© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana tanggapan atau pendapat anda tentang nongkrong ?

image

Banyak dari sekitar 65% pelanggan dari franchise minimarket adalah orang yang berusia kurang dari 30 tahun. Banyak dari pelanggan itu juga, berselancar di internet misalnya di 7-Eleven atau semacamnya, sistemnya pun buka 24/7, dan itu memberikan alasan pelanggan mereka berkumpul hingga larut malam.

Hal semacam itu juga terjadi di Indonesia, bahkan newyorktimes sendiri mengatakan bahwa ada kata untuk duduk, berbicara dan umumnya tidak melakukan apa-apa yakni nongkrong. Memang banyak faktor yang menyebabkan pelanggan betah, bisa dari wifi, makanan atau minuman dengan harga murah. Di sisi lain nongkrong kadang bisa memperakrab relasi bahkan bisa memperluas network kita. Bisa juga misal jika kita nongkrong di warung-warung lokal itu akan menggerakkan roda ekonomi di kalangan industri rumahan misal.

Tapi memang ada betulnya apa yang di tulis oleh newyorktimes tersebut, kebanyakan nongkrong di Indonesia adalah duduk, berbicara dan umumnya tidak melakukan apa-apa, atau ngobrol ngalor ngidul. Bagaimana tanggapan anda tentang masalah ini?

3 Likes

menurut saya artian “nongkrong” termasuk ke dalam kategori baik atau buruk itu tergantung dari pribadi masing masing bagaimana melakukannya. tidak semua “nongkrong” itu buruk, bisa jadi kita mempunyai sebuah project yang akan dibuat dan membutuhkan diskusi, tetapi kita tidak ingn suasana dalam diskusi tegang, oleh karna itu kita melakuakn diskusi ddi cafe dengan mengobrol santai dengan rekan project yang lain, yang biasanya orang beranggapan hanya “nongkrong” saja. namun “nongkrong” juga bisa dikatakan buruk apabila kita tidak menggunakan waktunya sebaik mungkin, semisal kita hanya “nongkrong” saja, hanya mengobrol dan membicarakan yang tidak penting. menurut saya hal ii hanya membuang buang waktu dengan percuma.

5 Likes

Anda pasti sering mendengar kata kata bijak yang mengatakan, “Semua perbuatan tergantung dari niatnya”.
Sebuah aktivitas yang dimulai dengan niat yang baik, Inshaa Allah akan berlangsung dengan baik pula.

Nah, sesuai dengan topiknya, yaitu nongkrong, bukanlah sebuah kebiasaan yang buruk. Orang Indonesia (khususnya Jawa) sendiripun memiliki sebuah slogan, “Mangan ora mangan pokok’e ngumpul” ig. “Makan nggak makan yang penting bersama.” Bahkan orang orang Indonesia memiliki budaya untuk menyelesaikan masalah dengan cara bermusyawarah (berkumpul). Hal ini bisa diemplementasikan secara kekeluargaan maupun dalam lingkup pertemanan.

Jika tujuan dari nongkrong tersebut adalah untuk menjalin silaturrahmi dan kedekatan bersama, saling bercerita tentang pengalaman dan hobi masing-masing sudah barang tentu nongkrong tersebut berada di garis positif.
Akan tetapi jika nantinya nongkrong tersebut malah dijadikan ajang pamer, bergosip, bahkan merencanakan sesuatu yang berbau kriminal, nongkrong malah menjadi hal yang negatif.

Jadi, semua itu tergantung niat dan menjalankannya.
Nongkrong di warung kopi
Nyentil sana dan sini
Sekedar suara rakyat kecil
Bukannya mau usil

1 Like

menurut saya nongkrong bisa menjadi baik maupun buruk. hal tersebut tergantung orang yang nongkrong. banyak orang yang nongkrong hanya membahas hal yang tidak terlalu penting akan tetapi juga tidak jarang juga orang yang nongkrong untuk membahas prospek, tugas, dll.karena itu sebaiknya kita memanfaatkan waktu nongkrong kita sebaik mungkin.

1 Like

Baik atau buruknya kembali ke diri masing-masing, tapi menurut saya, nongkrong lebih ke sisi positif. Penting atau tidaknya hal-hal yang dibahas, itu semua akan menambah wawasan kita tentang dunia luar pula, dengan nongkrong kita juga dapat menambah link atau koneksi. Tetapi kita juga harus hati-hati untuk memilih teman nongkrong, karena ada teman nongkrong yang mungkin saja bisa mengajak kita ke arah yang negatif seperti miras dan narkoba. Dan menurut saya, kalau ada teman nongkrong notabene adalah seorang perokok atau bahkan perokok berat, itu bisa di toleransi tanpa harus menjauhi orang tersebut, karena jika kita menjauhi orang tersebut, tindakan seperti itu juga akan memberikan kesan yang negatif.

