© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana struktur penulisan karya ilmiah yang baik dan benar?

scientist work

Penulisan karya ilmiah adalah tahap akhir penelitian ilmiah sebagai tugas fungsional sosialisasi ilmu untuk dikomunikasikan terutama kepada masyarakat akademik dalam disiplin ilmu yang bersangkutan. Hal ini sesuai dengan asas keterbukaan untuk ditanggapi, dikoreksi, atau diuji lebih lanjut oleh sementara peminat. Mungkin juga merangsang peneliti lain untuk mengeksplorisasi hal-hal yang belum terjawab secara tuntas sebagaimana diisyaratkan dalam rekomendasi peneliti. Segi lain yang tak kalah pentingnya adalah mengkomunikasikan segi nilai manfaat praktis sebagai amal ilmiah yang dapat diterapkan oleh konsumen yang berminat.

Bagaimana struktur penulisan karya ilmiah yang baik dan benar?

1 Like

Struktur Penulisan Karya Ilmiah


Tesis atau Disertasi dituntut mempunyai sumbangan yang seimbang antara nilai manfaat praktis dengan nilai pengembangan ilmiah. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, terdapat tiga hal yang tak dapat dipisahkan dari segi tuntutan filsafat ilmu dan metode ilmiah. Dalam hal ini keterpaduan menguasaan struktur ilmu pengetahuan, struktur penelitian ilmiah dan struktur penulisan ilmiah. Demi kelengkapan dan keutuhan bobot mutu serta efektivitas dan efisiensi komunikasi, maka sarana berpikir ilmiah, yaitu logika, bahasa, matematika, dan statistika adalah faktor yang tak kalah pentingnya dalam integritas penulisan karya ilmiah.
Kembali kepada soal struktur ilmu dalam relevansinya dengan penulisan karya ilmiah, adalah dalam fungsinya yang ikut memberi citra kepada penulisnya bahwa dia menguasai konsep, istilah, definisi, teori, hukum atau dalil yang menjadi ciri khas disiplin ilmu yang bersangkutan. Sedang struktur penelitian ilmiah menyangkut citra pengasaan metode ilmiah beserta langkah-langkah pokok, sesuai dengan urutannya.

Dalam hal ini mulai dengan penetapan masalah, berlanjut dengan kerangka pemikiran sebagai argumentasi dukungan dasar teoritis berupa jawaban terhadap masalah, yang ditunjang oleh premis-premis yang masih berlaku. Kemudian disusul dengan perumusan hipotesis yang dideduksi dari premis- premis tersebut. Dilanjutkan dengan pengujian hipotesis melalui proses induktif, yaitu melalui penelitian, agar diperoleh data empiris yang memenuhi kesesuaian pemikiran rasional-abstrak dalam acuan hipotesis. Bila data empiris mendukungnya, berarti hipotesis dapat diterima atau diverifikasi. Sebaliknya, hipoteis ditolak atau difalivikasi. Langkah terakhir metode ilmiah adalah menarik kesimpulan.

Kini, tiba gilirannya untuk menyusun laporan berupa karya ilmiah, menurut format yang telah baku dilingkungan masing-masing. Adapun format yang netral ialah yang konsisten dengan filsafat ilmu dan urutan langkah-langkah pokok dalam metode ilmiah.

Penulisan Bagian Pembuka


Seperti telah disinggung terdahulu, struktur penulisan ilmiah adalah kerangka penyajian beserta komponen-komponennya mengenai hasil penelitian berupa karya ilmiah seperti Skripsi, Tesis, atau Disertasi. Adapun kerangka dengan urutan susunan komponen- komponennya lazim disebut sistematika, sebagai implikasi logika berpikir yang dianut, agar terjalin kaitan fungsional yang konsisten dari segi relevansi materi termasuk istilah-istilah yang dipakai, sejak awal sampai akhir. Dengan demikian terpelihara “benang merah” secara ketat dalam arti tidak terjadi sajian yang melompat-lompat dan bolak-balik, melainkan secara kronologis meluncur, dengan hubungan satu sama lain dan secara keseluruhan yang jelas.
Di bawah ini ditunjukkan bagaimana urutan komponen-komponen kerangka itu tersusun secara berurutan :

