Bagaimana Strategi Dakwah Walisongo Dalam Menyebarkan Islam?

walisongo
Rasulullah SAW memiliki strategi dalam menyebarkan ajaran Islam. Begitu juga Wali Songo dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia salah satunya adalah dengan mengilhami apa yang pernah dilakukan Rasulullah SAW namun disesuaikan dengan kondisi saat itu. Bagaimana Strategi Dakwah Walisongo Dalam Menyebarkan Islam ?

Strategi Dakwah Walisongo

Strategi dapat diartikan sebagai tata cara dan usaha-usaha untuk menguasai dan mendayagunakan segala sumber daya untuk mencapai tujuan (Ali Motofo, 1971: 7). Dengan demikian, strategi dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo itu bisa diartikan menjadi segala cara yang ditempuh oleh para wali untuk mengajak manusia ke jalan Allah dengan memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki. Beberapa strategi Wali Songo dalam pelaksanaan dakwah dapat dikemukakan antara lain sebagai berikut:

  • Pertama, pembagian wilayah dakwah. Dalam melakukan aktivitas dakwahnya, Wali Songo sangat memperhitungkan wilayah strategis. Sehingga jumlah yang sembilan ini dibagi berdasarkan pertimbangan masing-masing, tidak sembarangan. Diantara pertimbangannya adalah karena faktor geostrategis yang mapan sekali yang sesuai dengan kondisi zamannya. Kesembilan wali tersebut membagi kerja dengan rasio 5:3:1 dengan realitas masyarakat saat itu masih dipengaruhi oleh budaya yang bersumber dari ajaran Hindu dan Budha. Saat itu para Wali mengakui seni sebagai media komunikasi yang mempunyai pengaruh besar terhadap pola pikir masyarakat. Oleh karena itu, seni dan budaya yang sudah berakar di tengah-tengah masyarakat menurut mereka perlu dimodifikasi dan akhirnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah.

  • Kedua, sistem dakwah dilakukan dengan pengenalan ajaran Islam melalui pendekatan persuasif yang berorientasi pada penanaman aqidah Islam yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Misalnya ketika Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan kawan-kawannya berdakwah kepada Adipati Aria Damar dari Palembang. Berkat keramahan dan kebijaksanaan Raden Rahmat, akhirnya Raden Aria Damar sudi masuk Islam bersama istrinya, yang diikuti pula oleh hampir seluru anak negerinya.

  • Ketiga, melalukan perang ideologi untuk memberantas etos dan nilai-nilai dogmatis yang betentangan dengan aqidah Islam, di mana para ulama harus menciptakan mitos dan nilai-nilai tandingan baru yang sesuai dengan Islam. Salah satu tugas utama dari para ulama yang telah dikader oleh Raden Rahmat adalah menyebarkan ajaran Islam.

  • Keempat, melakukan pendekatan terhadap para tokoh yang dianggap mempunyai pengaruh di suatu tempat dan berusaha menghindari konflik. Wali Songo menerapkan apa yang pernah diterapkan Rasulullah namun dengan taktik yang disesuaikan untuk memperkuat kedudukan Islam di tengah peradaban Jahiliyah dewasa itu.

  • Kelima, berusaha menguasai kebutuhan-kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, baik kebutuhan yang bersifat materil maupun spiritual. Faktor kebutuhan amat vital bagi masyarakat dewasa itu adalah menyangkut masalah air, baik air sebagai kebutuhan keluarga sehari-hari maupun sebagai irigasi pertanian.

Strategi Dakwah Walisongo

Dakwah Walisongo Dakwah Walisongo Menyiarkan agama Islam adalah merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim, karena hal itu diperintahkan oleh Islam. Agama Islam mulai masuk ke Indonesia di mulai dari Pulau Jawa. Pusat-pusat penyebaran agama Islam tertua adalah di daerah Gresik dan Surabaya. Sebagaimana dimaklumi daerah-daerah pesisir utara pulau Jawa, seperti di Gresik, Tuban, Jepara dahulu merupakan pelabuhan-pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh saudagar-saudagar asing.

Melalui jalan tersebut Islam masuk ke daerah pesisir Jawa Utara. Adapun yang memimpin penyebaran Islam ke pulau Jawa dewasa itu adalah Walisongo, merekalah yang telah berjasa memimpin pengembangan agama Islam di seluruh pulau Jawa, yang kemudian menyebar keseluruh kepulauan lain di Indonesia.31 Gelar yang diberikan kepada Walisongo adalah gelar yang diberikan karena memiliki keahlian yang holistik terutama dalam bidang keislaman. Sasaran dakwah yang dilakukan Walisongo dalam mengislamkan tanah Jawa, pertama-tama yang harus dilihat tokoh utamanya adalah Raden Rahmat (Sunan Ampel).

Sejak Raden Rahmat di Surabaya tepatnya di daerah Ampel Denta, julah penduduk yang beragama Islam menjadi bertambah. Demekian halnya dengan pengembangan pondok pesantren, sekalipun pondok pesantren pertama kali didirikan oleh Syeh Maulana ibrahim di daerah Gresik namun Raden Rahmat lah yang paling berhasil mendidik ulama dan mengembangkan pesantren. Dengan demikian dalam waktu singkat nama Ampel Denta sedemikian terkenal. Pesatnya pertumbuhan dan pekembangan Ampel Denta pada dasarnya didukung oleh beberapa faktor.

