Bagaimanakah Karakterstik Penelitian Antropologi Sastra?


Karakteristik penelitian antropologi sastra adalah pemahaman sastra dari sisi keanekaragaman budaya. Masalah hangat dalam menulis antropologi sampai saat ini belum terpecahkan secara serius.

Bagaimanakah karakteristik penelitian antropologi sastra?

Belum ada rumusan yang baku, apa dan bagaimana sastra dan antropologi harus ditulis dan dipahami. Sastra dan antropologi awalnya memang wilayah yang berbeda. Namun, pada kenyataannya, sastra dan antropologi sering bersentuhan dalam menimba kehidupan manusia. Pada dasarnya, baik sastra maupun antropologi terkait dengan perilaku sosial dan budaya manusia yang kompleks.

Jika Keesing (1981:77) sudah menyoroti bahasa dalam kaitannya sebagai alat komunikasi, dari sisi antropologi, sastra dapat berimbas ke bidang antropologi sastra. Oleh karena bahasa dalam peristiwa komunikasi itu diwujudkan ke dalam sastra oleh sekelompok orang, orang sering membungkus makna simbolis dengan bahasa kias. Perilaku dan budaya manusia sering dituturkan secara imajinatif oleh informan, melebihi seorang pengarang sastra. Tuturan secara lisan justru banyak menggoda penafsiran.

Oleh sebab itu, tugas antropolog sastra dan ahli sastra sebenarnya sejajar, yaitu bagaimana menafsirkan perilaku itu tanpa mengadopsi sikap anti-humanistik. Bagaimana perilaku tokoh Datuk Meringgih dalam novel Siti Nurbaya, jelas membawa kesan tersendiri. Begitu pula karya-karya lain seperti Atheis, Upacara karya Panji Tisna, Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana, Burung-burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya, Sindhen karya Krishna Miharja, dan Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer akan menjadi saksi rekaman budaya suatu zaman.

Karya-karya yang memuat lokalitas telah lama menggoda ahli-ahli sastra. Mereka ada yang menyebut warna lokal, lalu ditinjau, dibaca, dan diberi kritik secara sosiologis. Namun, tampaknya kritik sosiologis itu hampir kehilangan makna yang sesungguhnya. Oleh karena simbol-simbol budaya sering tidak selalu sama dengan simbol sosial, karya-karya yang memuat kearifan lokal atau warna lokal sebenarnya lebih cocok dikaji dari sisi antropologi sastra. Karya-karya yang memuat warna lokal itu sebenarnya tidak jauh berbeda dari sebuah etnografi.

Ciri tulisan etnografi dan karya pengarang tidak jauh berbeda, yaitu:

  • Memuat seluk beluk perilaku manusia,
  • Bermuatan hal-hal humanistis.

Kedua hal ini membutuhkan tafsir yang jitu. Itulah sebabnya penelitian antropologi sastra perlu selektif. Seleksi didasarkan atas keberagaman dan lokalitas sebuah karya sastra.

Tulisan antropolog tidak jauh berbeda dari karya sastra, antara lain:

  • Untuk membaca kehidupan,
  • Untuk memberikan suara kepada khalayak,
  • Untuk memberikan beberapa pikiran agar orang-orang sadar, misalnya Ernest Frankson

Sama seperti cerita rakyat, melalui kantor-kantor yang baik dari program folklife dari Smithsonian Institution, sebenarnya bertujuan melestarikan, merangsang, dan memelihara budaya rakyat dan seni mereka. Antropologi dapat memperkaya dan diperkaya oleh apa yang disebut dengan materi pelajaran.

Antropologi dapat dipandang sebagai semacam masuk dan berada di belakang orang, belajar banyak tentang kehidupan mereka, tentang niat mereka, teknik dan cara, dan pada saat yang sama secara bertahap menunjukkan bahwa kita mengetahui dan memahami cara-cara dan kemudian mencerminkan kembali kepada rakyat.

