© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana Strategi Komunikasi yang baik di dalam sebuah Organisasi?

Komunikasi berperan sangat penting dalam sebuah organisasi, karena keberhasilan dan kualitas dari sebuah organisasi berawal dari cara berkomunikasi dari organisasi tersebut. Tetapi, masih banyak organisasi yang memiliki internal tidak baik dan memiliki banyak masalah dikarenakan komunikasi yang belum baik antar individunya.

Bagaimana strategi komunkasi yang baik dalam membangun suatu organisasi?

Komunikasi mempunyai peranan yang sangat berpengaruh terhadapa sebuah organisasi untuk menciptakan sebuah organisasi yang baik serta mampu untuk memberikan citra yang baik diluar organisasi. Maka dari itu, komunikasi organisasi harus memiliki strategi komunikasi yang sesuai dengan etika komunkasi organisasi, dimana hal tersebut bertujuan untuk menciptakan suasana pertukaran informasi yang lebih santai serta suasana menjadi terasa hangat.

Untuk merancang sebuah strategi komunakasi, diperlukan pengetahuan perihal jenis-jenis komunikasi yang ada agar memiliki pandangan awal untuk mengonsepkan strategi komunikasi organisasi, jenis-jenis tersebut yaitu:

  1. Komunikasi vertikal
    Komunikasi Vertikal dapat juga kita sebut sebagai sebuah komunikasi yang terjadi keatas atau komunikasi kebawah. Komunikasi ini merupakan komunikasi yang dilakukan antara pengurus dengan anggota (kebawah) serta anggota dengan pengurus (keatas), atau dengan kata lain komunikasi ini merupakan Komunikasi Kepemimpinan dalam Organisasi secara timbal balik.

  2. Komunikasi horisontal
    Komunikasi horisontal ini adalah sebuah komunikasi yang bersifat sejajar, dengan kata lain komunikasi ini hanya dilakukan oleh pengurus dengan pengurus ataupun anggota dengan anggota. Karena bersifat segaris komunikasi ini baisanya terjadi secara langsung baik dengan melalui tatap muka atau menggunakan media.

  3. Komunikasi keluar
    Komunikasi keluar adalah sebuah komunikasi yang dilakukan oleh pengurus organisasi ataupun anggota organisasi untuk berkomunikasi kepada orang-orang yang berada diluar organisasi tersebut, misalnya kepada masyarakat atau kepada organisasi lainnya. Dengan kata lain, komunikasi keluar merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan untuk bertukar informasi dengan orang yang bukan anggota atau pengurus organisasi tersebut.

Dari jenis-jenis komunikasi organisai tersebut, maka strategi komunikasi dapat dirancang dengan tujuan untuk membuat proses komunikasi efektif dengan menggunakan cara-cara berkomunikasi dengan baik. Hal-hal yang perlu dilakukan untuk menciptakan strategi komunikasi, antara lain:

  1. Mengenali karakteristik komunikan

    Dalam berkomunikasi ada yang namanya komunikator sebagai pemberi informasi dan komunikan sebagai penerima informasi. Maka hal pertama yang perlu kita lakukan yaitu mengenali karakteristik komunikan untuk memberikan kita pandangan tentang karakter lawan bicara, agar kita mengetahui hal apa yang disukai olehnya dan yang tidak disukai olehnya. Jangan sampai karena kita tidak mengenali karakteristiknya, maka informasi ataupun pesan yang kita sampaikan membuat lawan bicara kita menjadi sakit hati dan marah. Jika hal itu terjadi, maka komunikasi organisasi tidak akan berjalan lancar.

  2. Melakukan prinsip dasar komunikasi

    Hal selanjutnya yang perlu dilakukan yaitu melakukan komunikasi dengan prinsip dasar komunikasi seperti berbicara dengan baik, sopan, memiliki etika, tata krama serta prinsip dasar komunikasi yang lainnya. Ketika komunikasi organisasi dilakukan dengan prinsip dasar komunikasi maka komunikasi tersebut akan mampu untuk menggali informasi yang lebih dalam dari diri komunikan atau lawan bicara.

  3. Berkomunikasi dengan baik

    Kemampuan berkomunikasi dengan baik secara verbal maupun Komunikasi non verbal juga akan mempengaruhi citra diri dan citra organisasi. Maka dari itu, ketika merancang strategi komunikasi organisasi kita perlu memikirkan cara untuk dapat melakukan sebuah komunikasi yang baik. Ketika kita mampu berkomunikasi dengan baik, maka lawan bicara kita dalam sebuah organisasi akan merasa puas terhadap apa yang kita terangkan atau apa yang kita informasikan.

