Bagaimana strategi perusahaan IT melalui big data analisis?

big_data

(lidya) #1

Big data analytics atau analisis big data adalah proses pengujian set data yang besar untuk menemukan pola yang tersembunyi, korelasi yang tidak diketahui, tren pasar, preferensi pelanggan dan informasi bisnis lainnya yang berguna.


(Natasya Eldha) #2

Big data analytics mengacu pada proses mengumpulkan, mengorganisasikan dan menganalisa. big data sekumpulan besar data (big data) untuk mendapatkan pola-pola dan informasi yang berguna. Big data analytics tidak hanya membantu untuk memahami informasi yang terkandung di dalam data tapi juga membantu untuk mengidentifikasi data yang paling penting untuk keputusan bisnis saat ini dan masa datang. Big data analytics pada dasarnya ingin untuk menghasilkan pengetahuan (knowledge) dari hasil analisis data.

Salah satu perusahaan IT yang sudah menggunakan big data analisis adalah Grab, Seperti kebanyakan perusahaan teknologi lainnya, Grab juga memanfaatkan big data yang telah dihimpun untuk meningkatkan pelayanannya agar tetap relevan di setiap negara di mana dia beroperasi, termasuk Indonesia.

Data yang dikumpulkan dimanfaatkan Grab untuk mencari solusi dan inovasi baik secara jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk jangka pendek, Grab berupaya mengoptimalkan jumlah permintaan dengan persediaan pengemudi.

Sementara untuk rencana jangka panjang, Grab ingin mengubah sistem transportasi ke arah yang lebih baik. Semisal, cara mengurangi jumlah kendaraan di jalan, menyediakan transportasi lebih aman, dan mengurangi polusi.

Salah satu contoh inovasi yang dilakukan lewat memanfaatkan big data adalah kehadiran GrabShare dan GrabNow. GrabShare adalah layanan berbagi tumpangan bersama orang lain, dengan titik tujuan searah. ementara GrabNow adalah cara mendapatkan pengemudi tercepat dengan langsung menghampiri pengemudi terdekat yang tidak dalam status pemesanan.

  • Rutin Upgrade Platform
    Banyaknya data yang melimpah di satu sisi memaksa Grab untuk me-rewrite sistem setiap dua tahun sekali. Maka dari itu, tim engineer Grab bekerja hanya untuk menyediakan solusi yang berlaku dalam jangka waktu dua tahun.
    Tentunya, memprediksi apa yang terjadi dalam dua tahun itu bukan perkara mudah. Namun dengan bekal pengalaman yang terdahulu, ditambah kemampuan tim engineer yang mumpuni, Grab dapat mereka-reka. Setidaknya apa kemungkinan yang terjadi dalam dua tahun mendatang.

  • Kolaborasi antar engineer di setiap negara
    Berlimpahnya data, membuat perusahaan rela berinvestasi besar-besaran membangun research and development center (R&D center) di berbagai lokasi. Total R&D Grab ada enam titik, Seattle (AS), Ho Chi Minh (Vietnam), Singapura, Beijing (Tiongkok), Bangalore (India), dan Jakarta (Indonesia).

    Pemilihan lokasi ini, tutur Ditesh, juga tidak sembarang. Pihaknya mempertimbangkan ketersediaan engineer lokal yang mumpuni untuk membantu bisnis Grab. Untuk lokasi yang tidak ada dalam wilayah bisnis Grab, seperti Seattle, Beijing dan Bangalore, dipilih lantaran di negara tersebut memiliki engineer bertalenta baik karena hadirnya berbagai perusahaan teknologi kelas triple A.

    Bentuk kolaborasi antar engineer di setiap negara pun juga cukup intens, mereka dapat belajar dari satu sama lain. Tim engineer di luar ASEAN bertugas untuk membantu seluruh tim engineer Grab yang ada dalam menyelesaikan masalah.

    Sementara tim engineer lokal karena paham dengan pasar di negara sendiri akan fokus memberi solusi yang bisa mereka lakukan.
    Ambil contoh, tim Bangalore bekerja untuk fitur GrabPay. Mereka akan bekerja sama dengan tim Kudo untuk mengintegrasikan GrabPay dalam aplikasi Kudo. Sedangkan tim engineer di Indonesia fokus mempermudah proses penerimaan pengemudi baru dalam aplikasi Kudo.

