Bagaimana strategi untuk membangun manajemen risiko yang efektif?

Manajemen risiko yaitu kegiatan yang melibatkan pemahaman, analisis dan penanganan risiko untuk memastikan organisasi mencapai tujuannya. Karena risiko melekat pada semua hal yang kita lakukan, jenis peran yang dilakukan oleh profesional risiko sangat beragam. Antara lain, peran dalam asuransi, kelangsungan bisnis, kesehatan dan keselamatan kerja, tata kelola perusahaan, teknik, perencanaan dan layanan keuangan. Namun, bagaimana agar manajemen risiko yang dilakukan benar-benar memberikan efek yang diinginkan organisasi?

Sumber gambar

http://themocracy.com/wp-content/uploads/2016/07/Risk-Management-696x450.jpg

Referensi

https://www.theirm.org/the-risk-profession/risk-management.aspx

Manajemen risiko adalah tentang mempersiapkan diri sebaik mungkin terhadap kemungkinan terjadinya kejadian yang tidak diinginkan. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan agar manajemen risiko berjalan efektif:

1. Membuat perencanaan

Setiap bisnis harus memiliki sebuah perencanaan manajemen risiko yang solid. Format perencanaan tersebut dapat bervariasi, tergantung kepada kebutuhan perusahaan kita. Sebuah perencanaan manajemen risiko untuk perusahaan yang besar dan kompleks dapat dijalankan dengan mudah dalam ratusan halaman, sedangkan sebuah bisnis kecil mungkin hanya memerlukan sebuah spreadsheet kecil yang berfokus pada item utama.

Ada beberapa poin penting untuk dicantumkan dalam perencanaan manajemen risiko, sebagai berikut:

  • Daftar risiko
  • Penilaian tiap risiko berdasarkan likelihood dan impact
  • Penilaian terhadap pengendalian saat ini
  • Rencana tindakan

2. Tentukan bagaimana penanganan tiap risiko

Langkah berikutnya adalah menentukan apa yang harus dilakukan pada tiap risiko, sehingga kita dapat menanganinya dengan baik. Dalam dunia manajemen risiko, ada empat strategi utama:

  • Menghindarinya.
  • Menguranginya.
  • Memindahkannya.
  • Menerimanya.

Setiap strategi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing - masing, dan ktia mungkin akan menggunakan semuanya. Terkadang kita mungkin perlu menghindari risiko, dan di saat lainnya kita akan ingin menguranginya, memindahkannya, atau cukup menerimanya. Mari kita lihat apa maksud istilah tersebut, dan bagaimana memutuskan klasifikasi yang mana yang akan digunakan pada risiko bisnis kita.

3. Monitor

Melakukan pengukuran tidak cukup; kita juga perlu memeriksa apakah hal tersebut bekerja, dan memonitor bisnis kita secara reguler untuk mengidentifikasi dan menangani risiko baru.

Referensi

https://business.tutsplus.com/tutorials/effective-risk-management-strategies--cms-22887

MEMBANGUN STRATEGI MANAJEMEN RISIKO YANG BAIK

Risiko melekat dalam setiap aktivitas operasional dan non-operasional perusahaan. Mulai dari memilih lokasi pabrik, merekrut pegawai, bekerjasama dengan supplier, menentukan merek, memasuki segmentasi pasar hingga merumuskan visi.

Beberapa risiko yang umum dihadapi oleh berbagai sektor meliputi risiko pelanggaran hukum dan peraturan, kerugian dari kelalaian SDM seperti kebakaran dan korsleting, kecelakaan akibat bencana alam seperti banjir, tornado dan gempa bumi, kebocoran sistem data klien dan informasi, serta kegagalan bisnis akibat ketidakmampuan berkompetisi. Kelaziman risiko ini membawa konsekuensi bagi mereka yang tak mampu beradaptasi, namun ada pula peluang dari setiap kondisi buruk bagi mereka yang memperluas perspektif gagasan.

Perusahaan atau oganisasi dapat bereaksi dalam 3 model utama.

  1. Menghindari risiko dengan tidak memproduksi produk, memilih lokasi yang jauh dari pusat tornado, atau tidak merekrut pegawai.

  2. Ada pula yang meminimalisir risiko kerugian dengan menjaga kondisi kendaraan secara berkala, mengaplikasikan standard operating procedure, menginstal sistem keamanan komputer.

  3. Beberapa mencoba mengurangi level keparahan dengan memasang alat penyiram air dan menunjuk juru bicara yang akan berkomentar di hadapan pers terkait kondisi krisis. Kombinasi ketiga model tersebut merumuskan sebuah strategi manajemen risiko yang bertahap.

Mark Layton dan Michael Corcoran, ahli manajemen risiko dari Deloitte & Touche LLP, memaparkan sistem manajemen risiko yang baik meliputi prosedur sebagai berikut:

  • Identifikasi dan revisi asumsi dasar perusahaan terkait internal maupun eksternal
  • Mengalokasikan sumber daya bagi risiko yang produktif dan non-produktif.
  • Membagi perhatian pada sebab dan musabab risiko.
  • Mencoba berbagai skenario terburuk yang mungkin terjadi sekaligus menguji keampuhan strategi.
  • Selalu menyiapkan perencanaan cadangan, karena ilmu strategi risiko bukanlah sebuah ilmu eksak yang terjamin akurasinya.
  • Komunikasikan ide, gagasan dan strategi kepada seluruh lapisan organisasi agar koordinasi berjalan dengan baik.