  4. Memiliki attitude, attention, dan action

    Dalam melakukan komunikasi organisasi, maka strategi keempatnya adalah merancang sebuah attitude (sikap), attention (perhatian) dan action (tindakan). Dengan memiliki strategi komunikasi 3A ini, maka tujuan yang ingin dicapai melalui komunikasi tersebut secara tidak langsung akan mendapatkan dukungan dari lawan bicara karena, strategi 3A tersebut akan menunjukkan bahwa kita memiliki sikap, perhatian, dan tindakan yang sesuai dengan omongan kita

  5. Menggunakan saluran yang ada

    Selanjutnya dengan mempelajari dan menggunakan seluruh saluran yang ada, didalam organisasi tersebut ketika melakukan komunikasi organisasi. Dengan perkembangan jaman yang sangat pesat sekarang ini, maka strategi komunikasi yang digunakan juga harus mampu diaplikasikan melalui seluruh saluran komunikasi yang ada.

  6. Public Relations

    Hubungan yang baik antara setiap anggota organisasi serta hubungan publik atau Public Relations juga sangat dibutuhkan dalam komunikasi organisasi. Oleh karenanya strategi yang akan diterapkan juga harus memperhatikan hal tersebut, untuk menjaga hubungan yang baik dan kerjasama diantara setiap anggota organisasi maupun antar organisasi. Peran dari Public Relation juga akan sangat membantu untuk menciptakan citra organisasi yang baik, oleh karena itu setiap komunikasi organisasi yang dilakukan harus melihat dan memperhatikan hal ini.

  7. Menentukan tujuan

    Menentukan tujuan ataupun target dari sebuah komunikasi yang akan dilakukan. Ketika tujuan ini sudah ditentukan, maka komunikasi organisasi yang dilakukan akan selalu berusaha untuk mencapai tujuan ataupun target tersebut sekaligus menyamakan visi/tujuan agar kerjasama yang terjalin dapat sejalan.

  8. Menerapkan prinsip kekeluargaan

    Strategi ini juga akan membuat komunikasi organisasi lebih santai dan lebih mencair, terlebih lagi komunikasi tersebut akan memiliki dampak yang sangat positif untuk komunikasi yang sedang terjalin. Meskipun pada saat komunikasi terjadi perdebatan ataupun adu argument, tapi debat dan adu argument itu tidak akan mampu untuk membuat komunikasi organisasi yang berjalan menjadi terhenti karena sudah adanya ikatan kekeluargaan.

  9. Terbuka dan profesional

    Berusaha untuk menciptakan sebuah komunikasi organisasi yang terbuka dan berusaha agar tidak ada informasi yang ditutup-tutupi. Ketika sebuah komunikasi memiliki keterbukaan, maka dengan sendirinya rasa dan tingkat kepercayaan antar anggota maupun antar pengurus akan tercipta dan terjaga dengan baik. Ketika kepercayaan tersebut sudah terbangun dan terjaga dengan baik, maka secara otomatis pula loyalitas antar anggota didalam organisasi juga akan meningkat. Selain itu, profesionalitas didalam setiap komunikasi juga akan menjadikan komunikasi mengesampingkan kepentingan pribadi dan akan mendahulukan kepentingan bersama.

  10. Terstuktur dan Bersemangat

    Selalu memberikan informasi yang bersifat untuk menaikkan semangat dan motivasi anggota organisasi. Dengan begitu, penerima inforamsi juga tidak akan segan dan enggan untuk menjawab, mengikuti dan memberikan masukan-masukan yang sangat penting didalam sebuah komunikasi.

  11. Melibatkan anggota

    Melibatkan seluruh anggota organisasi didalam setiap kegiatan ataupun komunikasi yang berlangsung. Partisipasi atau tingkat keterlibatan anggota organisasi akan memberikan sebuah tampilan mengenai keadaan sebuah organisasi. Jika partisipasi anggota sangat tinggi, maka organisasi tersebut dapat dikatakan memiliki kualitas yang baik. Begitu pula sebaliknya ketika partisipasi anggota rendah, maka organisasi tersebut perlu dipertanyakan kualitasnya. Dengan kata lain, tingkat partisipasi anggota organisasi didalam komunikasi yang dilakukan akan mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

  12. Saling pengertian dan Netral

    Untuk mencapai sebuah komunikasi organisasi yang efektif, maka komunikasi tersebut harus memiliki sikap untuk saling mengerti dan sikap yang netral atau tidak memihak siapapun. Jika strategi komunikasi yang satu ini diterapkan dengan baik, maka akan terjadi sebuah saling pengertian serta netralitas diatara setiap anggota organisasi.