1 Like

keseringan nongkrong akan berdampak negatif.
Mengalami Insomnia
Apabila terlalu sering begadang atau nongkrong otomatis kamu akan kurang tidur, hal ini dapat menyebabkan kamu mengalami insomnia hingga sangat susah tidur karena kebiasaan nongkrong atau begadang tersebut.

Mempercepat Kegemukan hingga Obesitas
Orang yang suka begadang atau nongkrong pasti akan terbawa nafsu nya untuk selalu ingin ngemil dan makan hingga berlebihan. Menurut penilitian ini pengaruh dari hormon.

Mudah stress
Stress juga bisa terjadi akibat dari keseringan begadang atau nongkrong. Apalagi jika begadang sendirian dan tidak ada teman untuk berkomunikasi pasti akan lebih mudah membuat stress.

Menimbulkan gejala stroke
Dalam sebuah hasil penelitian bahwa orang yang tidur kurang dari 6 jam akan lebih terkena resiko stroke empat kali lipat daripada orang yang tidur tujuh hingga delapan jam. Resiko tersebut berlaku untuk seseorang yang memiliki indeks masa tubuh normal.

Bisa menyebabkan diabetes
Ternyata orang yang tidak tidur tubuhnya bisa mengalami resistensi insulin yakni kondisi dimana insulin sudah tidak mampu mengatasi kadar gula darah.

Dapat memicu penyakit hipertensi
Hipertensi yaitu kondisi ketka seseorang mengalami peningkatan tekanan darah secara kronis. Hipertensi juga merupakan pemicu gejala stroke dan tak lain penyebab salah satunya adalah karena kurangnya tidur.

2 Likes

Nongkrong? ada istilah tentang nongkrong :
Ayo dongurangi nongkrong neng prapatan (ayo kita kurangi nongkrong di perempatan jalan)
Timbang ning prapatan mending pengajian (dari pada nongkrong lebih baik pengajian)
Ora ketipungan utowo gitaran (tidak bermain ketipung atau gitaran)
Mending bareng-bareng mangkat shalawatan (lebih baik kita bersama-sama shalawatan).

(Syair Habib Syech Solo)

Sudah menjadi tren di kalangan para remaja setiap weekend mereka nongkrong bersama komunitasnya masing-masing. Sepintas, acara nongkrong memang keliatan sepele. Namun sebagai masyarakat menganggapnya sebagai kebiasaan buruk karena dapat merusak pemandangan jalan. bahkan tidak jarang dari para penongkrong mengganggu ketenangan warga masyarakat sekitar dengan cara hura-hura, gitaran, dangdutan, dan lain sebagainya. Belum lagi para penongkrong yang kebetulan berjumlah banyak akan semakin mempersempit jalan dan mengganggu arus lalu lintas.
Dalam sekali nongkrong para remaja bisa menghabiskan waktu berjam-jam, dan itu bisa menimbulkan dampak negatif, misalnya sering pulang tengah malam, menimbulkan insomnia dan bisa menggangu kesehatan karena kekurangan tidur.
Sebenarnya, masalah nongkrong bukan hal yang baru, sebab Nabi juga pernah menanggapinya. Dalam sebuah riwayat disebutkan :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا مِنْ مَجَالِسِنَا بُدٌّ نَتَحَدَّثُ فِيهَا فَقَالَ إِذْ أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya Nabi Saw. pernah bersabda (pada para sahabat), “Jauhilah duduk-duduk di tepi jalan!” lalu para sahabat bertanya, “Wahai Rasullullah kami tidak bisa meninggalkan tempat-tempat ini, karena di tempat itulah kami membicarakan sesuatu.” Rasulullah pun bersabda, “Apabila kalian merasa tidak bisa untuk meninggalkan duduk-duduk disitu maka penuhilah hak jalan itu?” Para sahabat bertanya lagi, “Apa saja hak jalan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Menutup pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, dan amar ma`rûf nahi munkar.” [Shahîh al-Bukhâriy, XIX:239]

Di kesempatan yang lain, Rasul pernah menghampiri sahabat anshar yang sedang duduk-duduk di tepi jalan seraya bersabda :

إِنْ كُنْتُمْ لاَ بُدَّ فَاعِلِيْنَ فَأَفْشُوْا السَّلاَمَ وَأَعِيْنُوْا اْلمَظْلُوْمَ وَاهْدُوْا السَّبِيْلَ

“Jika memang kalian tidak dapat meninggalkan perbuatan tersebut (duduk di tepi jalan) maka tebarkanlah salam, bantulah orang yang terzhalimi, dan tunjukkan (seseorang) pada arah jalan (yang tidak diketahuinya).” [Musnad Ahmad bin Hanbal, IV:282]

ari hadis yang kedua ini ada syarat tambahan yang disampaikan Nabi kepada para sahabatnya yang sedang nongkrong yakni mereka harus mengucapkan atau menjawab salam kepada para pengguna jalan, membantu orang yang sedang terzhalimi seperti orang yang sedang dirampok atau dijambret, serta menunjukkan arah bagi mereka yang kebingungan dengan perjalannnya.

