Bagaimana Sosok Atlit Renang Down Syndrome (Stephanie Handojo)?

Stephanie Handojo
Stephanie berhasil memecahkan rekor MURI sebagai pemain piano yang mampu membawakan 23 lagu berturut-turut dalam sebuah acara musik di Semarang, Jawa Tengah saat berusia 18 tahun.

Bagaimana Sosok Atlit Renang Down Syndrome (Stephanie Handojo) ?

Setiap orang memang punya keterbatasan, tapi hal itu tidak sepatutnya menjadi alasan untuk berhenti bergerak. Stephanie Handojo, salah satu anak bangsa yang punya segudang prestasi di bidang olah raga. Stephani begitu spesial karena ia terlahir dengan kelainan down syndrome . Namun apa yang dialaminya tidak lantas membuat gadis berusia 24 tahun ini minder untuk berprestasi. Stephanie menorehkan berbagai prestasi di kejuaraan-kejuaraan olah raga internasional. Stephanie mendapat julukan “the wonder kid”.

Tahun 2011 Stephanie menjadi peraih medali emas cabang olahraga renang di Special Olympics World Summer Games di Athena, Yunani untuk nomor 50 meter gaya dada pada ajang pesta olah raga bagi anak-anak berkebutuhan khusus dari seluruh dunia.

“Dia menjadi inspirasi bagi teman-temannya di Indonesia karena berhasil memecahkan rekor. Sebelumnya Indonesia belum pernah menang di kompetisi itu, tapi setelah Fani berhasil menang, banyak temannya yang ingin menyamai langkah Fani,” ujar ibunda Stephanie, Maria Yustina Tjandrasari berdasarkan wawancaranya dengan The Jakarta Post tahun 2012 silam.

Stephanie menjadi pemenang dalam Special Olympics World Summer Games di Athena, Yunani (foto: republika.co.id)

Kemudian tahun 2012 Stephanie menjadi wakil Indonesia sebagai pembawa obor Olimpiade London. Fani, panggilan akrabnya terpilih dari 12 juta kandidat dari seluruh dunia untuk membawa obor. Berkat serentetan prestasinya di bidang olahraga, Fani pun berhasil terbang ke Nottingham, London dan berlari membawa obor olimpiade bersama 20 anak lainnya. Pun Fani menjadi anak penyandang tunagrahita pertama yang menjadi pembawa obor di pesta olahraga terbesar di dunia itu.

“Saya senang dan bangga bisa menjadi wakil Indonesia di sana,” kata Fani.

Selain di bidang olahraga, Fani juga pernah mencatatkan namanya di Rekor MURI pada tahun 2009 lantaran memainkan 22 lagu dengan piano tanpa henti. Prestasi-prestasi tersebut pun telah mengantarkan Fani berjumpa dengan sejumlah figur publik seperti David Beckham ketika di Olimpiade London 2012, Presiden Susili Bambang Yudhoyono, serta Presiden Joko Widodo.

Prestasi-prestasi Stephanie membuatnya bisa bertemu dengan sejumlah orang penting (foto: dokumen pribadi)

Ibu yang Tangguh

Fani menunjukkan pada kita bahwa seorang penyandang tunagrahita pun bisa menjalani hidup layaknya kehidupan yang normal. Meski begitu, di balik prestasi yang ditorehkan Fani tentu ada perjuangan keras terutama dari orang tua Fani. Yustina sebagai ibunda Fani menjadi sosok penting bagi perkembangan putrinya itu.

“Berat membesarkan anak dengan kebutuhan khusus seperti Stephanie. Tantangan terbesar justru komentar dan terkadang cibiran dari masyarakat,” kisah Yustina dilansir Kompas.com.

Sejak awal mengetahui putrinya mengalami down syndrome , Yustina justru bersemangat untuk membesarkan Fani dan memberikan yang terbaik untuknya. Yustina terus mendukung dan memberikan tantangan bagi Fani.