  13. Ubah suasana komunikasi

    Jika biasanya komunikasi organisasi dilakukan dikantor ataupun disekretariat organisasi, maka cobalah untuk mengubah suasana komunikasi dengan melakukan beberapa gebrakan seperti memindahkan lokasi komunikasi seperti melakukan pertemuan dimall atau melakukan pariwisata, ataupun hal lain yang dapat mengubah suasana. Dengan melakukan strategi yang satu ini, maka suasana komunikasi akan semakin santai, penuh canda tawa dan membuat komunikasi tersebut menjadi lebih berwarna.

  14. Tetapkan waktu komunikasi

    Strategi komunikasi organisasi yang berikutnya adalah dengan melakukan penetapan terhadap waktu dilakukannya komunikasi tersebut. Dengan menetapkan waktu ataupun jadwal komunikasi, maka secara otomatis para pengurus dan anggota organisasi akan bersiap untuk mengikuti kegiatan tersebut. Meskipun begitu, penetapan waktu komunikasi haruslah dilakukan dengan tepat dan tidak berbenturan dengan jadwal lainnya yang sudah lebih dahulu ditetapkan, agar komunikasi yang akan berjalan tersebut tidak terhenti karena adanya agenda lain.

  15. Mengatur Komunikasi

    Mengatur komunikasi yang dimaksud adalah menentukan siapa yang melakukan apa dan bagaimana orang tersebut melaksanakannya. Pengaturan ataupun strategi ini bisa diaplikasikan ketika sebuah organisasi ingin melakukan komunikasi dengan pemerintah misalnya, maka untuk melakukan komunikasi tersebut pengurus komunikasi biasanya akan mengatur orang-orang yang akan berbicara sesuai dengan kemampuannya.

  16. Menentukan Anggaran

    Setiap organisasi tentunya memiliki anggaran untuk operasional dan biaya yang lain lain, oleh karena itu strategi komunikasi organisasi juga harus mampu untuk menentukan anggaran komunikasi yang akan dilakukan. Menentukan anggaran komunikasi dengan tujuan yang baik adalah sebuah strategi yang sangat penting untuk menciptakan komunikasi yang berjalan dengan baik.

  17. Pengawasan dan evaluasi

    Strategi terakhir adalah melakukan pengawasan ketika komunikasi sedang terjadi. Pengawasan ini akan perlu untuk tetap menjaga komunikasi yang berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. Begitupula ketika komunikasi selesai dilaksanakan, maka lakukanlah evaluasi terhadap komunikasi yang sudah dilakukan tadi. Apakah komunikasi tersebut sudah sesuai dan sudah mencapai target yang diinginkan? Itu semua akan terjawab sewaktu evaluasi berjalan.

Menurut Onong Uchjana Effendy,M.A (2007) strategi komunikasi terdapat tiga tujuan utama yaitu memastikan bahwa komunikan mengerti pesan yang diterimanya. Andaikata ia sudah dapat mengerti dan menerima, maka penerimaannya harus dibina (to establish acceptance), pada akhirnya kegiatan dimotivasikan (to motivate action).

Dari tujuan komunikasi tersebut, maka diperlukan strategi-strategi khusus dalam melakukan komunikasi dalam sebuah perusahaan. Korelasi antarkomponen tujuan tersebut dengan strategi komunikasi diantaranya adalah :

  • Mengenali sasaran komunikasi
    Sebelum kita melancarkan komunikasi, kita perlu mempelajari siapa-siapa yang akan menjadi sasaran komunikasi kita itu. Apakah agar komunikan hanya sekadar mengetahui (dengan metode informatif) atau agar komunikan melakukan tindakan tertentu (metode persuasive atau instruktif).

  • Pemilihan media komunikasi
    Untuk mencapai sasaran komunikasi kita dapat memilih salah satu atau gabungan dari beberapa media, bergantung pada tujuan yang akan dicapai, pesan yang akan disampaikan, dan teknik yang akan dipergunakan.

  • Pengkajian tujuan pesan komunikasi
    Pesan komunikasi (message) mempunyai tujuan tertentu. Pesan komunikasi terdiri atas isi pesan (the content of the message) dan lambing (symbol).