Disebutkan dalam kitab Tuhfatu al-Ahwadziy, VII :30 bahwa jumhur ulama menambahkan ketentuan bagi aktivis nongkrong yang terpaksa melakukannya dengan batasan bahwa dia harus senantiasa berkata yang baik-baik, membantu orang yang sedang membawa barang yang berat, mendoakan orang bersin, dan senantiasa berdzikir pada Allah serta hal-hal lain yang bersifat kebajikan.

Demikianlah Rasul dan para ulama memberikan syarat dan aturan main bagi mereka yang hobi nongkrong. Sungguh ketat syarat yang di tentukan Nabi Saw tentang masalah nongkrong. Oleh sebab itu jumhur ulama sebagaimana yang terdapat dalam kitab al-Mausû`ah al-Fiqhiyyah, II :1322 menyatakan bahwa hukum nongkrong sebenarnya makruh karena secara tersirat Nabi Saw tidak menyukainya. Dalam artian, lebih baik kita tinggalkan kebiasaan nongkrong karena dengan meninggalkannya berarti secara otomatis kita telah mendapat pahala kebaikan. Hanya saja nongkrong bisa menjadi mubah ketika ada tujuan dan keterdesakan untuk melakukannya. Jika bertujuan baik akan tetapi ada cara lain misalnya berbincang-bincang di rumah maka itu di bolehkan.

So….pada saat ini, sebaiknya kita tinggalkan kebiasaan nongkrong di pinggir jalan atau di tempat-tempat umum lainnya. Banyak hal yang jauh lebih bermanfaat yang bisa kita lakukan selain nongkrong di pinggir jalan. Kalau memang mau bermusyawarah, berdiskusi, atau berbincang-bincang tentang kebaikan maka lebih baik mencari tempat yang sesuai yakni bagi mahasiswa di kampus tempatnya, bagi orang tua ya di rumah, bagi siswa di kelas tempatnya, dan demikian seterusnya. Bukankah melakukan sesuatu yang bukan pada tempatnya disebut dzalim?

2 Likes

Bermacam-macam orang menanggapi tentang hal nongkrong ini, mulai dari yang positif hingga negatif. Ada pendapat lainnya?

1 Like

menurut dari artikel yang saya baca di
https://shanexa.wordpress.com/2013/02/13/apa-sih-itu-nongkrong/

Nongkrong itu baik atau tidak tergantung pada orang yang melakukan kegiatan nongkrong tersebut. Jika melakukan nongkrong untuk berdiskusi, melepas emosi dengan interaksi, itu bisa menjadi dampak positif, selama tidak mengganggu aktivitas orang lain.
Namun nongkrong bisa jadi negatif jika yang dilakukan tidak memberikan manfaat, malah buang buang waktu bahkan bisa merugikan orang lain.

1 Like

Nongkrong, kata yang paling akrab kita jumpai saat umur 17 - 25 tahun. Menarik untuk membahasa nongkrong, karena saya sendiri adalah orang yang suka nongkrong dan juga tidak suka nongkrong. Mengapa?

Pertama, benar apa yang dikatakan @sk8lintang bahwa jika ingin melakukan hal tersebut kita harus memiliki niat yang baik. Contoh; Nongkrong untuk musyawarah, nongkrong untuk bertukar pikiran, nongkrong untuk silahturahmi, nongkrong untuk kumpul bersama kerabat, teman atau keluarga dan nongkrong untuk bersenang - senang atau refreshing.

Tidak ada salahnya ketika kita ingin nongkrong selama semuanya tidak mengganggu keseharian kita. Contoh; seperti yang dikatakan @Herbayu nongkrong dengan lupa waktu dapat menggangu kesehatan, seperti insomnia, obesitas, mudah stress, diabetes, hipertensi dan juga dapat menimbulkan gejala stres.
Bisa dilihat bahwa kebiasaan nongkrong seperti ini adalah nongkrong bagi orang - orang yang lupa waktu. Misalnya nongkrong pada malam hari. Hal tersebut sebenarnya mudah untuk diantisipasi dengan nongkrong di siang hari, dimana kita nongkrong saat waktu istirahat jam kerja atau sekolah kita. Yang terpenting adalah jangan sampai lupa dengan waktu.