  • JUDUL (pada halaman depan)
  • Pernyataan Bentuk Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, Disertasi), menurut format yang berlaku.
  • TIM PEMBIMBING (kedudukan dan nama)
  • KATA PENGANTAR
  • DAFTAR ISI
  • DAFTAR TABEL
  • DAFTAR GAMBAR
  • DAFTAR LAMPIRAN
  • BAB I. PENDAHULUAN
  • BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
  • BAB III. MATERI DAN METODE PENELITIAN
  • BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
  • SIMPULAN DAN SARAN
  • RINGKASAN
  • DAFTAR PUSTAKA
  • LAMPIRAN-LAMPIRAN
  • RIWAYAT HIDUP
  1. Judul
    Judul, walaupun ditempatkan paling dulu di kulit muka (jilid) karya ilmiah, namun dalam prakteknya disusun paling akhir setelah seluruh penyusunan karya ilmiah selesai. Mengapa demikian, oleh karena judul aslinya perlu disesuaikan dengan fakta yang tercermin dalam ruang lingkup materi hasil penelitian. Judul dirumuskan secara ringkat, komunikatif dan konsisten dengan ruang lingkup dan materi karya ilmiah. Sesuai tujuan ilmu yang antara lain menemukan dan menjelaskan hubungan antara fakta, maka judulpun sebaiknya mencerminkan hubungan yang dimaksudkan. Hindarkan pemberian judul yang sifatnya ngambang atau “spurious”. Buatlah judul itu tepat isi, dan menarik, sehingga pembaca tergugah untuk membaca lebih lanjut sampai selesai.

  2. Formalisasi Bentuk Karya Ilmiah
    Hal ini merupakan pernyataan formal yang ditampilkan pada halaman khusus mengenai apa bentuk karya ilmiahnya (Skripsi, Tesis, Disertasi) dan dalam rangka pemenuhan tujuan apa. Dalam hal ini perguruan tinggi menganut format yang umum berlaku.

  3. Tim Pembimbing
    Hal ini ditempatkan di halaman khusus. Judulnya dapat berbeda dengan format yang dianut. Untuk skripsi, umpamanya, berjudul TIM PEMBIMBING, dilengkapi kedudukan dalam Tim (Ketua, Anggota) disertai nama yang bersangkutan. Untuk Tesis ada yang memilih judul KOMISI PEMBIMBING, juga dilengkapi kedudukan dalam Komisi disertai nama yang bersangkutan. Untuk Disertasi ada yang memilih judul TIM PROMOTOR disertai kedudukan (Promotor, Kopromotor) dengan nama yang bersangkutan. Ada juga yang memilih judul KOMISI PEMBIMBING seperti pada Tesis.

  4. Kata Pengantar
    Dalam karya ilmiah yang berupa Skripsi, Tesis atau Disertasi kata pengantar itu berisi kata-kata yang sifatnya dapat mengantarkan pembaca untuk berminat memahami lebih dalam isi dari karya ilmiah tersebut. Disamping itu kata pengantar juga bersifat memberi kesempatan kepada penulis untuk menyatakan apresiasi terhadap berbagai pihak yang telah berjasa kepada peneliti. Pada kesempatan ini peneliti menyampaikan apresiasinya dengan kata-kata khusus kepada masing-masing yang telah ikut berjasa dalam menunjang keberhasilannya.

  5. Daftar Isi
    Daftar tersebut merupakan sistematisasi penyajian masing-masing judul dan subjudul yang terdapat di dalam karya ilmiah yang disusun secara berurutan berikut petunjuk kenomor halaman yang bersangkutan. Fungsinya adalah untuk memudahkan pembaca mencari judul atau subjudul yang menjadi perhatian khususnya. Halaman awal sampai BAB I memakai huruf kecil untuk angka Romawi (i, ii, iii, iv, v, vi). Selebihnya memakai sistem numerik yang sama seperti disandang di dalam karya ilmiah.

  6. Daftar Tabel
    Pada asasnya mempunyai fungsi yang sama dengan daftar isi. Masing-masing tabel beserta judulnya disusun secara berurutan dan diberi nomor halaman tempat tabel yang bersangkutan.

  7. Daftar Gambar
    Juga di sini mempunyai fungsi yang sama seperti daftar lain yaitu secara berurutan menampilkan judul masing-masing gambar yang disertai nomor halaman tempat gambar yang bersangkutan.

  8. Daftar Lampiran
    Sama dengan fungsi daftar-daftar lain, berisi secara berurutan nomor dan judul masing-masing lampiran yang ditempatkan di halaman belakang karya ilmiah. Juga untuk lampiran-lampiran diberi petunjuk ke nomor halaman tempat yang bersangkutan.