Eksekutif perusahaan akan terengah-engah bila merencanakan sendiri sembari mengurusi kegiatan operasional. Pendelegasian tugas dan wewenang kepada pihak asuransi profesional menjadi solusi dari segi pengalaman dan pengetahuan. Entah bagaimanapun caranya, perusahaan perlu segera mengambil sikap terhadap risiko yang berimplikasi pada pertumbuhan atau kejatuhan nilai perusahaan.

Referensi

Dalam berbisnis setiap langkah yang kita ambil mempunyai resiko masing-masing. Manajemen resiko di butuhkan agar kita dapat meminimalisir dan mengcontrol resiko yang kita hadapi. Untuk menciptakan manajemen resiko yang efektif terdapat beberapa tahap atau cara, yaitu :

  1. Lingkungan Internal : pada proses ini berkaitan dengan lingkungan perusahaan seperti integrity, risk-prespective, ethical values, dan struktur organisasi yang dilakukan oleh perusahaan
  2. Penentuan Sasaran (Objective) : agar risiko dapat di identifikasi langkah selanjutnya adalah menentukan tujuan dari organisasi seperti visi misi dan operasi perusahaan
  3. Identifikasi Event : tahap ini kita mengindentifikasi kejadian-kejadian yang dapat berpotensi mempengaruhi jalan untuk mencapai tujuan organisasi.
  4. Penilaian Risiko : tahap ini kita menilai sejauh mana kejadian dapat mengganggu pencapaian tujuan, dapat menggunakan analisis likelihood atau impactnya
  5. Tanggapan Risiko : setelah itu organisasi harus menentukan sikap atas hasil penilaian risiko, seperti menghindari, atau menerima risiko
  6. Aktivitas Pengendalian : tahap ini dibutuhkan untuk menyusun kebijakan atau prosedur untuk menjamin risk response berjalan dengan efektif, contohnya seperti pembuatan kebijakan atau prosedur, pengamanan, dan lain-lain.
  7. Informasi dan Komunikasi : tahap ini adalah tahap menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak yang berhubungan melalui media komunikasi yang sesuai dan tepat
  8. Pemantauan : monitoring dapat dijalankan dengan baik secara terus menerus atau terpisah. pada proses ini perlu diteliti juka ada kendala, seperti laporan yang tidak lengkap.

Adapun 3 langkah mengefektifkan Manajemen Risiko, yaitu :

  • Perencanaan : proses ini disesuaikan dengan perusahaan, dimulai dengan mendaftar risiko yang mungkin terjadi, lalu penilaian risiko mana yang mungkin terjadi dan tingkat keberhasilan menangani risiko tersebut
  • Penanganan : untuk menangani resiko terdapat 4 cara yang diberikan COSO yaitu menghindari, mengurangi, memindahkan dan menerima
  • Monitoring : terakhir yang dilakukan adalah monitoring atau controling sistem yang sudah kita buat, dilakukan mulai dari proses awal, kita juga harus melihat apakah perlu ada modifikasi pada perencanaan atau yang lainnya.
Referensi

http://www.dosenpendidikan.com/manajemen-risiko-pengertian-cara-melakukan-langkah/

Agar sebuah manajemen risiko berjalan dengan baik maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Membuat tim yang tidak hanya terdiri dari satu gender saja.Dengan tidak adanya diversitas atau perbedaan, sebuah tim tidak akan menemukan banyak opsi solusi masalah.Sedangkan dengan adanya perbedaan maka sebuah masalah akan dapat dipecahkan dengan berbagai sudut pandang.
    Chief People and Culture Officer Grant Thornton US Pamela Harless mengungkapkan “Perusahaan yang terlalu lama mengambil keputusan akan kehilangan kesempatan penting. Namun perusahaan yang dinamis dan fleksibel akan menjadikan perusahaan lebih tenang dan mencapai keseimbangan,” ujarnya.

  2. Tanamkan kepercayaan diri yang kuat pada pemimpin.Mungkin pengalaman dan cara kepemimpinan seseorang menjadi ukuran keberhasilan seseorang dalam memimpin tetapi kepercayaan diri juga merupakan suatu hal yang sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan yang dapat mengakibatkan sebuah risiko.

  3. Budayakan bahwa pengambilan risiko yang terkalkulasi atau telah diperhitungkan adalah suatu strategi bisnis. Penggunaan bahasa juga perlu diperhatikan agar sikap pengambilan risiko tidak menjadi ambigu karena dapat mengakibatkan kerancuan sehingga menjadi pengambilan keputusan yang tidak jelas. Menghindari risiko dapat berakibat lebih fatal dibanding dengan menyadari risiko.

  4. Temukan celah di setiap risiko. Kesempatan dan risiko bagaikan dua sisi pada koin. Lakukan pengamatan pada kesempatan dan risiko yang mungkin akan datang. Agar efektif, berikan kesempatan semua anggota untuk berpendapat agar mereka tidak takut dalam berpendapat dan dapat mengungkapkan pendapatnya. Dengan demikian, partisipasi dan kinerja semua anggota akan lebih maksimal.

Refensi

http://manajemen.bisnis.com/read/20170902/237/685993/begini-strategi-manajemen-risiko-yang-baik