Kedua, nongkrong memeang aktivitas yang cukup menyenangkan dan dapat membuat kita bahagia. Namun, jika nongkrong ditempat yang tidak sesuaipun tidak ada hasilnya. Seperti yang dikatakan @MiftahulAN nongkrong dipinggir jalan, diperempatan jalan. Hal tersebut malahan dapat mengganggu aktivitas kita yang sedang nongkrong dan juga bisa mengganggu aktivitas orang sekitar kita karena kita berada dipinggir jalan, seperti parkir motor atau mobil kita di jalanan yang dapat membuat kemacetan.

Nah, balik lagi, aktivitas nongkrong sebenarnya tidak bisa dikatakan negatif jika tujuan kita baik, tidak mengganggu orang sekitar. Nongkrong sendiri adalah suatu nama dari aktivitas yaitu ‘kumpul’ ‘berkumpul’ dengan orang - orang yang kita tahu. Kumpul, juga bisa dikaitkan dengan berbicara, berdiskusi.

Memang baik dan buruk tergantung dari individu, namun nongkrong sendiri menurut saya tidak bisa dimasukan dalam kategori baik dan buruk, karena nongkrong adalah aktivitas dimana kita bisa bersosialisasi.
Yang terpenting dalam hal ini adalah kita tahu diri, batasan dan waktu agar sesuatu yang kita lakukan dapat bermanfaat.

Semoga pikiran saya dapat bermanfaat, terimakasih :hugging::smile:

3 Likes

menurut saya, kita harus melihat dulu apa yang dimaksud nongkrong disini.
nongkrong yang baik dan benar menurut saya, adalah bertukar informasi di waktu santai dengan orang lain. tentunya yang dimaksud disini adalah informasi yang bermanfaat

sedangkan mayoritas penduduk Indonesia selalu menganggap kata kata ‘nongkrong’ adalah sesuatu yang tidak baik, yang sebagian besar pelakunya adalah orang-orang ‘nakal’ yang hobi keluar malam, dll.

kembali lagi baik atau tidaknya tergantung dari individu masing-masing. apakah mereka dapat memanfaatkan waktu luang agar dapat memperoleh sesuatu yang bermanfaat ketimbang hanya duduk memesan secangkir kopi tanpa melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat.

Saya sudah cukup lama mengamati fenomena ini. Betul yang dikatakan bung @sk8lintang semua kembali kepada niat dari si pelaku. Namun, yang cukup unik dari fenomena ini adalah begini.

Sewaktu saya SMA di Bogor, memang saya juga sering nongkrong. Dalam konteks ini nongkrong berarti ke suatu tempat di luar sekolah untuk sekedar ngobrol-ngobrol ataupun menghabiskan waktu sampai kisaran jam 6 atau jam 7 malam. Karena dulu ada paradigma bahwa anak SMA yang pulang sebelum matahari tenggelam diketawain sama pager. Akhirnya karena sudah jadi rutinitas, kebiasaan nongkrong sepulang sekolah sampai malam jadi kebiasaan. Tapi, dulu saya dan teman-teman saya selalu mencari tempat nongkrong yang ada makanan atau minumannya dan jauh dari keramaian. Entah apa alasannya, tapi saya dan teman-teman saya memang tidak terlalu suka nongkrong di tempat yang ramai seperti restoran cepat saji, mall ataupun kedai-kedai 24 jam yang notabene berletak di pinggir jalan besar.

Di Bogor, budaya nongkrong sudah mengakar. Coba datang saja ke swalayan 24 jam manapun sekitar jam 7 atau jam 8 malam, saya pastikan ada sekelompok orang yang sedang nongkrong di situ, walaupun Bogor sering hujan dari sore sampai sekitar jam 6. Setelah saya amati, kelompok-kelompok yang sering nongkrong ini selalu nongkrong di daerah-daerah yang ramai. Saya jadi menarik kesimpulan bahwa pandangan tentang nongkrong antara saya, teman-teman saya dan kelompok-kelompok ini sudah berbeda. Saya mencurigai ada aspek mencari “eksistensi” dalam budaya nongkrong yang sekarang digandrungi anak-anak muda.

Sekitar tahun 2011-2012, tepatnya sewaktu saya SMA kelas 11, Bogor terasa tak aman. Hal ini disebabkan sering ada bentrokan antar tongkrongan (begitu kami dulu menyebutnya). Mulai dari tongkrongan yang mengaku dirinya ILP squad, Warung Aa Squad, Palem dan sejenisnya. Yang jadi permasalahan adalah tongkrongan ini di anggotai oleh gabungan anak-anak SMA yang berbeda sekolah. Ya, beda sekolah tapi satu tongkrongan. Sehingga pada waktu itu, ragam tawuran di Bogor semakin banyak. Hal ini membuat saya sedikit banyak semakin memikirkan apa sesungguhnya nongkrong itu pada hakikatnya. Mengapa yang awalnya hanya sekedar berkumpul untuk ngobrol-ngobrol dengan teman tapi dapat berakhir dengan anarkisme seperti itu. Tentu hal ini perlu dikaji lagi demi membangun mental masyarakat.