“Saya pernah membaca buku tentang down syndrome . Di sana dituliskan bahwa anak dengan down syndrome harus diberikan stimulasi sedini mungkin, jadi saya memilih renang dan musik karena keduanya sangat baik untuk menstimulasi pikiran dan tubuh,” kata Yustina.

Bagi Yustina, membesarkan Fani tidaklah mudah karena banyaknya komentar orang lain, namun Yustina tidak patah semangat

Lanjutnya, anak-anak seperti Fani harus terus dilatih untuk beraktivitas mulai dari hal-hal kecil. Soal makan, misalnya, Yustina mengajari Fani berulang kali untuk memegang sendok dan memasukkan makanan ke dalam mulut.

“Fani sendiri adalah anak yang teguh. Ia punya semangat yang tinggi dan selalu senang untuk belajar,” tambah Yustina.

Yustina yang memutuskan keluar dari pekerjaannya dan memilih fokus membesarkan Fani telah membuat sejulah program spesial dengan tujuan spesifik untuk Fani. Dengan sabar Yustina mengawal perkembangan Fani dan melihat linimasa perkembangannya itu, Fani tumbuh lebih cepat. Pada usia 1,5 tahun, Fani sudah bisa berjalan dan di usia 5 tahun ia sudah mampu membaca. Dua hal ini merupakan capaian yang luar biasa bagi anak-anak dengan down syndrome .

Bagaimanapun, Yustina berusaha mendukung Fani untuk menjalani hidup normal seperti orang-orang. Fani sendiri memiliki impian untuk menjadi seorang chef. Dan setelah lulus dari SMK Pariwisata pada tahun 2012 lalu, Fani menjalankan bisnis laundry bersama dengan ibunya.

Yustina berharap, dengan mengajarkan Fani berbagai keterampilan, putrinya itu bisa menjadi pribadi yang mandiri di masa depannya. Melihat segala capaian yang sudah diraih Fani, tentu masa depan yang cerah sudah menanti menyambutnya.

Sumber

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/05/24/belajar-semangat-dari-stephanie-handojo

Stephanie Handojo
International Global Messenger

Kekurangan tidak menghalangi seseorang berprestasi, di bidang apapun itu. Justru seharusnya dengan kita mengetahui kekurangan apa yang kita miliki, kita bisa lebih optimal dalam mengasah dan mengembangkan selalu kelebihan yang kita miliki. Inspirasi ini datang dari sosok atlet renang down syndrome Stephanie Handojo.

Menyandang keistimewaan dengan mengidap down syndrome sejak lahir, tidak membuat Stephanie Handojo berkecil hati. Berkat kasih sayang dan didikan kedua orangtuanya, ia berhasil mengharumkan nama Indonesia hingga kancah internasional, sesuatu yang bahkan sulit untuk dilakukan oleh manusia yang terlahir normal.

Bagi Stephanie, sumpah atlet bukan hanya ucapan. Ini alat yang berharga untuk mengatasi ketakutan terbesarnya. Ketika pertama kali bergabung dengan Olimpiade Khusus, ketakutannya terhadap air membuatnya hampir mustahil untuk bersaing dalam olahraga akuatiknya. Dia tidak berani pergi ke ujung kolam dan bahkan sakit sebelum kompetisi. Dia berkata, “Saya takut dengan air. Airnya sangat dingin dan sangat dalam. Saya takut tenggelam. Saya sakit sebelum kompetisi. Tetapi saya selalu diingatkan untuk berani dalam upaya itu.”