  9. BAB I. Pendahuluan
    Sebagaimana telah disinggung terdahulu, BAB I merupakan awal kegiatan penyusunan karya ilmiah dengan mengikuti struktur penulisan ilmiah yang berorientasi kepada struktur penelitian ilmiah yang dimanifestasikan berupa urutan langkah pokok metode ilmiah.
    BAB I terdiri atas sub-sub sebagai berikut:

    • Latar Belakang Penelitian
      Latar belakang penelitian merupakan dinamika proses pemikiran mengapa fenomena (gejala alam, gejala sosial) yang dijumpai menggugah niat atau panggilan untuk melakukan penelitian. Secara logis, peneliti melihat fenomena tersebut dalam suatu keadaan yang secara kondisional dan situasional mengisyaratkan suatu tingkat kegawatan atau kerawanan tertentu. Dengan demikian, peneliti terdorong oleh pertimbangan yang menggelitik hatinya untuk menjawab kedua pertanyaan berikut: (1) bila dilakukan penelitian apa dampak positifnya yang dapat diamankan atau diamalkan. (2) bila tidak dilakukan penelitian “dosa” apa yang menghantui jiwa peneliti, yaitu segi dampak negatif yang akan berlangsung berlarut-larut.
      Walaupun demikian, peneliti harus merasa yakin bahwa fenomena yang dijumpainya itu benar-benar berstatus masalah yang masih aktual dari relevansi dengan masa kini. Kemana kita harus berpaling untuk mendapatkan konfirmasi tentang hal tersebut. Tiada lain daripada berkonsultasi kepada hazanah ilmu, yaitu kepustakaan atau literatur dalam berbagai bentuk sumber informasi. Antara lain berupa majalah ilmiah, buku referensi, laporan forum pertemuan ilmiah (prosiding), dokumentasi, atau berkonsultasi kepada pakar ilmiah terdekat dalam disiplin ilmu yang bersangkutan.

      Dari hasil konsultasi itu peneliti akan memperoleh konfirmasi atau kepastian tentang kebenaran status masalah dari fenomena yang dijumpai dari segi aktualitas dan relevansinya. Artinya belum usang, dan masih ada aspek-aspek yang tetap belum terjawab secara tuntas,
      walaupun telah seringkali diteliti. Bila ternyata sudah usang atau sudah diperoleh jawaban pemecahannya secara tuntas, berarti bukan masalah lagi, sehingga akan mubazir bila dilakukan penelitian lagi. Pada gilirannya harus memilih alternatif fenomena lain untuk diteliti yang pasti masih aktual dan relevan.

      Mengapa peneliti harus memperlihatkan segi aktualitas dan relevansi? Jawabannya adalah bahwa penelitian itu mahal, makan waktu, tenaga, dan biaya. Oleh karena itu harus serasi dengan tujuan fungsional penelitian yaitu memperoleh nilai manfaat praktis yang seimbang dengan nilai sumbangan ilmiah bagi perkembangan ilmu.

      Dengan demikian, komponen-komponen apakah yang harus diperhatikan dalam sub- bab latar belakang penelitian? Dari uraian di atas sudah tercermin hal-hal sebagai berikut :

      • Penetapan masalah, yang diuji kepastian aktualitas dan relevansinya. Kemudian dirumuskan berupa Tema sentral masalah atau “problem issue”.
      • Risalah berupa argumentasi dokumen data empiris yang melandasi pendeskripsian proses timbulnya fenomena yang dihadapi. Artinya peneliti sudah mempunyai persepsi ilmiah tentang apa-apa yang harus diperhatikan dalam rangka pendekatan masalahnya.
      • Kalimat penutup berupa gambaran apa yang diharapkan dari hasil-hasil penelitian, seperti yang dipersepsikan berupa segi dampak positifnya sebagai pencanangan nilai manfaat praktis dan sumbangan ilmiah bagi perkembangan ilmu.
    • Rumusan Masalah
      Rumusan masalah merupakan penjabaran dari tema sentral masalah menjadi beberapa sub-masalah yang spesifik, yang dirumuskan berupa kalimat tanya. Dengan lain perkataan ada hal-hal spesifik yang dipertanyakan terkait dengan masalah yang dihadapi. Ini berarti bahwa rumusan masalah mengandung acuan-acuan tertentu yang mengarahkan pengungkapan data empiris melalui persiapan penelitian.

