berbagai keunggulan dan kelemahan pribadi, baik yang potensial maupun yang telah teraktualisasi; yang mencakup kemampuan, keterampilan, sikap, sifat, cita-cita, lingkungan sekitar, untuk kemudian mengembangkan hal-hal yang positif dan mengurangi atau menghambat hal-hal yang negatif.

    Latihan dan pengembangan pribadi dapat dilakukan secara mandiri dengan memfungsikan perenungan diri tanpa melibatkan orang lain (solo training atau self guidance), dan dapat dilakukan pula secara kelompok dengan memanfaatkan umpan balik dan dukungan orang lain sesama anggota kelompok (group training/group guidance). Terdapat berbagai metode pemahaman dan pengembangan pribadi yang dapat digunakan oleh konselor muslim, antara lain :

    • Pembiasaan. Artinya, melakukan suatu perbuatan yang positif atau keterampilan secara terus-menerus secara konsisten dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga perbuatan atau keterampilan tersebut benar-benar dikuasai dan akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Proses ini biasa disebut dengan conditioning. Proses ini akan menjelma menjadi kebiasaan (habit), kebisaan (ability), dan akhirnya menjadi sifat-sifat pribadi (personal traits) yang terwujud dalam perilaku sehari-hari.

    • Peneladanan. Artinya mencontoh pemikiran, sikap, sifat-sifat, dan perilaku orang-orang yang dikagumi untuk kemudian mengambil-alihnya menjadi sikap, sifat, dan perilaku pribadi. Hal ini terjadi dalam dua ragam peneladanan, yaitu peniruan (imitation) dan identifikasi diri (self identification). Peniruan adalah upaya untuk menampilkan diri dan berlaku seperti penampilan dan perilaku orang yang menjadi idola (dikagumi), sementara identifikasi diri adalah pengambil-alihan nilai-nilai (values) dari tokoh-tokoh yang dikagumi untuk selanjutnya dijadikan nilai-nilai pribadi (personal values) yang berfungsi sebagai pedoman dan arah pengembangan diri.

    • Pemahaman, penghayatan, dan penerapan. Artinya secara sadar dan sungguh-sungguh berusaha untuk mempelajari dan memahami nilai-nilai, prinsip, dan perilaku yang dianggap baik dan bermakna, kemudian berusaha untuk mendalami dan menjiwainya, dan akhirnya mencoba menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    • Ibadah, yaitu melakukan ibadah-ibadah mahd}ah (khusus) seperti shalat, puasa, dzikir, dan ibadah dalam arti umum, yaitu berbuat kebajikan, dengan niat semata-mata karena Allah. Secara sadar maupun tidak, jika hal ini dilakukan secara konsisten, maka akan memunculkan kualitas-kualitas terpuji pada orang yang melakukannya. Berkaitan dengan manfaat ibadah solat dan zikir, Allah berfirman:

      “Sesungguhnya shalat itu mencegah (manusia) dari perbuatan keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat kepada Allah itu merupakan (kekuatan) yang paling besar“ Q.S. Al-Ankabut: 45

Beberapa pandangan Bastaman di atas sesungguhnya menggambarkan sebuah model pengembangan pribadi. Sebagaimana diketahui bahwa dalam dunia psikologi dan bimbingan konseling dikenal bermacam-macam pelatihan dan metode pengembangan pribadi (personal growth). Pengembangan pribadi adalah upaya terencana dalam meningkatkan wawasan, pengetahuan, kete- rampilan, dan sikap yang mencerminkan kedewasaan pribadi untuk meraih kondisi yang lebih baik dalam mewujudkan citra diri yang diidam-idamkan. Usaha ini dilandasi oleh kesadaran bahwa manusia, sebagai the self determining being, memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang terbaik bagi dirinya dalam rangka mengubah kondisi dirinya agar menjadi lebih baik.

Bastaman menegaskan bahwa salah satu kegiatan pengembangan pribadi adalah pelatihan “Menemukan Makna Hidup” yang dapat dimodifikasi untuk merancang program pelatihan “Menuju Kepribadian Muslim”. Menurut Bastaman, pelatihan penemuan makna hidup yang dirancangnya didasari oleh prinsip “Panca Sadar”, yaitu:

  1. Sadar akan citra diri yang diidam-idamkan
  2. Sadar akan keunggulan dan kelemahan diri
  3. Sadar akan unsur-unsur yang menunjang dan menghambat dari lingkungan sekitar
  4. Sadar akan pendekatan dan metode pengembangan pribadi
  5. Sadar akan tokoh idaman dan panutan sebagai suri tauladan

Selain lima prinsip di atas, Crumbaugh, yang kemudian dimodifikasi oleh Bastaman, mengemukakan beberapa pendekatan, metode, dan teknik-teknik pengembangan pribadi yang disebut dengan Panca Cara Pengembangan Pribadi, yaitu:

  1. Pemahaman Diri. Artinya mengenali secara objektif berbagai kekuatan dan kelemahan diri, baik yang potensial maupun yang telah teraktualisasi, mengembangkan atau meningkatkan hal-hal yang positif serta mengurangi atau menghambat hal-hal yang negatif.

  2. Bertindak Positif. Artinya berupaya menerapkan dan melaksanakan hal- hal yang baik dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

  3. Pengakraban Hubungan. Artinya meningkatkan hubungan baik dengan pribadi-pribadi tertentu, misalnya anggota keluarga, teman, dan rekan kerja, sehingga tercipta suasana saling percaya, saling membutuhkan, dan saling membantu.

  4. Pendalaman Catur Nilai. Merujuk pada upaya untuk memahami dan memenuhi empat macam nilai yang merupakan sumber makna hidup, yaitu :

    • Nilai-nilai kreatif (berkaitan dengan kerja, karya, dan berprestasi)

    • Nilai-nilai penghayatan (kebenaran, keindahan, kasih sayang, keimanan, dan sebagainya)

    • Nilai-nilai bersikap, artinya menerima dan mengambil sikap yang tepat terhadap derita yang tidak dapat dihindari lagi (pandai mengambil hikmah di balik musibah).

    • Nilai-nilai pengharapan, artinya selalu memiliki sikap optimis bahwa perubahan yang diinginkan akan terjadi.

    • Ibadah. Artinya berusaha melaksanakan apa yang diperrintahkan Tuhan dan mencegah diri dari apa yang dilarang-Nya. Ibadah yang khusyuk sering mendatangkan perasaan tenteram, mantap, dan tabah, dan bisa menimbulkan perasaan mendapatkan bimbingan dan petunjuk-Nya dalam menghadapi musibah (divine guidance).

Kelima metode ini bertujuan untuk mengeksplorasi sumber-sumber makna hidup dari kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar. Jika makna hidup telah berhasil ditemukan oleh seseorang, maka ia akan mendapatkan perasaan ber- makna dan bahagia, yang merupakan cermin dari kepribadian yang mantap dan sehat. Pendekatan ini dapat digunakan dalam pelatihan atau bimbingan “Menuju Kepribadian Muslim”.

Sumber : Muskinul Fuad, Psikologi Kebahagiaan Manusia, STAIN Purwokerto