  • Peranan komunikator dalam komunikasi
    Terdapat dua faktor penting dalam diri komunikator yaitu daya tarik sumber (source attractiveness) dan kredibilitas sumber (source credibility)

Oleh karena itu, dalam membuat strategi komunikasi didalam perusahaan, ke-empat hal tersebut haruslah menjadi dasar dalam menetapkan strategi mana yang akan dipilih. Tiap organisasi dan tiap kondisi memerlukan strategi yang berbeda-beda.

Strategi komunikasi adalah metode atau langkah-langkah yang diambil untuk keberhasilan proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau mengubah sikap, pendapat dan perilaku, baik secara langsung secara lisan maupun tidak langsung melalui media untuk mencapai suatu tujuan.

Tantangan terbesar dalam komunikasi organisasi adalah bagaimana menyampaikan informasi ke seluruh bagian organisasi dan bagaimana menerima informasi dari seluruh bagian organisasi. Oleh karena itu strategi komunikasi diperlukan untuk kelancaran arus komunikasi dalam suatu organisasi.

Strategi Komunikasi Organisasi dari Atasan ke Bawahan (Downward Communication)

Menurut Gibson, menentukan strategi komunikasi perlu adanya rasa saling saling percaya yang diciptakan antara komunikator dan komunikan. Kalau tidak ada unsur saling mempercayai, komunikasi tidak akan berhasil. Tidak adanya rasa saling percaya akan menghambat komunikasi (Ulbert 2007).

Sebelum melancarkan proses komunikasi, hal yang harus dilakukan adalah mempelajari siapa yang akan menjadi sasaran komunikasi atasan. Adapun hal-hal yang perlu diketahui dari komunikan adalah kerangka referensi dan situasi serta kondisi mereka.

Tiap individu memiliki karakter yang berbeda-beda oleh karena itu perlakuan saat memberikan informasi atau pesan juga berbeda-beda.

Unsur selanjutnya yang menjadi penting adalah bagaimana mengemas pesan atau instruksi tersebut agar ditanggapi oleh komunikan.

Pada dasarnya sistem komunikasi ke bawah mengandalkan berbagai jenis media cetak dan oral untuk menyebarkan informasi. Komunikasi yang dilakukan dari atasan ke bawahan juga mengandalkan media, baik elektronik maupun tertulis. Untuk keperluan tertentu, media digunakan sebagai pengulang (redundancy/repeatation) dari komunikasi lisan yang telah dilakukan.

Redundancy (repeatation) adalah cara mempengaruhi komunikan dengan jalan mengulang-ulang pesan kepada komunikan. Dengan teknik ini komunikan akan lebih memperhatikan pesan itu daripada pesan yang tidak diulang.

Pesan tertulis yang bersifat personal adalah memo. Biasanya atasan akan membuat memo yang ditempelkan di meja bawahan yang diberikan instruksi. Isi memo biasanya bersifat individual yang hanya berisikan instruksi pekerjaan satu orang saja, bukan bersifat umum. Informasi yang bersifat umum biasanya ditempelkan di papan informasi dan map.

Pesan juga dapat dikirmkan melalui media elektronik berupa SMS, telepon, Aplikasi messenger hingga email, Dengan menggunakan media-media tersebut proses komunikasi dapat menjadi lebih mudah dan cepat.

Aliran Strategi Komunikasi di dalam Perusahaan
Gambar Aliran Strategi Komunikasi di dalam Perusahaan

Strategi Komunikasi dari Bawahan ke Atasan (Upward Communication)

Komunikasi ke atas merupakan sumber informasi yang penting dalam membuat keputusan, karena dengan adanya komunikasi ini pimpinan dapat mengetahui bagaimana pendapat bawahan mengenai atasan, mengenai pekerjaan mereka, mengenai teman-temannya yang sama bekerja dan mengenai organisasi. Karena pentingnya komunikasi tersebut maka organisasi perlu memprogramnya.

Namun, terkadang komunikasi ke atas lebih sulit dibandingkan komunikasi ke bawah. Hal tersebut dikemukakan Sharma pada 1979.

Terdapat empat alasan yang mendasari mengapa komunikasi ke atas terlihat amat sulit, yaitu :

  • Adanya kecenderungan pegawai menyembunyikan pikiran mereka.
  • Pegawai cenderung melihat atasan tidak akan tertarik dengan masalah yang sedang mereka hadapi.
  • Seringkali atasan tidak berhasil memberi penghargaan kepada pegawai yang telah melakukan komunikasi ke atas.
  • Adanya perasaan bahwa atasan tidak dapat dihubungi dan tidak tanggap pada apa yang disampaikan pegawai.