      Hal ini mengingatkan kita bahwa dalam pembicaraan mengenai metode ilmiah terkandung upaya untuk mengenal faktor-faktor yang terlibat, karakteristik pengaruh masing- masing faktor terhadap fenomena, hubungan faktor yang satu dengan yang lain dalam pengaruhnya terhadap fenomena. Dengan demikian, maka bentuk rumusan rumusan masalah yang berupa kalimat tanya itu akan mengarah kepada contoh berikut:

      • Faktor atau faktor-faktor apakah yang mempengaruhi fenomena?
      • Bagaimana pengaruh masing-masing faktor terhadap fenomena?
      • Sejauh mana gabungan faktor-faktor berpengaruh terhadap fenomena?
    • Maksud dan tujuan Penelitian
      Maksud dan tujuan penelitian diselaraskan dalam perumusannya. Sesungguhnya hal ini merupakan gambaran operasionalisasi penelitian masing-masing sub-masalah beserta acuan-acuannya sebagaimana dirumuskan dalam rumusan masalah. Oleh karena itu urutannya harus konsisten dengan urutan rumusan masalah. Sedang perumusannya berupa kalimat deklaratif yang “mengumumkan” bagaimana gambaran kegiatan operasional penelitiannya. Dengan berorientasi kepada contoh perumusan identifikasi masalah, dapat diikuti pedoman perumusan sebagai berikut:

      • Mempelajari faktor atau faktor-faktor apa yang terlibat dalam fenomena.
      • Mempelajari karakteristik faktor-faktor dalam pengaruhnya terhadap fenomena.
      • Sejauh mana terdapat pengaruh gabungan faktor-faktor tertentu terhadap fenomena.
    • Manfaat Penelitian
      Hal ini merupakan pentajaman spesifikasi sumbangan penelitian terhadap nilai manfaat praktis, juga sumbangan ilmiahnya bagi perkembangan ilmu, sebagaimana telah digambarkan terdahulu dalam kalimat penutup pada sub-bab Latar Belakang Penelitian.

    • Kerangka Pemikiran, Premis, dan Hipotesis
      Kerangka pemikiran adalah dukungan dasar teoritis dalam rangka memberi jawaban terhadap pendekatan pemecahan masalah. Sebagaimana diketahui ilmu merupakan lanjutan kesinambungan kegiatan yang telah dirintis oleh para pakar ilmiah sebelumnya. Ini berarti telah tersedia teori-teori untuk masing-masing disiplin ilmu, termasuk yang relevan dengan masalah-masalah yang digarap. Oleh karena itu untuk penyusunan suatu kerangka pemikiran, harus bertitik tolak dari seleksi evidensi-evidensi ilmiah berupa kesimpulan hasil penelitian para pakar terdahulu, namun yang sampai sekarang masih berlaku, dalam arti belum pernah dibantah pihak lain. Evidensi-evidensi itu disusun berupa esensi masing-masing hasil penelitian pakar ilmiah tertentu berupa perumusan yang ringkas. Dengan demikian diperoleh sederetan evidensi ilmiah yang jumlahnya bergantung kepada banyaknya peneliti yang pernah menggarap masalah yang serupa. Perlu dijelaskan bahwa evidensi-evidensi tersebut disusun sebagai catatan di luar naskah. Adapun yang dicantumkan dalam naskah ialah setelah masing- masing evidensi dikristalisasi lagi esensi pernyataannya menjadi premis. Di bawah kanan pernyataan masing-masing premis itu dicantumkan pula nama tokoh dan tahun pernyataannya.

      Mengapa kita susun evidensi dan premis secara terpisah? Sebagaimana diiketahui, kita harus membuat suatu kerangka pemikiran dalam bentuk esei-argumentasi dukungan dasar teoritis sebagai rangkuman dari evisensi-evidensi. Esei argumentasi adalah berupa risalah singkat yang lebih menonjolkan sikap dan pandangan pribadi mengenai suatu fenomena yang disoroti secara kritis-analitis. Dengan perkataan lain berupa landasan teoritis untuk memberi jawaban terhadap pendekatan pemecahan masalah yang diangkat dari hasil-hasil penelitian para pakar terdahulu yang sudah teruji kebenarannya, dan belum dibantah pihak lain. Bila kerangka pemikiran sudah disusun, maka dilengkapi dengan sederetan premis dalam jumlah dan urutan yang sama dengan evidensi yang bersangkutan (diambil dari catatan).
      Dengan demikian, maka kita memasuki proses penyusunan hipotesis berupa logika berpikir deduktif dalam rangka mengambil kesimpulan khusus (hipotesis) dari kesimpulan umum berupa premis-premis. Adapun kebenaran logika deduktif menganut asas koherensi. Artinya mengingat bahwa premis-premis itu merupakan sumber informasi yang tidak perlu diuji lagi kebenaran ilmiahnya, maka dengan sendirinya hipotesis sebagai kesimpulan dari premis-premis itu mempunyai kepastian kebenaran pula. Perlu dicatat bahwa hipotesis sebagai kesimpulan, jumlahnya tidak perlu selalu sama dengan jumlah premisnya.