1 Like

Berarti dapat disimpulkan nongkrong sudah menjadi budaya di Indonesia ya :grin:

Di beberapa negara yang pernah saya kunjungi, kegiatan nongkrong memang sudah menjadi budaya sosial, mengingat tempat mereka tinggal tidak memungkinkan untuk dijadikan tempat bersosialisasi.

Sangat berbeda dengan di Indonesia, dimana pada era 90an, anak mudanya melakukan kegiatan “nongkrong” di rumah teman, sehingga lebih terkontrol. Itupun hanya dilakukan pada hari libur.

So, budaya nongkrong memang bisa positif, bisa negatif. Selama digunakan untuk hal-hal yang produktif ; belajar kelompok, diskusi untuk merangsang kreatifitas atau refreshing ketika pikiran sudah jenuh, maka nongkrong akan menjadi hal yang postif.

Tetapi, ketika nongkrong digunakan untuk hal-hal yang konsumtif ; ngobrol hal-hal yg tidak jelas bahkan cenderung negatif (tawuran), maka sebaiknya kegiatan tersebut dihindari.

Faktor lingkungan, terutama teman, sangat berperan dalam hal ini. Oleh karena itu kedewasaan seseorang mempunyai peranan yang sangat penting apakah nongkrong akan menjadi budaya yang postif atau negatif.

1 Like

Iya bisa dikatakan begitu pa.

Saya setuju jika nongkrong yang berupa diskusi, belajar kelompok dan refreshing ketika pikiran sudah penat dari rutinitas sehari-hari merupakan hal yang positif. Karena terbukti ketika diskusi dengan suasana yang bebas dan bersama dengan teman-teman, pikiran dapat lebih terbuka dan inspirasi-inspirasi dapat keluar dengan mudah. Dalam konteks ini nongkrong sangat bermanfaat.

Tapi pa, yang mengganjal di pikiran saya adalah bagaimana caranya agar budaya nongkrong yang cenderung ke arah negatif (seperti ngobrol tidak jelas, tawuran dan semacamanya) dapat setidaknya dikurangi oleh kaum muda-mudi di Indonesia. Karena yang saya lihat dari lingkar sosial saya, nongkrong seperti hanya untuk mempertahankan eksistensi dan menghaburkan uang. Karena nongkrong yang seperti itu, dan dilakukan secara rutin sangatlah tidak masuk common sense saya. Menurut saya budaya nongkrong yang seperti ini sudah kanker sekali di sekitar lingkar sosial saya. Dan ketika budaya nongkrong yg negatif tersebut sudah mengakar, tentu generasi selanjutnya akan terbawa, karena seperti yg kita tahu salah satu masalah terbesar dunia adalah degradasi moral. Dimana setiap generasi yang lebih muda selalu mengalami penurunan moral dibanding generasi sebelumnya.

Semoga saja karena ini disebabkan negara kita merupakan negara berkembang dan seiring berjalannya waktu, pemikiran bangsa kita dapat lebih terbuka sehingga dapat memilah mana budaya yang positif dan negatif.

1 Like

Di Cina-pun nongkrong juga menjadi budaya untuk bersosialisasi.

Tapi ketika saya tanya, apakah biasa anak mudanya nongkrong, mereka menjawab, anak muda nongkrong hanya di weekend.

Ketika weekday, mereka harus belajar keras, mengingat persaingan disini luar biasa ketat.

Tidak heran negara Cina begitu maju dalam waktu yg relatif singkat. Memang kita perlu belajar banyak dari Cina

Belajarlah sampai negeri Cina.

1 Like

Nongkrong Telah Menjadi Budaya Anak Muda Zaman Sekarang

Nongkrong atau kongkow yang lebih tepatnya adalah sebuah hal yang dilakukan oleh sekumpulan anak muda disuatu tempat misalkan kafe. Nongkrong ini, biasanya dilakukan lebih dari 2 orang. Kegiatan ini, dilakukan kebanyakan mahasiswa sebagai gaya hidup ataupun untuk mengisi kekosongan waktu untuk mencari hiburan sebagai merileksan pikiran.

Hal-hal yang dilakukan ketika nongkong yaitu sekedar berbincang-bincang membicarakan masalah yang sedang dihadapi, berita yang sedang ada di televisi, gosip-gosip yang beredar dan juga cerita tentang gebetan, mantan atau pun pacarnya. Pandangan terhadap nongkrong biasanya selalu negatif, kegiatan tersebut dianggap menghabiskan waktu dengan kegiatan tidak jelas dan tidak penting.