SUMBER :
https://sis.binus.ac.id/2014/04/14/big-data-analytics/


(diakses pada tanggal 5 desember 2017)


(Nur Fajri Hayyuni Maulidya) #3

Go-Jek kini telah tumbuh menjadi on-demand mobile platform yang menyediakan berbagai layanan lengkap mulai dari transportasi, logistik, pembayaran, layanan-antar makanan, dan berbagai layanan on-demand lainnya. Dengan menggunakan layanan-layanan tersebut, dari sini Go-Jek memanfaatkan data-data seperti nama pelanggan yang megorder, rekam jejak perjalanan, jenis makanan yang dibeli, daftar belanjaan, jenis obat yang dipesan, hingga data pribadi lainnya yang terdapat pada aplikasi dan semua itu disebut dengan Big Data. Go-jek melihat kebiasaan dari pengguna aplikasi, baik pelanggan maupun mitra pengemudi. Nantinya data tersebut dikumpulkan dan dianalisa agar menjadi informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan strategi bisnis yang lebih baik.

APA ITU BIG DATA ?

Sesuai dengan namanya, Big data adalah data mentah yang berukuran (volume) sangat besar dengan konten yang beragam yang dapat dimanipulasi dan dianalisa secara cepat. Big Data telah digunakan dalam bisnis, tidak hanya seberapa besar data yang didapatkan tetapi apa yang harus dilakukan perusahaan dengan data tersebut.

Ibarat sebuah kilang minyak pada industri teknologi, siapa yang mampu mengelolanya dengan baik akan mendapatkan keuntungan dan membantu dalam menyusun strategi bisnis.

Pentingnya Big Data bukan hanya sekedar pada seberapa banyak data yang perusahaan miliki, tapi bagaimana mengolah data tersebut. Kita dapat mengambil data dari sumber manapun dan menganalisa data tersebut untuk menemukan solusi yang diinginkan oleh bisnis seperti:

  1. Pengurangan biaya
  2. Pengurangan waktu
  3. Pengembangan produk baru dan optimalisasi penawaran produk
  4. Pengambilan keputsan yang cerdas

BAGAIMANA GOJEK MENGGUNAKAN BIG DATA ?

Go-jek mempunyai tim khusus untuk mengelola Big Data mereka. Dimana tugas ini diserahkan pada divisi Bussines Intellingence yang didalamnya berisi orang-orang dengan kemampuan analisa data yang baik.


Crystal Widjaja SVP Bussines Intellingence Go-Jek

Dikutip dari Kumparan.com, Crystal Widjaja yang menjabat sebagai SVP Bussines Intellingence Go-Jek Indonesia mengatakan bahwa mereka bertugas membangun fondasi data. Data itu adalah segala yang masuk dari sistem back-end di Go-jek seperti lokasi, profil pengguna, profil mitra, transaksi, dan semuanya bisa menjadi data mulai dari Go-Ride sampai Go-Tix.

**Kehadiran tim Business Intelligence yang kini dipimpinnya membuat proses pengambilan keputusan tim Go-Jek jadi lebih cepat, tepat sasaran, dan lebih efisien.**Tak hanya digunakan untuk meningkatkan pelayanan ke pengguna, tim Business Intelligence juga menerapkan big data untuk konsumen maupun karyawan Go-Jek itu sendiri. Misalnya, untuk mengetahui performa karyawan Go-Jek telah tersedia survei yang digunakan dalam menilai kualitas diri.

migrasi Go-Jek yang kini menjadi data-driven company merupakan suatu kebutuhan yang perlu dilakukan sebagai perusahaan teknologi. Big data menjadi suatu budaya yang perlu dibangun sejak Go-Jek berdiri. Hal ini dimaksudkan agar ke depannya seluruh karyawan Go-Jek dapat berkomunikasi berdasarkan data, bukan asumsi.

Mandat pertama dari [tim Business Intelligence] adalah memberikan visibilitas ke seluruh tim apa yang sedang terjadi. Membantu menjawab persoalan yang dihadapi tim Go-Food, operasional, CS, kondisi kita sekarang gimana sih. Mau memastikan karyawan mengerti kondisi organisasi, fungsi mereka, dan ujung-ujungnya lebih dipakai untuk push decision agar bisnis lebih baik.