      Dengan tersusunnya hipotesis atau hipotesis-hipotesis, maka sub-bab Kerangka Pemikiran, Premis, dan Hipotesis sudah selesai. Langkah selanjutnya adalah persiapan penelitian, penetapan desain penelitian termasuk metode dan tekniknya serta penetapan lokasi dan lama penelitian. Langkah-langkah tersebut sesungguhnya merupakan implikasi konsekuensi untuk menguji hipotesis, melalui proses logika berpikir induktif yang menganut asas korespondensi. Artinya, walaupun hipotesis itu mempunyai kepastian kebenaran, namun dalam hal ini statusnya dipandang berupa hasil pemikiran rasional-abstrak. Setiap hasil pemikiran rasional-abstrak untuk memperoleh kesahihan atau validitas ilmiahnya harus diuji lebih lanjut dengan cara empiris, dan demikian pula halnya dengan hipotesis. Asas korespondensi adalah bahwa hasil pemikiran rasional-abstrak itu harus sesuai dengan data empirisnya. Ini berarti bila data-data empirisnya mendukung hipotesis, maka hipotesis dapat diterima atau diverifikasi. Sebaliknya, bila dukungan data empiris tidak sesuai, maka hipotesis ditolak atau difalsifikasi.

  10. BAB II. Tinjauan Pustaka

    Sebagaimana telah disinggung terdahulu, ilmu tidak dimulai dengan halaman kosong, yaitu apa yang kita lakukan dewasa ini hanyalah merupakan lanjutan kesinambungan perintisan yang telah ditempuh oleh para pakar terdahulu.

    Oleh karena itu mutlak hal itu diakomodasikan dalam bab tersendiri, untuk menjadi pertimbangan apakah banyak atau sedikit yang dapat diliput, tergantung kepada “the state of affair” atau “the stste of art”. Hal ini adalah manifestasi penguasaan peneliti dalam menyeleksi materi dari eidensi-evidensi ilmiah dalam jangkauan khasanah ilmu yang tersedia, sebagai “peta” tingkat perkembangan ilmu dan teknologi sampai yang mutakhir dalam disiplin ilmu yang bersangkutan, terkait dengan masalah yang digarap. Dengan lain perkataan, mempunyai bobot citra tertentu kepada peneliti (sekarang).

    Bagaimana teknik penyusunan tinjauan pustaka, untuk itu sebaiknya disusun suatu kerangka yang mencakup ruang lingkup dan aksentuasi penelitian, dengan menetapkan komponen-komponennya berupa aspek-aspek dalam acuan-acuan yang terdapat dalam identifikasi masalah dan hipotesis-hipotesis. Bertitik tolak dari sini maka masing-masing aspek diulas berdasarkan kepustakaan yang tersedia, dengan tokoh-tokoh pakarnya, tahun pernyataan, dan esensi pernyataannya. Di samping itu dilakukan pula sorotan kritis analitik sebagai sikap dan pandangan pribadi, dan mencoba menemukan dalam hal apa dan mengapa bila dijumpai perbedaan pandangan diantara sementara pakar atau kelompok pakar. Berarti menjelaskan pula mengapa peneliti berpihak kepada yang mana. Perlu dikemukakan, bila tinjauan kritis-analitis itu tidak dilakukan, maka khawatir peneliti akan diklasifikasikan sebagai hanya sekedar ”gudang ilmu” atau “pengecer ilmu”. Artinya apa saja yang perlu diketahui, dikuasai penuh dan terinci, hanya selalu menurut pandangan orang lain, bukan menurut sikap dan pandangan pribadi.

    Di samping memberi bobot citra tertentu kepada peneliti, tinjauan pustaka mempunyai fungsi yang penting, yaitu sebagai landasan pembanding hasil penelitian sendiri yang dibahas dalam BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Seringkali dijumpai karya ilmiah yang seolah-olah belum pernah ada yang meneliti lebih dahulu. Memang bila tidak melakukan perbandingan dengan yang disediakan dalam tinjauan pustaka, akan terkesan seperti penelitian itu baru untuk pertama kali dalam sejarah perkembangan ilmu.

