Bagaimana teknik dalam Pencarian Berita ?

jurnalistik

( Aurora Ridha Zetana) #1

Pencarian Berita

Berita bukanlah sebuah fakta, berita merupakan laporan tentang sebuah atau beberapa fakta.

Bagaimana teknik dalam Pencarian Berita ?


(mandala aditya) #2

Teknik pencarian berita adalah suatu cara yang digunakan oleh reporter dalam mendapatkan informasi mengenai peristiwa yang sedang ataupun sudah terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Hal ini dibutuhkan agar mempermudah kinerja reporter dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Ada berbagai macam teknik yang digunakan oleh reporter untuk mendapatkan data, fakta, dan informasi yang dibutuhkan.

1. Berlangganan melalui Kantor Berita Televisi

Reporter memperoleh informasi dengan cara mengambil (membeli secara berlangganan) dari kantor berita seperti CNN, Asianews, dan lainnya. Laporan yang dikirimkan melalui kantor berita ini biasanya berupa visual (gambar) yang sudah di-dubbing suara komentar reporter yang bersangkutan.

Ada juga yang tidak di-dubbing tetapi dengan disertai penulisan narasi yang dikirimkan melalui faks. Dari kantor berita inilah berbagai macam berita dari berbagai penjuru dunia dapat diperoleh oleh reporter. Dengan sedikit proses editing, berita tersebut sudah dapat disiarkan kepada pemirsa di rumah.

Cara seperti ini sangat membantu tugas reporter dalam mendapatkan informasi. Namun ketelitian dan kejelian reporter sangat dibutuhkan, mengingat adanya kemungkinan terdapat data yang sudah basi. Inilah tugas reporter untuk memperbaharui berita tersebut dengan data terbaru yang belum dimasukan ke dalam penulisan naskah. Selain melalui kantor berita, reporter juga memanfaatkan internet sebagai sumber dalam mendapatkan informasi. Selain itu internet juga dapat digunakan sebagai sumber langsung pemberitaan, yaitu menggunakan berita-berita yang diproduksi oleh kantor-kantor berita on line yang melakukan up dating berita secara berkala dan cepat.

2. Wawancara

Wawancara merupakan kegiatan komunikasi melalui proses pertukaran informasi antara reporter dengan narasumber. Menurut Widodo, wawancara didefinisikan sebagai operasi mencari berita dengan cara menghubungi nara sumber, baik langsung (face to face) maupun tidak langsung seperti via telepon atau tertulis. Wawancara sendiri bisa dikatakan sebagai tulang punggung pekerjaan seorang wartawan atau reporter, karena hampir tidak ada satu jenis pun pekerjaan wartawan atau reporter yang dilakukan tanpa mewawancarai seseorang untuk dimintai keterangan atau informasi tentang suatu peristiwa.

Pada umumnya wawancara atau interview merupakan pertemuan tatap muka (face to face) antara seorang yang mengajukan pertanyaan- pertanyaan dengan orang (banyak orang) lain. Pertanyaan-pertanyan itu biasanya dipusatkan pada suatu pokok persoalan atau beberapa pokok persoalan tertentu. Kualitas pertanyaan akan menentukan seberapa bagus kualitas berita atau informasi yang didapat. Untuk itulah reporter harus membekali dirinya dengan kemampuan yang memadai sebagai seorang reporter. Hal ini mutlak dibutuhkan mengingat reporter juga akan bertugas sebagai pewawancara (interviewer).

Adapun syarat yang harus dimiliki oleh seorang pewawancara (interviewer) adalah:

  1. Pewawancara harus mengetahuai secara pasti tujuan yang ingin dicapai. Apakah untuk memperoleh informasi, opini maupun kombinasi.

  2. Tidak terlalu banyak bicara, tetapi mampu membuat narasumber berbicara banyak dan mengeluarkan semua informasi yang diperlukan.

  3. Pewawancara adalah “wakil” dari audience, maka dari itu ia harus mempersiapkan pertanyaan yang kira-kira dapat mewakili kepentingan masyarakat.

  4. Pewawancara harus dapat menciptakan suasana bersahabat, sehingga membuat narasumber merasa santai dan dapat mengeluarkan semua informasi yang dibutuhkan tanpa ada paksaan ataupun tekanan.

  5. Pewawancara harus berpengetahuan luas. Atau setidaknya mampu membuat dirinya menjadi orang yang ahli dalam bidang yang akan dijadikan topik wawancara.

Sedangkan menurut Soewardi Idris, seorang pewawancara (interviewer) haruslah memiliki syarat dan kemampuan sebagai berikut:

  1. Mempunyai kemampuan intelektual, setidaknya dalam bidang yang dipertanyakan. Dengan kata lain ia harus mampu menjadikan dirinya sebagai “seorang ahli dalam waktu seketika” dalam topik yang dibicarakan.

  2. Mempunyai kemampuan mengajukan pertanyaan-pertanyan yang singkat tetapi padat, sesuai dengan bidang yang narasumber ikut terlibat di dalamnya.