Data konsumen yang dikumpulkan tim Business Intelligence pun bermacam-macam, seperti data aktivitas para mitra pengemudi dan pengguna. Contohnya, lokasi penjemputan, drop off-nya, jarak yang ditempuh, dan sebagainya. Seluruh data tersebut kemudian diolah dan dianalisa menjadi bahasa sederhana yang dapat segera ditindaklanjuti.

Tugas yang dilakukan bisa menciptakan sebuah alat (tools) agar data tertentu bisa diakses dan dipakai oleh divisi lain. Mereka menyediakan tools agar tim Go-Food bisa mencari tahu jenis makanan atau merchant apa saja yang lagi ramai diorder pengguna. Detail dari merchant bisa diacak seperti berapa banyak yang order dan besar transaksinya. Semua bisa dicari secara self-service oleh tim Go-Food.

Masih bingung? sederhanya seperti ini, misalkan ada pengguna aktif Go-Food di jalan A dan jalan B yang sering memesan martabak dan KFC. Lalu pada suatu waktu pelanggan di jalan B memesan jenis makanan baru, yaitu ayam penyet yang dipesan cukup sering. Aktifitas suatu jenis makanan yang sering di pesan menandakan bahwa seseorang menyukai makanan tersebut. Karena pelanggan pada jalan B suka dengan ayam penyet, kemungkinan besar pelanggan pada kota A juga akan menyukainya karena selama ini mereka menunjukkan pola dan tren selera yang sama.

Hal tersebut juga berlaku pada mitra pengemudi yang sering memilih-milih orderan. Misalnya ada driver yang selalu memabatalkan orderan yang akan diantarkan ke jalan A. Maka kemungkinan besar kedepannya driver tersebut tidak akan mendapatlan lagi orderan ke jalan tersebut.

Semua interaksi yang dilakukan pengguna dalam aplikasi merupakan data mentah yang bisa mereka ketahui dalam Big Data. Go-Jek adalah perusahaan yang memiliki jumlah pengguna yang besar, dimana pasti memiliki data mentah dalam jumlah besar. Data itu kemudian diolah dan dianalisa agar menjadi informasi yang berguna bagi divisi dan perusahaan.

PENGEMBANGAN BISNIS GOJEK DENGAN BIG DATA

“di Gojek, semua semua harus berdasarkan data,” ungkap Rama. Intuisi memang tetap ada, namun semuanya harus berujung pada data. Apalagi dengan jumlah pengguna mencapai 6 juta dan driver 150 ribu orang, Gojek memiliki data internal yang sangat kaya. “Kami manfaatkan data untuk merancang feature dan meningkatkan user experience,”

Infromasi dan wawasan yang didapat dari hasil pengolahan Big Data tidak hanya digunakan untuk optimalisasi bisnis Go-Jek yang sudah ada, namun juga membuka peluang untuk menciptakan bisnis baru. Go-Jek yang kita ketahui menyediakan jasa berbasis aplikasi dengan berbagai layanan-layanannya juga mengumpulkan data dari pengguna aplikasi mereka. Go-Jek mengetahui profil pengunanya seperti apa dan kemana saja mereka bepergian.

Data tersebut bisa mendorong model bisnis baru, misalnya layanan pesan makanan atau Go-Food. Go-Jek yang awalnya hanya menyediakan layanan transportasi (Go-Ride dan Go-Car) melihat kecenderungan destinasi tujuan pengguna terkait kuliner. Dari data tersebut mereka mendapatkan infomasi dan wawasan (insight) sehingga membuat layanan pesan antar makanan seperti Go-Food.

Dari sini Go-Jek melihat profil pengguna dengan jenis makanan yang sering dikomsumsi atau destinasi lokasi sering dikunjungi oleh pengguna. Yang kemudian data yang memuat perilaku dan aktifitas pengguna ini membuka kemungkinan model bisnis yang baru.

KESIMPULAN

Dengan Big Data yang berisi behaviour pengguna aplikasi, Go-Jek melihat serta memanfaatkan data yang berkaitan dengan prilaku dan interaksi pengguna mereka. Dimana nantinya data tersebut diolah untuk informasi yang mengarah pada pengambilan keputusan dan strategi bisnis mereka yang lebih baik.