Strategi yang paling efektif, menurut Planty dan Machaver, komunikasi bawahan ke atasan adalah kontak tatap muka sehari-hari dan percakapan di antara supervisor dan bawahan. Komunikasi tatap muka yang dilakukan bawahan paling sering terjadi pada saat rapat rutin maupun rapat tim. Rapat memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah, baik dari atasan ke bawahan maupun bawahan ke atasan.

Meskipun cara paling efektif adalah dengan tatap muka secara langsung, tetapi tidak menutup kemungkinan kesempatan bawahan untuk berkomunikasi melalui media lainnya, bisa menggunakan surat maupun media elktronik yang ada.

Selain itu, untuk teknik penyampaian pesannya, bawahan lebih sering menggunakan metode canalizing, yakni suatu cara yang dilakukan oleh komunikator dengan mengetahui terlebih dahulu tentang referensi/pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki komunikannya, kemudian komunikator menyusun pesan dan metode yang sesuai dengan itu. Agar komunikan dapat menerima pesan yang disampaikan komunikator dan kemudian perlahan-lahan komunikator merubah pola pikir dan sikap komunikan pada arah yang dikehendaki komunikator.

Dengan adanya komunikasi ke atas, pimpinan dapat memperkuat peralatan untuk merekam ide-ide dan bantuan dari bawahannya. Hal ini membantu pimpinan memperoleh jawaban yang lebih baik mengenai masalah-masalah mereka dan tanggung jawab mereka. Dengan terbukanya komunikasi ke atas, pimpinan dapat membantu arus dan penerimaan komunikasi ke bawah.

Komunikasi merupakan proses yang rumit. Dalam rangka menyusun strategi komunikasi diperlukan suatu pemikiran dengan memperhitungkan faktor-faktor pendukung dan faktor faktor penghambat. Akan lebih baik apabila dalam strategi itu diperhatikan komponen komponen komunikasi dan faktor-faktor pendukung dan penghambat pada setiap komponen tersebut.

Mengenali sasaran komunikasi

Sebelum melancarkan komunikasi, perlu mempelajari siapa-siapa yang akan menjadi sasaran komunikasi itu. Sudah tentu ini bergantung pada tujuan komunikasi, apakah agar komunikan hanya sekedar mengetahui atau agar komunikan melakukan tindakan tertentu. Apa pun tujuannya, metodenya, dan banyaknya sasaran, pada diri komunikan perlu diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :

  1. Faktor kerangka referensi
    Kerangka referensi seseorang terbentuk dalam dirinya sebagai hasil dari paduan pengalaman, pendidikan, agaya hidup, norma hidup, status sosial, ideology, cita-cita dan sebagainya. Dalam situasi komunikasi interpersonal mudah untuk mengenal kerangka referensi komunikan karena ia hanya satu orang.

  2. Faktor situasi dan kondisi
    Situasi di sini ialah situasi komunikasi pada saat komunikan akan menerima pesan yang kita sampaikan. Situasi yang bisa menghambatnya jalannya komunikasi dapat diduga sebelumya, dapat juga datang tiba- tiba pada saat komunikasi itu dilancarkan. Komunikasi tidak akan efektif apabila komunikan sedang marah, sedih, bingung, sakit, atau lapar. Dalam menghadapi komunikan dengan kondisi seperti itu, kadang- kadang kita bisa menangguhkan komunikasi kita sampai datangnya suasana yang menyenangkan.

Pemilihan media komunikasi

Untuk mencapai sasaran komunikasi kita dapat memilih salah satu atau gabungan dari beberapa media, bergantung pada tujuan yang akan dicapai, pesan yang akan disampaikan, dan teknik yang akan dipergunakan. Mana yang terbaik dari sekian banyak media komunikasi itu tidak dapat ditegaskan dengan pasti sebab masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Sebagai contoh, pesan melalui media tulisan atau cetakan dan media visual dapat dikaji berulang-ulang dan disimpan sebagai dokumentasi.