Padahal nongkrong tidak selalu identik dengan hal-hal yang negatif, dengan nongkrong orang bisa berinteraksi dengan orang lain, mendapatkan relasi baru dan juga banyak teman baru. Hal ini sudah menjadi budaya di kota-kota besar di Indonesia khusunya Yogyakarta yang disebut sebagai kota pelajar ini. Hampir mahasiswa-mahasiswa ataupun para pekerja suka melakukan hal tersebut. Budaya ini semakin lama semakin berkembang terbukti dengan adanya pembangunan kafe-kafe baru yang mencamur.

“Menurut saya, nongkrong itu bukan melulu menyangkut hal yang negatif ya, tergantung pandangan orang seperti apa, menurut saya banyak hal yang positif dengan nongkrong, selain saya mendapat teman baru, saya juga bisa melepaskan kelelahan saya bekerja dengan sekedar nongkrong minum kopi dan bermain game online.” Begitu pernyataan bayu selaku orang yang mengku sering nongkrong di kafe langganannya. Budaya nongkrong memang tidak selalu negatif, tetapi tetaplah menjaga pikiran kita agar tidak gampang terpengaruh ketika nongkrong.

1 Like

Indonesia merupakan negara yang amat sangat besar. Hal itu tentunya diikuti oleh banyak sekali budaya-budaya yang mengikutinya, baik maupun yang kurang baik. Beberapa budaya yang kurang baik yang dimiliki masyarakat Indonesia adalah budaya ngaret, malas, dan juga budaya nongkrong. Meski begitu, kalo dilihat dari sisi lain ternyata ada budaya yang selama ini yang di anggap tidak berdampak positif malah memberikan dampak positif bagi orang-orang yang sering melakukannya salah satunya yaitu budaya Nongkrong.

Nongkrong lebih dikenal sebagai kegiatan ngumpul, berbincang-bincang, bercanda, curhat, ngerjain orang, dan masih banyak lagi. “Apapun kondisinya, makan atau nggak yang penting ngumpul dulu”, kalimat tersebut menunjukan bahwa kebiasaan nongkrong sudah mengakar dimasyarakat khususnya remaja, berkumpul dan berbincang-bincang telah menjadi budaya bagi Remaja Indonesia.

Di kota-kota besar seperti Banjarmasin saja, tempat nongkrong buat anak muda sudah sangat banyak dimana-mana. Pastinya sangat mudah menemui warung-warung kopi yang sering di jadikan anak muda sekarang sebagai tempat nongkrong. Dari emperan jalan, kedai-kedai kecil, warung kopi, bahkan restoran mewah kini isinya hanya para remaja yang suka nongkrong. Banyak faktor yang membuat para remaja makin betah berlama-lama nongkrong, Salah satunya yang diungkapkan oleh Rizka Normanida remaja cantik asal Banjarmasin ini, “Ada sensasi trsendiri, daripada di rumah, merhati’in tv, bosen ey banyak iklannya daripada acaranya, terlebih lagi bisa mengurangi stres di tengah kesibukan siang hari sampai sore”. katanya.

Meski banyak yang mengatakan budaya nongkrong terlihat seperti budaya pemalas dan tidak berguna, Namun budaya nongkrong ini memiliki potensi yang besar untuk mengurangi stres. Nahn sekarang timbul pertanyaan kenapa bisa budaya nongkrong memiliki potensi yang besar untuk mengurangi stres? Masih menurut Rizka Normanida, “Kata-kata yangg biasa keluar itu muncul di otak secara naluriah dan alamiah ,1 kata yang keluar dari mulut jika direspon org lain, maka akan jadi perbincangan yang menarik, ya jelas manusia adalah makhluk sosial ,tanpa interaksi, itu bukan manusia, banyak ahli teori yang sependapat dengan itu, bayangkan aja, 1 orang dibiarkan hidup sendirian, tanpa org lain. Jika dia mampu melewati masa-masa itu minimalnya saja 1 hari, di pastikan dia mengalami gangguan batin” ungkapnya.

Saat kita nongkrong, secara tidak sadar sering kita menemukan berbagai penyelesaian dari masalah-masalah yang dibicarakan karena didukung dengan suasana hati yang santai dan dipikirkan oleh beberapa orang yang otomatis membuat masalah yang dibicarakan lebih mudah terpecahkan.

Jadi dapat disumpulkan bahwa, baik atau tidaknya aktivitas nongkrong sebenarnya memang tergantung pada individu masing-masing, namun jika kandungan diskusi saat nongkrong itu berisi tentang hal-hal yang bermanfaat dan bahkan mampu memberikan pencerahan bagi permasalahan kita, nongkrong menjadi hal yang positif.

1 Like

Selain nongkrong di tempat yang disebutkan diatas. Orang Indonesia juga suka nongkrong sambil minum-minum alkohol. Mungkin di negara lain seperti di Jepang, Eropa dan Amerika juga menyukai hal tersebut karena maraknya penjualan alkohol di tempat seperti Bar.