Ia adalah salah satu atlet olahraga air Olimpiade Khusus terbaik di Indonesia. Dan sementara dia terus berjuang dengan ketakutannya pada air, dia juga terus mengatasi ketakutan itu dengan memilih untuk bersaing dalam olahraga air. Terlibat dalam Olimpiade Khusus telah memberi Stephanie kepercayaan diri yang dia butuhkan untuk merayakan kemampuannya dan mengejar mimpinya. Sebagai International Global Messenger, dia ingin mempromosikan kesehatan dan mendidik atlet muda.
Stephanie adalah atlet berprestasi. Beberapa prestasinya antara lain:

  • Peraih medali emas cabang olahraga renang di ajang Special Olympics World Summer Games tahun 2011. Stephanie tercatat sebagai peraih medali emas cabang olahraga renang di ajang Special Olympics World Summer Games tahun 2011 di Yunani, untuk nomor 50 meter gaya dada. Ajang ini sendiri digelar untuk anak-anak berkebutuhan khusus di seluruh dunia.
  • Peraih medali emas cabang renang di ajang Special Olympics Asia-Pacific 2013 di Australia. Sama seperti sebelumnya, ia kembali memenangkan medali emas untuk jarak 100 meter gaya dada di ajang Special Olympics Asia-Pacific 2013 yang diselenggarakan di Australia.
  • Pemimpin yang inspiratif dalam komunitas Olimpiade Khusus. Sebagai Pemimpin Remaja Program Kepemimpinan Olahragawan, dia bekerja dengan kaum muda, dengan dan tanpa cacat intelektual, untuk mempromosikan Olimpiade Khusus di sekolah-sekolah dan masyarakat. Stephanie bahkan dipilih oleh UNICEF dan Dewan Inggris sebagai Pembawa Obor selama Olimpiade London 2012.

Ketika dia tidak sibuk dengan Olimpiade Khusus atau kepemimpinan atlet, Stephanie menikmati bermain piano, memasak, bulu tangkis, dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Dia bahkan memiliki bisnis binatu di Jakarta dan mengelola tim karyawan seolah-olah mereka adalah keluarga. Atlet favoritnya adalah Ade Ray (binaragawan), Susi Susanti (bulu tangkis), Ivana Lie (bulu tangkis), dan Albert C. Sutanto (perenang), dan selebritas favoritnya adalah Giring Nidji (penyanyi) dan Ferry Salim (duta besar UNICEF bertemu melalui keterlibatannya sebagai pembawa obor untuk Olimpiade London).

Tak hanya di bidang olahraga saja Stephanie meraih prestasi. Pada 2009, dia mencatat rekor MURI sebagai penyandang down syndrome pertama yang bisa memainkan 22 lagu tanpa henti dengan menggunakan piano. Deretan prestasi ini membuat Stephanie mendapatkan berbagai penghargaan dan bisa bertemu dengan berbagai tokoh negeri ini. Setidaknya, dia pernah diterima dua presiden di Istana Negara, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo. “Tetapi, saya belum penah ketemu Bapak Ahok (Gubernur DKI). Saya ingin sekali ketemu Pak Ahok,” ujar Stephanie dengan wajah berbinar.

Perjuangan Keras
Segudang prestasi ini tentu tak datang begitu saja. Butuh waktu panjang dan upaya keras dari Stephanie. Namun, peran sang ibu Maria Yustina dalam membentuk Stephanie menjadi sosok yang mandiri seperti saat ini sangat besar. “Berat membesarkan anak dengan kebutuhan khusus seperti Stephanie. Tantangan terbesar justru komentar dan terkadang cibiran dari masyarakat,” kenang Yustina. Saat melahirkan putri sulungnya itu, Yustina awalnya tidak mengetahui jika Stephanie menyandang tunagrahita. “Saya cuma lihat kok wajahnya berbeda dengan saya dan suami. Dia jarang menangis seperti bayi pada umumnya,” tambah Yusnita. Setelah mengetahui kondisi Stephanie sebenarnya, Yusnita tak patah arang, tetapi justru ingin memberikan yang terbaik bagi putrinya itu. Kasih sayang dan dukungan dari oang tuanya membuat Staphanie mampu mengembangkan potensi dan berprestasi bahkan manfaatnya tidak hanya dirasakan dia seorang diri, tetapi keluarga, nusa dan bangsa. Melalui pretasinya semakin banyak orang yang memiliki keistimewaan selalu optimis.