Pertama, karena letaknya yang strategis di pintu gerbang Majapahit sehingga dilewati sikulasi perdagangan Majapahit. Kedua,Raden Rahmat tidak membatasi seorang yang ingin menuntut ilmu agama darinya. Setelah Raden Rahmat merasa bahwa para Maulana dan santrinya telah memungkinkan untuk berdakwah, maka mereka pada gilirannya disebarkan keberbagai tempat untuk menyebarkan dan mengembangkan agama Islam. Namun gerakan dakwah untuk angkatan pertama tersebut tidak semuanya berhasil, tetapi sedikitnya perjuangan mereka telah menjadi sebuah pondasi bagi para pelanjut mereka. Kemudian Raden Rahmat melanjutkan taktik dakwahnya bagi angkatan berikutnya sampai terbentuknya Dewan Walisongo. Islamisasi masyarakat Jawa khususnya dan Indonesia bagian timur pada umumnya dapat dikatakan merupakan hasil dakwah dan perjuangan para Walisongo.

Dalam menjalankan tugas dakwah tentulah model dakwah Walisongo tersebut sesuai dengan tujuan dakwah Islam. M. Masyhur Amin menjabarkan tujuan dakwah menjadi tiga hal :

  1. Menanamkan akidah yang mantap di setiap hati seseorang, sehingga keyakinan tentang ajaran Islam tidak dicampuri dengan rasa keraguan. Seperti upaya Walisongo dalam rangka menanamkan akidah Islam kepada masyarakat Jawa adalah dengan menggunakan mitologi Hindu. Yakni dengan memunculkan kisah-kisah dewa yang asal-usulnya dari Nabi Adam, dimana kisah-kisah para ulama tersebut makin lama makin diyakini sehingga dapat mengalahkan kisah mitologi Hindu yang asli.

  2. Adalah tujuan hukum. Dakwah harus disyariatkan kepada kepatuhan setiap orang terhadap hukum yang disyariatkan oleh Allah SWT. Salah satu upaya para wali dalam menyebarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat Jawa adalah dengan membentuk nilai tandingan bagi ajaran Yoga-Tantra yang berasaskan Malima.

  3. Menanamkan nilai-nilai akhlak kepada masyarakat Jawa. Sehingga terbentuk pribadi muslim yang berbudi luhur, dihiasi dengan sifat-sifat terpuji dan bersih dari sifat tercela. Para Wali dalam menanamkan dakwah Islam di tanah Jawa ditempuh dengan cara-cara yang sangat bijak dan adiluhung. Organisasi Walisongo tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang utuh. Sebagaimana diceritakan oleh Widji Saksono, bahwa kesembilan Wali tersebut sering berjumpa dan mengadakan rapat untuk berunding berbagai hal yang bertalian dengan tugas dan perjuangan mereka. Dalam pertemuan tersebut dibahas antara lain tentang persoalan mistik dan agama pada umumnya. Forum Walisongo dikatakan organisasi karena memiliki sifat yang teratur, tertentu dan kontinue.

Para Wali memiliki kesatuan tujuan dasar perjuangan. Para Wali memiliki kesatuan jiwa dan seideologi. Sejiwa yaitu Islam dan seideologi dan sealiran yaitu tasawuf/mistik dan Ahlus Sunnah Wal Jamaah, serta maksud dakwah menyiarkan agama Islam. Semua itu terbukti dari kompaknya persatuan dan pendapat di antara mereka. Strategi yang dilakukan Walisongo adalah mengajak manusia ke jalan Allah dengan memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki. Dalam berdakwah para Wali menerapkan siasat dengan bijaksana, misalnya para Wali itu dikatakan kaya akan kesaktian, jaya akan kawijayan. Itu semua merupakan bukti keahlian dan kepandaian mereka dalam mengatur siasat dan strategi, membuat pendekatan psikologis yang dapat menguntungkan para Wali dan juga bagi Islam yang mereka sampaikan.

Pendekatan psikologis dalam berdakwah sebagaimana di kemukakan di atas, para Walisongo khususnya Raden Patah menempuh langkah-langkah sebagai berikut; pertama, membagi wilayah kerajaan Majapahit sesuai hirarki pembagian wilayah negara bagian yang ada. Kedua, sistem dakwah dilakukan dengan pengenalan ajaran Islam melalui pendekatan persuasif yang berorientasi pada penanaman akidah Islam yang dilakukan melalui situasi dan kondisi yang ada. Ketiga, perang ideologi untuk membrantas etos dan nilai-nilai dogmatis yang bertentangan dengan aqidah Islam, dimana para Wali harus menciptakan mitos dan nilainilai tandingan yang baru sesuai dengan Islam. Keempat,melakukan pendekatan dengan para tokoh yang dianggap memiliki pengaruh di suatu tempat dan berusaha menghindari konflik. Dan kelima berusaha menguasai kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat baik kebutuhan bersifat materiil maupun spiritual.

Keberhasilan taktik dan dakwah Walisongo disebabkan karena beberapa hal diantaranya; pertama, dakwah mereka dengan konsep yang pas. Kedua, dakwah yang mereka lakukan dengan penuh keuletan, keikhlasan, kesediaan berkorban. Ketiga, kegiatan dakwah mereka didasarkan pada perhitungan yang riil dan rasional. Keempat, kegiatan dakwah mereka memperhatikan masyarakat yang dihadapi. Dan kelima, dakwah mereka dengan cara bijaksana tidak menyinggung perasaan. Keenam, para Wali menggunakan kecakapan dan kepandaian yang ada pada mereka.

Referensi

http://journal.walisongo.ac.id/index.php/wahana/article/view/815/723