Jakarta, CNN Indonesia – Nongkrong di bar. Barangkali tidak semua masyarakat Indonesia akrab dengan model pergaulan ini. Menurut definisi, bar adalah tempat di mana orang dari segala lapisan masyarakat berkumpul bersama dan membeli minuman.

Jika demikian definisinya, maka sebetulnya masyarakat Indonesia sebetulnya sudah tak asing dengan sistem pergaulan kongko-kongko seperti itu. Hanya saja, bar lebih merupakan kebiasaan masyarakat barat yang diserap oleh masyarakat Indonesia. Pola pengadopsiannya sendiri pun sebetulnya berbeda dengan kebiasaan orang-orang di benua Amerika atau Eropa.

Menurut sejarahnya bar mulanya dikembangkan oleh bangsa Amerika, sekitar abad ke-16. Mulanya, bar hanya terdiri dari sebuah pemisah yang terbuat dari kayu yang kuat, disebut juga sebagai barrier, secara harfiah diartikan sebagai ‘penghalang’. Fungsi barrier tersebut adalah memisahkan antara pembeli dan penjual (barman).

Budaya bar pun demikian mudah diterima oleh masyarakat Indonesia karena sifat masyarakat Indonesia yang pada dasarnya gemar bersosialisasi. “Orang Indonesia memiliki kehidupan sosial yang sangat tinggi, dari tingkat sosial yang paling rendah sampai yang tingkat sosialnya tinggi,” kata pakar sosiologi perkotaan JF Warrouw saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, pekan ini.

Pengunjung menikmati makan malam dan musik Jazz di Blackcat Jazz & Blues Club di bilangan Senayan, Jakarta. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Warouw mencontohkan masyarakat Tapanuli, Sumatera Utara yang terbiasa menegak tuak bersama teman dan kerabatnya. “Mereka akan bernyanyi, bermain catur, berbincang tentang apa pun sembari minum tuak beberapa gelas,” kata Warouw.

Tidak hanya pada masyarakat Batak, minum tuak juga merupakan tradisi masyarakat Ambon dan Manado. Demikian halnya masyarakat Flores yang senang minum moke atau sopi, minuman sejenis vodka. Jadi, budaya ‘minum’ sebetulnya sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat tradisional di Nusantara.

Namun, menurut Warouw, berbeda dengan orang-orang Barat yang memang pergi ke bar untuk menegak minuman keras, masyarakat urban Indonesia pergi ke bar lebih untuk bersosialisasi. “Masyarakat Indonesia nongkrong-nongkrong di bar sambil mengonsumsi minuman keras biasanya lebih untuk bersosialisasi, mencari teman dan jaringan.”

Revolusi Fungsi

Meski demikian, Warouw mengungkap, dalam perkembangannya bar telah mengalami revolusi fungsi.

Menurut Warrouw, nongkrong di bar dalam kebiasaan masyarakat urban Indonesia berbeda dengan tradisi ke bar pada masyarakat Barat. “Di Barat condong individualis. Mereka pergi ke bar-bar tertentu yang memang sudah menjadi tempat nongkrong mereka. Para pelayannya pun sudah tahu tamu-tamu yang biasa datang ke sana.”

Sementara, dosen Sosiologi Universitas Indonesia itu mengatakan, dalam budaya masyarakat urban di Indonesia, pada umumya ada dua fenomena‘penongkrong’.

Pertama, orang yang pergi ke bar untuk mencari pengalaman baru. “Mereka biasanya pergi ke bar untuk mencari pengalaman baru, hal-hal baru, atau referensi baru,” kata dia, sembari menambahkan pengalaman baru itu termasuk mencicipi makanan atau minuman baru, atau sekedar mengunjungi bar yang memang baru.

Kedua adalah orang yang mengharapkan bertemu orang baru dan membangun jaringan sosial. “Mereka memang datang ke bar untuk mencari jaringan baru yang akhirnya bisa berkembang menjadi pertemanan.”

Warrouw bercerita, dulu jumlah bar tidak sebanyak seperti sekarang. “Dulu bar hanya ada di salah satu hotel di kawasan Jakarta Pusat. Banyak politisi berkumpul di situ. Tapi sekarang bar tidak hanya ada di hotel-hotel saja, tapi sudah tersebar.”

Kehidupan malam di Jakarta nampaknya tidak pernah sepi peminat. Menurut laman Jakarta 100 Bars, sedikitnya ada belasan bar yang menjadi favorit kawula muda dan para ekspatriat yang bermukim di Jakarta. Di antara bar-bar tersebut adalah Cloud Lounge, Safehouse, Loewy, Potato Head Garage, Lucy in the Sky, SKYE, Bats and CJs, Face Bar, dan Paulaner Bauhaus.