Salah satu perusahaan atau startup di Indonesia yang memanfaatkan Big Data seperti Go-Jek adalah Traveloka yang merupakan penyedia layanan travel. Dengan Big Data, wawasan dan informasi yang didapat tidak hanya digunakan untuk optimalisasi bisnis yang sudah ada, tapi juga berpeluang menciptakan bisnis baru.

Go-Jek sendiri tumbuh dengan sangat pesat sampai saat ini sejak didirikan pada tahun 2010. Terbukti dengan pertumbuhan ini membuat Go-Jek kini bernilai lebih dari $3 milliar dan masuk ke dalam daftar 50 perusahaan yang mengubah dunia versi majalah Fortune.

SUMBER :
https://www.puangcode.com/big-data-go-jek/ (diakses pada tanggal 5 Desember 2017)


(Cegy Pradana) #4

image
Kemampuan internet menyimpan dan mentransfer miliaran informasi yang dimiliki oleh semua penggunanya, dapat memberikan profil personal tentang orang-orang tersebut, atau dikenal dengan istilah ‘big data’. Dalam dunia pemasaran, analisis big data ini dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan internet.

Salah satu perusahaan IT yang sudah menggunakan big data analisis adalah Traveloka. Traveloka adalah perusahaan yang menyediakan layanan pemesanan tiket pesawat dan hotel secara daring dengan fokus perjalanan domestik di Indonesia. Traveloka memiliki basis operasional di Jakarta. Perusahaan didirikan pada tahun 2012 oleh Ferry Unardi, Derianto Kusuma, dan Albert . Pada awal konsepnya Traveloka berfungsi sebagai mesin pencari untuk membandingkan harga tiket pesawat dari berbagai situs lainnya. Pada pertengahan tahun 2013 Traveloka kemudian berubah menjadi situs reservasi tiket pesawat di mana pengguna dapat melakukan pemesanan di situs resminya. Pada bulan Maret 2014, Ferry Unardi menyatakan bahwa Traveloka akan segera masuk ke bisnis reservasi kamar hotel. Pada bulan Juli 2014, jasa pemesanan hotel telah tersedia di situs Traveloka.
image
memanfaatkan data untuk menghadirkan beberapa penawaran menarik dan juga membaca kebutuhan para penggunanya.

Untuk segmen travel data diperlukan untuk melacak kebiasaan dan kebutuhan pengguna. Dengan demikian penyedia jasa travel bisa dengan mudah menawarkan sesuatu yang berkaitan, dekat, dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pengguna. Dari segi bisnis di dalamnya (hotel, tiket, dan wisata) ini juga bisa menguntungkan. Karena mereka dapat menyasar langsung pelanggan dengan kriteria yang sama

“Kami percaya big data adalah kunci untuk memahami apa yang dibutuhkan pelanggan kami. Dengan menganalisis big data, kami dapat mengetahui pola, trend, preferensi dan kebiasaan pelanggan sehingga kami dapat memberikan produk dan layanan terbaik yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” terang Communications Executive Traveloka Busyra Oryza

Meski dinilai banyak manfaatnya penerapan big data tidaklah muda, setidaknya butuh investasi dan teknologi yang mumpuni untuk membangun teknologi yang mumpuni. Di Traveloka penerapan big data merupakan sebuah tantangan sehingga pihaknya perlu membangun sebuah tim yang solid baik untuk data engineering maupun software engineering. Orang-orang di dalamnya pun disebutkan orang-orang berprestasi seperti lulusan mahasiswa unggulan yang berprestasi, alumni perusahaan Silicon Valley, dan beberapa ahli di berbagai bidang disiplin ilmu.


Hasil pemanfaatan data, Traveloka sudah beberapa kali mengeluarkan fitur atau layanan yang berdasarkan data-data yang dimiliki. Fitur tersebut beragam. Untuk Traveloka, buah analisis data dihadirkan melalui fitur Notifikasi Harga yang saat ini bisa ditemukan di aplikasi Android dan iOS mereka. Fitur ini menyuguhkan hasil olahan ribuan data harga tiket pesawat setiap harinya untuk dihadirkan ke pelanggan. Berkat kemudahan yang ditawarkan, saat ini fitur Notifikasi Harga merupakan salah satu fitur yang paling banyak digunakan pelanggan Traveloka.

SUMBER :