Pengkajian tujuan pesan komunikasi

Isi pesan komunikasi bisa satu, tetapi lambang yang dipergunakan bisa macam-macam. Lambang yang bisa dipergunakan untuk menyampaikan isi komunikasi ialah bahasa, gambar, warna, kial (gesture), dan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari banyak isi pesan komunikasi yang disampaikan kepada komunikan dengan menggunakan gabungan lambangan, seperti pesan komunikasi melalui surat kabar, film, atau televisi.
Lambang yang paling banyak digunakan dalam komunikasi ialah bahasa karena hanya bahasalah yang dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan, fakta dan opini, hal yang kongkret dan yang abstrak, pengalaman yang sudah lalu dan kegiatan yang akan datang. Oleh karena itu, dalam komunikasi, bahasa memegang peranan yang sangat penting.

Bahasa terdiri atas kata atau kalimat yang mengandung pengertian denotatif dan pengertian konotatif. Dalam melancarkan komunikasi, kita harus berupaya menghindarkan pengucapan kata-kata yang mengandung pengertian konotatif. Jika terpaksa harus kita katakan karena tidak ada perkataan lain yang tepat, maka kata yang diduga mengandung pengertian konotatif itu perlu diberi penjelasan mengenai makna yang dimaksudkan. Jika dibiarkan, bisa menimbulkan interpretasi yang salah.

Peranan komunikator dalam komunikasi

Ada faktor yang penting pada diri komunikator bila ia melancarkan komunikasi, yaitu daya tarik sumber (source attractiveness) dan kredibilitas sumber (source credibility).

  1. Daya tarik sumber
    Seorang komunikator akan berhasil dalam komunikasi, akan mampu mengubah sikap, opini, dan perilaku komunikan melalui mekanisme daya tarik jika pihak komunikan merasa bahwa komunikator ikut serta dengannya.

  2. Kredibilitas sumber
    Faktor kedua yang bisa menyebabkan komunikasi berhasil ialah kepercayaan komunikan pada komunikator. Kepercayaan ini banyak bersangkutan dengan profesi atau keahlian yang dimiliki seorang komunikator.

Berdasarkan kedua faktor tersebut, seorang komunikator dalam menghadapi komunikan harus bersikap empatik, yaitu kemampuan seseorang untuk memproyeksikan dirinya kepada peranan orang lain.

Menurut Gibson, dkk strategi komunikasi yang baik perlu melakukan tindakan-tindakan berikut ini, antara lain :

  • Mendorong saling mempercayai

    Komunikasi itu dimulai dari suasana saling percaya yang diciptakan antara komunikator dan komunikan. Kalau tidak ada unsur saling mempercayai, komunikasi tidak akan berhasil. Tidak adanya rasa saling percaya akan menghambat komunikasi

  • Meningkatkan umpan balik

    Kesalahpahaman dapat dikurangi jika proses umpan balik dilakukan dengan baik. Mekanisme umpan balik dalam organisasi sama pentingnya dengan komunikasi antarpribadi. Seorang komunikator memerlukan adanya mekanisme umpan balik sehingga mereka tahu apakah pesannya sudah dipahami oleh komunikan

  • Mengatur arus informasi

    Mengatur arus informasi agar tidak memberikan beban informasi kepada pihak komunikan. Hanya informasi penting dan yang diperlukan oleh komunikan yang disampaikan. Komunikasi diatur mutunya, jumlahnya, dan cara penyampaiannya. Informasi yang disampaikan harus sistematis, ringkas dan memilki bobot kepentingan yang cukup

  • Pengulangan

    Pengulangan membantu komunikan untuk menginterpretasikan pesan yang tidak jelas atau terlalu sulit untuk dapat dipahami pada saat pertama kali didengar. Bagi seorang manajer, permasalahan-permasalahan penting yang tidak disampaikan kepada bawahan dapat diulangi paling tidak dua tiga kali.

  • Menggunakan bahasa yang sederhana

    Bahasa yang kompleks, istilah-istilah teknis dan jaringan menyebabkan komunikasi sulit dipahami oleh komunikan. Hampir setiap gagasan dapat disampaikan dalam bahasa yang sederhana sehingga setiap orang dapat memahaminya.

  • Penetapan waktu

    Suatu permasalahan dalam komunikasi di mana komunikator mulai menyampaikan pesan pada saat penerima belum siap untuk mendengarkannya. Beberapa orang menjumpai bahwa pesan yang disampaikan kepadanya tidak sistematis sehingga mereka tidak dapat menghubungkan satu topic dengan topic yang lain secara sistematis. Oleh karenanya cara yang tepat adalah dengan mengelola waktu untuk berkomunikasi sehingga pesan yang disampaikan tersusun dengan baik, ringkas dan mudah dipahami