    Ada lagi yang perlu diperhatikan bahwa cakupan tinjauan pustaka harus menyentuh publikasi ilmiah tahun terakhir, sesuai dengan tahun penyusunan karya ilmiah peneliti (sekarang).
    Segi lain lagi adalah yang berhubungan dengan teknik notasi ilmiah seperti bagaimana cara mensitir esensi hasil penelitian seseorang pakar baik secara langsung dari karya ilmiahnya maupun melalui penafsiran yang dilakukan oleh pakar lain. Memang terdapat berbagai selera dalam hal ini. Namun pada asasnya yang penting adalah mengenal tokoh pakarnya, tahun pernyataannya dan apa esensi pernyataannya yang diedit dengan bahasa peneliti (sekarang), atau ada kalanya sebagian disitir secara utuh. Di antara selera ini adalah yang memberi tanda numerik di atas kata akhir ulasan materi kepustakaan seperti 1); 2); 3); sampai n) dengan dua versi. Pertama, nomor tersebut menunjuk nomor yang sama dalam Daftar Pustaka karya ilmiah. Versi kedua nomor tersebut merujuk kecatatan kaki pada bagian kiri bawah halaman yang bersangkutan, yang menjelaskan dari tokoh pakar mana dan tahun berapa diambilnya, termasuk judul karya ilmiahnya, nama majalah ilmiahnya dan pada halaman berapa. Di samping itu ada pula versi yang menganut dibelakang pernyataan tersebut dicantumkan nama pakar yang disitir pernyataannya dan tahun pernyataan tersebut.

    Versi mana yang akan dianut terserah kepada format yang berlaku di masing-masing lingkungan perguruan tinggi yang bersangkutan.

  11. BAB III Materi dan Metode Penelitian

    Bab ini membicarakan mengenai segala sesuatu yang terlibat dalam persiapan agar pelaksanaan operasional penelitian berlangsung lancar dan apa yang diharapkan didukung sepadan oleh data empiris yang terungkap. Setiap istilah, faktor, kriteria, tolok ukur dijelaskan secara spesifik terinci. Ada kalanya diperlukan penetapan definisi operasional secara khusus tentang kriteria tertentu, sebagai asumsi titik tolak yang melandasi dukungan fungsional terhadap subkriteria atau kriteria lain. Pada asasnya apapun yang dilakukan, harus dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan ketentuan filsafat ilmu dan metode penelitian disiplin ilmu yang bersangkutan. Di samping itu itu peneliti harus membatasi diri dalam setiap penelitian, sesuai dengan waktu, tenaga, dan biaya yang tersedia, yaitu agar mampu melaksanakan secara tuntas, objeknya dapat diamati, diukur, datanya dapat diolah, dianalisis dan diinterpretasi, sehingga hipotesisnya dapat diuji, lagi pula memenuhi validitas ilmiah.
    Dengan demikian ,bila ada sementara pihak yang dalam penilaiannya mempermasalahkan aspek-aspek yang tidak tercakup dalam ruang lingkup dan aksentuasi penelitian ini, dapat dijawab dengan alasan atau argumentasi sebagaimana dikemukakan pada titik tolak persiapan penelitian.

    Disamping itu, konsisten dengan yang diarahkan oleh tema sentral masalah, rumusan masalah, manfaat penelitian, kerangka pemikiran beserta premis dan hipotesisnya maka semua iutu memerlukan desain penelitian yang mantap dan tepatguna. Khususnya dari acuan-acuan di dalam rumusan masalah yang hipotesis-hipotesis, sudah tergambar jumlah dan jenis variabel yang terlibat, cara mengeksplorasi masing-masing pengaruhnya baik sebagai efek tunggal maupun efek gabungannya. Lain daripada itu juga mengenal pengaruh di antara variabel indevenden (yang mempengaruhi) dengan variabel dependen (yang diperaruhi). Dengan demikian, sudah tergambar pula apa subvariabel dari masing-masing variabel yang bersangkutan. Dengan dukungan data sekunder (yang tersedia yang pernah dihimpun) dapat diketahui pula populasi objek penelitiannya, sehingga beserta komponen-komponen penelitian lainnya dapat ditetapkan desain penelitian yang tepat guna dari segi pilihan rancangan pendekatan, pilihan metode analisis data, pilihan metode penelitian, pilihan cara mengambil sampel dan menetapkan besarnya, pilihan lokasi penelitian, dan penetapan lama waktu penelitian.

    Pendeskripsian segala sesuatu, penetapan definisi atau asumsi, penetapan macam variabel berikut subvariabelnya yang terlibat dan sifatnya (independen, dependen) serta tolok ukur kriteria dengan alat dan cara mengamatinya merupakan perangkat kelengkapan penetapan desain penelitian secara utuh. Kesemuanya itu perlu disajikan dalam BAB III MATERI DAN METODE PENELITIAN, agar ilmuwan sejawat yang berminat dapat ikut menilai kelayakan disain, dapat mencontohnya untuk penelitian sendiri, atau menguji dan memverifikasinya lebih lanjut. Di sinilah bedanya ilmu dengan seni, yaitu sifatnya yang intersubyektif atau impersonal, sehingga setiap orang, sesuai dengan latar belakang potensinya, dapat memperoleh ilmu yang sama, dengan mempelajari dan menerapkan metode ilmiahnya secara tepat dan konsisten.