Sumber:

Pada 2011, Stephanie menjadi peraih medali emas cabang olahraga renang di ajang Special Olympics World Summer Games di Athena, Yunani, untuk nomor 50 meter gaya dada. Ajang ini adalah sebuah pesta olahraga bagi anak-anak berkebutuhan khusus dari seluruh dunia… Capaian Fani, panggilan akrab Stephanie, di Yunani menjadi istimewa karena saat itu menjadi kali pertama atlet Indonesia meraih emas di ajang internasional itu. Prestasi internasional Stephanie tak terhenti di Yunani. Dia juga menyabet emas cabang renang di ajang Special Olympics Asia-Pacific 2013 di Newcastle, Australia. Di Australia, dia juga menyabet perak untuk nomor 100 meter gaya dada, sementara di ajang berikutnya di Los Angeles, AS pada 2014, Stephanie menyabet perak untuk kategori gaya dada 50 meter dan gaya bebas 100 meter.

Prestasi internasional Stephanie semakin lengkap ketika dia menjadi wakil Indonesia sebagai pembawa obor Olimpiade London 2012. Menurut Maria Yustina Tjandrasari (50), ibunda Fani. Stephani, terpilih lewat program British Council dan Unicef yang sebelumnya menyaring belasan ribu anak dari seluruh dunia. Hal yang lebih istimewa adalah Stephanie menjadi satu-satunya anak berkebutuhan khusus yang dipercaya menjadi pembawa obor Olimpiade. Dia juga menjadi anak penyandang tunagrahita pertama yang menjadi pembawa obor pesta olahraga terbesar di dunia itu. Tak hanya di bidang olahraga saja Stephanie meraih prestasi. Pada 2009, dia mencatat rekor MURI sebagai penyandang down syndrome pertama yang bisa memainkan 22 lagu tanpa henti dengan menggunakan piano. Deretan prestasi ini membuat Stephanie mendapatkan berbagai penghargaan dan bisa bertemu dengan berbagai tokoh negeri ini. Setidaknya, dia pernah diterima dua presiden di Istana Negara, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo.

Segudang prestasi ini tentu tak datang begitu saja. Butuh waktu panjang dan upaya keras dari Stephanie. Namun, peran sang ibu Maria Yustina dalam membentuk Stephanie menjadi sosok yang mandiri seperti saat ini sangat besar. Saat melahirkan putri sulungnya itu, Yustina awalnya tidak mengetahui jika Stephanie menyandang tunagrahita. Wajah Stephanie berbeda dengan ibu dan ayahnya. Dia jarang menangis seperti bayi pada umumnya. Setelah mengetahui kondisi Stephanie sebenarnya, Yusnita tak patah arang, tetapi justru ingin memberikan yang terbaik bagi putrinya itu. Selain itu, saat membesarkan Fani, dia berusaha memperlakukan dia seperti anak-anak pada umumnya. Anak-anak seperti Fani, kata dia, tanpa latihan terus-menerus akan sulit untuk melakukan hal-hal kecil dan rutin sekalipun. Pernah trauma Keteguhan Yustina untuk membesarkan Stephanie seperti anak-anak pada umumnya juga terlihat saat dia mengajari anaknya berenang. Namun, saat Stephanie berusia 12 tahun, dia sempat tenggelam di kolam renang. Peristiwa tersebut sempat membuat Stephanie trauma. Bahkan, untuk mengobati rasa trauma Fani terhadap kolam renang, Yustina terpaksa bersikap keras terhadap putri sulungnya itu. Tak jarang, Yustina Yustina diprotes para orangtua yang melihat cara dia menangani Fani. Namun, perempuan ini yakin bahwa dia melakukan yang terbaik untuk putrinya. Keteguhan Yustina ditambah ketekunan Stephanie dalam berlatih tak sia-sia. Prestasi yang diraih Stephanie telah memberikan kebanggaan bagi keluarga dan negeri ini.

Referensi

https://megapolitan.kompas.com/read/2016/02/14/09362021/Stephanie.Handojo.Penyandang.Down.Syndrome.Berprestasi.Dunia?page=2.