  3. Mempunyai kemampuan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa menggali latar belakang suatu persoalan, sehingga pemirsa mendapat informasi yang relatif luas tentang hal yang dipermasalahkan.

Menurut Yurnaldi, wawancara bertujuan untuk menggali sebanyak mungkin informasi, untuk mendapatkan jawaban yang bernilai penting, menarik, dalam, dan secara psikologis berkaitan dengan manusia. Lebih khusus lagi, wawancara bertujuan untuk mengumpulkan fakta yang berupa informasi, opini, pendapat, wawasan, gagasan, motivasi, pemikiran, ide-ide, tanggapan atau kisah pengalaman.

Tujuan reporter melakukan wawancara sangat beragam. Namun demikian, tujuan utamanya adalah mendapatkan informasi dari narasumber tentang kebenaran suatu peristiwa. Agar informasi yang didapatkan valid, benar, dan dapat dipertanggung jawabkan, reporter harus bisa mencari narasumber yang memang berkompeten di dalamnya.

Menurut Budyatna, ada bermacam-macam jenis wawancara, sedangkan wawancara yang termasuk dalam kategori wawancara berita memiliki ciri utama sebagai berikut:

  1. Masalah yang menjadi pokok wawancara berasal dari topik yang sedang hangat dibicarakan atau diberitakan.

  2. Sumber berita dan narasumber yang diwawancarai, memenuhi syarat untuk menjelaskan, atau memberikan keterangan bahwa fakta-fakta saja belum cukup untuk mengungkapkan kejelasan.

  3. Hasil wawancara dapat menambah pengetahuan atau pemahaman khalayak. Hasil wawancara ini diharapkan mampu menjelaskan, meluaskan wawasan, menghilangkan prasangka, memberikan pandangan dengan kegelisahan atau optimisme.

3. Observasi Reporter di Lapangan

Dalam pencarian berita, seorang reporter mendapatkan informasi dari berbagai sumber. Namun, semua itu tidaklah cukup untuk dijadikan sebagai berita. Reporter harus terjun langsung ke lokasi terjadinya suatu peristiwa atau yang lebih dikenal dengan observasi. Hal ini bertujuan agar informasi yang diperoleh benar-benar valid sesuai dengan peristiwa yang sedang berlangsung atau terjadi.

Observasi dilakukan oleh reporter di lapangan untuk mengumpulkan fakta. Fakta disini dapat diartikan sebagai kejadian yang sesungguhnya, benar-benar terjadi dalam realita hidup masyarakat, yang merupakan bahan utama dalam bidang jurnalistik. Observasi semacam ini dapat dilakukan jika reporter berada di tempat terjadinya peristiwa. Dengan kemampuan yang dimiliki dan dengan tangkapan inderawinya, reporter harus mencatat berbagai peristiwa yang dilihat, didengar, serta dirasakannya, dan benar-benar dialami sendiri oleh reporter.

Ada beberapa jenis teknik pengamatan atau observasi di lapangan, antara lain:

  1. Pengamatan Langsung
    Artinya pengamatan dilakukan langsung ke obyek-obyek yang diharapkan dapat memberikan informasi selengkap mungkin. Misalnya reporter hidup dan tinggal bersama dengan pengungsi korban banjir, melihat dan merasakan sendiri bagaimana kehidupan dan penderitaan mereka.

  2. Pengamatan Tidak Langsung
    Artinya pengamatan bisa dilakukan dengan perantara. Misalnya melalui wawancara dengan pihak yang terkait. Atau bisa juga dilakukan melalui koresponden (stringer) atau yang lebih dikenal dengan nama reporter pembantu, yaitu seseorang yang berdomisili di suatu daerah, diangkat dan diberi tugas untuk menjalankan tugas selayaknya reporter, yaitu memberikan laporan secara continue tentang kejadian atau peristiwa yang terjadi di daerahnya.

Riset Dokumen atau Informasi Tertulis

Riset dokumen atau informasi tertulis adalah sumber bahan berita yang akan melengkapi data dan fakta suatu kejadian. Riset dokumen ini bisa berupa surat keputusan, surat tugas, data-data tertulis, siaran pers, surat penghargaan, dan sebagainya yang berkaitan dengan peristiwa.

Informasi seperti ini dapat diperoleh dari orang-orang yang berwenang pada kejadian atau peristiwa tersebut. Selain informasi tertulis seperti di atas, dapat juga menggunakan informasi tertulis lainnya seperti buku, peta, kamus, ensiklopedi, dokumen-dokumen tertulis dan sebagainya.

Referensi
  • Asep Saeful Muhtadi, Jurnalistik: Pendekatan Teori dan Praktek, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999).
  • Widodo, Teknik Wartawan Menulis Berita di Surat Kabar dan Majalah, (Surabaya: Indah).
  • Yurnaldi, Kiat Praktis Jurnalistik, (Padang: Angkasa Raya, 1992).
  • Koesworo, dkk, Dibalik Tugas Kuli Tinta, (Surakarta: Sebelas Maret University Press, 1994).
  • Sedia Willing Barus, Jurnalistik: Petunjuk Praktis Menulis Berita, (Jakarta: CV Mini Jaya Abadi, 1996).