    Dengan demikian menjadi jelas mengapa kelengkapan dan keutuhan perangkat desain penelitian harus ditampilkan secara eksplisit. Dengan lain perkataan, materi dan metode penelitian merupakan bagian integral kelengkapan tugas fungsi sosialosasi ilmu, yaitu tidak hanya mengkomunikasikan hasil penelitiannya semata-mata, melainkan sekaligus komponen- komponen karya ilmiah seutuhnya, menurut format yang berlaku.

  12. BAB IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan

    Bab ini menampilkan hasil penelitian yang datanya sudah diolah dan dianalisis. Kini, tiba gilirannya menyusun berupa laporan. Namun dalam rangka mengisi BAB IV ini, terbatas pada presentasi masing-masing aspek yang telah diteliti, yang disusun secara verbal mengikuti sistematika tertentu. Dalam hal ini setiap aspek yang bersangkutan diberi sub-judul, kemudian dinyatakan pada Tabel dimana hasil penelitiannya tercantum, berikut tabel-tabel penjabaran peringkat masing-masing signifikansinya. Kini, apa yang tampak pada tabel yang disebut pertama. Diantara yang tampak umpamanya tabel hasil pengamatan, tabel hasil interpretasi sebuah spektrum atau kromatogram.

    Sementara itu, setelah melakukan interpretasi maka kita mulai mengadakan pembahasan dengan jalan membandingkan dengan pernyataan para pakar yang telah diulas dalam TINJAUAN PUSTAKA. Seandainya ada yang menyimpang atau bertentangan, maka harus dicoba dicari mengapa, di mana, dan bagaimananya. Pada penelitian yang bersifat eksplorasi (mencari sesuatu) umumnya pada setiap tabel hasil pengamatan dibahas apa dan kenapa hasil itu diperoleh. Hal inilah dikonfirmasi kepada khasanah ilmu yang relevan. Dari hasil pembahasan itu kita sudah mendapat gambaran kira- kira apakah hipotesis kita mendapat dukungan dari hasil penelitian yang diperoleh atau tidak.

    Perlu dikemukakan bahwa menyusun Hasil Penelitian dan Pembahasan sudah pasti beragam, tergantung pada disiplin ilmunya, dan pada metode ilmiah yang dianut untuk mencapai validitas ilmiah.

  13. BAB V. Simpulan dan Saran

    Di dalam penyusunan simpulan, yang didahulukan adalah simpulan umum yaitu suatu kesimpulan yang bersifat menyeluruh. Selanjutnya dibuat kesimpulan yang spesifik atau kesimpulan khusus terkait dengan masing-masing aspek yang diteliti.
    Kini, tiba gilirannya untuk menyusun saran-saran yang diangkat dari simpulan umum dan simpulan khusus, sebagai implikasi konsekwensi tujuan fungsional penelitian, yaitu menghasilkan nilai manfaat praktis, dan nilai sumbangan ilmiah bagi perkembangan ilmu. Dalam hal ini nilai manfaat praktis dirumuskan berupa tindak lanjut yang operasional dapat dilaksanakan. Sedang nilai sumbangan ilmiah, materinya dapat dikemukakan secara eksplisit. Dapat juga berupa saran-saran spesifik untuk penelitian lebih lanjut.

  14. Ringkasan

    Dalam hal ini terdapat dua aliran pendapat mengenai ringkasan. Pertama, yang menganut penempatan di muka sebelum BAB I. Kedua, adalah yang menganut penempatan di akhir karya ilmiah. Kedua pendapat tersebut tidak mengubah fungsi ringkasan, yaitu memungkinkan pembaca memperoleh gambaran ringkas tentang ruang lingkup dan aksentuasi penelitian dalam waktu yang singkat. Masing-masing dapat berargumentasi apakah secara psikologis lebih efektif dan efisien untuk ditempatkan diawal karya ilmiah, tanpa membuka dan membaca daftar isi. Apakah memang mengganggu, bila didahulukan membaca ringkasan, namun harus mencari dulu tempatnya melalui daftar isi.

    Masih ada segi lain yang sering dipersoalkan. Dalam hal ini apakah ringkasan identik dengan “summary” seperti yang lazim dijumpai dalam karya ilmiah berbahasa Inggris. Juga apa bedanya dengan yang disebut “abstract”. Di mana pula bedanya dengan rangkuman.

