Bagaimana terapi, proses terjadinya, gejala, pemeriksaan, dan pencegahan pada infeksi virus corona?

Corona virus diketahui dapat menyerang dan menyebabkan penyakit pada pedet, kuda, anak anjing dan babi. Infeksi virus tersebut pada babi mengakibatkan penyakit yang banyak men datangkan kerugian berupa penyakit transmissible gastroenteritis (TGE). Pedet yang berumur 5-21 hari diketahui paling rentan terhadap infeksi oleh virus ini. Rupanya kerjasama virus dengan kuman patogen usus tidak begitu diperlukan. Hal tersebut dibukti kan dengan percobaan atas pedet-pedet gnotobiotik, yaitu pedet yang dilahirkan secara aseptik dari induk yang bebas kuman (specific pathogen free, SPF), yang menyebabkan kematian secara langsung setelah inokulasi virus Corona. Bagaimana terapi, proses terjadinya, gejala, pemeriksaan, dan pencegahannya?

Proses terjadinya
Corona-virus berkembang di dalam sel-sel selaput lendir usus, pada villi intestinales. Villi tersebut terlihat mengalami atrofi berat. Oleh atrofi yang terjadi proses penyerapan makanan jadi terganggu. Isi usus yang tidak terserap akan menahan air serta menaikkan tekanan osmose di dalam usus. Perubahan tekanan osmose akan berakibat pada fungsi normal kuman dalam proses pencernaan. Oleh rusaknya sel-sel villi, ion Na juga akan banyak ikut terbuang bersama tinja, hingga tubuh lama kelamaan akan kekurangan sodium.

Gejala-gejala
Pedet yang menderita infeksi Corona-virus meng alami kelesuan yang sangat. Biasanya proses berlangsung selama 4-5 hari dan berakhir dengan kematian penderita.

Pemeriksaan patologi anatomis
Secara umum perubahan yang menyolok dari alat-alat tubuh tidak ditemukan. Gejala diare dapat diamati sebelum melakukan bedah bangkai. Gejala dehidrasi juga dapat terlihat dari kekeringan jaringan secara umum. Atrofi villi intestinales dapat dilihat dengan baik dengan cara memeriksanya di bawah mikroskop stereo pada jejunum maupun pada ileum yang segar, yang diperiksa di dalam larutan garam faali. Struktur villi akan terlihat terbaik apabila diambil dari hewan tersangka yang dietanasi, dan segera setelah itu dilakukan pemeriksaan mikroskopik.

Terapi
Oleh karena kerusakan villi usus pengobatan biasanya tidak memberikan hasil yang memuaskan. Pengobatan yang biasa dilakukan di praktek meliputi penggantian cairan dan elektrolit yang hilang. Juga pemberian antibiotika yang dimaksudkan untuk mengatasi infeksi sekunder oleh kuman biasa dilakukan.

Pencegahan
Pencegahan dilakukan dengan memberikan vaksin virus hidup (MLV). Vaksin Scourvac II dan vaksin Rota-virus biasa diberikan bersama-sama, beberapa jam setelah kelahiran secara per os.

Referensi: Subronto. 1989. Ilmu Penyakit Ternak I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.