© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana tingkatan manusia terkait dengan pengharapan mereka terhadap rezeki?

Rezeki

Setiap manusia diwajibkan untuk mencari rezeki yang terhampar di muka bumi. Tetapi ada perbedaan cara pandang terkait bagaimana seharusnya kita mencari rezeki. Bagaimana pandangan pencarian rezeki menurut sudut pandang tasawuf ?

Manusia dalam penghidupan terbagi kepada dua macam, yaitu :

  1. Manusia yang ditentukan Allah dalam status Al-Asbaab.
    Manusia dalam status ini, untuk menghasilkan penghidupannya dalam dunia adalah dengan jalan bekerja. Apabila tidak bekerja maka tidak dapat hidup. Pekerjaan manusia dalam mengatasi hidup banyak sekali corak-sifatnya, misalnya sebagai pedagang, pegawai, supir, guru, petani dan lain-lain sebagainya.

    Apabila hidup kita selamat, tenteram atau dapat diatasi dengan pekerjaan kita yang kita kerjakan itu, maka menurut akhlak ilmu Tasawuf, kita tidak diperbolehkan meninggalkan pekerjaan tersebut dan berpindah pada status yang lain, yakni meninggalkan pekerjaan yang sudah menjadi berkah tersebut karena semata-mata bertujuan untuk melaksanakan ibadah kepada Allah s.w.t.

    Apabila pekerjaan tersebut kita tinggalkan, sehingga kita beribadah saja tanpa menghiraukan penghidupan kita dengan pekerjaan yang menjadi pekejaan kita itu, maka akhlak Tasawuf mengajarkan kepada kita bahwa keadaan tersebut adalah semata-mata karena adorongan syahwat yang tersembunyi di dalam diri kita. Disebutkan dengan “syahwat”, karena kita tidak mau menuruti atau tidak mau sejalan dengan kehendak Allah s.w.t. Tuhan berkehendak untuk kemaslahatan kita dalam hidup dan kehidupan kita, agar kita bekerja, beramal dan berusaha.

    Arti “tersembunyi”, yakni syahwat itu disebut dengan syahwat yang tersembunyi (the dosed desire), ialah ambisi yang besar pada menyandarkan
    diri semata-mata kepada Allah untuk kebahagiaan ukhrawi meskipun kehidupan duniawi morat-marit dan menyusahkan. Ambisi yang begini pada lahirnya secara sepintas lalu adalah baik, tetapi pada hakikatnya sudah menyimpang dari ketentuan Allah disebabkan keinginan kita seperti tersebut di atas.

  2. Manusia yang ditentukan Allah dalam status Tajrid.
    Manusia dalam tingkatan status ini sudah tinggi nilainya pada sisi Allah. Penghidupannya telah dimudahkan Allah, sehingga ia tidak sulit lagi dalam mengatasi hidup dan kehidupannya. Dia tidak perlu bekerja dan berusaha untuk menghasilkan rezeki, tetapi rezekilah yang datang kepadanya.

    Manusia dalam status ini dapat kita lihat dalam dua gambaran:

    • Manusia yang meskipun dia bekerja dan berusaha tetapi seolah-olah dia bekerja itu sebagai iseng-iseng belaka, karen hatinya selalu tertuju untuk dapat melaksanakan ajaran agamanya dengan sebaik-baiknya, dan bagaimana ia selalu taqwa kepada Allah s.w.t.

      Manusia yang semacam ini meskipun ia beramal dan bekerja, tetapi tidak memberatkan otaknya, bahkan pula Allah memudahkan rezekinya dan memberikan keberkatan pada usahanya yang tidak dikiranya sama sekali.

      Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah:

      “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah akan memberikan jalan keluar (dari kesulitan-kesulitan) untuk orang itu. Dan Allah akan memberikan rezeki kepadanya dari (sumber-sumber) yang tiada pernah difikirkannya. Dan barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Tuhan itu melaksanakan kehendakNya. Sungguh Allah telah mengqadarkan bagi tiap-tiap sesuatu.” (At Thalaq: 2-3)

    • Manusia yang sama sekali tidak bekerja dan bcrusaha, selain hanya beribadah saja kepada Allah Yang Maha Esa. Ibadah itu macam-macam sifatnya. Apakah pekerjaannya mengajar saja tanpa memungut upah tetapi menuntun ummat kepada ajaran-ajaran agama. Misalnya dapat kita lihat pada sebagian ulama-ulama kita di pesantren-pesantren.

      Pekerjaan mereka adalah hanya mengajar, tidak bekerja seperti bersawah dan lain-lain, bahkan pula harta pun tidak ada, tetapi rezeki didatangkan Allah kepadanya.

    Hamba-hamba Allah yang telah diangkat martabatnya oleh Allah ke maqam tajrid seperti dalam dua bagian di atas, maka akhlak Tasawuf menganjurkan kepadanya supaya jangan turun ke maqam Al-Asbaab; apabila ia turun ke maqam asbaab berarti ia menurunkan nilai dirinya dari himmah (tekad) yang bermutu tinggi. Maksudnya, ia jangan turun untuk bekerja dan berusaha seperti orang-orang biasa, karena apabila ia turun ke tingkat ini, maka ibadahnya akan terganggu, keberkahan yang telah diberikan Allah kepadanya akan dicabut Allah s.w.t.

Rezeki

Tiap-tiap status atau tingkatan keadaan yang telah ditentukan oleh Allah kepada setiap kita hendaklah kita menerimanya dengan ridha dan ikhlas. Meskipun maqam-maqam antara kita sama kita berlainan. Kita tidak boleh coba-coba memindahkan diri kita dari satu maqam (status) ke maqam yang lain, apakah maqam yang lain itu lebih tinggi dari semula, ataukah lebih rendah, seperti turun dari maqam tajrid ke maqam asbaab, terkecuali apabila Allah s.w.t. telah memindahkan kita.

Adakala Tuhan tidak memberkati kita lagi pada satu-satu maqam, sehingga kita harus berpindah. Misalnya saja ketika kita melihat bahwa pekerjaan kita sehari-hari tidak lagi menguntungkan, baik urusan dunia maupun urusan agama.

Dapat kita fahami firman Allah dalam Al-Quran:

“Dan katakanlah (hai Muhammad): Ya Tuhanku masukkanlah aku secara masuk yang benar, dan keluarkanlah aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang dapat memberikan bantuan.” (Al-Isra’: 80)

Apabila kita dalam tiap-tiap keadaan dalam kehidupan selalu berperang kepada Allah, bertawakkal, menyerahkan diri dan tidak melupakanNya, maka Allah Maha Pengasih dan Penyayang akan menuntun kita kepada jalan yang benar.

Firman Allah dalam Al-Quran:

“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah, maka sesungguhnya orang itu telah diberikan petunjuk kepada (jalan) yang lurus.” (Ali Imran:101)

Semoga Allah s.w.t. selalu menuntun kita kepada jalan yang benar dan lurus.

Referensi : Abuya Syeikh Prof. Dr. Tgk, Chiek. H. dan Muhibbuddin Muhammad Waly Al-Khalidy, 2017, Al-Hikam Hakikat Hikmah Tauhid dan Tasawuf Jilid 1, Al-Waliyah Publishing