Yang paling penting, ketika hendak menganalisis karya sastra, perlu seleksi terlebih dahulu. Objek penelitian yang akan dijadikan bahan analisis ada beberapa hal, antara lain:

  • Memilih karya yang melukiskan etnografi pada masyarakat lokal, sederhana, belum tertata, tetapi memiliki pemikiran cerdas;
  • Memilih karya-karya yang melukiskan berbagai tradisi lokal, kekerabatan, trah;
  • Memilih karya yang penuh tantangan, jebakan, petualangan.

Karya-karya semacam itu jauh lebih bagus dibandingkan peneliti asal meneliti karya sastra. Karya-karya sastra etnis yang bertajuk lokalitas biasanya lebih menarik dianalisis secara antropologi sastra.

Antropologi sastra sebenarnya merupakan sebuah getaran baru yang mencoba mengurai kebuntuan pemahaman sastra secara monodisipliner. Aktivitas monodisiplin ini, menurut Rokhman (2003:3), kurang memberi kesempatan leluasa pada siapa saja yang belajar sastra.

Yang lebih penting, jika interdisipliner sastra dapat diwujudkan, manusia tidak akan picik memahami sastra. Manusia dapat memahami persoalan hidup manusia secara utuh. Kata Turner (1993:27), baru-baru ini tidak terlihat bahwa masalah tafsir etnografi dan sastra merupakan masalah besar. Dengan demikian, tidaklah berlebihan apabila ajakan Ahimsa Putra dan Budiman (Rokhman, 2003:10) untuk mengembangkan antropologi sastra patut segera mendapat tanggapan.

Antropologi sastra tidak sekadar masalah bandingan sastra atau sastra bandingan, tetapi perlu dipupuk agar pemahaman sastra dapat berjalan secara total. Masalah selalu ada dalam sastra karena memang hakikatnya multitafsir. Yang menggoda adalah tafsir antropologis untuk menyelami aspek budaya secara mendalam.

Hal ini terjadi karena antropologi cenderung mengambil jarak dan menjauh dari materi akademik di kalangan ilmu humaniora seperti sejarah atau sastra, linguistik, dan sebagainya. Begitu pula ahli sastra, sering merasa dirinya lebih pandai hingga mengambil jarak estetis dengan karya sastra. Padahal, jika akan mendekati realitas tafsir etnografi dan sastra, seharusnya tidak mengambil jarak. Teks etnografi dan sastra membutuhkan tafsir yang dekat sambil menyelami tindakan manusia yang humanis.

Struktur masyarakat, kode dan hukum, sastra, mitos tinggi, dan kehidupan nyata merupakan hasil perenungan manusia. Kewenangan etnografer untuk menemukan orang lain (ther other) di lapangan sebagai konsultan memang penting. Karakteristik etnografi juga sejajar dengan sastra, yaitu mengedepankan data. Hanya saja, jika etnografi sering memanfaatkan wawancara dengan realitas, sastra dapat saja dengan wawancara secara imajiner.

Gerakan ini telah dipromosikan sebagai lawan dari analisis kognitif dan struktural-fungsionalisme, modus lain dari kepenulisan, konvensi pengalaman, interpretatif, dialogis, dan polifonik. Maka dari itu, penelitian antropologi sastra lebih banyak untuk menjawab ketidakpuasan teori-teori sebelumnya yang kadang-kadang menemukan kebuntuan.

Dalam tulisan ini, diharapkan agar peneliti antropologi sastra seharusnya mampu beradaptasi dan mencoba menggunakan informan untuk memahami secara alami apa yang akan terjadi. Mereka dapat menelusuri karya sastra, dikaitkan pula dengan lapangan, audiens, dan juga resepsi dramatis.

Saya percaya bahwa tanpa contoh kejadian yang sebenarnya ketika antropolog mengambil bagian (tidak hanya teks), banyak upaya untuk menggambarkan “antropologi interpretatif” baru yang cenderung membingungkan dan tidak jelas. Masalahnya adalah bagaimana untuk menghasilkan kehalusan dan kejujuran dalam lapangan serta mengambil kesimpulan yang berkisar pada pemahaman beberapa jenis manusia normal. Yang terakhir ini merupakan tujuan yang serius dalam antropologi sastra karena fungsi tulisan antropologis tidak hanya untuk antropolog.

Referensi

http://staffnew.uny.ac.id/upload/131872518/penelitian/metodologi-antropologi-sastra.pdf