Beberapa masukan datang dari seorang pembaca Jakarta 100 Bars. Berdasarkan pengalamannya, dia menyarankan beberapa bar sepatutnya dimasukkan ke dalam daftar bar terbaik di Jakarta.

“Saya akan menulis Face Bar di urutan pertama. Bar ini merupakan tempat berkumpulnya para ekspatriat, terutama guru, orang-orang NGO, dan jurnalis,” tulisnya.
“Saya juga senang berkunjung ke Burgundy di Hyatt jika Anda mencari tempat yang tenang untuk kencan atau minum setelah bekerja. Saya belum mengunjungi Jaya Pub semenjak tempat itu dibuka kembali. Bar legendaris itu sangat pantas masuk ke dalam daftar,” ujarnya.

Bar kini sudah bergeser fungsinya, tak hanya untuk mencari minuman keras, tapi juga ajang bersosialisasi dan berbisnis. (REUTERS/David Loh)Tak Sekadar Alkohol

Tak Sekadar Alkohol

Bagi orang awam, pergi ke bar kerap diidentikkan dengan mengonsumsi minuman keras. Namun, Warrouw mengingatkan bahwa klasifikasi bar di Indonesia tidak lagi sama dengan standar di barat. “Ada bar yang tidak untuk minum-minuman keras,” kata Warrouw menjelaskan.

Padahal, bar tidak selalu berfungsi sebagai tempat yang menyediakan minuman keras. Dalam sebuah laman tentang perhotelan dijelaskan tentang macam-macam bar menurut fungsinya.

Di antaranya adalah tempat yang dinamai sebagai ‘bar dan restoran’. Bentuk dan susunan tempat ini seperti sebuah restoran. Bar ini biasanya terletak di sebuah sudut restoran yang dilengkapi dengan hiburan untuk mengiringi tamu-tamu makan dan minum. “Penjualan minuman di sini juga lengkap, termasuk wine dan champagne,” kata penulis.

Selai itu juga ada espresso bar. Tempat yang berasal dari Italia ini terdapat di pelabuhan-pelabuhan laut dan udara. Minuman yang disajikan di sini adalah kopi dan es krim.

Ada juga yang disebut public bar. Di negara-negara barat, public bar barangkali adalah yang paling umum diketahui. Tempat ini adalah bar yang melayani penjualan minuman untuk umum. Di sini, bartender dapat langsung berhubungan dengan tamu sambil membuat minuman.

Dalam perkembangannya, Warrouw melanjutkan, revolusi bar di dunia sudah sangat luas. Bar kini bukan lagi tempat untuk sekadar meminum minuman keras. “Jika dulu bar dikaitkan dengan night club, revolusi bar kini sudah sangat luas tergantung kepada tujuannya.”

Warrouw mencontohkan tentang Soho Bar di kawasan Soho, Inggris, yang merupakan tempat berkumpulnya para intelektual Inggris. Bar juga bisa menjadi tempat pertukaran ide yang positif.

Bertukar ide itu juga lah yang membuat penduduk Jepang amat gemar minum sake, minuman alkohol khas Jepang, di bar-bar.

Pegawai kantoran di Jepang memiliki kebiasaan setelah pulang kerja mereka tidak langsung pulang ke rumah. Mereka akan minum-minum sambil mengemil kacang atau makanan kecil lain sambil minum sake di bar.

Di kota-kota besar, bar sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. (REUTERS/Darren Whiteside)

Bisa dikatakan, sake dan bar di Jepang yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Salah-satunya untuk mengikat hubungan antara suatu perusahaan dengan perusahaan lain yang menjadi rekan bisnis. Namun, sekali lagi Warrouw menegaskan bar sendiri sudah menjadi tempat dengan tujuan yang amat bervariasi.

“Selain berkaitan dengan fungsi ekonomi sosial, bar juga berkaitan dengan bisnis esek-esek. Pengertian kongko-kongko menjadi beragam macamnya,” kata Warrouw. Dia melanjutkan, “Bar bisa menjadi tempat pertukaran ekonomi sosial, ekonomi politik, dan biologis.”

Warrouw mengatakan, bar juga menjadi tempat berkumpulnya para broker politik. “Mereka adalah orang-orang yang ingin ‘menggolkan’ tujuan politik mereka agar bisa mendapatkan keuntungan uang yang besar.”

Jika bagi masyarakat tradisional bar adalah tempat untuk bersosialisasi, tapi sekarang bar telah mengalami revolusi fungsi. Maka, dipandang dari tujuan orang yang datang ke bar, Warrouw menegaskan, klasifikasi bar pun menjadi ‘individu atau kolektif’, dan ‘negatif atau positif’.

“Tergantung misi yang akan dituju,” ungkapnya. (les/les)

1 Like