    Bila dalam tubuh karya ilmiah sudah dibuat Rangkuman, maka penyajian “summary” atau “abstract” Inggris tidak diperlukan, melainkan diganti dengan “Extensive Summary” Inggris berupa terjemahan dari Rangkuman, yang dilengkapi dengan kesimpulan khusus, dan saran atau rekomendasi. Pemenpatannya adalah langsung sesudah Ringkasan. Dengan demikian dalam Extensive Summary akan menambah nilai manfaat khususnya bagi pihak luar negeri dalam rangka pertukaran karya tulis ilmiah.

  15. Daftar Pustaka

    Terdapat beberapa versi teknik notasi ilmiah mengenai penyusunan daftar pustaka, namun fungsinya tetap sama, yaitu sebagai referensi dukungan literatur terhadap karya ilmiah
    Bila segi esensial fungsinya yang menjadi folus perhatian, maka mengacu kepada aspek sebagai berikut :

    • Mengenalkan tokoh pakar dan atu pendampingnya berikut tahun pernyataannya.
    • Apa judul karya ilmiahnya
    • Dalam media ilmiah apa dimuatnya, pada volume berapa, dan pada halaman berapa. Bila berupa buku, disebutkan penerbitnya.

    Dengan berpegang asas pokok tersebut di atas, maka pilihan teknik notasi ilmiah untuk menyusun daftar pustaka adalah soal selera dan kesempatan lingkungan disiplin ilmu atau lingkungan kerja (lembaga penelitian, perguruan tinggi, majalah ilmiah) yang bersangkutan.

    Masih terdapat beberapa asas pokok lainnya yang perlu diperhatikan. Dalam hal ini antara lain:

    • Urutan penyusunan tergantung pada cara penulisan notasi nama pakar yang disitir pernyataannya. Misalnya jika menggunakan nomor notasi di belakang atas pernyataannya, maka urutannya diurut menurut nomor notasinya. Tetapi jika menggunakan notasi mana pakar dan tahun pernyataan itu dimuat, maka urutannya menggunakan abjad dengan tidak menggunakan nomor urut.
    • Nama penulis pertama dan seterusnya, nama keluarga ditulis di depan dan inisial nama kecil di belakangnya.
    • Penulis yang sama untuk beberapa karya ilmiah terpisah, untuk yang selanjutnya sebagai pengganti nama diberi garis panjang saja.
    • Bila tidak diketahui penulisnya, pakai Anonymous, dan sebutkan lembaga yang menerbitkannya.
  16. Lampiran-Lampiran

    Lampiran berfungsi sebagai penunjang data untuk masing-masing tabel analisis yang bersangkutan atau yang terkait dengan aspek khusus dalam rangka pembahasan hasil penelitian. Bentuk penunjang tersebut beragam, antara lain berupa proses perhitungan, pembuatan larutan tertentu, cara uji dengan bioindikator, dan lain-lain.

  17. Daftar Riwayat Hidup

    Adalah penting untuk menetapkan kerangkanya, terutama butir-butir pokok yang diperlukan. Pada asasnya yang dikemukakan adalah data pribadi dilengkapi latar belakang pendidikan, pengalaman dan hasil karya ilmiah dan dibatasi pada yang sangat relevan dengan karya ilmiah yang sekarang.

  18. Penetapan Judul Terakhir

    Sebagaimana telah diingatkan terdahulu, soal judul, walaupun penempatannya paling depan di kulit muka, namun penetapan final dilakukan setelah penyusunan karya ilmiah selesai. Sementara itu judul asli yang awal, sejalan dengan proses penyusunan karya ilmiah mengalami berulang kali perubahan, yang mencoba menyesuaikan sedapat mungkin dengan ruang lingkup dan aksentuasi penelitian. Dan sebagaimana telah disinggung bentuknya ringkas dan mencerminkan adanya hubungan.

Referensi :
  • Anonim (1983) Materi Dasar Pendidikan Akta Mengajar V . Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
  • Atmadilaga, D. (1997) Panduan Penulisan Skripsi, Tesis, Disertasi . Pionir Jaya. Bandung. Lanur, A. (1983) Logika: Selayang Pandang . Kanisius, Yogyakarta.
  • Nasution, A.H. (1992) Panduan Berpikir dan Meneliti Secara Ilmiah Bagi Remaja . Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.
  • Rapar, J.H. (1996) Pengantar Logika . Kanisius. Yogyakarta. Salam, B. (1995) Pengantar Filsafat . Bumi Aksara. Jakarta.
1 Like